Minggu, 01 Februari 2026

Di Balik Sihir Kertas dan Obsesi Ubermensch: Menemukan Kembali Insan Kamil di Tengah Dehumanisasi

Di Balik Sihir Kertas dan Obsesi Ubermensch: Menemukan Kembali Insan Kamil di Tengah Dehumanisasi

Oleh: Muamar Anis


Geometry Langit-Muamar Anis. Jpg

Pernahkah Anda berpikir mengapa selembar kertas bisa mengatur hidup, mati, dan martabat manusia? Dari meja warung di Siasem, saya mencoba merunut kembali jejak ini. Semuanya bermula dari seorang pedagang teh bernama Zhang Wei di era Dinasti Song..."

Secarik Kertas dan Robot-Robot Bernafas

​Setelah kemarin di Warung membahas "Nietzsche Masuk Pesantren", pandangan saya tertuju pada seorang sahabat di pojok meja. Ia mengeluarkan uang kertas yang dilipat sekecil mungkin, terselip di saku celananya yang kucel, tampak susah payah ia mengeluarkannya.

​Saya mendadak teringat sejarah seribu tahun lalu. Dulu, seorang pedagang teh bernama Zhang Wei berdiri di tepi Sungai Min, Sichuan. Di tangannya ada Jiaozi—selembar kertas tipis dengan lukisan rumit bernilai seribu koin tembaga. Tanpa Zhang Wei sadari, selembar kertas itu adalah "janji" yang kelak berevolusi menjadi sihir moneter modern yang mendominasi dunia.N

amun, masalahnya bukan hanya soal ekonomi. Ini soal Dehumanisasi. Saat nalar kita sudah tersihir oleh angka, kita kehilangan kemanusiaan kita. Di sinilah saya membawa Sartre, Machiavelli, hingga Nietzsche ke dalam satu meja diskusi yang tidak biasa.​

Apa jadinya jika sang Ubermensch tidak berakhir sebagai diktator, melainkan sebagai insan yang bersimpuh di depan Cahaya Ilahi? Apa jadinya jika Sartre melangkah ke Ka'bah?"

________________________________________________________________________

"Ingin membedah nalar ini lebih dalam? Saya sudah menyusun audit lengkapnya dalam risalah 'Sihir Kertas & Obsesi Ubermensch'. Risalah ini adalah upaya saya melawan arus dehumanisasi melalui kacamata Geometri Langit."

[ KLIK DI SINI UNTUK MEMBACA RISALAH LENGKAP (PDF) ]

https://karyakarsa.com/Mistiscismfils/sihir-kertas-amp-obsesi-ubermensch





Bukan Sekadar Dagang: Peran Tariqat, Dialektika Semar, dan Rahasia Islamisasi Nusantara

Bukan Sekadar Dagang: Peran Tariqat, Dialektika Semar, dan Rahasia Islamisasi Nusantara

Oleh: Muamar Anis


Pedagang. Muamaranis. Jpg
Pedagang. Muamar Anis. Jpg

Secarik LKS di Pojok Warung

​Di pojok warung pagi hari, sambil menunggu kepulan asap 234, mata saya tertuju pada secarik kertas di bawah piring gorengan. Ternyata itu kertas LKS anak sekolah milik penjual warung yang sudah tidak terpakai. Di sana tertulis judul besar: "Sejarah Islam di Indonesia". Sambil mengunyah mendoan, saya merenung.

​Selama ini, buku teks sekolah seringkali menyederhanakan masuknya Islam ke Nusantara seolah-olah hanya 'bonus' dari transaksi lada dan sutra. Namun, jika kita menyelam lebih dalam ke balik riuhnya pasar, kita akan menemukan jejak-jejak sunyi para Sufi pengembara. Melalui jaringan tariqat dan kekuatan akal budi, mereka melakukan revolusi mental yang mengubah wajah peradaban Melayu selamanya.

​Bukan Pedagang, Tapi Pembersih Lahan Spiritual

​Fakta sejarah mencatat Islam masuk sejak abad ke-8 atau 9 Masehi. Tapi kenapa baru masif di abad ke-13? Karena ada "pagar" yang harus dibuka. Jauh sebelum Islam tercium massal, ada dialektika spiritual antara ulama Turki, Syekh Subakir, dengan dedengkot tanah Jawa, Semar Ismoyo Jati.

Masjid. Muamaranis. Jpg.
Simbol Islamisasi

​Ada riwayat pilu bahwa sebelum Syekh Subakir, seribu utusan tumbang. Islam masuk ke Nusantara bukan lewat hantaman syariat yang kaku, tapi lewat kelebihan amalan dan ajaran tasawuf yang membumi. Para penyebar awal tahu persis kondisi Nusantara yang tidak bisa lepas dari budaya animisme dan dinamisme. Mereka datang untuk "mengisi", bukan menghancurkan.

​Kritik Sanad: Walisongo vs Narasi Marga

​Kita harus kritis terhadap teori-teori yang terlalu mengagungkan peran imigran atau marga-marga tertentu yang secara historis memiliki kedekatan dengan kepentingan kolonial (Belanda). Kita patut waspada jika ada upaya mempromosikan sejarah yang mengaburkan peran dakwah kultural pribumi.

​Kunci penyebaran Islam sesungguhnya adalah Walisongo. Mereka memiliki sanad keilmuan yang jelas sampai ke Rasulullah SAW. Berkat cendekiawan seperti Prof. Agus Sunyoto, kita diingatkan kembali bahwa Islam tegak di sini karena ketulusan para Wali yang masuk ke jantung pemerintahan, bukan sekadar "promosi" pedagang keliling yang tak jelas akarnya.

