Tampilkan postingan dengan label walisongo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label walisongo. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Februari 2026

Bukan Sekadar Dagang: Peran Tariqat, Dialektika Semar, dan Rahasia Islamisasi Nusantara

Bukan Sekadar Dagang: Peran Tariqat, Dialektika Semar, dan Rahasia Islamisasi Nusantara

Oleh: Muamar Anis


Pedagang. Muamaranis. Jpg
Pedagang. Muamar Anis. Jpg

Secarik LKS di Pojok Warung

​Di pojok warung pagi hari, sambil menunggu kepulan asap 234, mata saya tertuju pada secarik kertas di bawah piring gorengan. Ternyata itu kertas LKS anak sekolah milik penjual warung yang sudah tidak terpakai. Di sana tertulis judul besar: "Sejarah Islam di Indonesia". Sambil mengunyah mendoan, saya merenung.

​Selama ini, buku teks sekolah seringkali menyederhanakan masuknya Islam ke Nusantara seolah-olah hanya 'bonus' dari transaksi lada dan sutra. Namun, jika kita menyelam lebih dalam ke balik riuhnya pasar, kita akan menemukan jejak-jejak sunyi para Sufi pengembara. Melalui jaringan tariqat dan kekuatan akal budi, mereka melakukan revolusi mental yang mengubah wajah peradaban Melayu selamanya.

​Bukan Pedagang, Tapi Pembersih Lahan Spiritual

​Fakta sejarah mencatat Islam masuk sejak abad ke-8 atau 9 Masehi. Tapi kenapa baru masif di abad ke-13? Karena ada "pagar" yang harus dibuka. Jauh sebelum Islam tercium massal, ada dialektika spiritual antara ulama Turki, Syekh Subakir, dengan dedengkot tanah Jawa, Semar Ismoyo Jati.

Masjid. Muamaranis. Jpg.
Simbol Islamisasi

​Ada riwayat pilu bahwa sebelum Syekh Subakir, seribu utusan tumbang. Islam masuk ke Nusantara bukan lewat hantaman syariat yang kaku, tapi lewat kelebihan amalan dan ajaran tasawuf yang membumi. Para penyebar awal tahu persis kondisi Nusantara yang tidak bisa lepas dari budaya animisme dan dinamisme. Mereka datang untuk "mengisi", bukan menghancurkan.

​Kritik Sanad: Walisongo vs Narasi Marga

​Kita harus kritis terhadap teori-teori yang terlalu mengagungkan peran imigran atau marga-marga tertentu yang secara historis memiliki kedekatan dengan kepentingan kolonial (Belanda). Kita patut waspada jika ada upaya mempromosikan sejarah yang mengaburkan peran dakwah kultural pribumi.

​Kunci penyebaran Islam sesungguhnya adalah Walisongo. Mereka memiliki sanad keilmuan yang jelas sampai ke Rasulullah SAW. Berkat cendekiawan seperti Prof. Agus Sunyoto, kita diingatkan kembali bahwa Islam tegak di sini karena ketulusan para Wali yang masuk ke jantung pemerintahan, bukan sekadar "promosi" pedagang keliling yang tak jelas akarnya.

​Sastra Sebagai Senjata dan Ketakutan Belanda

​Tokoh seperti Prof. Abdul Hadi WM telah berjuang di medan tempur yang berbeda: Bahasa dan Sastra. Beliau membuktikan bahwa Islam meletakkan dasar rasionalitas pada bangsa Melayu.

​Di sisi lain, Belanda sangat ketakutan jika Islam menjadi kekuatan politik. Itulah sebabnya mereka membatasi penyebaran Islam yang terorganisir. Namun, para ulama kita lebih cerdik. Mereka membentuk Jamiyyatul Ulama, sebuah embrio organisasi sebelum lahirnya Nahdlatul Ulama, sebagai benteng perlawanan terhadap penjajah.

