Minggu, 01 Februari 2026

Di Balik Sihir Kertas dan Obsesi Ubermensch: Menemukan Kembali Insan Kamil di Tengah Dehumanisasi

Di Balik Sihir Kertas dan Obsesi Ubermensch: Menemukan Kembali Insan Kamil di Tengah Dehumanisasi

Oleh: Muamar Anis

Nietzsche.Muamaranis.Jpg.
Nietzsche. Jpg. 

Secarik Kertas dan Robot-Robot Bernafas

​Setelah kemarin di Warung membahas "Nietzsche Masuk Pesantren", pandangan saya tertuju pada seorang sahabat di pojok meja. Ia mengeluarkan uang kertas yang dilipat sekecil mungkin, terselip di saku celananya yang kucel, tampak susah payah ia mengeluarkannya.

​Saya mendadak teringat sejarah seribu tahun lalu. Dulu, seorang pedagang teh bernama Zhang Wei berdiri di tepi Sungai Min, Sichuan. Di tangannya ada Jiaozi—selembar kertas tipis dengan lukisan rumit bernilai seribu koin tembaga. Tanpa Zhang Wei sadari, selembar kertas itu adalah "janji" yang kelak berevolusi menjadi sihir moneter modern yang mendominasi dunia.

​Bayangkan, dulu 1 gram emas hanya Rp2, kini melonjak sejuta lebih. Namun, keresahan ini bukan cuma soal dompet yang menipis, melainkan Keterasingan Spiritual. Modernisme telah membawa kita pada titik dehumanisasi. Manusia hanya dianggap sekrup dalam mesin industri, menjadi asing bagi dirinya sendiri, sesama, bahkan bagi Sang Pencipta.

​Ubermensch—Antara Permen Nietzsche dan Peluru Hitler

​Puncak dehumanisasi ini bermuara pada obsesi kekuasaan. Friedrich Nietzsche melahirkan konsep Ubermensch—Manusia Unggul yang berdaulat atas dirinya sendiri. Namun, sejarah mencatat pengkhianatan intelektual yang mengerikan oleh saudara perempuannya sendiri, Elizabeth Förster-Nietzsche.

Elizabeth Förster-Nietzsche. Muamaranis. Jpg
Elizabeth Förster-Nietzsche.Muamaranis.Jpg

​Elizabeth memanipulasi karya saudaranya, menciptakan buku The Will to Power, dan menahan penerbitan Ecce Homo. Lewat tangan Elizabeth-lah, pemikiran Nietzsche yang asli—yang sebenarnya adalah sosok pria ramah pembagi permen bagi anak-anak—dipelintir menjadi alat propaganda Nazi. Hitler menggunakan istilah ini untuk melegitimasi "Ras Arya" dan menyingkirkan mereka yang dianggap lemah (Untermenschen). Inilah bahaya ketika manusia merasa menjadi "tuhan" tanpa panduan moral ketuhanan: mereka tidak membangun peradaban, melainkan menghancurkan kemanusiaan.

​Rekonstruksi Iqbal dan Penawar Perenialisme

​Sebagai penawar racun, kita harus menoleh pada Sir Muhammad Iqbal. Dalam The Reconstruction of Religious Thought in Islam, Iqbal menyerukan Ijtihad untuk membangunkan umat dari fatalisme. Insan Kamil versi Iqbal bukanlah penindas, melainkan sosok Ulul Albab yang memperkuat Khudi (Kedirian) untuk menjadi mitra Tuhan dalam memperbaiki dunia.

​Melengkapi itu, Seyyed Hossein Nasr melalui perspektif Perenialisme mengingatkan bahwa manusia modern adalah "manusia yang lupa". Kita butuh kembali ke Tradisi Suci untuk menyembuhkan luka keterasingan ini. Jika modernisme memutus hubungan kita dengan langit, maka Perenialisme mengajak kita menemukan kembali kesakralan hidup di tengah gempuran materi.

Suara dari Meja Warung

​Kembali ke meja warung, kita sadar bahwa melawan dehumanisasi dimulai dari akal budi. Kita bukan robot, bukan sekadar angka inflasi. Perlawanan ini adalah tentang menjaga kewarasan dan ruhaniah di tengah sistem yang dingin.u


Author’s Note for My Global Readers:

​This article is part of a larger philosophical journey. Before we deconstructed the "monetary magic" and the distortion of the Ubermensch here, I invited Nietzsche to a sacred space to find his "Divine Spring." To understand the spiritual foundation of this critique, I invite you to read the preceding chapter:

 

​👉 [Nietzsche Masuk Pesantren: Saat Sang Ubermensch Bertemu Mata Air Ilahi]https://muamaranis.blogspot.com/2026/01/nietzsche-masuk-pesantren-saat-sang.html

A bridge between the radical ego and the ultimate surrender.