​Sastra Sebagai Senjata dan Ketakutan Belanda

​Tokoh seperti Prof. Abdul Hadi WM telah berjuang di medan tempur yang berbeda: Bahasa dan Sastra. Beliau membuktikan bahwa Islam meletakkan dasar rasionalitas pada bangsa Melayu.

​Di sisi lain, Belanda sangat ketakutan jika Islam menjadi kekuatan politik. Itulah sebabnya mereka membatasi penyebaran Islam yang terorganisir. Namun, para ulama kita lebih cerdik. Mereka membentuk Jamiyyatul Ulama, sebuah embrio organisasi sebelum lahirnya Nahdlatul Ulama, sebagai benteng perlawanan terhadap penjajah.

​Quote Utama

"Islam di Nusantara tidak datang untuk mencabut akar budaya, melainkan menyiraminya dengan cahaya akal budi. Ia menang bukan karena pedang, tapi karena kedalaman rasa para kekasih Tuhan."Muamar Anis


[Referensi Intelektual]

  • Prof. Agus SunyotoAtlas Walisongo (Pilar sejarah dakwah lokal).
  • Prof. Abdul Hadi WMIslam: Cakrawala Estetik dan Budaya (Kekuatan sastra sufi).
  • M. Naquib al-AttasIslam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu.
  • S. Q. Fatimi – Catatan tentang korespondensi Raja Sriwijaya (Zabaq) dengan Khalifah Umayyah.

Senin, 26 Januari 2026

Membaca "Doa Visual": Filosofi Rajah Wayang Semar dalam Tinjauan Syariat dan Sejarah

Membaca "Doa Visual": Filosofi Rajah Wayang Semar
dalam Tinjauan Syariat dan Sejarah

Oleh Muamar Anis

Rajahwayang. Muamaranis. Jpg.

Pendahuluan

Dunia mistisisme Nusantara selalu menyimpan rahasia di balik simbol-simbol di dalamnya. Salah satu yang paling tampak antara lain adalah Rajah Wayang Semar. Bagi orang awam, ini mungkin hanya dianggap seperti kertas biasa, benda antik atau Azimah kata orang timur tengah. Namun, jika kita bedah lebih dalam secara filosofis dan historis, rajah ini adalah titik temu antara tauhid Islam dan kearifan lokal Jawa yang sangat dalam.

​Asal-Usul Semar:

Sang Penjaga yang Berdialektika

Dalam mitologi Jawa, Semar bukanlah manusia biasa. Ia diyakini sebagai entitas tertua (bangsa jin/danyang) yang menghuni tanah Jawa jauh sebelum peradaban manusia modern berkembang.

​Salah satu fragmen sejarah metafisika yang paling menarik adalah dialektika antara Semar (Sabdo Palon) dengan Syekh Subakir, ulama asal Rum yang diutus untuk menyebarkan Islam di Jawa. Syekh Subakir sama sekali tidak menghancurkan eksistensi Semar, akan tetapi melakukan perjanjian di sebuah Gunung Tidar (Perjanjian Tidar). Islam diizinkan masuk asalkan tidak menghapus identitas kejawaannya. Inilah awal mula lahirnya Islam Nusantara yang santun dan akulturatif.

​Filosofi Wayang Semar

Sosok Semar dalam pewayangan adalah simbol kesempurnaan batin:

​Tangan Kanan Menunjuk: Simbol keteguhan pada kebenaran (Tauhid).

​Tangan Kiri ke Belakang: Simbol kepasrahan total (tawakkal) atas segala urusan dunia.

​Wajah Senyum tapi Mata Sembab: Gambaran seorang arif yang telah melampaui dualitas suka dan duka—ia tertawa melihat dunia namun hatinya menangis dalam kerinduan kepada Sang Pencipta. Maka tidak heran ketika Sunan Kalijaga, salah satu dari Wali Songo menyebarkan Islam dengan metode pewayangan terlebih lagi di masa dahulu orang masih menganut cara beragama animisme dan dinamisme. 

​Rajah Semar dalam Perspektif Syariat

Banyak yang bertanya, bagaimana hukum menggunakan rajah dalam Islam? Di dunia Arab, rajah dikenal dengan istilah Azimah.

​Merujuk pada kitab Al-Fatawi Al-Haditsiyyah karangan Syekh Ibn Hajar Al-Haitami, penggunaan azimah atau rajah yang bertuliskan bahasa Arab dan diketahui maknanya secara jelas adalah mutlak diperbolehkan. Sebaliknya, ketidakbolehan (pelarangan) azimah biasanya dilandaskan pada kekhawatiran agar pengguna yang awam tidak terseret ke dalam kemusyrikan jika tidak memahami makna tersirat di dalamnya.

​Akar Mistisisme: Antara Syiah Batiniyyah dan Kejawen

Secara historis, banyak ilmu ketabiban dan rajah-rajah batiniah di Nusantara yang dipengaruhi oleh faham Syiah Batiniyyah yang kemudian diadopsi ke dalam aliran kebatinan atau kejawen. Meskipun dalam praktiknya sering disalahgunakan oleh sebagian kalangan untuk praktik perdukunan yang bertentangan dengan syariat, namun dalam esensinya, rajah yang benar adalah sebuah "doa visual" yang mengingatkan pemiliknya kepada Allah SWT.

​Kesimpulan

Rajah Wayang Semar adalah manifestasi dari "Islam yang merangkul Budaya". Ia adalah bukti bahwa tauhid bisa bersemayam dalam simbol lokal tanpa kehilangan kemurniannya. Menjaga warisan ini berarti menjaga sejarah dialektika para leluhur dalam menemukan Tuhan di tanah Jawa. Lantas bagaimana dengan istilah Jimat dan sebagainya, di lain kesempatan akan saya suguhkan buat para pembaca


Untuk artikel lainya silahkan pembaca bisa kunjungi juga di sini👉https://muamaranis.blogspot.com/2026/01/dialektika-imperium-visi-besar-sultan.html


Referensi & Rujukan Ilmiah:

​Agus Sunyoto, Prof. KH. Ng. – Atlas Walisongo: Buku Pertama yang Mengungkap Walisongo sebagai Fakta Sejarah. (Membahas strategi dakwah kultural Sunan Kalijaga dan akulturasi Islam di tanah Jawa).