​Quote Utama

"Islam di Nusantara tidak datang untuk mencabut akar budaya, melainkan menyiraminya dengan cahaya akal budi. Ia menang bukan karena pedang, tapi karena kedalaman rasa para kekasih Tuhan."Muamar Anis


[Referensi Intelektual]

  • Prof. Agus SunyotoAtlas Walisongo (Pilar sejarah dakwah lokal).
  • Prof. Abdul Hadi WMIslam: Cakrawala Estetik dan Budaya (Kekuatan sastra sufi).
  • M. Naquib al-AttasIslam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu.
  • S. Q. Fatimi – Catatan tentang korespondensi Raja Sriwijaya (Zabaq) dengan Khalifah Umayyah.

Senin, 26 Januari 2026

Membaca "Doa Visual": Filosofi Rajah Wayang Semar dalam Tinjauan Syariat dan Sejarah

Membaca "Doa Visual": Filosofi Rajah Wayang Semar
dalam Tinjauan Syariat dan Sejarah

Oleh Muamar Anis

Rajahwayang. Muamaranis. Jpg.

Pendahuluan

Dunia mistisisme Nusantara selalu menyimpan rahasia di balik simbol-simbol di dalamnya. Salah satu yang paling tampak antara lain adalah Rajah Wayang Semar. Bagi orang awam, ini mungkin hanya dianggap seperti kertas biasa, benda antik atau Azimah kata orang timur tengah. Namun, jika kita bedah lebih dalam secara filosofis dan historis, rajah ini adalah titik temu antara tauhid Islam dan kearifan lokal Jawa yang sangat dalam.

​Asal-Usul Semar:

Sang Penjaga yang Berdialektika

Dalam mitologi Jawa, Semar bukanlah manusia biasa. Ia diyakini sebagai entitas tertua (bangsa jin/danyang) yang menghuni tanah Jawa jauh sebelum peradaban manusia modern berkembang.

​Salah satu fragmen sejarah metafisika yang paling menarik adalah dialektika antara Semar (Sabdo Palon) dengan Syekh Subakir, ulama asal Rum yang diutus untuk menyebarkan Islam di Jawa. Syekh Subakir sama sekali tidak menghancurkan eksistensi Semar, akan tetapi melakukan perjanjian di sebuah Gunung Tidar (Perjanjian Tidar). Islam diizinkan masuk asalkan tidak menghapus identitas kejawaannya. Inilah awal mula lahirnya Islam Nusantara yang santun dan akulturatif.

​Filosofi Wayang Semar

Sosok Semar dalam pewayangan adalah simbol kesempurnaan batin:

​Tangan Kanan Menunjuk: Simbol keteguhan pada kebenaran (Tauhid).

​Tangan Kiri ke Belakang: Simbol kepasrahan total (tawakkal) atas segala urusan dunia.

​Wajah Senyum tapi Mata Sembab: Gambaran seorang arif yang telah melampaui dualitas suka dan duka—ia tertawa melihat dunia namun hatinya menangis dalam kerinduan kepada Sang Pencipta. Maka tidak heran ketika Sunan Kalijaga, salah satu dari Wali Songo menyebarkan Islam dengan metode pewayangan terlebih lagi di masa dahulu orang masih menganut cara beragama animisme dan dinamisme. 

​Rajah Semar dalam Perspektif Syariat

Banyak yang bertanya, bagaimana hukum menggunakan rajah dalam Islam? Di dunia Arab, rajah dikenal dengan istilah Azimah.

​Merujuk pada kitab Al-Fatawi Al-Haditsiyyah karangan Syekh Ibn Hajar Al-Haitami, penggunaan azimah atau rajah yang bertuliskan bahasa Arab dan diketahui maknanya secara jelas adalah mutlak diperbolehkan. Sebaliknya, ketidakbolehan (pelarangan) azimah biasanya dilandaskan pada kekhawatiran agar pengguna yang awam tidak terseret ke dalam kemusyrikan jika tidak memahami makna tersirat di dalamnya.