"Nietzsche itu sebenarnya filsuf yang baik dan ramah, yang suka membagikan permen kepada anak-anak. Namun di tangan penguasa yang mabuk, permen itu diganti menjadi peluru, dan nalar diubah menjadi sihir kertas yang membunuh jiwa secara perlahan." > — Muamar Anis


"Bahwa modernisme makin membawa manusia dalam keterasingan spiritual sudah ditengarai sedari awal. Munculnya tesis postmodernisme adalah realitas jawaban atas dehumanisasi yang kita alami hari ini." > — Samsul Ma'arif


Referensi Kajian:

  1. Nietzsche, Friedrich. Thus Spoke Zarathustra & Ecce Homo.
  2. Iqbal, Muhammad. The Reconstruction of Religious Thought in Islam.
  3. Nasr, Seyyed Hossein. Knowledge and the Sacred & Man and Nature.
  4. Sejarah Moneter: Sejarah Jiaozi Dinasti Song (Sichuan, Tiongkok).

Bukan Sekadar Dagang: Peran Tariqat, Dialektika Semar, dan Rahasia Islamisasi Nusantara

Bukan Sekadar Dagang: Peran Tariqat, Dialektika Semar, dan Rahasia Islamisasi Nusantara

Oleh: Muamar Anis


Pedagang. Muamaranis. Jpg
Pedagang. Muamar Anis. Jpg

Secarik LKS di Pojok Warung

​Di pojok warung pagi hari, sambil menunggu kepulan asap 234, mata saya tertuju pada secarik kertas di bawah piring gorengan. Ternyata itu kertas LKS anak sekolah milik penjual warung yang sudah tidak terpakai. Di sana tertulis judul besar: "Sejarah Islam di Indonesia". Sambil mengunyah mendoan, saya merenung.

​Selama ini, buku teks sekolah seringkali menyederhanakan masuknya Islam ke Nusantara seolah-olah hanya 'bonus' dari transaksi lada dan sutra. Namun, jika kita menyelam lebih dalam ke balik riuhnya pasar, kita akan menemukan jejak-jejak sunyi para Sufi pengembara. Melalui jaringan tariqat dan kekuatan akal budi, mereka melakukan revolusi mental yang mengubah wajah peradaban Melayu selamanya.

​Bukan Pedagang, Tapi Pembersih Lahan Spiritual

​Fakta sejarah mencatat Islam masuk sejak abad ke-8 atau 9 Masehi. Tapi kenapa baru masif di abad ke-13? Karena ada "pagar" yang harus dibuka. Jauh sebelum Islam tercium massal, ada dialektika spiritual antara ulama Turki, Syekh Subakir, dengan dedengkot tanah Jawa, Semar Ismoyo Jati.

Masjid. Muamaranis. Jpg.
Simbol Islamisasi

​Ada riwayat pilu bahwa sebelum Syekh Subakir, seribu utusan tumbang. Islam masuk ke Nusantara bukan lewat hantaman syariat yang kaku, tapi lewat kelebihan amalan dan ajaran tasawuf yang membumi. Para penyebar awal tahu persis kondisi Nusantara yang tidak bisa lepas dari budaya animisme dan dinamisme. Mereka datang untuk "mengisi", bukan menghancurkan.

​Kritik Sanad: Walisongo vs Narasi Marga

​Kita harus kritis terhadap teori-teori yang terlalu mengagungkan peran imigran atau marga-marga tertentu yang secara historis memiliki kedekatan dengan kepentingan kolonial (Belanda). Kita patut waspada jika ada upaya mempromosikan sejarah yang mengaburkan peran dakwah kultural pribumi.

​Kunci penyebaran Islam sesungguhnya adalah Walisongo. Mereka memiliki sanad keilmuan yang jelas sampai ke Rasulullah SAW. Berkat cendekiawan seperti Prof. Agus Sunyoto, kita diingatkan kembali bahwa Islam tegak di sini karena ketulusan para Wali yang masuk ke jantung pemerintahan, bukan sekadar "promosi" pedagang keliling yang tak jelas akarnya.

​Sastra Sebagai Senjata dan Ketakutan Belanda

​Tokoh seperti Prof. Abdul Hadi WM telah berjuang di medan tempur yang berbeda: Bahasa dan Sastra. Beliau membuktikan bahwa Islam meletakkan dasar rasionalitas pada bangsa Melayu.

