Tampilkan postingan dengan label Chung Yung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Chung Yung. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Oktober 2024

Plotinus: Estetika "Cahaya" dari Timur dan Kegagalan Logika Aristoteles


Plotinus: Estetika "Cahaya" dari Timur dan Kegagalan Logika Aristoteles

Oleh:Muamar Anis 


Estetika. Muamar anis. Jpg

Pendahuluan: Filosof Timur dalam Jubah Barat

          Dalam sejarah filsafat Yunani, terdapat seorang filosof dari Timur namun sering diaku sebagai filosof Barat. Ia adalah Plotinus. Pemikiran filsafatnya sangat berpengaruh baik dalam tradisi filsafat Eropa maupun Islam. Di antara pemikiran filsafatnya yang relevan berkenaan dengan estetika dan filsafat seni. Plotinus dilahirkan di  kota Lise,  Mesir pada tahun 205 M dan wafat pada tahun 270 M. Setengah sarjana memandangnya sebagai penerus ajaran Plato, sebagian lagi memandang pemikiran filsafatnya  sebagai penghubung antara tradisi Falsafah Yunani dan tradisi Abad Pertengahan Eropa.  Yang kurang disinggung ialah betapa pemikiran filsafatnya memiliki kaitan dengan pemikiran filsafat Persia dan India.


         Sebagai seorang sarjana, Plotinus mula-mula tertarik kepada filsafat   setelah mempelajari pemikiran Ammonius Saccas yang mengajar di Akademi Iskandariah. Dahaganya kepada kebenaran filosofis mendorongnya meninggalkan Mesir, kemudian mengembara ke Suriah, Iraq dan Persia (Iran). Setelah lama menuntut ilmu di Suriah dan Persia, Plotinus pergi Byzantium, yaitu Turki sekarang ini. Dari sini pada tahun 245 M Plotinus pindah ke Roma dan mendirikan madzab filsafat tersendiri. Aliran filsafatnya disebut Neo-platonisme. Melalui pemikiran filsafatnya ini pengaruh falsafah Timur (India dan Persia) tersebar dan mempengaruhi banyak filosof  di Eropa. Salah satu perantara pemikiran Plotinus yang bercorak ketimuran dengan filsafat Eropa adalah filosof Kristen. Di antara aliran filsafat Timur dan pemikiran Persia (Zoroaster) yang berpengaruh ialah apa yang disebut gnostisisme dan apokaliptisisme.


        Kembali ke Plotinus, karyanya   yang masyhur ialah  Enneads. Buku ini terdiri dari 6 jilid, berisi 54 esai tentang filsafat. Dalam bukunya inilah kita jumpai pemikiran Plotinus tentang estetika/filsafat keindahan dan seni. Menurut Plotinus, keindahan terdapat pada banyak benda atau obyek pengamatan indera. Obyek paling nyata memancarkan keindahan ialah yang  dapat diiendera mata, dicerap pendengaran seperti ritme, musik dan irama, atau kata-kata yang disusun dengan cara tertentu serta berirama pengucapannya seperti puisi, retorika atau khotbah.


        Akal pikiran juga dapat merasakan keindahan yang tidak terdapat di alam benda. Misalnya keindahan berkenaan pola hidup, pandangan hidup, cara berpikir atau tindakan intelektual. Keindahan juga dapat dirasakan atau dinikmati melalui kearifan, kebijakan dan kebajikan moral seseorang. Bagi Plotinus persoalannya ialah apa yang membuat sesuatu itu dapat diangap indah? Apakah unsur  indah itu memperlihatkan dirinya sendiri pada obyek atau melalui sesuatu yang lain, atau disebabkan pengamatan jiwa kita?


Pukulan Telak buat Aristoteles: Mengapa Keseimbangan Itu Palsu?

        Plotinus menolak keseimbangan sebagai ciri yang mesti ada pada keindahan sebagaimana dikatakan Aristoteles. Keseimbangan hanya tampak apabila bagian dibandingkan dengan bagian lain. Benda yang bersahaja tidak memiliki bagian yang dapat dibandingkan dan dengan demikian tidak memiliki keindahan apabila ukuran keindahan adalah keseimbangan. Keseimbangan hanya ada pada obyek-obyek yang memiliki lebih dari satu atau banyak bagian atau banyak komponen seperti sebuah gedung yang bagus beserta tamannya. Atau pada diri seekor kuda yang proporsi tubuhnya sempurna, larinya kencang dan perkasa, dengan bulu bagus serta mengkilat. Nyatanya keindahan sebuah obyek yang komponen atau bagian-bagiannya kompleks itu nampak kepada kita bukan semata disebabkan keseimbangan, tetapi kepaduannya dalam arti bagian yang satu dengan bagian yang lain menjalin kesatuan yang sempurna untuk ukuran sesuatu obyek.


Jika keindahan hanyalah soal proporsi simetris, maka bagaimana kita menjelaskan keindahan bintang yang hanya berupa titik, atau keindahan jiwa seorang guru yang tak terlihat bentuk fisiknya?”


Selanjutnya Plotinus berpendapat bahwa keindahan hanya terwujud apabila obyek-obyek atau sesuatu dapat menggerakkan jiwa dan pikiran, apakah sesuatu itu obyek-obyek bersahaja atau kompleks susunannya.  Setelah jiwa bergerak maka jiwa akan naik menghubungkan dirinya dengan Yang Maha Kudus.  Keindahan obyek-obyek yang dapat dicerap indera membuat jiwa atau mata hati seseorang akrab dan merasa seolah-olah telah lama mengenal keindahan serupa itu. Keindahan yang demikian membuat seseorang  bersatu dengannya atau hanyut dalam keindahan tersebut.


Dalam teori keindahan Plotinus ide utama ialah  kontemplasi (renungan) dan penglihatan batin. Pengalaman estetik yang tertinggi bersumber dari renungan dan penglihatan batin. Seperti Plato, Plotinus mengaitkan renungan dengan sesuatu yang berada di atas jangkauan indera, misalnya keindahan menuntut ilmu, keadilan, kearifan dan kebenaran. Sarana untuk mencerap keindahan tersebut dapat ditemui dalam obyek-obyek yang dicerap melalui indera. Misalnya seorang ahli botani yang meneliti tanaman tertentu, pertama-tama adalah melalui pengamatan inderanya (empiris), baru menggerakkan pikiran dan jiwanya untuk menemukan pengetahuan dari tanaman yang ditelitinya.


Teori Plotinus mempengaruhi estetika modern. Kata-kata estetika diperkenalkan di dunia modern pada pertengahan abad ke-18 M oleh filosof rasionalis Baumgarten. Segala sesuatu yang bisa diamati indrera disebut sebagai obyek estetika. Ciri obyek yang paling mempengaruhi jiwa manusia sehingga terpesona ialah keindahan yang memancar dari bentuk dan keseluruhan unsure-unsur estetiknya.


Menurut Plotinus keindahan yang timbul dari adanya kesatuan dalam sesuatu obyek merupakan cermin kesatuan dari Yang Maha Esa. Kesatuan pada benda bersahaja bersifat homogen, seragam. Misalnya warna hijau atau kuning, atau keindahan sebuah batu di halaman rumah. Sedangkan kesatuan  obyek-obyek yang susunannya kompleks bersifat heterogen, berbagai-bagai. Keindahan obyek yang susunannya kompleks seperti keindahan sebuah lukisan bersegi-segi dan tidak tunggal.

Teori Emanasi: Tangga Menuju "Yang Maha Indah

Bagi Plotinus, keindahan yang tinggi tak punya bentuk. Misalnya keindahan menuntut ilmu atau pribadi seseorang. Keindahan yang diperoleh dari dua hal tersebut di antaranya ialah perasaan bahagia, rasa ingin tahu yang mendalam dan takjub. Semua itu timbul karena dapat membawa kita menuju kebenaran yang tinggi. Di sini Plotinus membuat kerangka teori keindahan yang berperingkat dari keindahan alam inderawi ke tahap keindahan yang lebih tinggi, yaitu kebenaran – yang dapat dicerap melalui renungan dan penelitian yang mendalam atas sesuatu.

  • Proses Turun: Keindahan memancar dari The One (Yang Esa) ke Nous (Akal), lalu ke Psyche (Jiwa), baru berakhir di materi.
  • Proses Naik: Manusia melihat benda indah (materi) \rightarrow jiwanya ingat pada keindahan sejati \rightarrow naik menuju Akal \rightarrow sampai ke titik Puncak.


Jembatan ke Al-Ghazali: Estetika sebagai Ibadah

Kendati demikian ia beranggapan bahwa keindahan alam inderawi merupakan jalan menuju kebenaran. Jika kita melihat sebuah lukisan, maka sebenarnya kita akan mengingat kembali keindahan abadi di maa kita dahulu berasal. Ruang dan waktu yang abadi adalah tempat tinggal ini. Konsep seni Islam dipengaruhi terutama oleh pemikiran Plotinus, melalui perantaraan Imam al-Ghazali. Pemikiran estetika Imam al-Ghazali adalah penyempurnaan dari estetika Plotinus.


Ingin tahu lebih jauh tentang ini, silahkan kunjungi:

https://syuissimulacra.blogspot.com/2013/09/pemikiran-plotinus-tentang-estetika-dan.html?m=1


Menurut Plotinus lagi,  keindahan alam inderawi dapat membawa kita ke arah yang berlawanan, yaitu apabila kenikmatan yang diperoleh darinya dicemari kedukaan dan hawa nafsu, sehingga membuat jauh dari kebenaran. Misalnya lelaki melihat seorang wanita cantik yang berpakaian minim. Tetapi yang bangkit adalah nafsu berahinya dan melupakan hal-hal lain yang indah pada wanita itu. Agar kita terhindar dari kecenderungan itu, dalam melihat atau mengalami keindahan, jiwa kita sendiri perlu dijadikan indah dan suci. Caranya ialah dengan merenung dan melihat ke dalam jiwa kita sendiri. Jika belum sempurna hendaknya diperbaiki sehingga diri kita bersinar-sinar dengan kebajikan dan kemuliaan.

Estetika Al-Ghazali: Sang Penyempurna

Islam (lewat Al-Ghazali) tidak hanya cuma menelan mentah-mentah, tapi mensucikan konsep itu lewat tauhid. Indah itu bukan "milik" benda, tapi "titipan" dari Al-Jamil (Yang Maha Indah).


Pada akhirnya, keindahan bukan tentang seberapa mahal 'jas dan dasi' yang dipakai seorang badut, tapi seberapa jernih cermin jiwanya dalam memantulkan Cahaya Yang Esa. Tanpa pembersihan jiwa (Tazkiyatun Nafs), seni hanyalah simulakra—kepalsuan yang tidak pernah napak tanah."


Referensi

  • Plotinus: The Enneads (Terutama jilid I, bagian 6 tentang "On Beauty" dan jilid V tentang "The Three Initial Hypostases").
  • Imam Al-Ghazali: Ihya Ulumuddin (Kitab Al-Mahabbah tentang tingkatan keindahan) dan Misykat al-Anwar (Niche of Lights) untuk kaitan cahaya Plotinian.
  • Baumgarten, A. G.: Aesthetica (1750) — Sebagai pembanding kemunculan istilah estetika modern.
  • Ekspedisi Gordian III (242-244 M): Plotinus ikut serta dalam serangan Romawi ke Persia bukan untuk berperang, tapi untuk belajar filsafat Magi (Zoroaster) dan India. Ini bukti otentik pengembaraan intelektualnya.
  • Porphyry: Life of Plotinus — Biografi yang ditulis muridnya, yang menceritakan ketertarikan Plotinus pada hikmah-hikmah Timur.
  • Filsafat Ishraq (Suhrawardi): Lu bisa jadikan ini referensi pembanding, bahwa konsep "Cahaya" Plotinus meledak kembali di tangan Syekh Al-Ishraq.
  • Sejarah Militer: Ekspedisi Gordian III (242-244 M) sebagai bukti otentik Plotinus belajar filsafat Magi (Zoroaster) dan India.
  • Komparasi: Filsafat Ishraq (Suhrawardi) tentang konsep Cahaya.
  • Sanad Penulis: Dikembangkan dari naskah asli Muamar Anis (2013), yang kembali disempurnakan untuk diskursus estetika kontemporer pada Oktober 2024.


Senin, 01 Juni 2015

TIGA PILAR DIALEKTIKA ISLAM: FILSAFAT,TEOLOGI DAN TASAWUF

KAJIAN PILAR DIALEKTIKA ISLAM:FILSAFAT,TEOLOGI DAN TASAWUF
Oleh:Muamar Anis

Teologi. Muamaranis. Jpg.



Peradaban Islam mempunyai keistimewaan berbanding peradaban pendahulunya. Karena peradaban Islam bertahan lebih lama dari peradaban orang-orang Kaldan, Suryani, Persia dan Yunani. Bukanlah hal yang diragukan lagi, panji peradaban yang sekarang berpindah ke Eropa dari zaman renaissanse bersumber dari orang-orang Islam, yang pada masa selanjutnya mengalami perkembangan sampailah kepada zaman kita hari ini, dan mulai kembali lagi kepada orang Islam. Kenyataan ini sesuai dengan apa yang dinukil oleh Nurcolis Majid pada pendahuluan terjemahan buku W. Montgomery Watt,yang berjudul “Islam dan Peradaban Dunia: Pengaruh Islam Atas Eropa Abad Pertengahan”. Ia manyatakan “perhatikan saja istilah-istilah ilmiah dalam peradaban Barat: sebagian besarnya berasal dari bahasa Arab, seperti zero, summit dan sebagainya. Demikian juga dengan istila-istilah matematika dan astronomi. Dalam acara pengajian Yayasan Wakap Paramadina, ada seorang penatar guru-guru matematika di bidanng sains dan Ketua Asosiasi Astronomi Indonesia. Dalam salah satu kesempatan dia mengatakan, bahwa tujuh puluh persen nama bintang di langit berasal dari bahasa Arab.”

Ungkapan seperti ini bukan hanya dari pihak orang Islam, namun ia juga diakui oleh orang Barat sendiri. Thatcher dan Chawel secara tegas mengatakan bahwa bangsa Eropa sangat berhutang dengan kedatangan Islam. Banyak ilmu yang dapat ditemukan sehingga dapat diadopsinya seperti ilmu falak, fisiologi dan masih banyak lagi. Kesan serupa juga diungkapkan oleh Sartios, di mana ia mengatakan bahwa bidang-bidang ilmu pengetahuan yang dibawa Islam terutama ilmu dan penerapannya lebih banyak dari pada dari Byzantium.