​Ibn Hajar Al-Haitami, Syekh. – Al-Fatawi Al-Haditsiyyah. (Rujukan hukum fikih terkait penggunaan Azimah/Rajah dan batasan-batasannya dalam syariat).

​Serat Darmogandul & Suluk Linglung – (Sebagai komparasi literatur terkait dialektika antara tokoh Semar/Sabdo Palon dengan tokoh-tokoh penyebar Islam awal di Jawa).

​Sejarah Lisan Nusantara – Kisah tutur mengenai Perjanjian Gunung Tidar antara Syekh Subakir dan Sang Hyang Ismaya (Semar).

Minggu, 25 Januari 2026

CAHAYA AKAL DI BULAN RAMADHAN

Cahaya Akal di Bulan Ramadhan

Oleh Muamar Anis

Cahaya Akal-Muamar-Anis.jpg.

Allah SWT menciptakan segala sesuatu tidaklah sia -sia. setiap perintah dan larangan Nya pasti ada nilai yang tersirat sampai terkadang tidak bisa dinalar dengan akal manusia. begitulah Ramadhan. Kita diperintahkan untuk berpuasa tidak lain dengan satu tujuan yaitu la'allakum tattaqun, supaya kalian menjadi pribadi yang bertakwa. Takwa berasal dari kata waqo artinya menjaga diri. Sedangkan kata la'alla berfungsi sebagai di masa sekarang dan akan datang secara kontinyu. dan salah satu karunia yang diberikan Allah kepada manusia adalah cahaya yang dimiliki setiap insan sebagai modal menuju takwa. Akan tetapi berjalanan manusia tidaklah semudah seperti membuka air dari kran. banyak lika liku dalam perjalanannya yang menyebabkan cahaya itu redup.

Dalam perspektif filsafat Ibnu Sina, redupnya cahaya ini sering kali disebabkan oleh dominasi Jiwa Nabati (nafsu makan) dan Jiwa Hewani (amarah). Baginya, puasa adalah proses "penjinakan" jasad. Saat perut kosong, kebisingan fisik mereda, dan saat itulah Cahaya Akal—yang disebutnya sebagai Al-Aql al-Fa’al—mulai memancar kembali menyinari batin yang sempat gelap. Namun, Imam Ghazali membawa kita lebih dalam lagi ke dalam rongga dada. Beliau membagi hati dalam beberapa tingkatan: mulai dari Qolbu, Fuad, hingga yang paling dalam yaitu Lubb (inti hati/akal murni). Ramadhan adalah saatnya kita membersihkan cermin Lubb tersebut. Jika hati kotor karena dosa atau sekadar menuruti syahwat, cahaya Tuhan (Nur) hanya akan memantul tanpa pernah meresap.

​Tragedi sebenarnya terjadi ketika kita dengan sengaja memadamkan cahaya ini. Rasulullah SAW memperingatkan dalam haditsnya:

​"Barangsiapa berbuka satu hari di bulan Ramadhan tanpa uzur... maka tidak akan bisa diganti dengan puasa setahun penuh meskipun ia melakukannya." (HR. Abu Dawud & Tirmidzi).

​Ini bukan sekadar persoalan yurisprudensi hukum fiqih tentang mengganti hari. Ini adalah persoalan jiwa yang mencampakkan keagungan Tuhan. Secara mistis, sengaja berbuka tanpa uzur adalah bentuk "keangkuhan spiritual"—seolah kita menantang Tuhan dengan membuang permata yang Dia berikan secara cuma-cuma. Kerugian ini tidak bisa dihitung dengan angka hari, karena momentum cahaya yang hilang itu takkan pernah kembali dalam frekuensi yang sama.

Disinilah kita perlu menengok kembali warisan pemikiran para pencari kebenaran, mulai dari ketajaman akal Ibnu Sina hingga kelembutan hati Imam Ghazali, untuk memahami bagaimana puasa mampu menyalakan kembali lentera batin yang mulai padam.

Puasa ramadhan menjadikan kita berlatih untuk mengikis sifat yang menutupi cahaya ilahi agar kembali suci.

Mudah mudahan dengan kesempatan Ramadhan ini yang Allah SWT berikan, cahaya akal bisa menjadi penerang jiwa dalam kehidupan dan menjadi pribadi yang bertakwa yang pada akhirnya menjadi fitrah di idul fitri


​Ibnu Sina, Kitab An-Najat (Konsep Jiwa).

​Imam Ghazali, Ihya Ulumuddin (Asrar al-Shawm) & Misykat al-Anwar.

​Hadits Riwayat Abu Dawud (No. 2396) & Tirmidzi (No. 723).

Tafsir Al Qur'anul Karim

Menelusuri Jejak Nalar: Dari Paper Akademik hingga Kontemplasi Digital

 

Jejak Nalar. Muamar Anis. Jpg.


Saluran pemikiran tidak boleh berhenti di satu titik. Sejak bergabung di dunia akademik digital pada Mei 2014, saya telah membagikan berbagai riset yang kini telah dibaca lebih dari 2.400 kali oleh publik.

​Salah satu karya yang paling banyak mendapat respon adalah paper mengenai "SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM". Menariknya, baru-baru ini pihak Academia bahkan mengonversi riset tersebut ke dalam bentuk video agar lebih mudah dipahami oleh audiens yang lebih luas.