​Di sisi lain, Belanda sangat ketakutan jika Islam menjadi kekuatan politik. Itulah sebabnya mereka membatasi penyebaran Islam yang terorganisir. Namun, para ulama kita lebih cerdik. Mereka membentuk Jamiyyatul Ulama, sebuah embrio organisasi sebelum lahirnya Nahdlatul Ulama, sebagai benteng perlawanan terhadap penjajah.

​Quote Utama

"Islam di Nusantara tidak datang untuk mencabut akar budaya, melainkan menyiraminya dengan cahaya akal budi. Ia menang bukan karena pedang, tapi karena kedalaman rasa para kekasih Tuhan."Muamar Anis


[Referensi Intelektual]

  • Prof. Agus SunyotoAtlas Walisongo (Pilar sejarah dakwah lokal).
  • Prof. Abdul Hadi WMIslam: Cakrawala Estetik dan Budaya (Kekuatan sastra sufi).
  • M. Naquib al-AttasIslam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu.
  • S. Q. Fatimi – Catatan tentang korespondensi Raja Sriwijaya (Zabaq) dengan Khalifah Umayyah.

Sabtu, 31 Januari 2026

Mencari Cahaya Ibnu Rusyd di Tengah Kegaduhan Gladiator Modern

Mencari Cahaya Ibnu Rusyd di Tengah Kegaduhan Gladiator Modern

Oleh: Muamar Anis


Cahaya Ibnu Rusyd. Muamar Anis. Jpg
Cahaya Ibnu Rusyd dalam Gladiator Modern

Di Sela Debu Warung dan Riuh Arena

​Malam ini di Warung, udara terasa lebih berat. Mungkin karena sisa sate kambing tadi siang masih menyisakan pening di kepala bagian belakang, atau mungkin karena melihat kawan-kawan senior yang mulai muak dengan hiruk-pikuk negeri ini. Di layar ponsel, sirkus tak pernah berhenti: kegaduhan tanpa substansi dan gimik yang meriah. Di saat itulah, saya teringat kembali pada sebuah diskusi lama bersama almarhum Prof. Abdul Hadi WM; tentang Akal Budi yang lebih dari sekadar logika.

Menziarahi Seneca di Sela-sela Sirkus Digital

​Berabad-abad silam, di jantung kekaisaran Roma, Seneca berdiri dengan kegelisahan yang sama. Ia menyaksikan rakyatnya lebih mencintai tontonan gladiator daripada keadilan, dan lebih memuja roti gratis daripada kemerdekaan berpikir. Menziarahi Seneca adalah upaya membasuh muka di tengah debu digital.

Seneca. Muamar Anis. Jpg.
Ziarah ke Seneca

​Bagi saya, Seneca tak ubahnya seorang Khotib mimbar Jum’at. Ia pengkhotbah favorit dari para murid alam yang rindu akan kebajikan lebih cerdas. Jika Seneca adalah Sang Khotib, maka Santo Paulus adalah Sang Imam—rekan kerja dalam perjuangan kemanusiaan. Meski berbeda fondasi sosial, mereka sepakat pada satu hal: Tuhan tidak berdiam di kuil kayu dan batu.

"Colitur Deus non tauris sed pia et recta voluntate." > (Tuhan tidak disembah dengan lembu jantan, melainkan dengan niat yang tulus dan jujur.)

Melampaui Rasio: Menuju Intelek Ibnu Rusyd

​Namun, ziarah ini tak boleh berhenti di Roma. Kita harus mendaki lebih tinggi menuju menara pemikiran Ibnu Rusyd. Di sinilah kita menemukan jawaban mengapa kita begitu mudah dijinakkan oleh 'Roti dan Sirkus': karena kita gagal membedakan antara Rasio dan Intelek.

​Rasio hanyalah daya bawaan yang bekerja berdasar data indrawi—ia mudah dikelabui oleh gimik. Sementara Intelek merupakan daya transenden sebagai karunia Tuhan yang mampu memahami bentuk non-material. Model epistemologi Ibnu Rusyd yang berbasis pada Burhani (demonstrasi rasional), Bayani (wahyu), dan Tajribi (sains) memastikan bahwa kebenaran bukan sekadar ilusi layar, melainkan sesuatu yang ilmiah sekaligus selaras dengan wahyu Ilahi.

Penutup: Menyalakan Kembali Cahaya

Akhirnya, dari meja warung yang sederhana ini, saya menyadari bahwa obat dari kemuakan terhadap sirkus ini bukanlah dengan cara ikut berteriak di arena. Melainkan dengan kembali mengasah Intelek kita, menyalakan kembali 'Nur' yang sempat redup di tengah kepulan asap rokok dan obrolan remeh.