​Akar Mistisisme: Antara Syiah Batiniyyah dan Kejawen

Secara historis, banyak ilmu ketabiban dan rajah-rajah batiniah di Nusantara yang dipengaruhi oleh faham Syiah Batiniyyah yang kemudian diadopsi ke dalam aliran kebatinan atau kejawen. Meskipun dalam praktiknya sering disalahgunakan oleh sebagian kalangan untuk praktik perdukunan yang bertentangan dengan syariat, namun dalam esensinya, rajah yang benar adalah sebuah "doa visual" yang mengingatkan pemiliknya kepada Allah SWT.

​Kesimpulan

Rajah Wayang Semar adalah manifestasi dari "Islam yang merangkul Budaya". Ia adalah bukti bahwa tauhid bisa bersemayam dalam simbol lokal tanpa kehilangan kemurniannya. Menjaga warisan ini berarti menjaga sejarah dialektika para leluhur dalam menemukan Tuhan di tanah Jawa. Lantas bagaimana dengan istilah Jimat dan sebagainya, di lain kesempatan akan saya suguhkan buat para pembaca


Untuk artikel lainya silahkan pembaca bisa kunjungi juga di sini👉https://muamaranis.blogspot.com/2026/01/dialektika-imperium-visi-besar-sultan.html


Referensi & Rujukan Ilmiah:

​Agus Sunyoto, Prof. KH. Ng. – Atlas Walisongo: Buku Pertama yang Mengungkap Walisongo sebagai Fakta Sejarah. (Membahas strategi dakwah kultural Sunan Kalijaga dan akulturasi Islam di tanah Jawa).

​Ibn Hajar Al-Haitami, Syekh. – Al-Fatawi Al-Haditsiyyah. (Rujukan hukum fikih terkait penggunaan Azimah/Rajah dan batasan-batasannya dalam syariat).

​Serat Darmogandul & Suluk Linglung – (Sebagai komparasi literatur terkait dialektika antara tokoh Semar/Sabdo Palon dengan tokoh-tokoh penyebar Islam awal di Jawa).

​Sejarah Lisan Nusantara – Kisah tutur mengenai Perjanjian Gunung Tidar antara Syekh Subakir dan Sang Hyang Ismaya (Semar).

Sabtu, 18 Januari 2014

SUNAN BONANG DAN AJARAN TASAWUFNYA



SUNAN BONANG
DAN AJARAN TASAWUFNYA

Oleh:Muamar Anis


Gamelan -Muamar Anis. Jpg
  1. Sunan Bonang mengubah nada gamelan menjadi sarana zikir dan perenungan batin.

Sang Ulama Mumpuni dari Pesisir Tuban
       Di antara teks-teks Islam tarawal dalam sejarah sastra Jawa terdapat untaian puisi-puisi mistikal (suluk) karya Sunan Bonang, seorang wali sufi terkemuka di pulau Jawa yang tinggal di Tuban, Jawa Timur. Selain sejumlah suluk, Sunan Bonang juga meninggalkan karya penting yaitu risalah tasawuf yang oleh Drewes diberi judul Admonitions of She Bari.Sunan Bonang  lahir pada pertengahan abad ke-15 M dan wafat pada awal abad ke-16, sekitar tahun 1526 atau 1530 M (De Graff 1985:55). Dia adalah ulama yang mumpuni pada zamannya, juga seorang ahli falak,  musikus dan tentu saja sastrawan. Karua-karyanya memperlihatkan bahwa dia menguasai bahasa dan sastra Arab di samping Persia, Jawa Kuna dan Melayu.

            Namanya semula ialah Makhdum Ibrahim. Dalam suluk-suluknya dia memakai beberapa nama julukan seperti  Ibrahim Asmara, Ratu Wahdat, Sultan Khalifah dan lain-lain (Hussein Djajadiningrat 1913; Purbatjaraka 1938; Drewes 1969). Nama Bonang diambil dari nama desa tempat dia  mendirikan pesujudan dan pesantren, yaitu Bonang. Desa itu tidak jauh dari kota Rembang dan Lasem di perbatasan antara propinsi Jawa Tengah dan  Jawa Timur sekarang ini.

