Beyond the Nausea: Sartre and Nietzsche at the Kaaba – Finding Existence in the Ultimate Prostration
Dari Warung Menuju Pusat Semesta
Sambil ngopi di pojokan warung, terdengar suara rombongan kendaraan di jalan depan. Saya mengintip dari jendela, ternyata rombongan jama'ah haji yang ingin berangkat ke Kaaba. Sambil menyeruput kopi, pikiran saya melayang jauh. Saya membayangkan sebuah pertemuan mustahil di depan pelataran suci itu.
Ada Nietzsche yang gelisah, Sartre yang mual dengan kebebasannya sendiri, lalu ada Abdurrahman Badawi dan Ali Syariati sebagai pemandu jama'ahnya. Sebuah gilingan nalar tentang bagaimana sujud ternyata adalah puncak dari eksistensi manusia.
Ramalan Horor Nietzsche: Dinamit yang Menjadi Kenyataan
Kita buka dengan pernyataan Nietzsche yang mengerikan. Sebelum "masuk pesantren" seperti dalam pembahasan saya sebelumnya yang berjudul:
👉"Nietszche Masuk Pesantren"https://muamaranis.blogspot.com/2026/01/nietzsche-masuk-pesantren-saat-sang.html
Sang filsuf pernah menulis:
"Aku tahu nasibku. Suatu hari namaku akan dikaitkan dengan ingatan akan sesuatu yang mengerikan, sebuah krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya di bumi..." (Nietzsche, 2007:88).
Luar biasanya, beberapa tahun kemudian hal itu menjadi kenyataan. Nietzsche bukan peramal, tapi dia tahu "dinamit" pemikirannya bakal meledak. Dan benar saja, namanya sempat "dikooptasi" oleh ideologi Nazi untuk melegalkan kekejaman—sebuah krisis kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Jean-Paul Sartre dan Rasa "Mual" (Nausea)
Lalu muncul Jean-Paul Sartre. Dia memuja kebebasan setinggi langit, tapi dia malah terjebak dalam rasa mual (Nausea). Bagi Sartre, tanpa Tuhan, manusia itu "dikutuk untuk bebas". Tapi kebebasan tanpa arah itu malah bikin dia pusing sendiri di kafe-kafe Paris.
![]() |
Walaupun kita tahu bahwa sejak munculnya filsafat eksistensi, cara wujud manusia telah dijadikan tema sentral, tetapi belum ada eksistensi yang lebih rumit dan radikal menghadapkan manusia itu sendiri seperti pada eksistensialisme. Ternyata, sifat materialisme jugalah yang menjadi pendorong munculnya eksistensialisme ini.
Diplomasi di Depan Kaaba: Badawi Sang Penengah
Bayangkan dua raksasa filsafat ini berdiri di pelataran Masjidil Haram. Di sana ada Abdurrahman Badawi, sosok yang disebut sebagai "Anak Kandung Renaisans Arab". Badawi memperoleh dua aksioma dari filsafat eksistensial: individualisme radikal dan kebebasan.
Ada sejarah unik di sini. Anwar Sadat yang terinspirasi karya-karyanya, ikut membebaskan Badawi dari kerangkeng penjara Muammar Khadafi saat Badawi mengajar filsafat di Benghazi, Libya, tahun 1973. Dalam otobiografinya "Sirah Hayati", Badawi pernah menjawab pertanyaan polisi penjara tentang Sartre dengan dingin: "Sartre lebih sebagai seorang sastrawan daripada seorang filsuf."
Saya membayangkan Badawi akan menjawab kegelisahan mereka: "Eksistensi yang kalian cari itu bukan di meja kafe, tapi di titik nol penghambaan."
Ali Syariati: Simbol Manusia Ideal
Dalam catatannya, Ali Syariati menyampaikan bahwa manusia ideal adalah manusia yang memiliki otak brilian sekaligus kelembutan hati.
"Manusia ideal bagaikan kaisar yang memegang pedang dengan gagah perkasa, sekaligus memiliki kelembutan hati. Ia menggunakan pikirannya sebagaimana Socrates sekaligus juga seperti Al-Hallaj dalam pencariannya mendekati Tuhan. Ia adalah seperti Spartacus yang melawan perbudakan, dan juga seperti Abu Dzar yang menaburkan benih revolusi. Ia adalah seperti Yesus yang membawa perdamaian, sekaligus seperti Musa yang gagah berani melawan kekuasaan."
Kesimpulan: Menemukan Eksistensi dalam Sujud
Nietzsche yang meramalkan horor, dan Sartre yang terjebak dalam kebebasan absolut, akhirnya menemukan jawabannya dalam sujud. Sujud adalah saat di mana manusia paling jujur pada eksistensinya: bahwa dia terbatas, namun terhubung dengan Yang Maha Absolut.
Di depan Kaaba, 'dinamit' Nietzsche menjadi kedamaian, dan 'mual' Sartre menjadi kesembuhan. Ali Syariati menambahkan: "Sujud bukan berarti menyerah kalah, Sartre! Sujud adalah revolusi diri. Di sini kalian bukan lagi individu yang mual, tapi bagian dari gerak semesta (Hajj)."
Penutup:
Ternyata sehabat apapun kita mendewakan akal, tetap tidak akan menemukan kebenaran yang hakiki. Filsuf Islam sekaliber Imam Ghazali pun akhirnya tunduk menjadi seorang Sufi. Karena beliau tahu manusia tidak akan mampu mencari kebenaran hakiki sendirian. Hanya berserah kepada Pencipta langit dan bumi lah segala sesuatu ada pada-Nya.
Perjalanan terjauh nalar manusia itu bukan berakhir di buku-buku tebal, tapi berakhir di atas cap tetap menjadi seorang makhluk.(Muamar Anis)
References / Daftar Pustaka:
- Badawi, Abdurrahman. (2000). Sirah Hayati (Autobiography). Beirut: Al-Muassasah al-Arabiyah lil-Dirasat wa al-Nashr. (Kisah tentang penjara Khadafi dan kritik terhadap Sartre).
- Badawi, Abdurrahman. (1945). Dirasat fi al-Falsafah al-Wujudiyah (Studies in Existentialist Philosophy). Cairo.
- Nietzsche, Friedrich. (2007). Ecce Homo: How One Becomes What One Is. Translated by Duncan Large. Oxford World's Classics. (Sumber kutipan halaman 88 tentang "Ramalan Horor").
- Sartre, Jean-Paul. (1943). L'Être et le néant (Being and Nothingness). Paris: Gallimard. (Sumber konsep Nausea dan Kebebasan).
- Shariati, Ali. (1979). Hajj: Reflection on Its Rituals. Translated by Laleh Bakhtiar. Albuquerque: Abjad. (Sumber pemikiran tentang manusia ideal dan revolusi sujud).
- Al-Ghazali, Imam. Al-Munqidh min al-Dalal (Deliverance from Error). (Referensi tentang transformasi nalar menuju Sufisme).