Tuhan tidak ditemukan dalam keramaian sirkus yang palsu, melainkan dalam kejernihan akal budi. Mari mematikan sirkus sejenak, dan menyalakan kembali Intelek kita.


Author’s Note for My Global Readers:

​This article is part of a larger philosophical journey. Before we deconstructed the "monetary magic" and the distortion of the Ubermensch here, I invited Nietzsche to a sacred space to find his "Divine Spring." To understand the spiritual foundation of this critique, I invite you to read the preceding chapter:

 

​👉 [Nietzsche Masuk Pesantren: Saat Sang Ubermensch Bertemu Mata Air Ilahi]https://muamaranis.blogspot.com/2026/01/nietzsche-masuk-pesantren-saat-sang.html

A bridge between the radical ego and the ultimate surrender.


Seneca dan Santo Paulus sama-sama merupakan reformator moral. Keduanya, rekan kerja dalam perjuangan kemanusiaan; kalau ada Sang Khotib sudah barang tentu ada imam Masjid pula.( Muamar Anis) 




Referensi Utama:
  • Seneca, "Epistulae Morales ad Lucilium"
  • Ibnu Rusyd, "Fashl al-Maqal" & "Tahafut al-Tahafut"
  • Lactantius, "Divinae Institutiones"








Nietzsche Masuk Pesantren: Saat Sang Ubermensch Bertemu Mata Air Ilahi

Mengadu Ego Nietzsche dengan "Ulul Albab" Sir Muhammad Iqbal

Oleh: Muamar Anis

Nietzsche. Muamaranis. Jpg.
Nietzsche masuk Pesantren

Luka Seorang Anak Pendeta

Mari kita jujur: Friedrich Nietzsche adalah seorang anak pendeta yang sedang patah hati. Karyanya, Ubermensch, bukanlah penemuan filosofis murni, melainkan sebuah pelarian—bentuk frustrasi kosmik setelah ia menabrakkan kepalanya ke dinding institusi agama di Eropa. Ia ingin membunuh "Tuhan" yang ia kenal di rumah ayahnya, namun dalam pelariannya, ia justru tersesat di gerbang Islam dengan koper penuh kemarahan dan ego yang membengkak.

Islam Sebagai Senjata, Bukan Iman

Bagi Nietzsche, Islam adalah metafora sekaligus martil. Dalam The Antichrist, ia memuji Islam karena dianggap maskulin dan berani—antitesis dari modernitas Eropa yang ia anggap lemah. Namun, menurut klasifikasi Almond, Nietzsche tetap menyimpan curiga; ia menuduh Islam tidak mengenal belas kasihan terhadap das Gesindel (orang-orang rendahan). Ia mengagumi Nabi Muhammad SAW bukan sebagai pembawa wahyu, melainkan sebagai manipulator massa yang jenius—seorang teknokrat politik yang ia sejajarkan dengan Platon. Baginya, "Kebenaran" di tangan Nabi adalah Machtpolitik (politik kekuatan).


Beyond Good and Evil. Muamaranis. Jpg.
Beyond God and Evil


Kritik Zikir dan "Raison d’Être"

Dalam The Gay Science, Nietzsche mengejek tradisi merapal 99 nama Allah. Ia melihat para Sufi yang tenggelam dalam zikir tak ubahnya seperti orang yang lari dari kenyataan—sebuah ritual tanpa raison d’être (alasan keberadaan) yang jelas. Di sinilah letak "kebutaan" si Kumis Besar: ia gagal membedakan antara rutinitas mekanis dengan frekuensi spiritual yang menghancurkan tirani diri.

Jawaban Sir Muhammad Iqbal: Ulul Albab vs Ubermensch

Di titik inilah Sir Muhammad Iqbal hadir untuk meluruskan kesesatan pikir Nietzsche. Jika Nietzsche menawarkan Ubermensch sebagai manusia yang mabuk kekuasaan dalam kesunyian nihilisme, Iqbal menawarkan sosok Ulul Albab.

Sir Muhamad iqbal. Muamaranis. Jpg.
Sir Allamah Muhammad Iqbal

​Bagi Iqbal, manusia unggul bukanlah mereka yang membunuh Tuhan, melainkan mereka yang mampu mengawinkan ketajaman "Fikir" (intelektualitas) dengan kedalaman "Zikir" (intuisi spiritual). Nietzsche terjebak dalam logika bahwa kekuatan hanya lahir dari ego yang liar, sementara Iqbal membuktikan lewat Ulul Albab bahwa kekuatan sejati lahir dari "Khudi" (kedirian) yang sinkron dengan kehendak Ilahi. Nietzsche adalah pengembara yang kehilangan kompas dan akhirnya gila dalam kesendiriannya, sementara Ulul Albab adalah arsitek peradaban yang menjadikan wahyu sebagai peta navigasi.