            Sejak muda Makhdum Ibrahim adalah seorang pelajar yang tekun dan muballigh yang handal. Setelah mempelajari bahasa Arab dan Melayu, serta berbagai cabang ilmu agama yang penting seperti fiqih, usuluddin, tafsir Qur’an, hadis dan tasawuf; bersama saudaranya Sunan Giri dia pergi ke Mekkah dengan singgah terlebih dahulu di Malaka, kemudian ke Pasai. Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu) mencatat  kunjungan Sunan Bonang dan Sunan Giri ke Malaka sebelum melanjutkan perjalanan ke Pasai. Sepulang dari Mekkah, dia  ditugaskan oleh ayahnya ntuk memimpin masjid Singkal, Daha di Kediri (Kalamwadi 1990:26-30). .

            Pada tahun 1498 M Sultan Demak Raden Patah mempercayakan kepada Sunan Bonang  untuk menjadi imam Mesjid Agung Demak. Dalam tugasnya itu dia dibantu oleh Sunan Kalijaga, Ki Ageng Selo dan wali yang lain. Di bawah pimpinannya masjid Demak segera berkembang menjadi pusat keagamaan dan kebudayaan terkemuka di pulau Jawa. Tetapi beberapa tahun kemudian, dia berselisih pandangan dengan Sultan Demak dan memutuskan untuk mngundurkan diri dari jabatannya  sebagai imam masjid agung. Dari Demak Sunan Bonang pindah ke Lasem, dan memilih desa Bonang sebagai tempat kegiatannya yang baru. Di sini dia mendidirikan pesujudan dan pesantren. Beberapa karya Sunan Bonang, khususnya Suluk Wujil, mengambil latar kisah di pesujudannya ini di mana dia memberikan ajaran rahasia agama kepada muridnya, seorang bekas abdi dalem Majapahit yang terpelajar bergelar Wujil (Abdul Hadi W. M. 2000:96-107).


Suluk-suluk Sunan Bonang


           Sunan Bonang adalah penulis prolifik. Karangan-karangannya dapat digolongkan ke dalam dua kelompok: (1) Untaian puisi mistikal yang lazim disebut suluk dalam sastra Jawa. Dalam suluk-suluknya dia mengungkapkan pengalaman keruhaniannya mengikuti jalan sufi. Dalam suluknya pula dia menyampaikan pokok-pokok ajaran tasawuf melalui ungkapan-ungkapan simbolik sastra. Di antara suluk-suluknya ialah Suluk Wujil, Suluk Khalifah, Suluk Kaderesan, Suluk Regol, Suluk Bentur, Suluk Wasiyat, Suluk Pipiringan, Gita Suluk Latri, Gita Suluk Linglung,  Gita Suluk ing Aewuh, Gita Suluk Jebang, Suluk Wregol dan lain-lain. (2) Karangan prosa seperti Pitutur Sunan Bonang yang ditulis dalam bentuk dialog antara seorang guru sufi dan muridnya yang tekun. Bentuk semacam ini banyak dijumpai sastra Arab dan Persia.

            Drewes (1968, 1978) telah mencatat sejumlah naskah yang memuat suluk-suluk Sunan Bonang. Khususnya yang terdapat di Museum Perpustakaan Universitas Leiden, dan memberi catatan ringkas tentang isi suluk-suluk tersebut. Penggunaan tamsil pencinta dan Kekasih misalnya terdapat dalam Gita Suluk Latri yang ditulis dalam bentuk tembang wirangrong. Suluk ini menggambarkan seorang pencinta yang gelisah menunggu kedatangan Kekasihnya. Semakin larut malam kerinduan dan kegelisahannya semakin mengusiknya, dan semakin larut malam pula berahinya (`isyq) semakin berkobar. Ketika Kekasihnya datang dia lantas lupa segala sesuatu, kecuali keindahan wajah Kekasihnya. Demikianlah sestelah itu sang pencinta akhirnya hanyut dibawa ombak dalam lautan ketakterhinggaan wujud.