​Melalui blog MISTISCISM FILS ini, saya ingin membawa semangat riset tersebut ke dalam ruang yang lebih santai namun tetap mendalam. Perpaduan antara nalar sejarah dan kedalaman tasawuf adalah kunci untuk memahami realitas kita saat ini.

​Bagi teman-teman yang ingin meninjau karya ilmiah saya secara lengkap, silakan kunjungi profil saya di:

[https://independent.academia.edu/MuamarAnis]

Sabtu, 27 Juli 2024

Dekonstruksi Sejarah Lahirnya Nahdlatul Ulama: Mandat Syaikhona vs Klaim Imigran


Dekonstruksi Sejarah Lahirnya Nahdlatul Ulama: Mandat Syaikhona vs Klaim Imigran

Oleh Muamar Anis




Latar Masalah

memperhatikan isi ceramah dari seorang habib yang menjelaskan sejarah didirikannya NU dengan mengaitkan peran Habib Muhammad bin Ahmad al-Mukhdor Bondowoso, sang habib dari Hadramaut Yaman yang hijrah ke Nusantara dan meninggal pada 4 Mei 1926 setelah tiga bulan Jam'iyah Nahdlatul Ulama didirikan pada 31 Januari 1926.

Oknum Habib itu dengan jelas mengatakan bahwa "Habib Muhammad bin Ahmad al-Mukhdor adalah pencetus dan penggagas Nahdlatul Ulama, menunjuk KH Hasyim Asy'ari untuk jadi ketua Nahdlatul ulama, karena al-Habib Muhammad bin Ahmad al-Mukhdor adalah orang Arab, orang luar asing yang oleh Belanda tidak diperbolehkan mendirikan firqoh atau perkumpulan" lalu oknum Habib itu juga mengatakan bahwa "KH. Hasyim Asy'ari awalnya menolak karena hormatnya pada para habaib, hingga tiga kali diminta baru beliau mau jadi ketua NU".


Analisa Sejarah

Habib Muhammad bin Ahmad al-Mukhdor seorang menantu dari Habib Muhammad Idrus al-Habsy adalah imigran Yaman datang ke Indonesia dan tinggal di Bondowoso, ia lahir 1859 Masehi di Quwaireh Hadramaut, Yaman dan wafat di Bondowoso pada 4 Mei 1926 dan dimakamkan di Surabaya samping mertuanya Habib Idrus al-Habsy.

Umumnya habib yang dari Yaman itu adalah berasal dari sadah Ba'Alwi, mereka mukim di Indonesia dan berkegiatan dagang juga berdakwah, itu berlangsung dari awal abad 19 Masehi hingga sampai berakhirnya masa penjajahan Belanda. Mereka ada yang tinggal di Kwitang Jakarta, ada juga yang bermukim di Surabaya dan beberapa daerah di Indonesia.

Sementara Ulama pesantren di Jawa berkegiatan mengajar ilmu-ilmu agama Islam, hingga dikatakan ulama karena kealimannya, rerata ulama tersebut sebagian mesantren di Mekkah Al-Mukarramah di bawah bimbingan masyayikh, muallifin dan mushonifin terutama mengaji di bawah bimbingan Sayyid ulama Hijaz Syaikh Nawawi al-Bantani dan Syaikh Mahfudz Termas, Syaikh Hatib Minangkabau.

fakta menunjukkan bahwa fokus pergerakan Ulama Pesantren dan imigran Yaman sangat berbeda; Ulama Pesantren bergerak pada akar rumput perjuangan bangsa, sementara kelompok imigran lebih pada urusan komunitas mereka sendiri."

Era penjajahan yang terpikirkan kemungkinan besarnya adalah bagaimana hidup, bagaimana ibadah, karena itu sedikit yang bicara soal kesadaran kebangkitan, hanya sedikit yang memikirkan nasib tanah airnya. Lahirnya Boedi Oetomo 1908 oleh kaum aristokrat seperti Dr. Wahidin Sudirohusodo, dr. Cipto Mangunkusumo adalah sekian kecil dari para bangsawan Jawa yang tergugah untuk melakukan sikap perlawanan atas penjajah.

Lahirnya SDI juga karena melihat ketidakadilan, pendirinya yakni Husni Thamrin dan H.O.S Cokroaminoto, H. Agus Salim beberapa tokoh yang memiliki sense of responsibilities karena sudah muak melihat aturan kolonial yang berakibat meningkatnya kesengsaraan kaum pribumi.

Semua perkumpulan atau perserikatan yang didirikan kaum pribumi merupakan antiklimaks dari sikap perlawanan pribumi untuk mengusir penjajah Belanda, lain tujuan itu sama sekali tidak, muaranya adalah bagaimana caranya mengusir penjajah.

Benang merahnya antara lain, 

Klaim yang menyebut bahwa NU didirikan atas instruksi atau gagasan imigran Yaman (Habaib) adalah distorsi sejarah yang fatal. Fakta sosiologis menunjukkan bahwa pada masa kolonial, kelompok imigran Arab (khususnya Ba'Alawi) diberikan status khusus oleh Belanda sebagai Vreemde Oosterlingen (Timur Asing). Mereka ditempatkan di kampung-kampung Arab khusus dengan pengawasan Kapitein der Arabieren.

​Secara politis, banyak dari kalangan ini yang justru memiliki hubungan "aman" dengan pemerintah kolonial. Snouck Hurgronje, penasihat urusan Islam pemerintah Hindia Belanda, dalam surat-suratnya (lihat: Ambtelijke Adviezen van C. Snouck Hurgronje) justru menyarankan Belanda untuk merangkul para sayyid agar bisa meredam potensi pemberontakan kaum pribumi yang fanatik. Jadi, argumen bahwa mereka "takut mendirikan organisasi karena status warga asing" adalah kebohongan publik; nyatanya Jamiat Kheir (1901) dan Rabithah Alawiyah (1928) berdiri tanpa hambatan berarti dari Belanda.