Tahlilan. Muamaranis. Jpg.
Tahlilan

5. Penutup: Tahlil untuk Sang Ego

Nietzsche mengira ia sedang membangun jembatan menuju manusia super, padahal ia hanya sedang membangun tembok tinggi untuk menutupi kekecewaannya pada otoritas masa lalu. Di pesantren, tembok itu tidak diruntuhkan dengan paksa, tapi dilelehkan dengan kehangatan Mata Air Ilahi.


​"Update: The journey of the Ubermensch continues into the heart of modern struggle. After seeing him at the Pesantren, I dive deeper into how his ideas were distorted and how to find the 'Insan Kamil' amidst today's monetary magic: [Di Balik Sihir Kertas dan Obsesi Ubermensch: Menemukan Kembali Insan Kamil di Tengah Dehumanisasi]."https://muamaranis.blogspot.com/2026/02/di-balik-sihir-kertas-dan-obsesi.html


​Ternyata, Friedrich, yang kamu cari di puncak gunung itu bukan kematian Tuhan, melainkan keterbatasan logikamu sendiri. Di depan kitab-kitab kuning ini, Tuhan tidak pernah mati—hanya egomu saja yang perlu kita "tahlilkan" agar kamu menemukan kedamaian dalam dekapan Ulul Albab.(Muamar Anis) 

REFERENSI (FOOTNOTE)

  1. Nietzsche, Friedrich. The Gay Science & The Antichrist.
  2. Almond, Ian. Nietzsche's Peace with Islam.
  3. Iqbal, Sir Muhammad. The Reconstruction of Religious Thought in Islam (Konsep Khudi dan integrasi Zikir-Fikir).
  4. Iqbal, Sir Muhammad. Asrar-i-Khudi (The Secrets of the Self).
  5. Kertanegara, Mulyadi. Integrasi Ilmu: Sebuah Rekonstruksi Epistemologi.









Geometri Langit dalam Al-Fatihah: Membedah Arsy Kekuasaan yang Melampaui Siasat Pragmatis Machiavelli

Geometri Langit dalam Al-Fatihah: Membedah Arsy Kekuasaan yang Melampaui Siasat Pragmatis Machiavelli

Oleh: Muamar Anis


Geometri Langit-Muamar Anis. Jpg


​Di Syuis Simulakra, kita telah menelanjangi dasar-dasar manajemen kekuasaan Niccolo Machiavelli. Namun di sini, di Warung Mysticism, kita melangkah lebih jauh ke dalam lorong esoteris. Kita tidak lagi bicara soal menang-kalah, melainkan posisi seorang pemimpin dalam arsitektur alam semesta. Jika Machiavelli membedah anatomi kekuasaan dari sudut pandang horisontal—manusia dengan manusia—maka Al-Fatihah menawarkan sebuah Geometri Langit: sebuah jalur vertikal yang menghubungkan ambisi seorang 'Pangeran' dengan kehendak Sang Penguasa Mutlak.

Akar Pesimisme: Kegagalan Machiavelli Membaca Fitrah

Nasihat Machiavelli kepada Lorenzo de' Medici lahir dari rahim kekecewaan. Ia melihat Eropa yang koyak dan menyimpulkan secara prematur bahwa 'manusia selalu condong pada keburukan'. Karena kesimpulan gelap inilah, ia menyarankan makar dan pengabaian moral sebagai alat efektivitas kekuasaan.

Baca Juga: Niccolo Machiavelli Belajar Tafsir Al-Fatihah


Machiavelli. Muamar Anis. Jpg

​Padahal, jika kita hadapkan pada filosof kontrak sosial seperti Thomas Hobbes, John Locke, hingga Rousseau, kekuasaan seharusnya sejalan dengan hukum alam dan aspirasi rakyat. Mereka menegaskan bahwa rakyat berhak memberontak jika penguasa keluar dari jalur aspirasi tersebut. Namun, Machiavelli memilih jalan sunyi yang jauh dari etika. Di sinilah letak cacat logikanya: ia menjadikan anomali perilaku sebagai pondasi teori, bukan fitrah kesucian manusia sebagai pijakan.

Refleksi Sejarah: Siyasah yang Membelah Umat

Sejarah mencatat, politikus Islam ulung sekelas Amr bin Ash—yang fasih Al-Qur'an—pun terjebak dalam pragmatisme serupa. Tragedi Tahkim adalah bukti nyata bagaimana politik sanggup melahirkan sekte-sekte awal dalam Islam. Seperti kata Imam Asy-Syahrastani dalam kitab Al-Milal wa al-Nihal, benih perpecahan bukan lahir dari teologi murni, melainkan dari syahwat politik (Siyasah). Saat agama hanya dijadikan instrumen kekuasaan, ia kehilangan fungsi As-Syifa (obat) dan berubah menjadi pembenaran konflik.