           Dalam Suluk Khalifah Sunan Bonang menceritakan kisah-kisah kerohanian para wali dan pengalaman mereka mengajarkan kepada orang yang ingin memeluk agama Islam. Suluk ini cukup panjang. Sunan Bonang juga menceritakan pengalamannya selama beradadi Pasai bersama guru-gurunya serta perjalanannya menunaikan ibadah haji ke Mekkah.


Suluk Gentur dan Gita Suluk Wali


           Dari suluk-suluknya itu yang sangat penting antara lain ialah Suluk Gentur atauSuluk Bentur. Suluk ini ditulis di dalam tembang wirangrong dan cukup panjang.  Gentur atau bentur berarti lengkap atau sempurna. Di dalamnya digambarkan jalan yang harus ditempuh seorang sufi untuk mencapai kesadaran tertiggi. Dalam perjalanannya itu ia akan berhadapan dengan maut dan dia akan diikuti oleh sang maut kemana pun ke mana pun ia melangkah. Ujian terbesar seorang penempuh jalan tasawuf atau suluk ialah syahadat da`im qa`im .Syahadat ini berupa kesaksian  tanpa bicara sepatah kata pun dalam waktu yang lama, sambil mengamati gerik-gerik jasmaninya dalam menyampaikan isyarat kebenaran dan keunikan Tuhan. Garam jatuh ke dalam lautan dan lenyap, tetapi tidak dpat dikatakan menjadi laut. Pun tidak hilang ke dalam kekosongan (suwung). Demikian pula apabila manusia mencapai keadaan fana’ tidak lantas  tercerap dalam Wujud Mutlak. Yang lenyap ialah kesadaran akan keberadaan atau kewujudan jasmaninya.


Syahadat Da’im Qa’im: Menghilangnya Garam di Lautan
          Dalam suluknya ini Sunan Bonang juga mengatakan bahwa pencapaian tertinggi seseorang ialah fana’ ruh idafi, iaitu ‘keadaan dapat melihat peralihan atau pertukaran segala bentuk lahir dan gejala lahir, yang di dalamnya kesadaran intuititf atau makrifat menyempurnakan penghlihatannya tentang Allah sebagai Yang Kekal dan Yang Tunggal’. Pendek kata dalam fana’ ruh idafi seseorang sepenuhnya menyaksikan kebenaran hakiki ayat al-qur`an 28:88 : “Segala hal binasa kecuali Wajah-Nya”. Ini digambarkan melalui peumpamaan asyrafi (emas bentukan yang mencair dan hilang kemuliannya, sedangkan substansinya sebagai emas tidak lenyap. Syahadat dacim qacim adalah kurnia yang dilimpahkan Tuhan kepada seseorang sehingga ia menyadari dan menyaksikan dirinya bersatu dengan kehendak Tuhan (sapakarya). Menurut Sunan Bonang, ada tiga macam syahadat:


1.Mutawilah (muta`awillah di dalam bahasa Arab)

2.Mutawassitah (Mutawassita)

3.Mutakhirah (muta`akhira)


           Yang pertama syahadat (penyaksian) sebelum manusia dilahirkan ke dunia iaitu dariHari Mitsaq (Hari Perjanjian) sebagaimana dikemukakan di dalam ayat al-Qur`an 7: 172, “Bukankah Aku ini Tuhanmu? Ya, aku menyaksikan” (Alastu bi rabbikum? Qawl bala syahidna). Yang ke dua ialah syahadat ketika seseorang menyatakan diri memeluk agama Islam dengan mengucap “Tiada Tuhan selain allah dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya”. Yang ketiga adalah syahadat yang diucapkan para Nabi, Wali dan Orang Mukmin sejati. Bilamana tiga syahadat ini dipadukan menjadi satu maka dapat dimpamakan seperti kesatuan transenden antara tidakan menulis, tulisan dan lembaran kertas yang mengandung tulisan itu. Juga dapat diumpamakan sperti gelas, isinya dan gelas yang isinya penuh. Bilamana gelas bening, isinya akan tampak bening sedang gelasnya tidak kelihatan. Begitu pula hati seorang mukmin yang merupakan tempat kediaman Tuhan, akan memperlihatkan kehadiran-Nya bilamana hati itu bersih, tulus dan jujur.