Penting di catat di sini, bahwa pemberian pujian atas sains Islam merupakan fenomena baru abad ke-20. Tidak akan ditemukan hal yang sama di dalam literatur Orientalis abad ke-18 dan ke-19. Alasannya sangat jelas. Sampai periode supremasi bangsa Eropa, Islam telah menjadi lambang ancaman militer dan moral yang penting bagi agama Kristen, karena Islamlah agama alternatif yang amat kuat dan berkembang pesat.

Di pertengahan abad ke-8 M, ketika Afika Timur dan Barat menikmati kenyamanan dalam segi material, kebersamaan, keadilan, dan kesejahteraan di bawah naungan pemimpin Islam,tetangganya di jazirah Spanyol berada dalam keadaan menyedihkan di bawah kekuasaan tangan besi penguasa Visighotic. Kemudian pada tahun 750 M,Islam memasuki Andalusia di bawah pimpinan Panglima Thariq, seorang remaja berkebangsaan Barber yang baru memeluk Islam. Sebenarnya masyarakat kelas ke-2 dan kelas ke-3 di Andalusia telah mendengar akan ketinggian moral dan peradaban Islam, sehingga kemenangan Panglima Thariq di sambut dengan gegap gempita oleh masyarakat setempat. Pada masa selanjutnya kehadiran Islam di Eropa Barat Daya tersebut bagaikan cahaya di tengah kegelapan.Di bawah pimpinan pemerintah Islam, Andalusia mengalami kemajuan pesat seiring dengan peradaban-peradaban Islam pada masanya. Andalusia menjadi setinggi-tinggi peradaban selari dengan peradan dinegeri-negeri Islam tetangganya yang berkilauan bagaikan bintang-bintang di antariksa, layaknya negeri “seribu satu malam.”

Dari Andalusia inilah (sekarang dikenal Spanyol) masyarakat Eropa menyerap peradaban Islam baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan peradaban antar negara, tidak terkecuali ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagaimana Watt menyatakan, pengaruh Islam dirasakan di Eropa Barat terutama melalui Spanyol, dan pada tingkat yang lebih kecil melalui Sisilia.

Kesenjangan di antara umat Islam dan Eropa pada masa masa keemasan Islam sangat ketara sekali. Jalan-jalannya mulus, lorong-lorong kota Bagdad, Damaskus, Cordoba dan kota-kota lainnya diterangi beribu lampu di malam hari, sedang jalan-jalan di Eropa masih becek dan gelap. Penguasa-penguasa Islam sangat mencintai Ilmu, istana-istana kekhalifahan di penuhi buku-buku dan ilmuwan-ilmuwan, sedangkan di Eropa, geraja masih disibukkan dengan pembunuhan dan pembakaran ilmuwan dan ahli sihir yang dianggap bertentangan dengan ajaran gereja.

Islam mampu membangun peradaban yang mengagumkan dunia. Baik itu dari segi arsitektur, teknologi, kudayaan, ilmu pengetahuan, tata bahasa, norma-norma sosial dan banyak lagi. Kalau boleh memijam istilah Maria Rosa Menocal dalam bukunya yang berjudul Sepotong Surga di Andalusia, ungkapan “The ornament of the world”,secara harfiah bisa didefinisikan sebagai “Perhiasan dunia”, adalah gambaran ketinggian peradaban Islam. Karena itulah gelar yang diberikan kepada Cordoba ibu kota Andalusia, sebagai ungkapan kagum seorang biarawati sekaligus penulis berkebangsaan Saxon pada abad ke-10. Dan yang terpenting di dalam makalah ini adalah pemikir-pemikir Islam yang telah menyumbangkan keunggulan-keunggulan karya mereka sehingga memposisikan umat Islam pada masa itu benar-benar menjadi umat terbaik di dunia. Tidak hanya sekadar itu, pemikir-pemikir Islam mampu memberikan kontribusi yang masih signifikan sampai peradaban hari ini. Terlepas dari apakah pada saat ini Islam telah menjadi umat yang terbelakang atau umat yang mulai kembali berkembang untuk membangun peradabannya, namun Islam baik sebagai agama atau sebagai the way of life, tetap dianggap sebagai sebuah konsep yang unggul.

Ini dibuktikan dengan ungkapan Paul alvarus,seorang tokoh Kristen yang vokal dan dihormati, yang hidup di Cordova pada pertengahan abad ke-9 mengungkapkan keresahan suara hatinya:

“Orang-orang Kristen sangat senang membaca berbagai syair dan roman Arab. Mereka mempelajari para teolog dan filosof Arab, bukan untuk menolak pemikiranya, melainkan untuk mengetahui tata bahasa Arab yang benar dan indah. Adakah rakyat jelata yang masih mau membaca tafsir-tafsir kitab suci berbahasa Latin atau mempelajari Injil, kisah-kisah Nabi dan Rasul? Celaka! Semua pemuda Kristen yang berbakat membaca dan mempelajari buku-buku Arab dengan antusias. Mereka menghimpun perpustakaan-perpustakaan besar dengan biaya yang tak sedikit. Mereka sepelekan buku-buku Kristen dan menganggapnya tak layak dipelajari. Pemuda-pemuda Kristen telah lupa terhadap bahasa sendiri. Untuk setiap satu orang yang bisa berkorespondensi dalam bahasa Latin kepada temannya, terdapat seribu orang yang bisa menulis, menuangkan ide dan pemikiran mereka dengan bahasa Arab yang indah, dan bahkan menulis syair-syair Arab lebih baik dibanding orang-orang Arab sendiri”.

Ini adalah sebuah ancaman yang sangat besar bagi bangsa Eropa dan agama Kristen yang menjadi jirannya pada masa itu, baik sebagai kelompok manusia budaya maupun umat beragama. Jadi untuk menjelaskan tersebarnya Islam, Kristen telah mengembangkan stigma yang mengatakan sukses Islam adalah hasil dari kekerasan, gejolak nafsu dan kebohongan kaum Muslim. Tentu saja ini adalah pernyataan yang “menghibur” pada masa ketika imperialisme perdagangan Eropa mulai tumbuh. Dengan mengembangkan teori tersebut ‘penderitaan orang kulit putih’ tidak hanya menjadi lebih ringan untuk dipikul, tapi penaklukan militer juga membentuk moral imperatif saat-saat orang-orang buas yang tidak mengerti akan keagungan nilai sains.

Ungkapan di atas menggambarkan keunggulan Islam yang membuat ciut nyali dunia dengan kreativitas umatnya dalam membangun peradaban. Kendatipun dalam catan sejarah, pada abad 13 sampai abad 18 peradaban Islam telah mengalami kemunduran, tetapi Islam masih saja membuat kecut pihak yang menganggapnya sebagai lawan. Karena pada abad-abad sebelumnya, para pemikir Islam telah mewariskan karya-karya agung yang tidak hanya digandrungi oleh umat Islam, tapi oleh umat-umat yang memusuhi Islam.

Tidak dinapikan keunggulan itu terlahir dengan ajaran Islam yang sangat mendorong umatnya mendalami ilmu pengetahuan. Islam juga memandang tinggi kedudukan akal. Dalam waktu yang sama Islam juga menekankan tingginya nilai etika, akhlak dan norma-norma sosial. Tapi yang paling utama dasar ajaran Islam adalah tauhid.

Bila kita kembali ke sejarah,pasti kita akan menemukan manusia-manusia unggul,pemikir-pemikir yang berjasa kepada kemajuan Islam dan dunia pada saat ini. Sebut saja misalnya Al-kindi (801-865), Al-Farabi (870-950), Ibnu Sina (980-1037), dan Ibn Rusyd (1126-1198), masih disebut sebagai tokoh-tokoh ideal yang dicanangkan sebagai model fase kemajuan berfikir dan kebangkitan dalam dunia Muslim. Para filosof Muslim sangat mengedepankan logika dan cara berfikir yang benar, tanpa ada maksud untuk mngesampingkan wahyu, tetapi penggunaan rasio adalah juga karunia Allah yang amat berharga. Di tangan para ilmuwan inilah terlahir karya-karya yang masih menjadi rujukan berabad-abad dan sebagian teks aslinya masih bisa kita temukan di perpustakaan-perpustakan Eropa.

Pemikir Islam, Ibnu Rusyd (1120-1198 M) misalnya, di barat dikenal dengan nama Averos. Ia melepaskan belenggu taklid dan menganjurkan kebebasan berfikir. Ia mengulas pemikiran Aristoteles dengan cara yang memikat minat semua orang yang befikir bebas. Ia mengedepankan sunatullah menurut pengertian Islam terhadap patheisme dan anthrophomorphisme Kristen. Demikian besar pengaruhnya di Eropa, sehingga di Eropa timbul gerakan Averoisme (Ibn Rusyd-isme) yang menuntut kebebasan berfikir. Bermula dari pemikiran dan gerakan ini di Eropa kemudian lahir reformasi pada abad ke-16 M dan rasionalisme pada abad ke 17 M. Berawalnya pengaruh penyerapan peradaban Islam ke Eropa dimulai dari pemuda-pemuda Kristen belajar ke Universitas-Universitas Islam. Kemudian di Paris didirikan Universitas yang sama dengan Negara Islam pada tahun 1231 M, tiga puluh tahun setelah wafatnya Ibnu Rusyd.
Dibidang teologi, dunia Islam diramaikan oleh ahli-ali ilmu kalam yang berasal dari berbagai aliran. Seperti aliran Mu’tazilah yang sangat menghargai ketinggian akal. Bagi kaum yang berfaham Mu’tazilah, dengan potensi akal yang dimiliki manusa, manusia dapat mengkaji kebenaran sampai ketahap mampu mengetahui adanaya Tuhan, baik buruk sebuah perbuatan dan banyak lagi persoalan teologi yang diparkannya dengan pola yang sangat menarik. Pada dasarnya pemikiran Mu’tazilah didominasi teologi rasional.

Paham yang bersebrangan denga Mu’tazilah adalah Asy’ariyah. Teologi Asy’ariyah yang lebih berpandangan teologi tradisional beranggapan kemampuan akal hanya mampu ke tahap mengakui adanya Tuhan. Sedangkan selebihnya tidak mampu diakses oleh akal. Kendati demikian, dari segi diaelektikanya, kaum Asy’ariyah tetap mengedepankan argumen secara rasional untuk mengenal Allah dan ini tetap dianggap merupakan kelanjutan metode kalam Mu’tazilah.

Selain ketinggian akal dan keutamaan argumen rasio seorang muslim juga wajib memiliki ketinggian Akhlak. Keutamaan ajaran tasawuf adalah menuju akhlak yang terpuji dan meninggalkan serta menjauhi akhlak yang tercela. Mengutamakan gerakan hati nurani atau intuisi disamping akal untuk melihat kebenaran. Namun, ketika ketiga unsur ini dikolaborasikan, maka, akal yang di bimbing oleh wahyu dan di barengi ketinggian akhlak akan melahirkan pribadi-pribadi unggul yang sangat diperlukan untuk membangun umat. Inilah keunggulan peradaban Islam yang tidak dimiliki oleh peradaban-peradaban lainnya. Kendatipun Islam dihancurkan oleh orang-orang yang buas dan rakus seperti bangsa Mughal, namun ketika mereka berinteraksi dan mendalami peradaban Islam, mereka terus jatuh cinta padanya dan membangun kembali peradaban Islam.

Begitu juga bangsa-bangsa Eropa yang dengan keji dan brutal mengusir Islam dari Granada Spanyol, namun nilai-nilai Islam sangat mereka cintai. Sebagaiman Watt mencatatkan “ … dan nampaknya dapat dibenarkan kalau disebutkan bahwa agenda-agenda acara atau aturan-aturan waktu yang harus kita ikuti dalam acara-acara formal mungkin berasal dari Ziryab ini”. Selanjutnya Watt menyatakan, ketika orang-orang Romawi memasukkan wilayah Yunani ke dalam wilayah kekuasaan mereka, akibatnya adala seperti yang dikatakan seorang penyair Latin “Yunani yang telah tertaklukkan membuat takluk penakluknya yang besar.” Namun penaklukkan orang-orang Arab tidak membawa mereka “tertaklukkan” sebagaimana terjadi pada penakluk Romawi. Mereka bahkan berhasil mendesakkan bahasa mereka, bahkan apa yang menjadi sudut pandang mereka, kepada hampir seluruh masyarakat yang ditundukkan di bawah kekuasaanya.

Islam adalah agama yang benar, maka dari itu Islam tidak akan melewatkan segala aspek yang diperlukan manusia. Filsafat sangat diperlukan manusia untuk mencapai kesuksesan di dunia. Teologi adalah keperluan manusia sendiri kepada Tuhan yang menciptakannya supaya manusia selalu ingat pada setiap kesuksesan pikirannya. Tasawuf diperlukan filsafat dan teologi sebagai penyeimbang diantara dunia dan Tuhannya. Tasawuf juga merupakan pembimbing akhlak manusia supaya benar-benar kelihatan manusianya dan untuk manusia mencapai kebahagiaan serta kesuksesan di akhiran maupun di akhirat. Manusia memerlukan akal, dan akal perlukan Tuhan. Di antara manusi, akal, dan Tuhan diperlukan hati atau intuisi yang di cerminkan oleh etika dan akhlak yang mulia supaya semua unsur tersebut tetap seimbang di dalam manusia.


Daftar Pustaka (Referensi)

• Madjid, Nurcholish. (1995). Islam dan Peradaban Dunia: Pengaruh Islam Atas Eropa Abad Pertengahan (Pendahuluan). Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina..
• Menocal, Maria Rosa. (2002). The Ornament of the World: How Muslims, Jews, and Christians Created a Culture of Tolerance in Medieval Spain (Edisi Terjemahan: Sepotong Surga di Andalusia)..
• Nasr, Seyyed Hossein. (1968). Science and Civilization in Islam. New York: New American Library. (Sebagai referensi pendukung tokoh filosof Ibnu Sina, Al-Kindi, dan Al-Farabi)..
• Watt, W. Montgomery. (1972). The Influence of Islam on Medieval Europe. Edinburgh: Edinburgh University Press..
• Zar, Sirajuddin. (2004). Filsafat Islam: Filosof dan Filsafatnya. Jakarta: RajaGrafindo Persada. (Sebagai referensi tambahan aliran Mu’tazilah dan Asy’ariyah).
• Prof Abdul Hadi WM







Senin, 30 Juni 2014

AJARAN JALAN TENGAH DALAM FALSAFAH TIONGKOK


CHUNG YUNG:
AJARAN TENTANG JALAN TENGAH

Oleh:MUAMAR ANIS


Chung Yun. Muamaranis. Jpg.