Al-Ghazali & Al-Mawardi: Politik sebagai Khidmat Batin

Sangat kontradiktif jika kita membandingkan Machiavelli dengan Imam Al-Ghazali. Dalam At-Tibru al-Masbuk fi Nasihati al-Mulk, Al-Ghazali menegaskan bahwa akhlak adalah inti dari praktik politik. Politik tanpa akhlak hanyalah bangkai.

​Senada dengan itu, Al-Mawardi dalam Tashil an-Natzr memberikan nasihat yang jauh lebih manusiawi: seorang penguasa wajib memeriksa keadaan rakyatnya dengan sikap amanah dan ikhlas. Al-Mawardi melihat politik sebagai hubungan alami antarmanusia, bukan medan pertempuran kelicikan. Nasihat ini lebih dekat dengan fitrah manusia daripada teori The Prince yang dingin dan kaku.

Vibrasi Al-Fatihah: Audit Energi di Balik Takhta

Dalam tradisi esoteris, Al-Fatihah adalah Asasul Qur’an (fondasi) dan Al-Kanzu (perbendaharaan). Ia bekerja sebagai penawar bagi penyakit kekuasaan:

  1. Vibrasi Ar-Rahman vs Kalkulasi Pragmatis: Machiavelli memuja strategi, namun mistisisme mengenal Vibrasi Kasih. Pemimpin yang selaras dengan Ar-Rahman menjadi magnet kedamaian tanpa perlu pencitraan buatan.
  2. Maliki Yaumiddin: Audit Energi: Seperti terekam dalam kitab Madarij as-Su’ud karya Syeikh Nawawi Al-Bantani, pemandangan Mi’raj memperlihatkan Nabi Adam as. menangis saat menoleh ke kiri—melihat beban dosa anak cucunya. Maliki Yaumiddin adalah pengingat bahwa setiap kebijakan yang menindas akan menjadi beban metafisika yang terus mengalir meski sang penguasa sudah tertanam tanah.
  3. Ihdinash Shiraathal Mustaqiim: Jalur vertikal menuju titik nol keseimbangan. Titik di mana seorang penguasa menjalankan amanah tanpa sedikit pun rasa memiliki.

Penutup: Batas Fitrah Manusia

Ingatlah, sehebat-hebatnya seorang Atheis mencoba ingkar, ia tidak akan sanggup bertahan lebih dari 70 tahun dalam penyangkalannya, karena ia takkan mampu melawan jeritan fitrahnya sendiri sebagai manusia. Begitu pun dengan sistem Machiavelli..."


Referensi Kitab & Tokoh:

  • Imam Asy-SyahrastaniAl-Milal wa al-Nihal
  • Syeikh Nawawi Al-BantaniMadarij as-Su'ud
  • Imam Al-GhazaliAt-Tibru al-Masbuk fi Nasihati al-Mulk
  • Al-MawardiTashil an-Natzr
  • Thomas Hobbes, John Locke, J.J. RousseauSocial Contract Theories
  • Niccolo MachiavelliIl Principe (The Prince)




Selasa, 27 Januari 2026

Simulakra Ibadah: Antara Kepalsuan Digital Baudrillard dan Kebenaran Syiar Syadziliyyah

Simulakra Ibadah: Antara Kepalsuan Digital Baudrillard dan Kebenaran Syiar Syadziliyyah

Oleh: Muamar Anis

Simulacra Ibadah Perspektif Jean Baudrillard dan Paradigma Syadziliyyah

Simulakra: Ketika Citra Menelan Realitas

​Bagi sebagian orang, nama Jean Baudrillard mungkin terdengar asing. Beliau adalah sosiolog dan filsuf berkebangsaan Prancis yang membedah anatomi masyarakat modern melalui konsep Simulakra dan Hiperrealitas. Dalam karya monumentalnya, Simulacra and Simulation, Baudrillard menjelaskan bahwa di era media, citra atau simbol telah menggantikan realitas kehidupan itu sendiri.

​Proses ini menciptakan kondisi di mana representasi (media, iklan, postingan medsos) dianggap jauh lebih nyata dibandingkan kenyataan objektifnya. Orang tidak lagi mengonsumsi sesuatu berdasarkan fungsi, melainkan berdasarkan nilai tanda (ego, prestise, atau citra). Dalam konteks spiritual, simbol ibadah yang dituangkan dalam media seringkali dianggap lebih bermakna dibandingkan esensi ritual itu sendiri.

