Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Februari 2026

Bukan Sekadar Dagang: Peran Tariqat, Dialektika Semar, dan Rahasia Islamisasi Nusantara

Bukan Sekadar Dagang: Peran Tariqat, Dialektika Semar, dan Rahasia Islamisasi Nusantara

Oleh: Muamar Anis


Pedagang. Muamaranis. Jpg
Pedagang. Muamar Anis. Jpg

Secarik LKS di Pojok Warung

​Di pojok warung pagi hari, sambil menunggu kepulan asap 234, mata saya tertuju pada secarik kertas di bawah piring gorengan. Ternyata itu kertas LKS anak sekolah milik penjual warung yang sudah tidak terpakai. Di sana tertulis judul besar: "Sejarah Islam di Indonesia". Sambil mengunyah mendoan, saya merenung.

​Selama ini, buku teks sekolah seringkali menyederhanakan masuknya Islam ke Nusantara seolah-olah hanya 'bonus' dari transaksi lada dan sutra. Namun, jika kita menyelam lebih dalam ke balik riuhnya pasar, kita akan menemukan jejak-jejak sunyi para Sufi pengembara. Melalui jaringan tariqat dan kekuatan akal budi, mereka melakukan revolusi mental yang mengubah wajah peradaban Melayu selamanya.

​Bukan Pedagang, Tapi Pembersih Lahan Spiritual

​Fakta sejarah mencatat Islam masuk sejak abad ke-8 atau 9 Masehi. Tapi kenapa baru masif di abad ke-13? Karena ada "pagar" yang harus dibuka. Jauh sebelum Islam tercium massal, ada dialektika spiritual antara ulama Turki, Syekh Subakir, dengan dedengkot tanah Jawa, Semar Ismoyo Jati.

Masjid. Muamaranis. Jpg.
Simbol Islamisasi

​Ada riwayat pilu bahwa sebelum Syekh Subakir, seribu utusan tumbang. Islam masuk ke Nusantara bukan lewat hantaman syariat yang kaku, tapi lewat kelebihan amalan dan ajaran tasawuf yang membumi. Para penyebar awal tahu persis kondisi Nusantara yang tidak bisa lepas dari budaya animisme dan dinamisme. Mereka datang untuk "mengisi", bukan menghancurkan.

​Kritik Sanad: Walisongo vs Narasi Marga

​Kita harus kritis terhadap teori-teori yang terlalu mengagungkan peran imigran atau marga-marga tertentu yang secara historis memiliki kedekatan dengan kepentingan kolonial (Belanda). Kita patut waspada jika ada upaya mempromosikan sejarah yang mengaburkan peran dakwah kultural pribumi.

​Kunci penyebaran Islam sesungguhnya adalah Walisongo. Mereka memiliki sanad keilmuan yang jelas sampai ke Rasulullah SAW. Berkat cendekiawan seperti Prof. Agus Sunyoto, kita diingatkan kembali bahwa Islam tegak di sini karena ketulusan para Wali yang masuk ke jantung pemerintahan, bukan sekadar "promosi" pedagang keliling yang tak jelas akarnya.

​Sastra Sebagai Senjata dan Ketakutan Belanda

​Tokoh seperti Prof. Abdul Hadi WM telah berjuang di medan tempur yang berbeda: Bahasa dan Sastra. Beliau membuktikan bahwa Islam meletakkan dasar rasionalitas pada bangsa Melayu.

​Di sisi lain, Belanda sangat ketakutan jika Islam menjadi kekuatan politik. Itulah sebabnya mereka membatasi penyebaran Islam yang terorganisir. Namun, para ulama kita lebih cerdik. Mereka membentuk Jamiyyatul Ulama, sebuah embrio organisasi sebelum lahirnya Nahdlatul Ulama, sebagai benteng perlawanan terhadap penjajah.

​Quote Utama

"Islam di Nusantara tidak datang untuk mencabut akar budaya, melainkan menyiraminya dengan cahaya akal budi. Ia menang bukan karena pedang, tapi karena kedalaman rasa para kekasih Tuhan."Muamar Anis


[Referensi Intelektual]

  • Prof. Agus SunyotoAtlas Walisongo (Pilar sejarah dakwah lokal).
  • Prof. Abdul Hadi WMIslam: Cakrawala Estetik dan Budaya (Kekuatan sastra sufi).
  • M. Naquib al-AttasIslam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu.
  • S. Q. Fatimi – Catatan tentang korespondensi Raja Sriwijaya (Zabaq) dengan Khalifah Umayyah.