             Ajaran Jalan Tengah dalam falsafah Tiongkok dikemukakan oleh Konfucius, nama Latin untuk Kong Hu Cu atau Kon Fu Tze, seorang filosof abad ke-6 SM yang hidup sezaman dengan Lao Tze. Dia menguraikan ajarannya itu dalam kitab yang diberi judul Lun Yu atau Analects. Menurutnya pencapaian tertinggi kehidupan orang yang bermoral ialah mencapai keseimbangan dan keselarasan. Keseimbangan dan keselarasan ini dibawa ke dalam kehidupan sosial bersamaan dengan matangnya pribadi seseorang dan tingkat kearifan serta kebajikan yang dimilikinya. Ajaran tentang keselarasan ini disebut chung yung atau ’jalan tengah’. Bagaimana arti chung yung  yang sebenarnya, dapat diketahui dengan mencari batasan-batasan atau takrifnya yang memuaskan.

             Dalam bahasa Inggris kata-kata ’chung yung’ sering diterjemahkan sebagai ’golden mean’ atau ’central harmony’.  Ini menunjuk pada kenyataan bahwa yang diajarkan Konfusius ialah ’bagaimana berbuat baik tanpa mempersoalkan mengapa kita harus berbuat baik’. Artinya bagaimana seseorang melakukan kebajikan atau berbuat disertai perasaan tulus atau ikhlas, tanpa mempertimbangkan untung ruginya.
            Namun yang mengembangkan ajaran ini ialah Meng Tze (Mencius) dan Hun Tze, dua tokoh Konfusianis yang mempunyai jalan pikiran berbeda tentang kodrat manusia. Kedua tokoh inilah yang memberi landasan psikologis terhadap ajaran Jalan Tengah-nya Konfusius.

Chung Yung dan Jen atau Kemanusiaan
            Dalam kitabnya Lun Yu atau dalam bahasa Inggris disebut Analects, Konfusius (551-479 M) mengemukakan konsep jen, yang segera menjadi gagasan utama dalam falsafah Cina. Secara umum kata jen diartikan sebagai kemanusiaan, humanitas atau rasa kemanusiaan. Secara falsafah jen  kerap diartikan sebagai kemampuan mengendalikan diri dan upaya kembali ke asas kehidupan yang kodrati (li). Sayangnya Konfusius tidak memberikan takrif yang luas dan juga jarang menelaah  jen secara panjang lebar dan rinci. Namun secara tersirat ia mengemukakan bahwa jen  mencakup pengertian tentang ikhtiar manusia dalam merealisasikan dirinya dan menciptakan tatanan sosial yang tertib.

            Di antara cakupan yang lebih luas dari gagasan jen ialah ’sikap hormat terhadap kehidupan pribadi, bersungguh-sungguh menangani persoalan dan setia menjalankan tugas serta kewajiban berkenaan dengan kehidupan sosial’. Menurut Konfusius, ”Orang yang melaksanakan jen bertujuan membangun sifat dan wataknya sendiri, dan juga berusaha membangun watak dan kepribadian orang lain. Berkeinginan dirinya berhasil, berarti berkeinginan pula menolong orang lain berhasil.  Dengan perkataan lain, orang yang melaksanakan jen, melaksanakan pula kemanusiaan dan mencintai semua orang sebagaimana mencintai dirinya sendiri. Indvidualisme dan altruisme menyatu dalam dirinya.

           Sebagaimana istilah-istilah konseptual lain seperti li (asas, prinsip hidup yang kodrati), ch’i (kekuatan material,energi) dan lain-lain, jen dikaitkan pula dengan berbagai aspek kehidupan termasuk seni pemerintahan, kedokteran, ilmu masak memasak, seni puisi dan musik. Kadang-kadang jen diartikan sebagai ’kebaikan’, tercermin dari  istilah-istilah seperti neng jen artinya kemampuan menjadi baik, dan jen-tzu yang artinya ialah kuil kebaikan. Kebaikan seseorang terlihat bukan hanya dalam kata-kata, tetapi dalam perbuatan dan akibat langsung dari sebuah perbuatan. Konfusius sendiri pernah mengatakan,”Kudengar kata-kata seseorang dan kuperhatikan perbuatannya”.
                 
Meng Tze: Jalan Tengah dan Kodrat Manusia
            Meng Tze atau Mencius (372-289 SM) adalah filosof yang menguraikan lebih rinci tentang ajaran Jalan Tengah. Dalam kaitannya dengan jen, dia mengatakan, ”Kita berbuat baik, bukan hanya oleh karena berbuat baik, tetapi karena memang patut berbuat baik. Sebab-sebabnya ialah karena kodrat manusia itu baik sebagaimana air yangs ecara alami mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang rendah.

            Menurut Meng Tze, jika manusia berbuat jahat, hal itu tidak disebabkan karena pembawaannya yang salah. Semua orang memiliki (1) perasaan malu; (2) perasaan perasaan benar dan salah. Keempat perasaan merupakan awal dari tumbuhnya kemanusiaan, kebenaran, kesopanan dan kearifan dalam diri manusia.

            Kesadaran moral adalah sarana mencapai Chung Yung. Ia berakar dalam hati semua orang. Bahkan demikian halnya dapat dibuktikan dalam kenyataan bahwa anak-anak tahu benar bagaimana mencintai orang tuanya. Bilamana ia melihat anak-anak sebayanya hampir jatuh ke dalam sumur, sekonyong-konyong akan tumbuh rasa kasih sayang dan keinginannya untuk menolong. Keinginan untuk menolong itu muncul tanpa terelakkan dalam hati mereka, tanpa pertimbangan yang berbelit-belit. Perasaan-perasaan ini merupakan kemampuan bawaan yang tak perlu dipelajari dan juga merupakan pengetahuan yang dapat dimiliki seseorang tanpa memerlukan pertimbangan-pertimbangan.

            Menurut Meng Tze, ”Segala sesuatu sejak awal lengkap dalam dirinya. Tak ada kegembiraan yang lebih besar selain menguji diri sendiri dan menjadikan diri tulus sepenuhnya”. Ketulusan adalah jalan langit, sedangkan berpikir bagaimana menjadi tulus merupakan jalan manusia. Karena itu asas yang memberi petunjuk bagi perbuatan manusia ialah mewujudkan pikiran secara penuh. Mengasah pikiran berarti berusaha mengetahui sepenuhnya kodrat bawaankita dan mengetahui kodrat bawaan kita berarti mengetahui kodrat bawaan langit.

            Melihat ke dalam diri kita adalah upaya mengetahui alam. Untuk itu kita tak perlu pergi terlalu jauh dari diri kita, tak perlu menemui pendeta, karena ia sama saja dengan kita, yang juga tidak bisa pergi terlalu jauh dari dirinya. Menurut Meng Tze, Chung(keseimbangan, sentralitas) dan Yung (keselarasan) Alam Semesta ada dalam tatanan jiwa kita dan menjadi kodrat bawaan kita. Melalui pengetahuan kita menemukannnya kembali dan dapat mewujudkannya dalam kehidupan.

            Meng Tze berpendapat bahwa dalam mencapai Chung Yung ada dua tahap yang dapat ditempuh, yaitu: (1) Melalui jalan pikiran; (2) Melalui kelurusan budi. Yang pertama merupakan dasar etika suatu masyarakat dan yang kedua merupakan dasar kehidupan politik.

            Bagaimana kaitannya dengan jen? Menurut Meng Tze, jen harus dipaham sebagai
sebagai kemanusiaan karena rasa kemanusiaan merupakan watak sejati manusia. Bilamana kemanusiaan melekat dalam tindakan dan perbuatan, maka jen  disebut Tao (jalan, pembawan). Manusia yang memenui kemanusiaannya tidak berbuat menyimpang dari kemanusiaannya. Ia  mencintai semua orang. Bukti paling alami dari jen  ialah kesetiaan seorang anak pada orang tuanya. Ini merupakan kebajikan terbesar manusia.

            Demikian Meng Tze mengajarkan bahwa menghormati orang tua merupakan kebajikan utama dan sekaligus merupakan dasar utama rasa kemanusiaan.  Selanjutnya Meng Tze menyebut bahwa ada lima bentuk hubungan kemanusiaan yang terpenting dan semua
Bentuk itu harus dilandasi oleh jen:

1. Hubungan antara orang tua dan anak, harus ada kasih sayang; Jen  di sini diterjemahkan sebagai kasih sayang
2.Hubungan antara penguasa dan menteri-menterinya, harus dilandasi kebajikan dan atau kebenaran. Jen  di sini diartikan sebagai kebajikan.
3.Hubungan antara suami dan istri, harus ada perhatian terhadap peranan masing-masing yang berbeda.
4. Hubungan orang tua dan anak muda, harus ada tatanan yang benar.
5. Hubungan antar teman, harus ada rasa saling percaya.  

Hsun Tzu
Dalam menafsirkan Chung Yung, Hsun Tzu berbeda dari Meng Tze. Tekanannya pada humanisme lebih kuat. Walaupun demikian keduanya adalah pengikut dan penafsir ulung ajaran Konfusius. Perbedaannya dengan pemikiran Meng Tze tampak misalnya dalam menafsirkan Tao. Kalau Meng Tze mengatakan bahwa Tao adalah jalannya langit, Hun Tzu berpendapat bahwa Tao justru adalah jalannya manusia. Diterjemahkan dalam kehidupan sosial dan kemanusiaan, Hun Tzu mengartikannya sebagai ’cara memerintah sebuah negara’, yaitu mengorganisir orang-orang dalam suatu tatanan kekuasaan politik untuk kepentingan bersama.

            Berdasarkan pandangannya ini dia mengarahkan ajaran Jalan Tengah atau Chung Yung ke tujuan lain. Selain itu perbedaan pemikirannya dengan Meng Tze tampak dalam memandang kodrat manusia. Dia berpendapat bahwa secara kodrati manusia itu jahat, setidak-tidaknya memiliki kecenderungan kuat untuk berbuat jahat. Kebaikan hanya muncul disebabkan jenis aktivitas, lingkungan pergaulan dan latar belakang pendidikan yang diperoleh. Karena itu membangun lingkungan sosial yang memungkinkan kebajikan berkembang, serta lembaga pendidikan dan mengembangkan berbagai aktivitas yang terorganisir dengan baik, mutlak diperlukan. Hanya lembaga pendidikan dan lingkungan yang baik dapat mengajarkan bagaimana manusia itu sanggup berbuat baik.



Hun Zhu. Muamaranis. Jpg.


            Hun Tzu menekankan bahwa setiap orang memerlukan guru yang dapat membimbingnya ke arah kebaikan, dan setiap orang memerlukan aturan (adab) dan hukum yang ditaati bersama, yang memberi rintangan bagi kecenderungannya untuk berbuat jahat. Kebajikan bukanlah kodrat bawaan manusia sejak lahir, tetapi dihimpun dan dikumpulkan dalam perjalanan hidupnya. Menjadi manusia baik, dengan demikian, memerlukan proses. Hsun Tze mengumpamakannya sebagai gunung yang dibentuk oleh tumpukan tanah.

            Asas yang memungkinkan kebajikan tumbuh ialah li, sopan santun atau adab. Alasannya ialah karena masyarakat merupakan dibentuk dari individu-individu dengan latar belakang sosial, pendidikan dan pengalaman berbeda-beda. Asas yang ditaati bersama diperlukan agar terbentuk tatanan sosial yang didambakan dan asas ini haruslah mengatasi perbedaan yang ada dalam masyarakat. Pemerintahan yang baik, menurut tokoh ini, ialah pemerintahan yang dikendalikan oleh seorang raja yang berjiwa pendeta.

            Apabila kebajikan religius mencapai peringkat yang memadao, seseorang akan mampu menjadikan dirinya sebagai bagian dari tiga serangkai kekuatan: Langit, Bumi dan Manusia. Ajaran Hun Tzu memberi jalan bagi munculnya faham legalisme (Fa), walaupun aliran tersebut bertentangan dengan ajaran Konfusius.

Perkembangan Pasca-Meng Tze dan Hun Tze
            Pada abad ke-4 S. M. Konfusianisme berkembang ke arah lain. Perkembangan itu tampak tanda-tandanya pada kecenderungan membangun landasan metafisika bagi ajaran humanismenya. Menurut pemikiran baru ini, chung yang semula berarti keseimbangan dalam arti moral, kini diberi arti sebagai dasar utama dunia; yung, yang biasa diartikan sebagai keselarasan perbuatan seseorang dengan tatanan moral yang berlaku, kini diartikan sebagai jalan universal.

Apabila chung yung dilaksanakan pada peringkat yang tinggi, maka langit dan bumi akan memiliki tatanan yang benar, dan seagala sesuatu di dalamnya akan berkembang menurut fitrahnya. Berdasarkan inilah manusia unggul disebut Chung Yung, dalam arti memiliki kehidupan moral yang baik dan penuh kebajikan dalam setiap perilaku sosialnya.

            Chung Yung versi baru ini, dengan landasan metafisikanya, dikemukakan dalam kitab li Chi (Kitab Adab) karangan Tzu Szu (492-431 SM), salah seorang dari cucu Konfusius. Lebih jauh Tzu Ssu mengemukakan bahwa ketulusan (ch’eng) merupakan jalan langit’ dan berpikir bagaimana seseorang menjadi tulus merupakan jalannya manusia.  Ketulusan yang mutlak bersifat kekal, maujud dengan sendirinya, tidak terbatas, luas dan dalam, transendental dan cerdas. Ch’eng terdiri dari dan mencakup semua eksistensi; meliputi dan menyempurnakan segala keberadaan.

            Ciri ketulusan yang univeral ini ialah: ia menonjol tanpa pamer diri, menghasilkan perubahan tanpa bergerak jauh dan mencapai tujuan tanpa bertindak aktif. Hanya mereka yang benar-benar  ikhlas dapat mengembangkan kodrat dirinya secara penuh dan sekaligus mengembangkan kodrat lain secara penuh pula. Dengan begitu dia dapat pula mengembangkan kodrat hal-hal, serta dapat menolong mentransformasikan dan mengembangkan pergerakan langit dan bumi.