​Sebagai contoh, ketika seseorang memposting foto sujud atau sedekah, "citra" sujud tersebut seringkali menjadi lebih dominan secara makna dibandingkan aktivitas sujudnya di dunia nyata. Risikonya? Ibadah bergeser menjadi sekadar konten. Simbol menggantikan esensi. Pada titik ekstrem, manusia bisa terjebak "menyembah" citra dirinya sebagai ahli ibadah (persona), bukan menyembah Tuhan. Di sinilah simulakra Baudrillard berhasil menjajah jiwa manusia modern melalui komodifikasi visual religius.

Syadziliyyah: Ibadah sebagai Spiritual Counter-Attack

​Namun, apakah kita harus menyerah pada kehampaan makna digital tersebut? Dalam khazanah Islam, kita mengenal tokoh Sufi besar, Imam Abu Hasan Asy-Syadzili. Beliau menawarkan perspektif yang kontras namun sangat relevan untuk melawan dominasi maksiat visual.

​Suatu hari, ketika dibahas mengenai mana yang lebih utama antara ibadah yang disembunyikan (sirr) atau ditunjukkan (jahr), beliau memberikan jawaban yang menggetarkan:

"Ibadah yang ditunjukkan lebih utama daripada ibadah yang disembunyikan (dalam kondisi tertentu)."

​Imam Asy-Syadzili beralasan bahwa banyak manusia—khususnya di zaman penuh fitnah—sudah kehilangan rasa malu dalam mempertontonkan kemaksiatan. Jika pelaku maksiat bangga dengan dosanya, sementara ahli ketaatan bersembunyi karena takut dianggap riya, maka dunia hanya akan dipenuhi oleh narasi keburukan.

​Bagi paradigma Syadziliyyah, menampakkan ketaatan adalah strategi untuk mengembalikan arah kiblat visual. Jika Baudrillard melihat postingan ibadah sebagai "kepalsuan citra", maka Imam Asy-Syadzili melihatnya sebagai Syiar. Ini bukan soal ego pribadi, melainkan soal menunjukkan bahwa di tengah badai maksiat, Tuhan masih ditaati dan disembah.

Penutup: Menguduskan Simulakra

​Ibadah terang-terangan di era digital bisa kita sebut sebagai "Simulakra yang Disucikan". Kita sadar sepenuhnya bahwa media adalah panggung visual yang penuh tipu daya (Baudrillard), namun kita memilih menggunakan panggung tersebut sebagai senjata syiar (Asy-Syadzili).

​Ibadah harus tampil necis, keren, dan berani. Tujuannya satu: agar kemaksiatan tidak merasa menjadi satu-satunya kenyataan yang berhak eksis di layar ponsel kita.

"Di tengah rimbunnya simulakra maksiat yang diagungkan algoritma, ketaatan tidak boleh meringkuk ketakutan di sudut gelap. Jika Baudrillard melihat layar sebagai ruang hampa makna, maka paradigma Syadziliyyah hadir untuk mengisi kehampaan itu dengan frekuensi ketuhanan—meski dunia mungkin menyebutnya pamer."

 

Pembaca bisa mengkaji artikel lainya disini:https://muamaranis.blogspot.com/2026/01/geometri-langit-dalam-al-fatihah.html

 

Referensi

  • Baudrillard, Jean. (1994). Simulacra and Simulation. Ann Arbor: University of Michigan Press.
  • Asy-Syadzili, Abu Hasan. (Dikutip dalam berbagai kitab biografi Manaqib) seperti dalam Lathaif al-Minan karya Ibnu Atha'illah as-Sakandari mengenai prinsip Tahadduts bin Ni'mah.
  • Al-Fasi, Muhammad bin Qasim. Syarh al-Hikam al-Athaiyyah (Membahas metodologi dakwah Syadziliyyah dalam ruang publik).
  • Graaf, H.J. de. (Khusus referensi sejarah jika lu kaitkan dengan pola kepemimpinan Islam Nusantara).

Senin, 26 Januari 2026

Dialektika Imperium: Visi Besar Sultan Agung dan "Tumbal" Peradaban di Balik Megaproyek Kekuasaan

Dialektika Imperium: Visi Besar Sultan Agung dan "Tumbal" Peradaban di Balik Megaproyek Kekuasaan

Oleh Muamar Anis

​Membaca Sultan Agung adalah membaca tentang ketegangan antara ambisi makro dan realitas mikro. Sebagai penguasa terbesar Mataram Islam, ia tidak sekadar membangun sebuah kerajaan, melainkan sebuah 'proyek peradaban' yang menuntut integrasi total seluruh sumber daya Nusantara.