Sejarah Lahirnya NU, 

Menurut KH. As'ad Syamsul Arifin, ulama NU yang kharismatik dari Asembagus Situbondo yang juga adalah saksi sejarah lahirnya Jam'iyah Nahdlatul Ulama telah menceritakan", Kira-kira tahun 1920, waktu saya ada di Bangkalan Madura, di pondok Kiai Kholil. Adalah Kiai Muntaha Jengkebuan menantu Kiai Kholil, mengundang tamu para ulama dari seluruh Indonesia. Secara bersamaan tidak dengan berjanji datang bersama, sejumlah sekitar 66 ulama dari seluruh Indonesia, masing masing-masing ulama melaporkan, dengan kata-kata bagaimana kiai Muntaha? tolong sampaikan kepada Kiai Kholil, saya tidak berani menyampaikannya, ini semua sudah berniat untuk sowan kepada Hadrotusyaikh, tidak ada yang berani kalau bukan anda yang menyampaikannya".

Di luar dugaan, ketika Kiai Muntaha hendak menghadap kepada Kiai Kholil di Bangkalan, tiba-tiba kiai Muntaha dan 66 orang kiai itu didatangi oleh Kiai Nasib, suruhan Kiai Kholil dengan menyampaikan ayat yang ke 32 dari al-Quran surat al-Taubat.

Semua dibuat tercengang karena Kiai Kholil justru sudah tahu maksud mereka mau sowan kepadanya, hingga 66 kiai yang di jungkeban tidak jadi sowan kepada Kiai Kholil di Bangkalan, karena mereka sudah puas ada jawaban ayat yang disampaikan oleh kiai Nasib, atas perintah Kiai Kholil.

Pada ahun 1921, dilanjutkan di tahun 1922 ulama ahli Sunnah wal Jama'ah berjumlah 46 orang yang semuanya pengasuh pesantren mengadakan musyawarah di rumah Mas Alwi di Kawatan Surabaya, diantara 46 ulama itu adalah ayahnya Kiai As'ad Syamsul Arifin yaitu Kiai Syamsul Arifin, ada pula Kiai dari pondok Sidogiri, Kiai Hasan Genggong. Sementara dari Kudus ada Kiai Raden Asnawi, sisanya dari Jombang, namun musyawarah tersebut tidak menemukan kesimpulan, bahwa pada tahun 1924 ia dipanggil gurunya yakni Syaikhona Kholil untuk menemui KH. Hasyim Asy'ari di Tebuireng Jombang, agar membawakan sebuah tongkat dan diberikan kepada KH. Hasyim Asy'ari, disertai pula tugas untuk menyampaikan ayat Al-Qur'an (17-21) surat Thoha.

Sesampainya di pesantren Tebuireng, tongkat Syaikhona Kholil diterima oleh KH. Hasyim Asy'ari, dan Kiai Hasyim mengatakan kepada As'ad Syamsul Arifin " alhamdulillah nak, saya ingin mendirikan Jam'iyah ulama, saya teruskan kalau begini dan tongkat ini tongkat Nabi Musa yang diberikan Kiai Kholil kepada saya".

Masih di tahun yang sama yakni tahu 1924, hanya beda bulan Kiai As'ad Syamsul Arifin ditugaskan kembali oleh gurunya untuk datang kembali ke pesantren Tebuireng, kata Syaikhona Kholil kepada As'ad Syamsul Arifin, "As'ad, kesini!, Kamu tidak lupa rumahnya Hasyim, ini tasbih antarkan " lalu disuruh pegang ujung tasbihnya, kemudian Syaikhona Kholil mengucapkan "ya Jabbar ya Jabbar ya Jabbar, ya Qohhar ya Qohhar ya Qohhar".

Sesampainya di Tebuireng, Kiai As'ad Syamsul Arifin menyerahkan tasbih dan mengucapkan ya Jabar ya Qohhar sesuai yang diperintahkan syaikhona Kholil gurunya, kemudian KH. Hasyim Asy'ari mengatakan kepada kiai As'ad ketika akan menerima tasbih tersebut. 

"Masya Allah, Masya Allah saya diperhatikan betul oleh guru saya, mana tasbihnya?". Lalu KH. Hasyim Asy'ari berucap" siapa yang berani pada jam'iyah ulama akan hancur, siapa yang berani pada ulama akan hancur".

Pada 31 Januari 1926, bertepatan 16 Rajab 1344 H, pukul 11.15 WITA bertempat di gedung Bubutan Surabaya, Jawa Timur Jam'iyah Nahdlatul Ulama telah lahir sebagai organisasi para ulama yang bermadzhab Ahli Sunnah wal Jama'ah, sekaligus wadahnya kiai-kiai pesantren. Meski sebelumnya melalui proses panjang niatan para ulama untuk mendirikan Jam'iyah ulama dari runtutannya sejak tahun 1920, 1921, 1922, 1923 hingga 1924.

Jadi kelahiran Nahdlatul Ulama tidak kala itu langsung jadi di tahun 1926, akan tetapi melalui proses panjang. Itupun diinisiasi, digagas, dan digerakan oleh kiai-kiai pesantren seluruh Jawa. Terutama peran KH. Wahab Hasbullah, KH. Ridwan Abdullah, Mas Alwi Abdul Aziz (kiai ini yang mengusulkan nama Nahdlatul di depan kata Ulama), KH. Dahlan, KH. Raden Asnawi, KH. Maksum, KH. Hasan Genggong, KH. Nawawi Sidogiri.