Di era modern, kita seringkali gagal mencapai Chung Yung karena kita terlalu sibuk memoles 'tampilan luar' tanpa memiliki ketulusan (Ch'eng). Meng Tze mengingatkan bahwa kebaikan itu alami, tapi Hsun Tzu memperingatkan bahwa tanpa Adab (Li), kita hanyalah kumpulan ego yang saling memangsa. Tanpa keseimbangan batin, manusia hanya akan menjadi 'badut simulakra' yang pamer kebajikan di media sosial, namun kehilangan orientasi Jalan Langit dalam kehidupan nyata."(Muamar Anis) 



Daftar Pustaka & Referensi:

  • Muamar Anis (2013): Chung Yung: Ajaran Tentang Jalan Tengah. (Naskah asli yang mengeksplorasi dimensi psikologis dan metafisika Konfusianisme).
  • Prof. Abdul Hadi WM: Cakrawala Budaya Islam. (Rujukan mengenai pentingnya kembali ke kearifan Timur dan etika transendental).
  • Confucius: Lun Yu (The Analects).
  • Tzu Ssu: Li Chi (The Book of Rites). (Rujukan primer mengenai metafisika ketulusan/Ch'eng).
  • Fung Yu-lan: A Short History of Chinese Philosophy. (Rujukan standar perkembangan pasca Meng Tze dan Hsun Tzu).
  • Lin Yu Tang: The Wisdom of China and India.









































Sabtu, 01 Februari 2014

KON FU TZE ATAU KONFUCIUS, FILOSOF BESAR ASIA

KON FU TZE ATAU KONG HU CU
SEBAGAI FILOSOF

Muamar Anis

Konfusze muamar anis. Jpg.

Kon Fu Tze atau Kong Hu Cu di Barat dikenal dengan nama Latinnya sebagai Konfucius (selanjutnya nama Latin inilah yang yang akan digunakan dalam tulisan ini). Dia adalah seorang filosof besar dunia yang muncul pada abad ke-6 SM, hampir bersamaan waktu dengan munculnya Socrates di Yunani dan Zarathustra di Persia.Tetapi berbeda dengan Socrates yang pemikirannya dikenal melalui tulisan-tulisan muridnya Plato,Kon Fu Tze melahirkan kitab yang sampai kini tetap dijadikan rujukan penting pemikiran filsafat di Tiongkok.Buku yang dimaksud ialah Lun Yu, dalam bahasa Inggeris diterjemahkan jadiAnalects. Seperti Zarathustra pula, dari pemikirannya lahir sebuah agama yang cukup berpengaruh terutama pada bangsanya sendiri. Zarathustra melahirkan agama Zoroaster, Kon Fu Tze melahirkan agama yang di Indonesia dikenal sebagai agama Kong Hu Cu.

Filosof besar Asia inilahir pada tahun 531 SM di negeri Lu, kini termasuk propinsi Shantung. Leluhurnya tidak jelas, namun di antara mereka dahulunya terdapat bangsawan terkemuka. Dalam biografinya ia menulis bahwa orang tuanya bukan orang berpangkat dan hidup sederhana. Ia sendiri harus mencari nafkah sewaktu kecil. Sekalipun dalam keadaan miskin, ia tetap mampu belajar. Kebanyakan ilmunya diperoleh dengan jalan belajar sendiri.

Pengalaman hidupnya yang pahit itu membuatnya peka terhadap penderitaan rakyat kecil. Ia sangat prihatin dengan keadaan sekitarnya yang dianggapnya telah rusak dan menyedihkan. Keprihatinannya inilah mendorong semangat  Konfucius melakukan perubahan dan pembaharuan,yaitu dengan mendidik murid-murid yang kelak dapat dipersiapkan terlibat dalam pemerintahan.

Pada waktu itu Cina diperintah oleh golongan bangsawan yang pada mulanya adalah kaum militer. Mereka hidup mewah. Rakyat diperas dengan dipaksa bekerja secara rodi dan membayar pajak yang cukup tinggi. Memang, pada mulanya mereka tampil sebagai pelindung masyarakat dan pengaman negara yang efektif, namun setelah tumbuh menjadi kelas sosial tersendiri, maka timbullah berbagai penyimpangan yang membuat rakyat sengsara.

Sebagaimana telah dikemukakan Konfucius menginginkan perubahan.Dia mengajarkan falsafah dan mendidik murid-murid dan pengikut-pengikutnya agar kelak dapat memainkan peranan penting dalam pemerintahan, serta sanggup merombak pemerintahan yang bobrok serta tidak memenuhi kebutuhan rakyat. Untuk itu latihan dan tehnik-tehnik yang biasa dianggap tidak cukup. Untuk dapat mengemban tugas yang berat mereka harus dididik agar mampu mengembangkan prakarsa, memiliki watak, adab dan kecerdasan yang tinggi.

Konfucius percaya bahwa setiap orang dapat menjadi orang baik, yaitu chun tzu, tanpa peduli latar belakang sosial dan keturunan. Di Cina pada waktu itu chun tzu diartikan sebagai orang baik yang beradab, tahu aturan dan sopan santun, memiliki inisiatif sesuai dengan kemampuannya. Orang semacam itulah yang, menurut Konfucius, dapat mengemban tugas-tugas pemerintahan dengan baik.

Mengapa ilmu dan seni pemerintahan menjadi perhatian Konfucius? Pada zaman hidupnya, karena pemerintahan dikendalikan kaum militer, masyarakat pada umumnya mengagung-agungkan ilmu dan seni perang, dan mengejek orang yang memberi perhatian terhadap perlunya pemerintahan yang baik, bersih, menjunjung hukum dan pengelolaan administrasinya baik. 

Sekalipun lebih menekankan ilmu dan seni pemerintahan dibanding ilmu dan seni perang, yang pada waktu itu sangat diperlukan mengingat banyaknya peperangan dan pembrontakan, tetapi Konuficius sama sekali bukan penganut pasifisme. Ia juga mengajarkan bahwa kekerasan diperlukan dalam menghadapi masalah-masalah yang memerlukan ketegasan. Namun Konfucius yakin bahwa kekerasan bukan satu-satunya jalan dalam menyelesaikan persoalan negara.

Chun Tzu dan Li
Chun tzu adalah istilah yang populer di Cina pada masa Konfucius untuk menyebut orang baik-baik dan berkedudukan dalam masyarakat. Konfucius sendiri mengartikannya sebagai orang yang mengenal adab, tatanan moral atau tatakrama dalam kehidupan sosial dan politik. Dalam rangka mendidik murid-muridnya menjadi chun tzu, Konfucius mengingatkan bahwa adab dan tatakrama telah rusak kehidupan politik masyarakat Cina pada waktu itu.

 Untuk memperbaikinya diperlukan perbaikan dan reformasi. Reformasi yang diinginkan ialah kembali kepada li, yang biasa diartikaan sebagai tatakrama. Konfucius sendiri mengartikannya sebagai ‘upacara’. ‘adat istiadat’ atau ‘ketentuan-ketentuan hidup yang pantas diartikan’. Li merupakan ukuran bagi orang yang ingin mencapai chung yung, jalan tengah – keseimbangan dan harmoni dalam kehidupan sosial.

Pada mulanya li diartikan sebagai ‘berkurban’, dan arti ini masih berlaku sampai kini. Konfucius memperluas artinya sehingga mencakup adat istiadat dan sistem kepercayaan yang melandasi pelaksanaan upacara kurban. Karena itu kemudian pengertian li mencakup juga upacara dan tatacara yang berlaku dalam masyarakat. Menurut Konfucius, apabila para penguasa dan pejabat dapat menyelenggarakan kurban dan upacara lain dalam menghormati leluhur mereka, mengapa mereka tidak berbuat yang sama seriusnya dalam menjalankan pemerintahan? Bilamana para menteri saling menghormati dan menjaga adab, mengapa mereka harus mengabaikan rakyat jelata yang merupakan tulang punggung negara?

Konfucius mengajarkan kepada muridnya agar dalam berhubungan dengan orang  lain, seseorang bersikap ‘sedang menerima tamu penting’; dan apabila kelak menjadi pejabat atau pegawai tinggi hendaknya menghadapi rakyat seperti dia ‘sedang memimpin upacara kebaktian agama dalam suatu penyajian kurban besar”. Apa yang dikemukakan Konfucius ini hanya kias. Dia sebenarnya bukan seorang tokoh yang memuja adat istiadat yang berlaku dan upacara-upacara memuja leluhur yang sering diselenggarakan dengan penuh kemegahan dan pemborosan. Bagi Konfucius yang penting adalah semangat yang tersembunyi dalam li, dan hakikat terdalam dari pengertiannya yang tersembunyi.

Suatu ketika Guru Kung ditanya apakah hakikat li itu? Guru Kung menjawab:’’Ini pertanyaan penting!  Berkenaan dengan upacar, andaikata seseorang terpaksa berbuat salah dalam satu segu, maka kesalahan terbaik dalam hal ini ialah terlampau hemat menyelenggarakan upacara yang biasa dilaksanakan secara megah dan boros. Pada waktu upacara pemakaman dan berkabung, mereka yang berkabung lebih baik jika merasa benar-benar sedih dibanding mereka yang terlalu teliti terhadap ketentuan-ketentuan penyelenggaraan upacara yang sekecil-kecilnya.” (Lun Yu 3.4).

Ketika itu tatacara penyelenggaraan kurban penuh dengan aturan-aturan rinci yang harus dipatuhi. Tidak sedikit di antara aturan-aturan itu esensial dan penting. Konfucius jelas tidak setuju dengan tetek-bengek yang menyulitkan dan penuh basa basi itu. Ia bisa menerima adat istiadat dan upacara apabila secara rasional alasan-alasannya bisa diterima. Alasan yang masuk akal inilah yang dijadikan pertimbangan Konfucius dalam menilai apakah perilaku seseorang itu manusiawi ataukah bermoral. Kendati demikian Konfucius tidak menganggap remeh adat istiadat, aturan dan adab sebab itu merupakan pedoman penting dalam mengatur masyarakat yang tertib.

Demikianlah pengertian li dalam pemikiran Konfucius merupakan rasionalisasi atas sistem etika yang berlaku pada waktu itu, sedangkan secara falsafah li diartikan sebagai ’tatanan masyarakat yang ideal’, yang di dalamnya segala sesuatu harus diletakkan pada tempatnya yang benar dan sesuai berdasarkan pertimbangan rasional. Sedangkan apabila dikenakan kepada pribadi seseorang, li berarti keadaan pikiran (mind) yang cenderung pada kesalehan, ketulusan dan ketaatan memenuhi ajaran agama, moral dan hati nurani.

Setelah Konfucius, li kemudian diberi arti sebagai sistem kepercayaan yang menekankan pada ’keseimbangan dan harmoni’ (chung yung), dan secara tersirat meletakkan manusia, alam dan Tuhan (t`ien) pada tempat dan kedudukannya yang benar. Konfucius mengajarkan agar masyarakat berperilaku baik dan taat pada undang-undang dan hukum. Orang Cina, menurut Lin Yu Tang, menganggap bahwa Konfucianisme merupakan agama li, atau ’agama adab dan moral yang terpuji’. Dalam pandangan Konfucius sistem politik dan pemerintahan harus tunduk pada sistem moral dan adab yang lebih luas. Dalam aforismenya Konfucius misalnya memaparkan bagaimana moral pemerintahan yang ideal, sebagai berikut:

”Konfucius berkata,’’Bimbinglah masyarakat dengan ukuran-ukuran dan kendali pemerintahan atau aturlah mereka dengan ancaman hukuman, dan orang akan berusaha tidak masuk penjara, kecuali mereka yang tak punya harga diri dan rasa malu. Bimbinglah masyarakat dengan kebajikan dan kendali atau aturlah mereka dengan itu, dan orang akan memiliki harga diri dan rasa hormat.”

Manusia yang bijak dan bermoral,yang berpegang pada li, tidak akan menyia-nyiakan hidupnya dan sebaliknya akan berusaha menjadi anggota masyarakat yang gemar bekerjasama dengan sesamanya. Manusia yang demikian  tidak menolak li sejauh tidak bertentangan dengan moral dan tidak merugikan manusia.

Dalam falsafah pendidikan Konfucius, di mana gagasan li telah ditambah dengan pengertian moral, peningkatan kecerdasan dianggap tidak penting apabila tidak disertai keseimbangan emosi. Usaha untukk menghasilkan keseimbangan tersebut  tergantung pada pendidikan dalam li. Menurut Konfucius, ”Ilmu yang dimiliki oleh seorang chun tuzharus ditertibkan dengan menggunakan li”.  Dengan demikian ia memiliki kekuatan menghadapi dunia, setia pada prinsip dan pendirian, tahan menghadapi krisis dan godaan.

Etika dan Hakikat Manusia
Sistem etika dan falsafah yang dibangun oleh Konfucius didasarkan pada alasan/pertimbangan tentang apakah sebenarnya hakikat manusia itu? Menurut Konfucius manusia merupakan makhluk individu yang keberadaannya tidak terpisah dari masyarakat. Di lain hal ia memandang bahwa masyarakat bukan sejenis kesatuan metafisik yang sepenuhnya mengatasi individu. Jika masyarakat benar-benar mengatasi individu, berarti keberadaan individu tidak ada artinya. Untuk itu keberadaan individu harus dipertimbangkan dan diserap dalam rangka kesatuan dan keseimbangan masyarakat.

Menurut Konfucius, manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial. Meskipun demikian, tidak sepenuhnya dibentuk oleh masyarakat. Keadaan yang dialami seseorang, kebiasaan-kebiasaan dan pola hidupnya, sebagian memang dibentuk oleh masyarakat. Tetapi di lain hal, karena masyarakat merupakan kumpulan individu manusia yang saling mempengaruhi satu dengan yang lain, maka masyarakat sebenarnya juga dibentuk oleh individu-individu yang memainkan peranan penting dalam pelbagai lapangan kehidupan.