           Dikatakan juga dalam suluknya itu bahwa dalam hati yang bersih, dualitas lenyap. Yang kelihatan ialah  tindakan cahaya-Nya yang melihat. Artinya dalam melakukan perbuatan apa saja seorang mukmin senantiasa sadar bahwa dia selalu diawasi oleh Tuhan, yang menyebabkannya tidak lalai menjalankan perintah agama. Perumpamman ini dapat dirujuk kepada perumpamaan seupa di dalam Futuh al-Makkiyah karya Ibn `Arabi dan Lama`at karya `Iraqi.

          Karya Sunan Bonang juga unik ialah Gita Suluk Wali,  untaian puisi-puisi lirik yang memikat. Dipaparkan bahwa hati seorang yang ditawan oleh rasa cinta itu seperti laut pasang menghanyutkan atau seperti api yang membakar sesuatu sampai hangus. Untaian puisi-puisi ini diakhiri dengna pepatah sufi “Qalb al-mucmin bait Allah” (Hati seorang mukmin adalah tempat kediaman Tuhan).

          Satu-satunya karangan prosa Sunan Bonang yang dapat diidentifikasi sampai sekarang ialah Pitutur Seh Bari. Salah satu naskah yang memuat teks karangan prosa Sunan Bonang ini ialah MS Leiden Cod. Or. 1928. Naskah teks ini telah ditransliterasi ke dalam tulisan Latin, serta diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh Schrieke dalam disertasi doktornya Het Boek van Bonang (1911). Hoesein Djajadiningrat juga pernah meneliti dan mengulasnya dalam tulisannya ”Critische Beschouwing van de Sedjarah Banten” (1913). Terakhir naskah teks ini ditransliterasi dan disunting oleh Drewes, dalam bukunya The Admonotions of Seh Bari (1969), disertai ulasan dan terjemahannya dalam bahasa Inggris.


Suluk Wujil


            Di antara suluk karya Sunan Bonang yang paling dikenal dan relevan untuk dikemukakan ialah Suluk Wujil. Dari segi bahasa dan puitika yang digunakan, serta konteks sejarahnya dengan perkembangan awal sastra Pesisir, SW benar-benar mencerminkan zaman peralihan Hindu ke Islam (abad ke-15 dan 16 M) yang sangat penting dalam sejarah Jawa Timur. Teks SW dijumpai antara lain dalam MS Bataviasche Genotschaft 54 (setelah RI merdeka disimpan di Museum Nasional, kini di Perpustakaan Nasional Jakarta) dan transliterasinya ke dalam huruf Latin dilakukan oleh Poerbatjaraka dalam tulisannya ”De Geheime Leer van Soenan Bonang (Soeloek Woedjil)” (majalah Djawa vol. XVIII, 1938). Terjemahannya dalam bahasa Indonesia pernah dilakukan oleh Suyadi Pratomo (1985), tetapi karena tidak memuaskan, maka untuk kajian ini kami berusaha menerjemahkan sendiri teks hasil transliterasi Poerbatjaraka.

            Sebagai karya zaman peralihan Hindu ke Islam, pentingnya karya Sunan Bonang ini tampak dalam hal-hal seperti berikut: Pertama, dalam SW tergambar suasana kehidupan badaya, intelektual dan keagamaan di Jawa pada akhir abad ke-15, yang sedang beralih kepercayaan dari agama Hindu ke agama Islam. Di arena politik peralihan itu ditandai denga runtuhnya Majapahit, kerajaan besar Hindu terakhir di Jawa, dan bangunnya kerajaan Demak, kerajaan Islam pertama. Demak didirikan oleh Raden Patah, putera raja Majapahit Prabu Kertabumi atau Brawijaya V daripada perkawinannya dengan seorang puteri Cina yang telah memeluk Islam. Dengan runtuhnya Majapahit terjadilah perpindahan kegiatan budaya dan intelektual dari sebuah kerajaan Hindu ke sebuah kerajaan Islam dan demikian pula tata nilai kehidupan masyarakat pun berubah.