Diantara para ulama tersebut, figur sentralnya yaitu KH. Hasyim Asy'ari, ulama besar yang ahli hadits, mutafannin, pendiri dan pengasuh Pesantren Tebuireng yang oleh seluruh ulama di Jawa menggelarinya dengan Hadrotusyaikh. Berdasarkan restu dan do'anya Syaikhona Kholil Bangkalan, maka Hadrotusyaikh KH. Hasyim Asy'ari memimpin pendirian Jam'iyah Nahdlatul Ulama.

Dengan demikian tidak ada sama sekali peran Habaib di dalam proses pendirian Jam'iyah Nahdlatul Ulama. 

Dari sini kita bisa gambarkan bahwa, sejarah autentik yang dituturkan oleh KH. As'ad Syamsul Arifin tidak menyebut satu pun nama Habib dalam proses spiritual lahirnya NU. Isyarat berupa Tongkat (Simbol Kepemimpinan) dan Tasbih (Simbol Zikir/Kedekatan pada Allah) murni datang dari Syaikhona Kholil Bangkalan kepada Hadrotusyaikh KH. Hasyim As'ari.

​Para Ulama Pesantren memiliki kemandirian (otonomi) penuh. Mereka berguru langsung ke Mekkah kepada ulama-ulama besar Nusantara di sana seperti Syaikh Nawawi Al-Bantani. Garis sanad keilmuan mereka tersambung langsung ke Rasulullah SAW melalui jalur intelektual (isnad), bukan sekadar klaim biologis yang seringkali dipolitisasi untuk mencari pengaruh di organisasi NU.

Untuk lebih jelas bahwa Jam'iyah Nahdlatul Ulama didirikan oleh para ulama Ahli Sunnah wal Jama'ah, maka saya tuliskan struktur pengurus NU di tahun 1926, yaitu.

Struktur Awal

Syuriah,

Rois Akbar : Hadrotusyaikh KH. Hasyim Asy'ari

Wakil Rois : KH. Ahmad Dahlan (Surabaya)

Katib Awal : KH. Abdul Wahab Hasbullah

Katib Tsani: KH. Abdul Halim Leuwimunding

A'wan :

KH. Mas Alwi Abdul Aziz

KH. Ridwan

KH. Said

KH. Bisri Sansuri

KH. Abdullah Ubaid

KH. Nachrawi ( Malang)

KH. Amin

KH. Masyhuri

KH. Nachrawi ( Surabaya)


Mustasyar

KH. Raden Asnawi Kudus

KH. Ridwan ( Semarang)

KH. Mas Nawawi ( Sidogiri)

KH. Muntaha ( Madura)

Syaikh Ghanaim al-Misri

KH. Raden Hambali


Tanfidziyah

Ketua : H. Hasan Gipo (Surabaya)

Sekretaris: H. Sidiq (Pemalang)

Bendahara:

H. Burhan

H. Saleh Syamil

H. Ichsan

H. Djafar Aiwan

H. Usman

H. Achzab

H. Nawawi

H. Dahlan

H. Mangun


Struktur Pengurus awal Jam'iyah Nahdlatul Ulama tahun 1926 diambil dari sumber buku karya Abu Bakar Atjeh yaitu "Sejarah Hidup KH.A. Wachid Hasyim", dan dari buku karya Muhammad Rifai yaitu "KH. Hasyim Asy'ari, Biografi Singkat 1871-1947".

Mas Alwi Abdul Aziz, KH. Ridwan Abdullah, dan H. Hasan Gipo. Tegaskan bahwa mereka adalah motor penggerak murni pribumi

Kesaksian Orang Barat,

Adalah Prof. Benhard Dahm dalam bukunya "History of Indonesia in the twentieth Century" telah menjelaskan mengenai figur keulamaan Hadrotusyaikh KH Hasyim Asy'ari Tebuireng.

"At the same time as the traditional authorities declined in public estimation a new elite came into prominence the hajis and the kyais".

Sementara Peter Mansfield menggambarkan gerakan ilmiah yang dilakukan oleh KH Hasyim Asy'ari dan ulama lainnya dalam upaya menghadapi bahaya ekspansionisme Eropa, ia mengatakan.

"The burden of their calls was that they should unite in a great pan islamic movement to face the common danger of Europe pean expansionism".

Jadi dalam kesejarahan di awal abad 20, pergolakan yang tengah terjadi, dan pergulatan dalam upaya kebangkitan tanah air yang digerakkan oleh Hadrotusyaikh KH Hasyim Asy'ari mendapat sorotan dari para sejarawan Barat yang hidup sekurun dengan Hadrotusyaikh. Figur ulama besar tanah Jawa bahkan Nusantara umunya, ada pada sosok Hadrotusyaikh KH Hasyim Asy'ari.

Kesaksian Orang Barat tersebut kita pahami bahwa derajat Hadrotusyaikh KH Hasyim Asy'ari pasca meninggalnya syaikhona Kholil Bangkalan yang tertinggi dari sekian ulama yang ada di Nusantara, karena kealimannya, kesalehannya, akhlaqnya, dan spiritualitasnya.

Kita pun tentu tahu bahwa Hadrotusyaikh KH Hasyim Asy'ari adalah keturunan Kanjeng Sunan Giri, Syaikh Sayid Ainul Yaqin bin Syaikh Sayyid Maulana Ishak II, dan itu artinya Kanjeng Sunan Giri berdasarkan Naqob internasional tersambung pada jalur keturunan Saidina Hasan bin Sayyidah Fatimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rosulillah S.a.w.H

Hal ini menegaskan bahwa kepemimpinan Hadrotusyaikh bukan hanya sah secara keilmuan, tapi juga memiliki akar genealogis (nasab) yang suci, mandiri, dan berdaulat tanpa perlu legitimasi dari pihak asing


Kesimpulan,

Berdasarkan sejarah yang benar dan valid, bahkan sesuai bukti, informasi dari saksi sejarah berdirinya Jam'iyah Nahdlatul Ulama yaitu KH. As'ad Syamsul Arifin tidak disebutkan Habib siapapun dari marga manapun yang ikut mendirikan Jam'iyah Nahdlatul Ulama.