Tetapi mengapa ada orang ingin memisahkan diri dari masyarakatnya, dan ada juga orang yang gemar menentang adat istiadat dan tatanan moral yang berlaku dalam masyarakat? Mengapa pula ada orang yang tidak mau mengikuti pertimbangan-pertimbangan moral yang dianut masyarakat? Semua itu menurut Konfucius disebabkan oleh suara hati nuraninya. Menjadi ’petapa’ dan ’mengikuti kemauan khalayak’, sama saja buruk dan salah bagi Konfucius, karena ’hati nurani’ manusia pada dasarnya ingin hidup bersama dengan manusia lain dalam suatu komunitas yang disebut masyarakat, dan ’hati nurani’ pula yang pada dasanya mendorong seseorang menginginkan perubahan dan perbaikan dalam masyarakat.Landasan kebenaran dalam kehidupan sosial adalah hati nurani. Hati nurani inilah yang dirujuk Konfucius ketika dia berkata:

”Seseorang tanpa keadaan sebenarnya, aku tak tahu apa jadinya!”
”Biarlah kesetian dan kebenaran menjadi yang utama bagimu.”
”Lebih baik tulus dan ikhlas, dibanding sekedar berpegang teguh (pada aturan)”
”Manusia dilahirkan untuk berdiri tegak, jika tidak demikian, dan walaupun ia
masih hidup, akan beruntung jika ia melarikan diri.”
”Kaya dan terhormat adalah yang dihasratkan manusia; namun jika tak selaras dengan kebenaran (hati nurani) mungkin semua itu tak memberinya kebahagian.”

(Lun Yu).

Selain gagasan li dan hati nurani, gagasan penting Konfucius yang lain ialah tentang Tao (Jalan). Arti semula dari tao ialah jalan, cara atau alur. Sebelum Konfucius, taobiasa diartikan sebagai tatacara atau etika. Tetapi setelah munculnya Lao Tze iartikan secara mistikal untuk menggambarkan Dzat pertama yang menyusun alam semesta atau keseluruhan segala sesuatu.

Konfucius sendiri mengartikan Tao sebagai Jalan di atas segala jalan lain yang seharusnya diikuti oleh manusia. Jadi artinya ialah Jalan Besar. Dalam Tao yang sebenarnya, tujuan yang ingin dicapai ialah kebahagiaan. Ia mencakup hukum-hukum moral yang berlaku bagi individu, dan juga berarti pola pemerintahan yang harus dilaksanakan untuk melahirkan kesejahteraan dan perkembangan  manusia dalam mencapai hakikat dirinya.

Han Yu, filosof Cina abad ke-8 M,  mengatakan bahwa yang dimaksud Tao oleh Konfucius ialah jalan atau cara bertindak, yang dijiwai oleh cita-cita keadilan (keadilan bagi orang Cina ialah kepatutan) dan didasarkan atas jen, rasa cinta pada kemanusiaan. Tao bukan suatu yang tetap, tetapi mengalami perubahan sesuai keperluan dan beranekaragam sesuai dengan keadaan orang yang melaksanakannya. Demikianlah dengan gagasannya tentang li dan tao, beserta pengertian yang diberikan pada dua istilah ini, dia telah berusaha menggantikan makna ’kesetiaan’ yang dibebankan pada setiap individu yang dahulunya ditujukan kepada pemerintah dan golongan feodal. Kesetiaan yang diinginkan Konfucius ialah kesetiaan kepada prinsip moral dan jalan kemanusiaan.

Etika Tanpa Metafisika
Telah dikemukakan bahwa Konfucius membangun sistem etika berdasar hakikat manusia dan keperluan individu untuk hidup bermasyarakat.  Ia juga memisahkan etika dan metafisika dalam ikhtiarnya memberi landasan yang rasional bagi sistem etika dan falsafah moral. Tidak seperti Meng Tze (Mencius), penganut Konfucianisme yang berpendapat bahwa pada dasarnya manusia itu baik, Konfucius tidak pernah mengatakan demikian. Guru Kung, demikian dia dipanggil, juga tidak seperti Hun Tzu, juga penganut Konfucianisme, yang mengatakan bahwa pada dasarnya manusia itu buruk atau jahat.

Guru Kung sangat dekat dengan persoalan-persoalan kongkrit yang dihadapi masyarakat dan manusia di sekelilingnya. Baginya mansia secara hakiki sama di mana saja. Tidak sedikit di antara mereka yang beruntung mendapat kedudukan tinggi dan berkemungkinan memiliki kepribadian dan watak terpuji disebabkan mendapat pendidikan yang baik; tetapi dalam kenyataan sering berperilaku seperti binatang, bebal dan keji. Tetapi sebaliknya tidak sedikit manusia yang tidak beruntung karena kurang berpendidikan dan berpangkat rendah, namun memiliki perilaku yang baik dan patut dihargai keperibadian serta budi pekertinya.

Pandangan Guru Kung didasarkan atas pengamatan langsung dan sederhana. Dia mengambil kesimpulan bahwa setiap manusia sebenarnya sangat mendambakan satu hal: Kebahagiaan. Hanya saja masing-masing sering mengartikan kebahagiaan itu dengan cara yang berbeda-beda. Konfucius sendiri tidak menetapkan bahwa apa itu kebahagiaan dan enggan pula menghubungkannya dengan kepercayaan atau agama. Yang jelas ia hanya mengatakan bahwa setiap manusia senantiasa berusaha memperoleh apa yang ia dambakan dan apa yang ia dambakan bisa menjadi sumber kebahagiaan apabila terpenuhi.

Dia berpendapat hanya sejauh berdasarkan kenyataan. Misalnya dia melihat di sekelilingnya kebanyakan rakyat hidup serba kekurangan, tidak sedikit yang menderita kelaparan, tertekan hidupnya disebabkan banyaknya kekacauan dan peperangan terjadi, serta ditindas oleh kaum bangsawan. Kaum bangsawan pun banyak tidak memperoleh kesenangan dan tidak bahagia, sebab hidup mereka tidak teratur dan sering menghadapi bahaya. Dalam rangka menjawab persoalan nyata itu Konfucius menyusun falsafah yang diharapkan bisa menjadi pedoman dalam menegakkan tatanan masyarakat yang membuat manusia bahagia. Bagaimana membuat manusia di negerinya berbahagia? Melalui sistem pemerintahan yang baik dan mendatangkan kepuasan bagi kehidupan rakyat banyak.

Pemerintahan yang demikian, menurut Konfucius, harus dibangun dengan memperhatikan kodrat dasar manusia dan kemanusiaan. Manusia adalah makhluk sosial dan kebahagiaan sebagai kebaikan bersama dapat diperoleh melalui kehidupan sosial yang beradab dan mengutamakan kebersamaan serta nilai-nilai moral. Karena itu, menurut Guru Kung, jika setiap orang bekerja untuk kebahagiaan bersama, maka besar kemungkinan tercipta keadaan yang diliputi kebahagiaan bersama dibanding dengan keadaan lain, apabila tidak ada keinginan untuk bekerja demi kebahagiaan bersama. Kebaikan dan kodrat manusia sebagai makhluk sosial, dengan begitu, membangun asas timbal balik.

Apa yang dimaksud asas timbal balik itu? Guru Kung hanya mengatakan, ”Tidak mengerjakan sesuatu terhadap orang lain, yang kita sendiri tidak menghendaki orang lain melakukannya terhadap kita.”  Katanya lagi, ”Manusia yang bijak dalam arti yang sebenarnya ialah apabila ia ingin memantapkan kedudukannya, ia akan berusaha pula memantapkan kedudukan orang lain; apabila ia ingin mendapat untung, ia akan berusaha membantu orang lain untuk mendapat untung. Jalan kebajikan yang sejati ialah menemukan prinsip perilaku terhadap orang lain dalam keinginan kita sendiri.”

Apa yang dikemukakannya itu berkaitan dengan asas Jalan Tengah (chung yung) yang ingin ditegakkan. Chung Yung adalah prinsip kehidupan manusia bermoral yang menghendaki keseimbangan dan harmoni.  Asas ini hanya bisa berlaku jika seseorang memulai dari dirinya sendiri. Menjadikan diri kita bermoral, kata Guru Kung, adalah menjadikan diri kita selaras dengan orang lain, dalam cita-cita, perilaku dan keinginan. Dalam kaitan ini Guru Kung juga mengajarkan bagaimana berbuat baik dalam kehidupan tanpa dibebani persoalan mengapa kita harus berbuat baik.


Referensi & Sanad Intelektual:

Muamar Anis (2013): Kon Fu Tze sebagai Filosof. Naskah asli yang mengeksplorasi dimensi sosiopolitik Konfusianisme.
Prof. Abdul Hadi WM: Sebagai rujukan semangat orientasi "Kembali ke Timur" dan kajian perbandingan filsafat Asia. (Poin ini penting karena Prof. Abdul Hadi sering menekankan bahwa filsafat Timur tidak kalah rasional dibanding Barat).
Lin Yu Tang: The Wisdom of Confucius.
Confucius: Lun Yu (Analects).
H.G. Creel: Confucius and the Chinese Way.



Kamis, 12 Desember 2013

Filsafat Islam: Integrasi Akal, Hati, dan Wahyu dalam Menjawab Tantangan Modern


Filsafat Islam: Integrasi Akal, Hati, dan Wahyu dalam Menjawab Tantangan Modern

Oleh: Muamar Anis



Hakikat & Epistemologi


Ilustrasi Filisof Islam - Muamar Anis. Jpg

a. Pengertian Filsafat Islam
Dalam buku Mulyadhi Kartanegara yang berjudul Gerbang Kearifan, beliau  mendiskusikan beberapa pandangan sarjana tentang istilah filsafat Islam. Ada yang megatakan bahwa Islam tidak pernah dan bisa memiliki filsafat yang independen. Adapun filsafat yang dikembangkan oleh para filosof Muslim adalah pada dasarnya filsafat Yunani, bukan filsafat Islam. Ada lagi yang mengatakan bahwa nama yang tepat untuk itu adalah filsafat Muslim, karena yang terjadi adalah filsafat Yunani yang kemudian dipelajari dan dikembangkan oleh para filosof Muslim.

Ada lagi yang mengatakan bahwa nama yang lebih tepat adalah filsafat Arab, dengan alasan bahwa bahasa yang digunakan dalam karya-karya filosofis mereka adalah bahasa Arab, sekalipun para penulisnya banyak berasal dari Persia, dan namanama lainnya seperti filsafat dalam dunia Islam.Adapun beliau sendiri cenderung pada sebutan filsafat Islam (Islamic philosophy), dengan setidaknya 3 alasan : 

1) Ketika filsafat Yunani diperkenalkan ke dunia Islam, Islam telah mengembangkan sistem teologi yang menekankan keesaan Tuhan dan syari’ah, yang menjadi pedoman bagi siapapun. Begitu dominannya Pandangan tauhid dan syari’ah ini,sehingga tidak ada suatu sistem apapun, termasuk filsafat, dapat diterima kecuali sesuai dengan ajaran pokok Islam tersebut (tawhid) dan pandangan syari’ah yang bersandar pada ajaran tauhid. Oleh karena itu ketika memperkenalkan filsafat Yunani ke dunia Islam, para filosof Muslim selalu memperhatikan kecocokannya dengan pandangan fundamental Islam tersebut, sehingga disadari atau tidak, telah terjadi “pengislaman” filsafat oleh para filosof Muslim.

2) Sebagai pemikir Islam, para filosof Muslim adealah pemerhati flsafat asing yang kritis. Ketika dirasa ada kekurangan yang diderita oleh filsafat Yunani, misalanya, maka tanpa ragu-ragu mereka mengeritiknya secara mendasar. Misalnya, sekalipun Ibn Sina sering dikelompokkan sebagai filosof Peripatetik, namun ia tak segan-segan mengertik pandangan Aristoteles, kalau dirasa tidak cocok dan 1menggantikannnya dengan yang lebih baik. Beberapa tokoh lainnya seperti Suhrawardi, Umar b. Sahlan al-Sawi dan Ibn Taymiyyah, juga mengeriktik sistem logika Aristotetles. Sementara al-‘Amiri mengeritik dengan pedas pandangan Empedokles tentang jiwa, karena dianggap tidak sesuai dengan pandangan Islam.

3) Adanya perkembangan yang unik dalam filsafat islam, akibat dari interaksi antara Islam, sebagai agama, dan filsafat Yunani. Akibatnya para filosof Muslim telah mengembangkan beberapa isu filsfat yang tidak pernah dikembangkan oleh para filosof Yunani sebelumnya, seperti filsafat kenabian, mikraj dsb.

b. Lingkup Filsafat Islam

Berbeda dengan lingkup filsafat modern, filsafat Islam, sebagaimana yang telah dikembangkan para filosof agungnya, meliputi bidang-bidang yang sangat luas, seperti logika, fisika, matematika dan metafisika yang berada di puncaknya. Seorang filosof tidak akan dikatakan filosof, kalau tidak menguasai seluruh cabang-cabang filosofis yang luas ini. 

c. Pandangan Filsafat yang Holistik

Satu hal lagi yang perlu didiskusikan dalam mengenal filsafat Islam ini adalah pandangannya yang bersifat integral-holistik.Integrasi ini, sebagaimana yang telah saya jelaskan dalam karya saya yang lain Integrasi Ilmu: Sebuah Rekonstruksi Holistik, terjadi pada berbagai bidang, khususnya integrasi di bidang sumber ilmu dan klasifikasi ilmu. Filsafat Islam mengakui, sebagai sumber ilmu, bukan hanya pencerapan indrawi, tetapi juga persepsi rasional dan pengalaman mistik.

 Dengan kata lain menjadikan indera, akal dan hati sebagai sumber-sumber ilmu yang sah. Akibatnya terjadilah integrasi di bidang klasifikasi ilmu antara metafisika, fisika dan matematika, dengan berbagai macam divisinya. Demikian juga integrasi terjadi di bidang metodoogi dan penjelasan ilmiah. Karena itu filsafat Islam tidak hanya mengakui metode observasi, sebagai metode ilmiah, sebagaimana yang dipahami secara eksklusif dalam sains modern, tetapi juga metode burhani, untuk meneliti entitasentitas yang bersifat abstrak, ‘irfani, untuk melakukan persepsi spiritual dengan menyaksikan (musyahadah) secara langsung entitas-entitas rohani, yang hanya bisa dianalisa lewat akal, dan terakhir bayani, yaitu sebuah metode untuk memahami teks-teks suci, seperti al-Qur’an dan Hadits. Oleh karena itu, filsafat Islam mengakui kebasahan observasi indrawi, nalar rasional, pengalaman intuitif, dan juga wahyu sebagai sumbersumber yang sah dan penting bagi ilmu.