             Sunan Bonang sebagai seorang penulis Muslim awal dalam sastra Jawa, menunjukkan sikap yang sangat berbeda dengan para penulis Muslim awal di Sumatra. Yang terakhir sudah sejak awal huruf Jawi, yaitu huruf Arab yang disesuaikan dengan system fonem Melayu. Sedangkan Sunan Bonang dan para penulis Muslim Jawa yang awal tetap menggunakan huruf Jawa telah mapan dan dikenal masyarakat terpelajar. Sunan Bonang juga menggunakan tamsil-tamsil yang tidak asing bagi masyarakat Jawa, misalnya wayang. Selain itu bentuk tembang Jawa Kuno, yaitu aswalalita juga masih digunakan. Dengan demikian kehadiran karyanya tidak dirasakan sebagai sesuatu yang asing bagi pembaca sastra Jawa, malahan dipandangnya sebagai suatu kesinambungan. PpentingnyaSuluk Wujil karena renungan-renungannya tentang masalah hakiki di sekitar wujud dan rahasia terdalam ajaran agama, memuaskan dahaga kaum terpelajar Jawa yang pada umumnya menyukai mistisisme atau metafisika, dan seluk beluk ajaran keruhanian. SW dimulai dengan pertanyaan metafisik yang esensial dan menggoda sepanjang zaman, di Timur maupun Barat:


Inilah ceritera si Wujil

Berkata pada guru yang diabdinya

Ratu Wahdat

Ratu Wahdat nama gurunya

Bersujud ia ditelapak kaki Syekh Agung

Yang tinggal di desa Bonang

Ia  minta maaf

Ingin tahu hakikat

Dan seluk beluk ajaran agama

Ssampai rahsia terdalam


                        2

Sepuluh tahun lamanya

Sudah Wujil

Berguru kepada Sang Wali

Namun belum mendapat ajaran utama

Ia berasal dari Majapahit

Bekerja sebagai abdi raja

Sastra Arab telah ia pelajari

Ia menyembah di depan gurunya

Kemudian berkata

Seraya menghormat

Minta maaf


                                    3

“Dengan tulus saya mohon

Di telapak kaki tuan Guru

Mati hidup hamba serahkan

Sastra Arab telah tuan ajarkan

Dan saya telah menguasainya

Namun tetap saja saya bingung

Mengembara kesana-kemari

Tak berketentuan.

Dulu hamba berlakon sebagai pelawak

Bosan sudah saya

Menjadi bahan tertawaan orang


                        4

Ya Syekh al-Mukaram!

Uraian kesatuan huruf

Dulu dan sekarang

Yang saya pelajari tidak berbeda

Tidak beranjak dari tatanan lahir

Tetap saja tentang bentuk luarnya

Saya meninggalkan Majapahit

Meninggalkan semua yang dicintai

Namun  tak menemukan sesuatu apa

Sebagai penawar


                        5

Diam-diam saya pergi malam-malam

Mencari rahsia Yang Satu dan jalan sempurna

Semua pendeta dan ulama hamba temui        

Agar terjumpa hakikat hidup

Akhir kuasa sejati

Ujung utara selatan

Tempat matahari dan bulan terbenam

Akhir mata tertutup dan hakikat maut

Akhir ada dan tiada


            Pertanyaan-pertanyaan Wujil kepada gurunya merupakan pertanyaan universal dan eksistensial, serta menukik hingga masalah paling inti, yang tidak bisa dijawab oleh ilmu-ilmu lahir. Terbenamnya matahari dan bulan, akhir utara dan selatan, berkaitan dengan kiblar dan gejala kehidupan yang senantiasa berubah. Jawabannya menghasilkan ilmu praktis dan teoritis seperti fisika, kosmologi, kosmogeni, ilmu pelayaran, geografi dan astronomi.