Sabtu, 31 Januari 2026

Mencari Cahaya Ibnu Rusyd di Tengah Kegaduhan Gladiator Modern

Mencari Cahaya Ibnu Rusyd di Tengah Kegaduhan Gladiator Modern

Oleh: Muamar Anis


Cahaya Ibnu Rusyd. Muamar Anis. Jpg
Cahaya Ibnu Rusyd dalam Gladiator Modern

Di Sela Debu Warung dan Riuh Arena

​Malam ini di Warung, udara terasa lebih berat. Mungkin karena sisa sate kambing tadi siang masih menyisakan pening di kepala bagian belakang, atau mungkin karena melihat kawan-kawan senior yang mulai muak dengan hiruk-pikuk negeri ini. Di layar ponsel, sirkus tak pernah berhenti: kegaduhan tanpa substansi dan gimik yang meriah. Di saat itulah, saya teringat kembali pada sebuah diskusi lama bersama almarhum Prof. Abdul Hadi WM; tentang Akal Budi yang lebih dari sekadar logika.

Menziarahi Seneca di Sela-sela Sirkus Digital

​Berabad-abad silam, di jantung kekaisaran Roma, Seneca berdiri dengan kegelisahan yang sama. Ia menyaksikan rakyatnya lebih mencintai tontonan gladiator daripada keadilan, dan lebih memuja roti gratis daripada kemerdekaan berpikir. Menziarahi Seneca adalah upaya membasuh muka di tengah debu digital.

Seneca. Muamar Anis. Jpg.
Ziarah ke Seneca

​Bagi saya, Seneca tak ubahnya seorang Khotib mimbar Jum’at. Ia pengkhotbah favorit dari para murid alam yang rindu akan kebajikan lebih cerdas. Jika Seneca adalah Sang Khotib, maka Santo Paulus adalah Sang Imam—rekan kerja dalam perjuangan kemanusiaan. Meski berbeda fondasi sosial, mereka sepakat pada satu hal: Tuhan tidak berdiam di kuil kayu dan batu.

"Colitur Deus non tauris sed pia et recta voluntate." > (Tuhan tidak disembah dengan lembu jantan, melainkan dengan niat yang tulus dan jujur.)

Melampaui Rasio: Menuju Intelek Ibnu Rusyd

​Namun, ziarah ini tak boleh berhenti di Roma. Kita harus mendaki lebih tinggi menuju menara pemikiran Ibnu Rusyd. Di sinilah kita menemukan jawaban mengapa kita begitu mudah dijinakkan oleh 'Roti dan Sirkus': karena kita gagal membedakan antara Rasio dan Intelek.

​Rasio hanyalah daya bawaan yang bekerja berdasar data indrawi—ia mudah dikelabui oleh gimik. Sementara Intelek merupakan daya transenden sebagai karunia Tuhan yang mampu memahami bentuk non-material. Model epistemologi Ibnu Rusyd yang berbasis pada Burhani (demonstrasi rasional), Bayani (wahyu), dan Tajribi (sains) memastikan bahwa kebenaran bukan sekadar ilusi layar, melainkan sesuatu yang ilmiah sekaligus selaras dengan wahyu Ilahi.

Penutup: Menyalakan Kembali Cahaya

Akhirnya, dari meja warung yang sederhana ini, saya menyadari bahwa obat dari kemuakan terhadap sirkus ini bukanlah dengan cara ikut berteriak di arena. Melainkan dengan kembali mengasah Intelek kita, menyalakan kembali 'Nur' yang sempat redup di tengah kepulan asap rokok dan obrolan remeh.

Tuhan tidak ditemukan dalam keramaian sirkus yang palsu, melainkan dalam kejernihan akal budi. Mari mematikan sirkus sejenak, dan menyalakan kembali Intelek kita.


Author’s Note for My Global Readers:

​This article is part of a larger philosophical journey. Before we deconstructed the "monetary magic" and the distortion of the Ubermensch here, I invited Nietzsche to a sacred space to find his "Divine Spring." To understand the spiritual foundation of this critique, I invite you to read the preceding chapter:

 

​👉 [Nietzsche Masuk Pesantren: Saat Sang Ubermensch Bertemu Mata Air Ilahi]https://muamaranis.blogspot.com/2026/01/nietzsche-masuk-pesantren-saat-sang.html

A bridge between the radical ego and the ultimate surrender.