Hal ini penting dikemukakan, mengingat selama ini banyak orang yang setelah menjadi ilmuwan, lalu menolak filsafat dan tasawuf sebagai tidak bermakna. Atau ada juga yang telah merasa menjadi filosof, lalu menyangkal keabsahan tasawuf, dengan alasan bahwa tasawuf bersifat irrasional. Atau ada juga yang telah merasa menjadi Sufi lalu menganggap tak penting filsafat dan sains. 

Dalam pandangan filsafat Islam yang holistik, ketiga bidang tersebut diakui sebagai bidang yang sah, yang tidak perlu dipertentangkan apa lagi ditolak, karena ketiganya merupakan tiga aspek dari sebuah kebenaran yang sama. Sangat mungkin bahwa ada seorang yang sekaligus saintis, filosof dan Sufi, karena sekalipun indera, akal dan hati bisa dibedakan, tetapi ketiganya terintegrasi dalam sebuah pribadi. Namun, seandainya kita tidak bisa menjadi sekaligus ketiganya, seyogyanya kita tidak perlu menolak keabsahan dari masing-masing bidang tersebut, karena dalam filsafat Islam ketiga unsur tersebut dipandang sama realnya. 

Peran Filsafat dalam dunia modern
a.Menjawab Tantangan Kontemporer
Pada saat ini, dalam pandangan Beliau (Mulyadhi Kartanegara), umat Islam telah dilanda berbagai persoalah ilmiah filosofis, yang datang dari pandangan ilmiah-filosofis Barat yang bersifat sekuler. Berbagai teori ilmiah, dari berbagai bidang, fisika, biologi, psikologi, dan sosiologi, telah, atas nama metode ilmiah, menyerang fondasi-fondasi kepercayaan agama. Tuhan tidak dipandang perlu lagi dibawa-bawa dalam penjelasan ilmiah. Misalnya bagi Laplace (w. 1827), 

Kehadiran Tuhan dalam pandangan ilmiah hanyalah menempati posisi hipotesa. dan ia mengatakan, sekarang saintis tidak memerlukan lagi hipotetsa tersebut, karena alam telah bisa dijelaskan secara ilmiah tanpa harus merujuk kepada Tuhan. Baginya, bukan Tuhan yang telah bertanggung jawab atas keteraturan alam, tetapi adalah hukukm alam itu sendiri. Jadi Tuhan telah diberhentikan sebagai pemelihara dan pengatur alam. Demikian juga dalam bidang biologi, Tuhan tidak lagi dipandang sebagai pencipta hewanhewan, karena menurut Darwin (w. 1881), munculnya spesies-spesies hewan adalah karena mekanisme alam sendiri, yang ia sebut sebagai seleksi alamiah (natural selection).

Menurutnya hewan-hewan harus bertransmutasi sendiri agar ia dapat tetap survive, dan tidak ada kaitannya dengan Tuhan. Ia pernah berkata, “kerang harus menciptakan engselnya sendiri, kalau ia mau survive, dan tidak karena campur tangan sebuah agen yang cerdas di luar dirinya. Oleh karena itu dalam pandangan Darwin, Tuhan telah berhenti menjadi pencipta hewan. Dalam bidang psikologi, Freud (w. 1941) telah memandang Tuhan sebagai ilusi. Baginya bukan Tuhan yang menciptakan manusia, tetapi manusialah yang menciptakan Tuhan. Tuhan, sebagai konsep, muncul dalam pikiran manusia ketika ia tidak sanggup lagi menghadapi tantangan eksternalnya, serti bencana alam dll., maupun tantangan internalnya, ketergantungan psikologis pada figur yang lebih dominan. Sedangkan Emil Durkheim, menyatakan bahwa apa yang kita sebut Tuhan, ternyata adalah Masyarakat itu sendiri yang telah dipersonifikasikan dari nilai-nilai sosial yang ada. 

Dengan demikian jelaslah bahwa, dalam pandangan sains modern Tuhan tidak memiliki tempat yang spesial, bahkan lama kelamaan dihapus dari wacana ilmiah. Tantangan yang lain juga terjadi di bidang lain seperti bidang spiritual, ekonomi, rkologi dll. Tentu saja tantangan seperti ini tidak boleh kita biarkan tanpa kritik, atau respons kritis dan kreatif yang dapat dengan baik menjawab tantangan-tantangan tersebut secara rasional dan elegan, dan tidak semata-mata bersifat dogmatis dan otoriter. Dan di sinilah beliau melihat bahwa filsafat Islam bisa berperan sangat aktif dan signifikan.

b. Filsafat sebagai Pendukung Agama

Berbeda dengan yang dikonsepsikan al-Ghazali, di mana filsafat dipandang sebagai lawan bagi agama, beliau (Mulyadhi Kartanegara) melihat filsafat bisa kita jadikan sebagai mitra atau pendukung bagi agama. Dalam keadaan di mana agama mendapat serangan yang gencar dari sains dan filsafat modern, filsafat Islam bisa bertindak sebagai pembela atau tameng bagi agama, dengan cara menjawab serangan sains dan filsafat modern terhadap agama secara filosofis dan rasional. Karena menurut hemat saya tantangan ilmiah-filosofis harus dijawab juga secara ilmiah-filosofis dan bukan semata-mata secara dogmatis. Dengan keyakinan bahwa Islam adalah agama yang menempatkan akal pada posisi yang terhormat, saya yakin bahwa Islam, pada dasarnya bisa dijelaskan secara rasional dan logis. 

Selama ini filsafat dicurigai sebagai disiplin ilmu yang dapat mengancam agama. Ya, memang betul. Apaalagi filsafat yang selama ini kita pelajari bukanlah filsafat Islam, melainkan filsafat Barat yang telah lama tercerabut dari akar-akar metafisiknya. Tetapi kalau kita betul-betul mempelajari filsafat Islam dan mengarahkannya secara benar, maka filsafat Islam juga adalah sangat potensial untuk menjadi mitra filsafat atau bahwan pendukung agama. Di sini filsafat bisa bertindak sebagai benteng yang melindungi agama dari berbagai ancaman dan serangan ilmiah-filosofis seperti yang saya deskrisikan di atas.

Serangan terhadap eksistensi Tuhan, misalnya dapat dijawab dengan berbagai argumen adanya Tuhan yang telah banyak dikemukakan oleh para filosof Muslim, dari al-Kindi, Ibn Sina, Ibn Rusyd dll., seperti yang telah saya jelaskan antara lain dalam buku saya Menembus Batas Waktu. Serangan terhadap wahyu bisa dijawab oleh berbagai teori pewahyuan yang telah dikemukakan oleh banyak pemikir Muslim dari al-Ghazali, al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Taymiyyah, Ibn Rusyd, Mulla Shadra dll.

3.Filsafat Islam di Indonesia

a. Masa Lalu
Filsafat Islam belum begitu dikenal di Indonesia, karena memang filsfat Islam baru diperkenalkan ke publik pada tahun 70-an oleh almarhum Prof. Dr. Harun Nasution dalam bukunya yang terkenal Falsafah & Mistisime dalam Islam, yang diterbitkan Bulan Bintang pada tahun 1973. Dalam buku ini pak Harun telah memperkenalkan 6 filosof Muslim yang terkenal yaitu al-Kindi, al-Razi, al-Farabi, Ibn Sina dan Ibn Rusyd, setelah sebelumnya ia membicarakan tentang “Kontak Pertama antara Islam dan ilmu pengetahuan serta falsafah Yunani.” Dalam buku ini pak Harun dengan singkat tetapi esensial memperkenalkan biografi dan ajaran para filosof Muslim tersebut, sehingga para mahasiswa Muslim, khususnya mahasiswa IAIN di seluruh Indonesia, telah menyadari keberadaan filsafat Islam yang sebelumnya hampir tidak pernah diperkenalkan kepada mereka. Dan dengan dijadikannya buku tersebut sebagai buku wajib, maka pak Harun boleh dikata telah berhasil memperkenalkan filsafat Islam di Indonesia ini.

Tetapi karena buku ini merupakan satu-satunya buku yang digunakan dalam matakuliah filsafat Islam selama puluhan tahun, maka timbul kesan yang keliru bahwa seakan filsafat Islam hanya menghasilkan 6 orang filosof sebagaimana yang diperkenalkan oleh Pak Harun di atas. Untunglah pada tahun 1987 Pustaka Jaya telah menerbitkan sebuah buku terjemahan yang bagus dan komprehensif tentang filsafat Islam karangan Majid Fakhry yang berjudul Sejarah Filsafat Islam, yang diterjemahkan oleh (Mulyadhi Kartanegara), sehingga dengan demikian sadarlah kita bahwa filsafat Islam telah melahirkan bukan hanya 6 filosof, sebagaimana yang telah diperkenalkan oleh Pak harun, tetapi puluhan bahkan mungkin ratusan para filosof yang tidak kalah hebatnya daripada filosof-filosof yang telah diperkenalkan sebelumnya.

Buku ini menjelaskan filsafat Islam dari sudut historis, yang meliputi paparan tentang perkembangan filsafat sebelum Islam, pada masa awal Islam, masa pertengahan dan masa modern. Dan buku ini telah menikmati posisi yang penting di universitas-universitas Islam, sebagai buku daras yang tak ada duanya pada saat itu. Mahasiswa Muslim sangat diuntungkan dengan kehadiran karya terjemahan ini, karena ia telah banyak mengubah persepsi yang keliru tentang filsafat Islam dari sudut lingkup, rentangan waktu, ajaran dll. Dengan buku ini pula kita menjadi sadar bahwa ternyata filsafat Islam tidak berhenti pada Ibn Rusyd sebagaimana dikesankan setelah membaca buku pak harun, tetapi terus hidup dan berlangsung hingga saat ini.

b. Masa Kini 
Yang di maksud dengan masa kini, adalah kurang lebih periode sepuluh tahun terkahir dari sekarang. Pada saat ini kita telah menikmati banyak informasi tentang filsafat Islam. Diterjemahkannya buku yang diedit oleh M.M. Syarif yang berjudul, History of Muslim Philosophy secara parsial ke dalam bahasa Indonesia telah memperkaya khazanah filsafat Islam di Indonesia. 

Tetapi tambahan informasi yang sangat signifikan terjedi setelah penerbit Mizan menerjemahkan karya besar dalam sejarah filsafat Islam yang diedit oleh Nasr dan Oliver Leaman, yang berjudul A History of Islamic Philosophy ke dalam bahasa Indonesia, dengan judul Ensiklopedia Filsafat Islam (dua jilid). Berbagai karya filosofis yang lebih spesifik (misalnya yang membahas tentang pemikiran para filosof tertentu) juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, seperti The Philosophy of Mulla Sadra yang ditulis oleh Fazlur Rahman, yang membahas beberapa aspek dari pemikiran Mulla Shadra, atau Knowledge and Illumination, karangan Hussein Ziai, yang membicarakan secara khusus filsafat iluminasi Suhrawardi. Namun sejauh ini, informasi ini lebih bersandar pada terjemahan dari karya asing, dan bukan karangan sarjana Muslim Indonesia sendiri. 

Sedikit sekali karya filsafat Islam yang ditulis oleh para penulis negeri ini. Ada misalnya buku 5 tentang Suhrawardi yang ditulis oleh sdr Amroeni, khususnya kritik Suhrawardi terhadap filsafat peripatetik,atau yang ditulis oleh M. Iqbal tentang Ibn Rusyd, sebagai bapak rasionalisme. Namun tulisan-tulisan tersebut masih bersifat studi tokoh, dan pada dasarnya diadaptasi dari sebuah tesis atau disertasi. Tidak banyak penulis Muslim Indonesia yang menulis buku pengantar terhadap filsafat Islam yang bersifat independen, kecuali pak Haidar Bagir dengan Buku Saku Filsafat Islam-nya, dan beliau (Mulyadhi Kartanegara) sendiri dengan Gerbang Kearifan-nya. 
BAB II
Filosof Islam Dan Filsafat Nya

Tidak dapat dipungkiri bahwa pemikiran filsafat Islam terpengaruh oleh filsafat Yunani. Filosof-filosof Islam banyak mengambil pikiran Aristoteles dan sangat tertarik dengan pikiran-pikiran Plotinus sehingga banyak teorinya yang diambil. Memang demikianlah keadaan orang yang datang kemudian, terpengaruh oleh orang-orang sebelumnya dan berguru kepada mereka. Kita saja yang hidup pada abad ke-20 ini, dalam banyak hal masih berhutang budi kepada orang-orang Yunani dan Romawi. Akan tetapi berguru tidak berarti mengekor dan hanya mengutip, sehingga harus dikatakan bahwa filsafat Islam itu hanya kutipan semata-mata dari Aristoteles, seperti apa yang dikatakan Renan, atau dari neo-Platonisme, seperti yang dikatakan Duhem, karena filsafat Islam telah menampung dan mempertemukan berbagai aliran pemikiran. Kalau filsafat Yunani merupakan salah satu sumbernya, maka tidak aneh kalau kebudayaan India dan Iran juga menjadi sumbernya pula.

Perpindahan dan pertukaran pikiran tidak selalu berarti berhutang budi. Sesuatu persoalan kadang-kadang dibicarakan dan diselidiki oleh orang banyak dan hasilnya dapat mempunyai bermacam-macam corak: seseorang bisa mengambil persoalan yang pernah dikemukakannya oleh orang lain sambil mengemukakan teori dan pikirannya sendiri. Spinoza misalnya, meskipun banyak mengikuti Descartes, namun ia mempunyai mazhabnya sendiri. Ibnu Sina, meskipun murid yang setia dari Aristoteles, namun ia mempunyai pikiran-pikiran yang berlainan.

Filosof-filosof Islam pada umumnya hidup dalam lingkungan dan suasana yang berbeda dari apa yang dialami oleh filosof-filosof lain, dan pengaruh-pengaruh lingkungan dan suasana terhadap jalan pikiran mereka tidak bisa dilupakan. Pada akhirnya tidaklah bisa dipungkuri bahwa dunia Islam telah berhasil membentuk suatu filsafat yang sesuai dengan prinsip-prinsip agama dan keadaan masyarakat Islam sendiri. 