Wayang - Muamar Anis. Jpg.
Blencong sebagai cahaya hidup, kelir sebagai alam inderawi—filsafat wayang dalam kacamata makrifat Sunan Bonang.


Makrifat di Balik Kelir: Wayang Sebagai Simbol Tajalli
.           Tamsil paling menonjol yang dekat dengan budaya lokal ialah wayang dan lakon perang Bala Kurawa dan Pandawa yang sering dipertunjukkan dalam pagelaran wayang.. Penyair-penyair sufi Arab dan Persia seperti  Fariduddin `Attar dan Ibn Fariedh menggunakan tamsil wayang untuk menggambarkan persatuan mistis yang dicapai seorang ahli makrifat dengan Tuhannya. Pada abad ke-11 dan 12 M di Persia pertunjukan wayang Cina memang sangat populer (Abdul Hadi W.M. 1999). Makna simbolik wayang dan layar tempat wayang dipertunjukkan, berkaitan pula dengan bayang-bayang dan cermin. Dengan menggunakan tamsil wayang dalam suluknya Sunan Bonang seakan-akan ingin mengatakan kepada pembacanya bahwa apa yang dilakukan melalui karyanya merupakan kelanjutan dari tradisi sastra sebelumnya, meskipun terdapat pembaharuan di dalamnya.

Ketika ditanya oleh Sunan Kalijaga mengenai falsafah yang dikandung pertunjukan wayang dan hubungannya dengan ajaran tasawuf, Sunang Bonang menunjukkan kisah Baratayudha (Perang Barata), perang besar antara Kurawa dan Pandawa. Di dalam pertunjukkan wayang kulit Kurawa diletakkan di sebelah kiri, mewakili golongan kiri. Sedangkan  Pandawa di sebelah kanan layar mewakili golongan kanan layar mewakili golongan kanan. Kurawa mewakili nafi dan Pandawa mewakili isbat. Perang Nafi Isbat juga berlangsung  dalam jiwa manusia dan disebut jihad besar. Jihad besar dilakukan untuk mencapai pencerahan dan pembebasan dari kungkungan dunia material.


            Sunan Bonang berkata kepada Wujil: “Ketahuilah Wujil, bahwa pemahaman yang sempruna dapat dikiaskan dengan makna hakiki pertunjukan Wayang. Manusia sempurna menggunakan ini untuk memahami dan mengenal Yang. Dalang dan wayang ditempatkan sebagai lambang dari tajalli (pengejawantahan ilmu) Yang Maha Agung di alam kepelbagaian. Inilah maknanya: Layar atau kelir merupakan alam inderawi. Wayang di sebelah kanan dan kiri merupakan makhluq ilahi. Batang pokok pisang tempat wayang diletakkan ialah tanah tempat berpijak. Blencong atau lampu minyak adalah nyala hidup. Gamelan  memberi irama dan keselarasan bagi segala kejadian. Ciptaan Tuhan tumbuh tak tehitung. Bagi mereka yang tidak mendapat tuntunan ilahi ciptaan yang banyak itu akan merupakan tabir yang menghalangi penglihatannya. Mereka akan berhenti pada wujud zahir. Pandangannya kabur dan  kacau. Dia hilang di dalam ketiadaan, karena tidak melihat hakekat di sebalik ciptaan itu.

Referensi & Sumber Bacaan:

  • Anis, Muamar. Sunan Bonang dan Ajaran Tasawufnya.
  • Hadi W.M., Abdul. Sastra Sufi: Sebuah Antologi. (2000).
  • Drewes, G.W.J. The Admonitions of Seh Bari. (1969).
  • Poerbatjaraka, R.Ng. De Geheime Leer van Soenan Bonang (Soeloek Woedjil). (1938).
  • Schrieke, B.J.O. Het Boek van Bonang. (1911). 

 



Beyond the Nausea: Sartre and Nietzsche at the Kaaba – Finding Existence in the Ultimate Prostration

  Beyond the Nausea: Sartre and Nietzsche at the Kaaba – Finding Existence in the Ultimate Prostration Oleh: Muamar Anis Nietzsche and Sartr...