Seneca dan Santo Paulus sama-sama merupakan reformator moral. Keduanya, rekan kerja dalam perjuangan kemanusiaan; kalau ada Sang Khotib sudah barang tentu ada imam Masjid pula.( Muamar Anis) 




Referensi Utama:
  • Seneca, "Epistulae Morales ad Lucilium"
  • Ibnu Rusyd, "Fashl al-Maqal" & "Tahafut al-Tahafut"
  • Lactantius, "Divinae Institutiones"








Nietzsche Masuk Pesantren: Saat Sang Ubermensch Bertemu Mata Air Ilahi

Mengadu Ego Nietzsche dengan "Ulul Albab" Sir Muhammad Iqbal

Oleh: Muamar Anis

Nietzsche. Muamaranis. Jpg.
Nietzsche masuk Pesantren

Luka Seorang Anak Pendeta

Mari kita jujur: Friedrich Nietzsche adalah seorang anak pendeta yang sedang patah hati. Karyanya, Ubermensch, bukanlah penemuan filosofis murni, melainkan sebuah pelarian—bentuk frustrasi kosmik setelah ia menabrakkan kepalanya ke dinding institusi agama di Eropa. Ia ingin membunuh "Tuhan" yang ia kenal di rumah ayahnya, namun dalam pelariannya, ia justru tersesat di gerbang Islam dengan koper penuh kemarahan dan ego yang membengkak.

Islam Sebagai Senjata, Bukan Iman

Bagi Nietzsche, Islam adalah metafora sekaligus martil. Dalam The Antichrist, ia memuji Islam karena dianggap maskulin dan berani—antitesis dari modernitas Eropa yang ia anggap lemah. Namun, menurut klasifikasi Almond, Nietzsche tetap menyimpan curiga; ia menuduh Islam tidak mengenal belas kasihan terhadap das Gesindel (orang-orang rendahan). Ia mengagumi Nabi Muhammad SAW bukan sebagai pembawa wahyu, melainkan sebagai manipulator massa yang jenius—seorang teknokrat politik yang ia sejajarkan dengan Platon. Baginya, "Kebenaran" di tangan Nabi adalah Machtpolitik (politik kekuatan).


Beyond Good and Evil. Muamaranis. Jpg.
Beyond God and Evil


Kritik Zikir dan "Raison d’Être"

Dalam The Gay Science, Nietzsche mengejek tradisi merapal 99 nama Allah. Ia melihat para Sufi yang tenggelam dalam zikir tak ubahnya seperti orang yang lari dari kenyataan—sebuah ritual tanpa raison d’être (alasan keberadaan) yang jelas. Di sinilah letak "kebutaan" si Kumis Besar: ia gagal membedakan antara rutinitas mekanis dengan frekuensi spiritual yang menghancurkan tirani diri.

Jawaban Sir Muhammad Iqbal: Ulul Albab vs Ubermensch

Di titik inilah Sir Muhammad Iqbal hadir untuk meluruskan kesesatan pikir Nietzsche. Jika Nietzsche menawarkan Ubermensch sebagai manusia yang mabuk kekuasaan dalam kesunyian nihilisme, Iqbal menawarkan sosok Ulul Albab.

Sir Muhamad iqbal. Muamaranis. Jpg.
Sir Allamah Muhammad Iqbal

​Bagi Iqbal, manusia unggul bukanlah mereka yang membunuh Tuhan, melainkan mereka yang mampu mengawinkan ketajaman "Fikir" (intelektualitas) dengan kedalaman "Zikir" (intuisi spiritual). Nietzsche terjebak dalam logika bahwa kekuatan hanya lahir dari ego yang liar, sementara Iqbal membuktikan lewat Ulul Albab bahwa kekuatan sejati lahir dari "Khudi" (kedirian) yang sinkron dengan kehendak Ilahi. Nietzsche adalah pengembara yang kehilangan kompas dan akhirnya gila dalam kesendiriannya, sementara Ulul Albab adalah arsitek peradaban yang menjadikan wahyu sebagai peta navigasi.

Tahlilan. Muamaranis. Jpg.
Tahlilan

5. Penutup: Tahlil untuk Sang Ego

Nietzsche mengira ia sedang membangun jembatan menuju manusia super, padahal ia hanya sedang membangun tembok tinggi untuk menutupi kekecewaannya pada otoritas masa lalu. Di pesantren, tembok itu tidak diruntuhkan dengan paksa, tapi dilelehkan dengan kehangatan Mata Air Ilahi.