Galeri para Filosof

1.      AL-KINDI

Nama lengkapnya Abu Yusuf, Ya’kub bin Ishak Al-Sabbah bin Imran bin Al-Asha’ath bin Kays Al-Kindi. Beliau biasa disebut Ya’kub, lahir pada tahun 185 H (801 M) di Kufah. Keturunan dari suku Kays, dengan gelar Abu Yusuf  (bapak dari anak yang bernama Yusuf) nama orang tuanya Ishaq Ashshabbah, dan ayahnya menjabat gubernur di Kufah, pada masa pemerintahan Al-Mahdi dan Harun Al-Rasyid dari Bani Abbas.

Nama Al-Kindi adalah merupakan nama yang diambil dari nama sebuah suku, yaitu : Banu Kindah. Banu Kindah adalah suku keturunan Kindah, yang berlokasi di daerah selatan Jazirah Arab dan mereka ini mempunyai kebudayaan yang tinggi.
Sebagai orang yang dilahirkan di kalangan para intelektual, maka pendiidkan yang pertama-tama diterima adalah membaca Al-Qur’an, menulis, dan berhitung. Disamping itu ia banyak mempelajari tentang sastra dan agama, juga menerjemahkan beberapa buku Yunani di dalam bahasa Syiria kuno, dan bahasa Arab.

Al-Kindi mengarang buku-buku yang menganut keterangan Ibnu Al-Nadim buku yang ditulisnya berjumlah 241 dalam bidang filsafat, logika, arithmatika, astronomi, kedokteran, ilmu jiwa, politik, optika, musik, matematika dan sebagainya. Dari karangan-karangannya, dapat kita ketahui bahwa Al-Kindi termasuk penganut aliran Eklektisisme; dalam metafisika dan kosmologi mengambil pendapat Aristoteles, dalam psikologi mengambil pendapat Plato, dalam hal etika mengambil pendapat Socrates dan Plato.

Mengenai filsafat dan agama, Al-Kindi berusaha mempertemukan amtara kedua hal ini; Filsafat dan agama. Al-Kindi berpendapat bahwa filsafat adalah ilmu tentang kebenaran atau ilmu yang paling mulia dan paling tinggi martabatnya. Dan agama juga merupakan ilmu mengenai kebenaran, akan tetapi keduanya memiliki perbedaan.

Mengenai hakikat Tuhan, Al-Kindi menegaskan bahwa Tuhan adalah wujud yang hak (benar), yang bukan asalnya tidak ada menjadi ada, ia selalu mustahil tidak ada, ia selalu ada dan akan selalu ada. Jadi Tuhan adalah wujud sempurna yang tidak didahului oleh wujud yang lain, tidak berakhir wujudNya dan tidak wujud kecuali denganNya.

Unsur-unsur filsafat yang kita dapati pada pemikiran Al-Kindi ialah: Aliran Pythagoras tentang matematika sebagai jalan ke arah filsafat. Pikiran-pikiran Aristoteles dalam soal-soal fisika dan metafisika, meskipun Al-Kindi tidaksependapat dengan Aristoteles tentang qadimnya alam. Pikiran-pikiran Plato dalam soal kejiwaan.
d. Pikiran-pikiran Plato dan Aristoteles bersama-sama dalam soal etika. Wahyu dan iman (ajaran-ajaran agama) dalam soal-soal yang berhubungan dengan Tuhan dan sifat-sifatNya. Aliran Mu’tazilah dalam memuja kekuatan akal manusia dan dalam menakwilkan ayat-ayat Qur’an.
      
Haruslah diakui bahwa Al-Kindi tidak mempunyai sistem filsafat yang lengkap. Jasanya ialah karena dia adalah orang yang pertama-tama membuka pintu filsafat bagi dunia Arab dan diberinya corak Arab keislaman. Pendiri filsafat Islam yang sebenarnya ialah Al-Farabi.

2. AL-FARABI


Ia adalah Abu Nashr Muhammad bin Muhammad bin Tharkhan. Sebutan Al-Farabi diambil dari nama kota Farab, dimana ia dilahirkan pada tahun 257 H (870 M). Ayahnya adalah seorang Iran dan kawin dengan seorang wanita Turkestan. Kemudian ia menjadi perwira tentara Turkestan. Karena itu, Al-Farabi dikatakan berasal dari keturunan Turkestan dan kadang-kadang juga dikatakan dari keturunan Iran.

Sejak kecilnya, Al-Farabi suka belajar dan ia mempunyai kecakapan luar biasa dalam lapangan bahasa. Bahasa-bahasa yang dikuasainya antara lain bahasa Iran, Turkistan, dan Kurdistan. Nampaknya ia tidak mengenal bahasa Yunani dan Siriani, yaitu bahasa-bahasa ilmu pengetahuan dan filsafat pada waktu itu.

Setelah besar, Al-Farabi meninggalkan negerinya untuk menuju kota Baghdad, pusat pemerintahan dan ilmu pengetahuan pada masanya, untuk belajar antara lain pada Abu Bisyr bin Mattius. Selama berada di Baghdad, ia memusatkan perhatiannya kepada ilmu logika.
            
            Al-Farabi luas pengetahuannya, mendalami ilmu-ilmu yang ada pada masanya dan mengarang buku-buku dalam ilmu tersebut. Buku-bukunya, baik yang sampai kepada kita maupun yang tidak, menunjukkan bahwa ia mendalami ilmu-ilmu bahasa, matematika, kimia, astronomi, kemiliteran, musik, ilmu alam, ketuhanan, fiqih, dan mantik.

Sebagian besar karangan-karangan Al-Farabi terdiri dari ulasan dan penjelasan terhadap filsafat Aristoteles, Plato, dan Galenius, dalam bidang-bidang logika, fisika, etika, dan metafisika. Meskipun banyak tokoh filsafat yang diulas pikirannya, namun ia lebih terkenal sebagai pengulas Aristoteles. Di antara karangan-karangannya ialah:

 Aghradlu ma Ba’da at-Thabi’ah.
Al-Jam’u baina Ra’yai al-Hakimain (Mempertemukan Pendapat Kedua Filosof; maksudnya Plato dan Aristoteles).
Tahsil as-Sa’adah (Mencari Kebahagiaan).
‘Uyun al-Masail (Pokok-Pokok  persoalan).
Ura-u Ahl-il Madinah al-Fadhilah (Pikiran-Pikiran Penduduk Kota Utama Negeri Utama). 
Ih-sha’u al-Ulum (Statistik Ilmu).

Menurut Dr. Ibrahim Madkour, filsafat Al-Farabi adalah filsafat yang bercorak spiritual-idealis, sebab menurut Al-Farabi, dimana-mana ada roh. Tuhannya adalah Roh dari segala Roh. Akal yang dikonsepsikannya yaitu ‘Uqul Mufariqah (akal yang terlepas dari benda) merupakan makhluk rohani murni, sedang kepala negeri- utamanya, menguasai badannya. Roh itu pula yang menggerakkan benda-benda langit dan mengatur alam di bawah bulan.
      
Meskipun Al-Farabi telah banyak mengambil dari Plato, Aristoteles dan Plotinus, namun ia tetap memegangi kepribadian, sehingga pikiran-pikiranya tersebut merupakan filsafat Islam yang berdiri sendiri, yang bukan filsafat stoa, atau Peripatetik atau Neo Platonisme. Memeng bisa dikatakan adanya pengaruh aliran-aliran tersebut, namun bahannya yang pokok adalah dari Islam sendiri.

3.      IBNU SINA
Aviccena-Muamar Anis. Jpg

Ibnu Sina dilahirkan dalam masa kekacauan, dimana Khilafah Abbasiyah mengalami kemunduran, dan negeri-negeri yang mula-mula berada di bawah kekuasaan khilafah tersebut mulai melepaskan diri satu persatu untuk berdiri sendiri. Kota Baghdad sendiri, sebagai pusat pemerintahan Khilafah Abbasiyah, dikuasai oleh golongan Bani Buwaih pada tahun 334 H dan kekuasaan mereka berlangsung terus sampai tahun 447 H.

Di antara daerah-daerah yang berdiri sendiri ialah Daulah Samani di Bukhara, dan di antara khalifahnya ialah Nuh bin Mansur. Pada masanya, yaitu di tahun 340 H (980 M), di suatu tempat yang bernama Afsyana, daerah Bukhara, Ibnu Sina dilahirkan dan dibesarkan. Di Bukhara ia menghafal Qur’an dan belajar ilmu-ilmu agama serta ilmu astronomi, sedangkan usianya baru sepuluh tahun. Kemudian ia 
mempelajari matematika, fisika, logika dan ilmu metafisika. Sesudah itu ia mempelajari ilmu kedokteran pada Isa bin Yahya, seorang Masehi.

Belum lagi usianya melebihi enam-belas tahun, kemahirannya dalam ilmu kedokteran sudah dikenal orang, bahkan banyak orang yang berdatangan untuk berguru kepadanya. Ia tidak cukup dengan teori-teori kedokteran, taoi juga melakukan praktek dan mengobati orang-orang sakit.

Sebenarnya hidup Ibnu Sina tidak pernah mengalami ketenangan, dan usianya pun tidak panjang. Meskipun banyak kesibukan-kesibukannya dalam urusan politik, sehingga ia tidak banyak mempunyai kesempatan untuk mengarang, namun ia telah berhasil meninggalkan berpuluh-puluh karangan.

Karangan-karangan Ibnu Sina yang terkenal ialah:
a.       Asy-Syifa. Buku ini adalah buku filsafat yang terpenting dan terbesar dari Ibnu Sina, dan trediri dari enpat bagian, yaitu: logika, fisika, matematika, dan metafisika (ketuhanan).
b.      An-Najat. Buku ini merupakan keringkasan buku as-Syifa, dan pernah diterbitkan bersama-sama dengan buku al-Qanun dalam ilmu kedokteran pada tahun 1593 M di Roma dan pada tahun 1331 M di Mesir.

c.       Al-Isyarat wat-Tanbihat. Buku ini adalah buku terakhir dan yang paling baik, dan pernah diterbitkan di Leiden pada tahun 1892 M, dan sebagiannya diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis.
d.      Al-Hikmat al-Masyriqiyyah. Buku ini banyak dibicarakan orang, karena tidak jelasnya maksud judul buku, dan naskah-naskahnya yang masih ada memuat bagian logika.
e.       Al-Qanun, atau Canon of Medicine, menurut penyebutan orang-orang Barat. Buku ini pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan pernah menjadi buku standar untuk universitas-universitas Eropa sampai akhir abad ketujuhbelas Masehi.

Ibnu Sina memberikan perhatiannya yang khusus terhadap pembahasan kejiwaan, sebagaimana yang dapat kita lihat dari buku-buku yang khusus untuk soal-soal kejiwaan atau pun buku-buku yang berisi campuran berbagai persoalan filsafat.
      
Pengaruh Ibnu Sina dalam soal kejiwaan tidak dapat diremehkan, baik pada dunia piker Arab sejak abad kesepuluh Masehi sampai akhir abad ke-19 Masehi, terutama pada Gundissalinus, Albert the Great, Thomas Aquinas, Roger Bacon, dan Dun Scott. Bahkan juga ada pertaliannya dengan pikiran-pikiran Descartes tentang hakikat jiwa dan wujudnya.
      
Hidup Ibnu Sina penuh dengan kesibukan bekerja dan mengarang; penuh pula dengan kesenangan dan kepahitan hidup bersama-sama, dan boleh jadi keadaan ini telah mengakibatkan ia tertimpa penyakit yang tidak bisa diobati lagi. Pada tahun 428 H (1037 M), ia meninggal dunia di Hamadzan, pada usia 58 tahun.

4. AL-GHAZALI
Al ghozali. Muamar anis. Jpg

Ia adalah Abu Hamid bin Muhammad bin Ahmad al-Ghazali, bergelar Hujjatul Islam, lahir tahun 450 H di Tus, suatu kota kecil di Khurassan (Iran). Kata-kata al-Ghazali kadang-kadang diucapkan al-Ghazzali (dengan dua z). dengan menduakalikan z, kata-kata al-Ghazzali diambil dari kata-kata Ghazzal, artinya tukang pemintal benang, karena pekerjaan ayahnya ialah memintal benang wol, sedang al-Ghazali dengan satu z, diambil dari kata-kata Ghazalah, nama kampung kelahiran al-Ghazali. Sebutan terakhir ini yang banyak dipakai.

Al-Ghazali pertama-tama belajar agama di kota Tus, kemudian meneruskan di Jurjan, dan akhirnya di Naisabur pada Imam al-Juwaini, sampai yang terakhir ini wafat tahun 478 H/1085 M. kemudian ia berkunjung kepada Nidzam al-Mulk di kota Mu’askar, dan dari padanya ia mendapat kehormatan dan penghargaan yang besar, sehingga ia tinggal di kota itu  enam tahun lamanya. Pada tahun 483 H/1090 M, ia diangkat menjadi guru di sekolah Nidzamah Baghdad, dan pekerjaannya itu dilaksanakan dengan sangat berhasil. Selama di Baghdad, selain  mengajar, juga mengadakan bantahan-bantahan terhadap pikiran-pikiran golongan Bathiniyah, Isma’iliyyah, golongan filsafat dan lain-lain.

Pengaruh al-Ghazali di kalangan kaum Muslimin besar sekali, sehingga menurut pandangan orang-orang ahli ketimuran (Orientalis), agama Islam yang digambarkan oleh kebanyakan kaum Muslimin berpangkal pada konsepsi al-Ghazali.
Al-Ghazali adalah seorang ahli pikir Islam yang dalam ilmunya, dan mempunyai nafas panjang dalam karangan-karangannya. Puluhan buku telah ditulisnya yang meliputi berbagai lapangan ilmu, antara lain Teologi Islam (Ilmu Kalam), Hukum Islam (Fiqih), Tasawuf, Tafsir, Akhlak dan adab kesopanan, kemudian autobiografi. Sebagian besar dari buku-buku tersebut diatas dalam bahasa Arab dan yang lain ditulisnya dalam bahasa Persia.

Karyanya yang terbesar yaitu Ihya ‘Ulumuddin yang artinya “Menghidupkan Ilmu-Ilmu Agama”, dan dikarangnya selama beberapa tahun dalam keadaan berpindah-pindah antara Syam, Yerussalem, Hijjaz dan Tus, dan yang berisi tentang paduan yang indah antara fiqih, tasawuf dan filsafat, bukan saja terkenal di kalangan kaum Muslimin, tetapi juga di kalangan dunia Barat dan luar Islam.