Referensi dan Daftar Pustaka

  • Martin van Bruinessen, dalam buku "NU: Tradisi, Relasi-relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru". Martin secara detail menyebutkan peran KH Wahab Hasbullah dan KH Hasyim Asy'ari tanpa menyebutkan keterlibatan habaib dalam proses penggagasan struktural awal.
  • Choirul Anam (Cak Anam), dalam buku "Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama". Ini kitab "wajib" sejarah NU. Di sana dijelaskan detail musyawarah di rumah KH. Ridwan Abdullah hingga Mas Alwi Abdul Aziz.
  • Ketetapan Muktamar NU ke-27 di Situbondo (1984). Saat itu, KH. As'ad Syamsul Arifin secara resmi menceritakan sejarah "Tongkat dan Tasbih" Syaikhona Kholil di hadapan ribuan muktamirin untuk menegaskan garis sanad berdirinya NU
  • L.W.C. van den Berg, dalam "Le Hadhramout et les Colonies Arabes dans l'Archipel Indien": Menjelaskan posisi sosial imigran Arab yang lebih banyak fokus pada perdagangan dan status sosial daripada pergerakan kemerdekaan pribumi.
  • Karel A. Steenbrink, dalam "Pesantren, Madrasah, Sekolah": Menegaskan bahwa NU adalah respon atas ancaman Wahabisme dan kebutuhan konsolidasi ulama pesantren tradisionalis pribumi


Minggu, 01 Oktober 2023

KESAKTIAN PANCASILA SEDANG DIUJI

Kesaktian Pancasila Sedang Diuji
Oleh: Muamar Anis

Pancasila-Muamar-Anis.jpg.

Indonesia adalah produk sebuah kontrak sosial yang disahkan berdasarkan prinsip kebhinekaan dan kesatuan, yaitu kebhinekaan agama, suku, budaya, aliran, bahasa, daerah dan lainnya; dan kesatuan sebagai sebuah bangsa dan negara.

Nasionalisme adalah paradigma yang mempertemukan semua perbedaan dalam sebuah tenunan yang indah dan luas. Indonesia adalah karya tenun yang dipersembahkan oleh para bijak awan, pahlawan, dan agamawan. Ia bukan lahir dari mitos dan folklor, namun lahir dari rasionalitas dan spiritualitas yang prima.

Pancasila:Antara Rasionalitas dan Spiritualitas

Pancasila memang bukan agama. Namun ia adalah sebuah gagasan yang menerjemahkan agama dalam sebuah platform yang menjadi bingkai sebuah bangsa yang bersepakat hidup bersama dalam satu institusi negara.

Pancasila telah dirancang dan ditetapkan dengan memperhatikan dan mempertimbangkan serta menghitung segala asumsi dan konsekuensi. Ia bukan hanya konsep yang dicetuskan berdasarkan konsensus namun juga diilhami oleh sentra-sentra spiritualitas yang sakral dan abadi

Pancasila adalah aksioma yang memadukan kearifan horisontal insani dan kekudusan vertikal rabbani. Karena itu, ketuhanan, yang merupakan puncak dan tujuan semua perilaku baik dan penghambaan, menempati posisi pertama di dalamnya. Tanpa sila pertama ini, prinsip-prinsip lain pada urutan setelahnya menjadi kehilangan pijakan dan tujuan.

    • Ekstremitas sikap dan gaya hidup
    • Tuhan-tuhan bertulang dalam fatwa

Kini Pancasila sedang diuji kesaktiannya. Kebhinekaan sedang menghadapi gangguan yang cukup serius. Konflik-konflik menjadi berita harian mulai dari konflik dan tawuran antar pelajar, antar pendukung klub sepakbola, antar penduduk desa dan kampung, antar massa pendukung calon bupati, antar suku hingga konflik antar elite kekuasaan.

Individualisme, tribalisme dan rasisme seiring dengan menyebarnya kapitalisme dan liberalisme agnostik mulai tumbuh bagai benalu yang perlahan-lahan menggerus sendi-sendi nasionalisme dan kebangsaan.

Di tengah kemelut dan kebingungan mencari jalan keluar, tiba-tiba bangsa yang sedang berjuang untuk bertahan ini diganggu dengan ekstremisme dan paham-paham yang secara nyata menentang kebhinekaan yang merupakan salah satu pilar utama bangsa dan negara ini.

Ekstremisme adalah akibat yang tak terelakkan dari melelehnya nasionalisme dan memudarnya kesadaran akan nilai dan arti kebhinekaan. Karena bukan merupakan gagasan logis dan metodis, ekstremisme tak selalu tampil dalam satu pola atau gerakan dan modus. Ia kadang muncul sebagai sebuah sikap personal, namun kadang pula muncul sebagai pilihan komunal. Ia kadang didesain oleh sekelompok orang yang menyimpan kepentingan dan tendensi negatif, kadang pula diyakini secara naïf sebagai kesalehan dan kualitas keimanan.

Ekstremitas biasanya mudah diterima terutama oleh individu-individu yang tak waspada dan memahami dampak serta efeknya. Ia mudah diterima karena cenderung meliburkan logika dan memakzulkan segala pertimbangan dan aturan, termasuk hak individu-individu yang tidak menerimanya.

Dari sinilah, ekstremitas berpeluang mengalami ekspansi makna. Ekstremitas keyakinan biasanya berproses menuju ekstremitas sikap dan gaya hidup.