​Namun, dalam kacamata filsafat kekuasaan, sebuah visi yang kolosal selalu memiliki sisi gelap yang tak terelakkan: alokasi sumber daya yang terpusat. Ketika sebuah imperium memilih untuk memacu jantung utamanya—baik itu mobilisasi militer untuk kedaulatan maupun pembangunan struktur pusat yang megah—maka secara mekanis, sektor-sektor penopang di pinggiran akan mengalami 'anemia' perhatian. Di sinilah letak paradoks seorang penguasa; ia harus memilih sektor mana yang akan dimenangkan menjadi sejarah, dan sektor mana yang akan dikorbankan menjadi tumbal sunyi dari sebuah kemajuan.

​Sultan Agung membangun Pertahanan Nasional melawan VOC dengan mengirim pasukan besar untuk menyerang Batavia sebanyak dua kali (1628 dan 1629), menutup pantai Utara Jawa bagi pedagang asing, serta melarang penjualan beras ke Belanda. Di sisi lain, ia mencoba mendistribusikan kemakmuran dengan memusatkan perhatian pada sektor pertanian melalui distribusi tanah dan pembangunan bendungan air.

​Dalam pendekatan Budaya & Agama, ia menyatukan rakyat dengan menciptakan Kalender Jawa serta memperkuat dakwah Islam yang secara tidak langsung memakmurkan pedepokan melalui sarana ibadah. Akan tetapi, di balik itu semua, muncul dilema logistik dan militer yang tak terhindarkan.

Ambisi Kedaulatan: Harga Mahal Sebuah Perlawanan


Antara mobilisasi massa dan sunyinya sektor pendidikan di pedalaman




​Dimulai dari serangan ke Batavia, Sultan Agung menuntut pasokan beras dalam jumlah besar dari wilayah taklukan, termasuk dari wilayah pesisir yang merupakan pusat-pusat intelektual dan pesantren. Kegagalan serangan kedua pada 1629, di mana lumbung-lumbung makanan di Tegal dan Cirebon dibakar oleh VOC, menjadi titik balik yang menyakitkan. Kemegahan sebuah istana seringkali dibayar oleh kesunyian di lumbung-lumbung desa.

​Meskipun ia berusaha memakmurkan Mataram melalui pembangunan agraris, ambisi besar melawan VOC menguras energi, logistik, dan kekayaan ekonomi Mataram. Akibatnya, banyak sektor internal menjadi "korban" demi tegaknya kedaulatan politik.

Penjaga Nyala Api di Tengah Deru Perang

​Para guru agama dan pengajar literasi di zaman itu adalah tulang punggung mental rakyat. Namun, seringkali mereka harus bekerja dalam keterbatasan ekstrem karena anggaran dan perhatian kerajaan habis terserap untuk logistik perang.

​Dalam filsafat ekonomi, kita mengenal istilah "Zero-Sum Game" dan "Opportunity Cost". Setiap bulir padi atau keping koin yang ditaruh untuk satu megaproyek kedaulatan, adalah satu unit kesejahteraan yang "hilang" dari mereka yang menjaga akar rumput. Ini adalah sebuah "Kesunyian di Balik Panggung Megah".

Epilog: Tragedi Geografis dan Keterbatasan Tangan Sang Raja

​Ketimpangan yang terjadi seringkali bukanlah kesalahan moral personal seorang penguasa, melainkan sebuah "Tragedi Geografis" dan "Kutukan Negara Besar". Menjaga keseimbangan di wilayah yang luasnya luar biasa adalah seni yang nyaris mustahil mencapai kesempurnaan.

​Pada akhirnya, kita harus menyadari: Bukan karena Sang Raja tidak melihat, tapi karena tangan Raja hanya dua, sementara kebutuhan rakyatnya seribu. Keberhasilan sebuah kebijakan seringkali ditulis dengan tinta emas, namun kertasnya adalah nasib mereka yang terpinggirkan.

Daftar Referensi:

  • Graaf, H. J. de. (1986). Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi Sultan Agung. Jakarta: Grafiti Pers.
  • Ricklefs, M. C. (2008). A History of Modern Indonesia since c. 1200. Stanford University Press.
  • Moedjanto, G. (1986). The Concept of Power in Javanese Culture. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  • Sunyoto, Agus. (2014). Atlas Wali Songo. Depok: Pustaka IIMaN.

Beyond the Nausea: Sartre and Nietzsche at the Kaaba – Finding Existence in the Ultimate Prostration

  Beyond the Nausea: Sartre and Nietzsche at the Kaaba – Finding Existence in the Ultimate Prostration Oleh: Muamar Anis Nietzsche and Sartr...