Bukunya yang lain yaitu al-Munqidz min ad-Dlalal (Penyelamat dari Kesesatan), berisi sejarah perkembangan alam pikirannya dan mencerminkan sikapnya yang terakhir terhadap beberapa macam ilmu, serta jalan untuk mencapai Tuhan. Diantara penulis-penulis modern banyak yang mengikuti jejak al-Ghazali dalam menuliskan autobiografi.

Pikiran-pikiran al-Ghazali telah mengalami perkembangan sepanjang hidupnya dan penuh kegoncangan batin, sehingga sukar diketahui kesatuan dan kejelasan corak pemikirannya, seperti yang terlihat dari sikapnya terhadap filosof-filosof dan terhadap aliran-aliran akidah pada masanya.
            
Namun demikian, al-Ghazali telah mencapai hakikat agama yang belum pernah diketemukan oleh orang-orang  yang sebelumnya dan mengembalikan kepada agama nulai-nilai yang telah hilang tidak menentu. Jalan yang terdekat kepada Tuhan ialah jalan hati dan dengan demikian ia telah membuka pintu Islam seluas-luasnya untuk tasawuf.

Pengaruh al-Ghazali besar sekali di kalangan kaum  Muslimin sendiri sampai sekarang ini, sebagaimana juga di kalangan tokoh-tokoh pikir abad pertengahan bahkan juga sampai pada tokoh-tokoh pikir abad modern.

5. IBNU BAJAH

Ia adalah Abu Bakar Muhammad bin Yahya, yang terkenal dengan sebutan Ibnus-Shaigh atau Ibnu Bajah. Orang-orang Eropa pada abad-abad pertengahan menamai Ibnu Bajah dengan “Avempace”, sebagaimana mereka menyebut nama-nama Ibnu Sina, Ibnu Gaberol, Ibnu Thufail dan Ibnu Rusyd, masing-masing dengan nama Avicenna, Avicebron, Abubacer, dan Averroes.

Ibnu Bajah dilahirkan di Saragosta pada abad ke-11 Masehi. Tahun kelahirannya yang pasti tidak diketahui, demikian pula masa kecil dan masa mudanya. Sejauh yang dapat dicatat oleh sejarah ialah bahwa ia hidup di Serville, Granada, dan Fas; menulis beberapa risalah tentang logika di kota Serville pada tahun 1118 M, dan meninggal dunia di Fas pada tahun 1138 M ketika usianya belim lagi  tua. Menurut satu riwayat, ia meninggal dunia karena diracuni oleh seorang dokter yang iri terhadap kecerdasan, ilmu, dan ketenarannya. 

Buku-buku yang ditinggalkannya ialah:  Beberapa risalah dalam ilmu logika, dan sampai sekarang masih tersimpan di perpustakaan Escurial (Spanyol). Risalah tentang jiwa. Risalah al-Ittisal, mengenai pertemuan manusia dan akal-faal. Risalah al-Wada’, berisi uraian tentang penggerak-pertama bagi manusia dan tujuan yang sebenarnya bagi wujud manusia dan alam. Beberapa risalah tentang ilmu falak dan ketabiban.
f.       Risalah Tadbir al-Mutawahhid. Beberapa ulasan terhadap buku-buku filsafat, antara lain dari Aristoteles, al-Farabi, Porphyrus, dan sebagainya.

Menurut Carra de Vaux, di perpustakaan Berlin ada 24 risalah manuskrip karangan Ibnu Bajah. Diantara karangan-karangannya itu yang paling penting ialah risalah Tadbir al-Mutawahhid yang membicarakan usaha-usaha orang yang menjauhi segala macam keburukan masyarakat, yang disebutnya Mutawahhid, yang berarti “penyendiri”. Isi risalah tersebut cukup jelas, sehingga memungkinkan kita dapat mempunyai gambaran tentang usaha si penyendiri tersebut untuk dapat bertemu dengan akal-faal dan menjadi salah satu unsur pokok bagi negeri idam-idamannya.
      
Ibnu Bajah telah memberi corak baru terhadap filsafat Islam di negeri Islam barat dalam teori ma’rifat (epistemology, pengetahuan), yang berbeda sama sekali dengan corak yang telah diberikan oleh al-Ghazali di dunia timur Islam, setelah ia dapat menguasai dunia pikir sepeninggal filosof-filosof Islam.

6. IBNU THUFAIL

Ia adalah Abubakar Muhammad bin Abdul Malik bin Thufail, dilahirkan di Wadi Asy dekat Granada, pada tahun 506 H/1110 M. kegiatan ilmiahnya meliputi kedokteran, kesusasteraan, matematika dan filsafat. Ia menjadi dokter di kota tersbut dan berulangkali menjadi penulis penguasa negerinya. Setelah terkenal, ia menjadi dokter pribadi Abu Ya’kub Yusuf al-Mansur, khalifah kedua daru daulah Muwahhidin. Dari al-Mansur ia memperoleh kedudukan yang tinggi dan dapat mengumpulkan orang-orang pada masanya di istana Khalifah itu, di antaranya ialah Ibnu Rusyd yang diundang untuk mengulas buku-buku karangan Aristoteles.

Buku-buku biografi menyebutkan beberapa karangan dari Ibnu Thufail yang menyangkut beberapa lapangan filsafat, seperti filsafat fisika, metafisika, kejiwaan dan sebagainya, disamping risalah-risalah (surat-surat) kiriman kepada Ibnu Rusyd. Akan tetapi karangan-karangan tersebut tidak sampai kepada kita, kecuali satu saja, yaitu risalah Hay bin Yaqadhan, yang merupakan intisari pikiran-pikiran filsafat Ibnu Thufail, dan yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Suatu manuskrip di perpustakaan Escurrial yang berjudul Asrar al-Hikmat ai-Masyriqiyyah (Rahasia-rahasia Filsafat Timur) tidak lain adalah bagian dari risalah Hay bin Yaqadhan.
          
Ibnu Thufail tergolong filosof dalam masa Skolastik Islam. Pemikiran kefilsafatannya cukup luas, termasuk metafisika. Dalam pencapaian Ma’rifatullah, Ibnu Thufail menempatkan sejajar antara akal dan syari’at. Pemikiran tersebut sebenarnya merupakan upaya yang tidak pada tempatnya, sebab syari’at sumbernya adalah wahyu (yakni : dari Tuhan), sedangkan akal merupakan aktifitas manusiawi. Akal manusia sebenarnya hanyalah dampak mencari alasan rasional bagi syari’at mengenai dalil-dalil adanya Tuhan.

7. IBNU RUSYD

Nama lengkapnya Abul Walid Muhammad bin Ahmad bin Rusyd, lahir di Cordova pada tahun 520 H. Ia berasal dari kalangan keluarga besar yang terkenal dengan keutamaan dan mempunyai kedudukan tinggi di Andalusia (Spanyol). Ayahnya adalah seorang hakim, dan kakeknya yang terkenal dengan sebutan “Ibnu Rusyd kakek” (al-Jadd) adalah kepala hakim di Cordova.

Ibnu Rusyd adalah seorang ulama besar dan pengulas yang dalam terhadap filsafat Aristoteles. Kegemarannya terhadap ilmu sukar dicari bandingannya, karena menurut riwayat, sejak kecil sampai tuanya ia tidak pernah terputus membaca dan menelaah kitab, kecuali pada malam ayahnya meninggal dan dalam perkawinan dirinya.

Karangannya meliputi berbagai ilmu, seperti: fiqih, ushul, bahasa, kedokteran, astronomi, politik, akhlak, dan filsafat. Tidak kurang dari sepuluh ribu lembar yang telah ditulisnya. Buku-bukunya adakalanya merupakan karangan sendiri, atau ulasan, atau ringkasan. Karena sangat tinggi penghargaannya terhadap Aristoteles, maka tidak mengherankan kalau ia memberikan perhatiannya yang besar untuk mengulaskan dan meringkaskan filsafat Aristoteles. Buku-buku lain yang telah diulasnya ialah buku-buku karangan Plato, Iskandar Aphrodisias, Plotinus, Galinus, al-Farabi, Ibnu Sina, al-Ghazali, dan Ibnu Bajah.

Buku-bukunya yang lebih penting dan yang sampai kepada kita ada empat, yaitu: Bidayatul Mujtahid, ilmu fiqih. Buku ini bernilai tinggi, karena berisi perbandingan mazhabi (aliran-aliran) dalam fiqih dengan menyebutkan alasannya masing-masing. Faslul-Maqal fi ma baina al-Hikmati was-Syari’at min al-Ittisal (ilmu kalam). Buku ini dimaksudkan untuk menunjukkan adanya persesuaian antara filsafat dan syari’at, dan sudah pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman pada tahun 1895 M oleh Muler, orientalis asal Jerman. Manahijul Adillah fi Aqaidi Ahl al-Millah (ilmu kalam). Buku ini menguraikan tentang pendirian aliran-aliran ilmu kalam dan kelemahan-kelemahannya, dan sudah pernah  diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman, juga oleh Muler, pada tahun 1895 M. Tahafut at-Tahafut, suatu buku yang terkenal dalam lapangan filsafat dan ilmu kalam, dan dimasukkan untuk membela filsafat dari serangan al-Ghazali dalam bukunya Tahafut al-Falasifah. Buku Tahafut at-Tahafut berkali-kali diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman, dan terjemahannya ke dalam bahasa Inggris oleh van den Berg yang terbit pada tahun 1952 M.

Ibnu Rusyd adalah tokoh pikir Islam yang paling kuat, paling dalam pandangannya, paling hebat pembelaannya terhadap akal dan filsafat, sehingga ia benar-benar menjadi filosof-pikiran dikalangan kaum Muslimin.

Pada garis besar filsafatnya, ia mengikuti Aristoteles dan berusaha mengeluarkan pikiran-pikirannya yang sebenarnya dari celah-celah kata-kata Aristoteles dan ulasan-ulasannya. Ia juga berusaha menjelaskan pikiran tersebut dan melengkapkannya, terutama dalam lapangan ketuhanan, di mana kemampuannya yang tinggi dalam mengkaji berbagai persoalan dan dalam mempertemukan antara agama dengan filsafat nampak jelas kepada kita.

Ketika hendak meninggal, beliau (Ibnu Rusyd) mengeluarkan kata-katanya yang terkenal:
“Akan mati rohku karena matinya filosof”.


BAB III
KESIMPULAN

Dunia Islam telah berhasil membentuk suatu filsafat yang sesuai dengan prinsip-prinsip agama dan keadaan masyarakat Islam sendiri. Nama Al-Kindi adalah merupakan nama yang diambil dari nama sebuah suku, yaitu : Banu Kindah. Banu Kindah adalah suku keturunan Kindah, yang berlokasi di daerah selatan Jazirah Arab dan mereka ini mempunyai kebudayaan yang tinggi.

Mengenai filsafat dan agama, Al-Kindi berusaha mempertemukan amtara kedua hal ini; Filsafat dan agama. Al-Kindi berpendapat bahwa filsafat adalah ilmu tentang kebenaran atau ilmu yang paling mulia dan paling tinggi martabatnya. Dan agama juga merupakan ilmu mengenai kebenaran, akan tetapi keduanya memiliki perbedaan.

Abu Nashr Muhammad bin Muhammad bin Tharkhan. Sebutan Al-Farabi diambil dari nama kota Farab, dimana ia dilahirkan pada tahun 257 H (870 M). Sebagian besar karangan-karangan Al-Farabi terdiri dari ulasan dan penjelasan terhadap filsafat Aristoteles, Plato, dan Galenius, dalam bidang-bidang logika, fisika, etika, dan metafisika. Meskipun banyak tokoh filsafat yang diulas pikirannya, namun ia lebih terkenal sebagai pengulas Aristoteles.

Di tahun 340 H (980 M), di suatu tempat yang bernama Afsyana, daerah Bukhara, Ibnu Sina dilahirkan dan dibesarkan. Di Bukhara ia menghafal Qur’an dan belajar ilmu-ilmu agama serta ilmu astronomi, sedangkan usianya baru sepuluh tahun. Kemudian ia mempelajari matematika, fisika, logika dan ilmu metafisika. Sesudah itu ia mempelajari ilmu kedokteran pada Isa bin Yahya, seorang Masehi.

Abu Hamid bin Muhammad bin Ahmad al-Ghazali, bergelar Hujjatul Islam, lahir tahun 450 H di Tus, suatu kota kecil di Khurassan (Iran). Al-Ghazali adalah seorang ahli pikir Islam yang dalam ilmunya, dan mempunyai nafas panjang dalam karangan-karangannya. Puluhan buku telah ditulisnya yang meliputi berbagai lapangan ilmu, antara lain Teologi Islam (Ilmu Kalam), Hukum Islam (Fiqih), Tasawuf, Tafsir, Akhlak dan adab kesopanan, kemudian autobiografi. Sebagian besar dari buku-buku tersebut diatas dalam bahasa Arab dan yang lain ditulisnya dalam bahasa Persia. Abubakar Muhammad bin Yahya, yang terkenal dengan sebutan Ibnus-Shaigh atau Ibnu Bajah.

"Naskah ini merupakan hasil kurasi dan restorasi dari pemikiran Prof. Mulyadhi Kartanegara, seorang begawan filsafat Islam Indonesia. Diolah kembali oleh tim redaksi Misticism Fils untuk memastikan api kearifan para filosof klasik tetap menyala di era digital yang serba sekuler ini."

Daftar Pustaka (Versi "Ngalap Berkah" & Branding)

  • Kartanegara, Mulyadhi. Gerbang Kearifan: Sebuah Pengantar Filsafat Islam. (Referensi Utama).
  • Hanafi, Ahmad. (1996). Pengantar Filsafat Islam. Jakarta: Bulan Bintang.
  • Nasution, Harun. (1973). Falsafah dan Mistisisme dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang.
  • Anis, Muamar (Ed). (2024). Restorasi Pemikiran: Bunga Rampai Filsafat Islam dan Tokoh-Tokohnya. Terbit di Misticism Fils.
  • Sudarsono. (2001). Ilmu Filsafat: Suatu Pengantar. Jakarta: Rineka Cipta.















Beyond the Nausea: Sartre and Nietzsche at the Kaaba – Finding Existence in the Ultimate Prostration

  Beyond the Nausea: Sartre and Nietzsche at the Kaaba – Finding Existence in the Ultimate Prostration Oleh: Muamar Anis Nietzsche and Sartr...