Ekstremisme sikap biasanya menolak semua perbedaan, terutama dalam penafsiran terhadap doktrin agama. Bagi ekstremis, perbedaan muncul karena penyimpangan dari doktrin yang benar. Berbeda dalam memahami dan mengamalkan agama dianggap sebagai upaya menghancurkan dan menodai doktrin agama. Sejurus dengan itu, individu yang meyakini atau memilih doktrin yang berbeda dengan doktrin yang diyakini secara ekstrem sebagai kebenaran yang utuh dan mutlak, dianggap sebagai musuh, bahaya, ancaman dan perusak.

Ekstremisme berproses dalam pikiran penganutnya seperti narkoba yang terus merangsangnya menutupi kelemahan dalam sikap dengan cara yang ekstrem pula. Karena itu, ia memerlukan legitimasi dan dasar agar terus mengabaikan pertimbangan-pertimbangan dan nilai-nilai yang dianut di luar lingkarannya.

Pluralitas dan realitas yang menampilkan perbedaan dengan apa yang dianutnya akan membuat pengiman ekstremisme gamang dan mencoba untuk mengukur kebenaran doktrin yang dianutnya. Karena itu, sebelum menggoyahkan doktrin yang telah dianut secar ekstrem, ia harus membasminya dengan harapan perbedaan yang ada di hadapannya tidak lagi memancing pertanyaan tentang kebenaran doktrinnya.

Tak ayal lagi, diperlukan sebuah doktrin yang mampu memantapkan ekstremitas sikapnya sekaligus menjadi pembius kesadaran intelektualnya. Doktrin pemantapan ini haruslah kuat dan sebisa mungkin mampu menutup semua keraguan yang berseliweran dalam benaknya.

Dengan dasar doktrin itu, ia diharapkan menjadi tenang dan mencerabut naluri keingintahuan. Tidak hanya itu, ia bahkan bisa menambah poin kesalehannya bila menerapkannya secara ekstrem. Dengan doktrin ini, kekerasan bisa terlihat sebagai kesalehan, penindasan menjadi cara meraih pahala, pembunuhan, penjarahan, dan semua tindakan yang menurut standar di luar doktrin itu adalah kebiadaban, bisa dipastikan sebagai jalan pintas meraih kerelaan Tuhan.

Doktrin itu bukan undang-undang negara, bukan pula aksioma rasional, tapi dikemas dalam sebuah frase yang kudus. Fatwa sebutannya.

Ia terlanjur dipahami sebagai teks yang datang dari langit. Para pembuatnya juga sudah dianggap sebagai “tuhan-tuhan bertulang” yang tidak layak dipertanyakan apalagi ditentang.

Pendapat yang dikemas dengan kata “fatwa” bisa menimbulkan sebuah atau beberapa peristiwa. Ia sangat efektif untuk menciptakan sebuah aksi dan mengubah manusia yang lugu dan santun menjadi beringas dan sadis. Dengan satu kata “fatwa”, rumah-rumah bisa rata dengan bumi, anak-anak menggigil menangis tercekam takut dan wanita-wanita menjerit takut kehilangan kehormatan.

Hanya karena yang menerbitkan fatwa itu adalah orang-orang yang entah bagaimana prosesnya dianggap duplikat-duplikat Nabi, tiba-tiba parang, clurit dan semua sarana pemusnahan dihunus dan ditarik - tarikan dalam sebuah even kolosal pembantaian. Alasan peragaan seni kebencian itu cukup satu: “berbeda”!



“Berbeda” ditafsirkan secara ekstrem sebagai sinonim “sesat”. Sesat terlanjur direduksi sebagai “kehilangan hak menghirup udara”, manusia maupun ternaknya, rumah maupun ladang tembakaunya.

Untuk kesekian kalinya kesaktian Pancasila diuji… Semoga kesaktian Pancasila tidak hanya menjadi kalender tragedi Lubang Buaya dengan segala misteri dan distorsinya. Semoga ia tetap sakti menghadapi oligarki dan tirani atas nama mayoritas agama, aliran dan apapun yang akan menggergaji kebhinekaan, penyangga utama bangsa dan negara ini.


Daftar Referensi 

  • Madjid, Nurcholish. (1992). Islam, Doktrin, dan Peradaban: Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan, dan Kemodernan. Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina. (Sangat cocok untuk mendukung poin lu tentang Pancasila sebagai platform yang menerjemahkan agama dalam bingkai bangsa).
  • Armstrong, Karen. (2014). Fields of Blood: Religion and the History of Violence. Knopf. (Mendukung argumen lu bahwa kekerasan seringkali menggunakan kemasan "kudus" atau fatwa untuk melegitimasi tindakan biadab).
  • Hassan, Noorhaidi. (2006). Laskar Jihad: Islamism, Militancy, and the Quest for Identity in Post-New Order Indonesia. Cornell University Press. (Referensi kuat untuk fenomena ekstremisme dan konflik komunal yang lu singgung di tulisan).
  • Maarif, Ahmad Syafii. (2010). Radikalisme Keagamaan dan Ancaman Kebangsaan. Yogyakarta: PSAP. (Pas banget untuk bagian "Kesaktian Pancasila sedang diuji" oleh paham-paham yang menentang kebhinekaan).
  • Fromm, Erich. (1941). Escape from Freedom. Farrar & Rinehart. (Mendukung analisis psikologis lu bahwa individu menerima ekstremisme karena "meliburkan logika" demi rasa aman semu dalam kelompok).
  • Latif, Yudi. (2011). Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualisasi Pancasila. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Di Balik Sihir Kertas dan Obsesi Ubermensch: Menemukan Kembali Insan Kamil di Tengah Dehumanisasi

Di Balik Sihir Kertas dan Obsesi Ubermensch: Menemukan Kembali Insan Kamil di Tengah Dehumanisasi Oleh: Muamar Anis Pernahkah Anda berpikir ...