​"Update: The journey of the Ubermensch continues into the heart of modern struggle. After seeing him at the Pesantren, I dive deeper into how his ideas were distorted and how to find the 'Insan Kamil' amidst today's monetary magic: [Di Balik Sihir Kertas dan Obsesi Ubermensch: Menemukan Kembali Insan Kamil di Tengah Dehumanisasi]."https://muamaranis.blogspot.com/2026/02/di-balik-sihir-kertas-dan-obsesi.html


​Ternyata, Friedrich, yang kamu cari di puncak gunung itu bukan kematian Tuhan, melainkan keterbatasan logikamu sendiri. Di depan kitab-kitab kuning ini, Tuhan tidak pernah mati—hanya egomu saja yang perlu kita "tahlilkan" agar kamu menemukan kedamaian dalam dekapan Ulul Albab.(Muamar Anis) 

REFERENSI (FOOTNOTE)

  1. Nietzsche, Friedrich. The Gay Science & The Antichrist.
  2. Almond, Ian. Nietzsche's Peace with Islam.
  3. Iqbal, Sir Muhammad. The Reconstruction of Religious Thought in Islam (Konsep Khudi dan integrasi Zikir-Fikir).
  4. Iqbal, Sir Muhammad. Asrar-i-Khudi (The Secrets of the Self).
  5. Kertanegara, Mulyadi. Integrasi Ilmu: Sebuah Rekonstruksi Epistemologi.









Senin, 26 Januari 2026

Dialektika Imperium: Visi Besar Sultan Agung dan "Tumbal" Peradaban di Balik Megaproyek Kekuasaan

Dialektika Imperium: Visi Besar Sultan Agung dan "Tumbal" Peradaban di Balik Megaproyek Kekuasaan

Oleh Muamar Anis

​Membaca Sultan Agung adalah membaca tentang ketegangan antara ambisi makro dan realitas mikro. Sebagai penguasa terbesar Mataram Islam, ia tidak sekadar membangun sebuah kerajaan, melainkan sebuah 'proyek peradaban' yang menuntut integrasi total seluruh sumber daya Nusantara.

​Namun, dalam kacamata filsafat kekuasaan, sebuah visi yang kolosal selalu memiliki sisi gelap yang tak terelakkan: alokasi sumber daya yang terpusat. Ketika sebuah imperium memilih untuk memacu jantung utamanya—baik itu mobilisasi militer untuk kedaulatan maupun pembangunan struktur pusat yang megah—maka secara mekanis, sektor-sektor penopang di pinggiran akan mengalami 'anemia' perhatian. Di sinilah letak paradoks seorang penguasa; ia harus memilih sektor mana yang akan dimenangkan menjadi sejarah, dan sektor mana yang akan dikorbankan menjadi tumbal sunyi dari sebuah kemajuan.

​Sultan Agung membangun Pertahanan Nasional melawan VOC dengan mengirim pasukan besar untuk menyerang Batavia sebanyak dua kali (1628 dan 1629), menutup pantai Utara Jawa bagi pedagang asing, serta melarang penjualan beras ke Belanda. Di sisi lain, ia mencoba mendistribusikan kemakmuran dengan memusatkan perhatian pada sektor pertanian melalui distribusi tanah dan pembangunan bendungan air.

​Dalam pendekatan Budaya & Agama, ia menyatukan rakyat dengan menciptakan Kalender Jawa serta memperkuat dakwah Islam yang secara tidak langsung memakmurkan pedepokan melalui sarana ibadah. Akan tetapi, di balik itu semua, muncul dilema logistik dan militer yang tak terhindarkan.

Ambisi Kedaulatan: Harga Mahal Sebuah Perlawanan


Antara mobilisasi massa dan sunyinya sektor pendidikan di pedalaman




​Dimulai dari serangan ke Batavia, Sultan Agung menuntut pasokan beras dalam jumlah besar dari wilayah taklukan, termasuk dari wilayah pesisir yang merupakan pusat-pusat intelektual dan pesantren. Kegagalan serangan kedua pada 1629, di mana lumbung-lumbung makanan di Tegal dan Cirebon dibakar oleh VOC, menjadi titik balik yang menyakitkan. Kemegahan sebuah istana seringkali dibayar oleh kesunyian di lumbung-lumbung desa.

​Meskipun ia berusaha memakmurkan Mataram melalui pembangunan agraris, ambisi besar melawan VOC menguras energi, logistik, dan kekayaan ekonomi Mataram. Akibatnya, banyak sektor internal menjadi "korban" demi tegaknya kedaulatan politik.

Penjaga Nyala Api di Tengah Deru Perang

​Para guru agama dan pengajar literasi di zaman itu adalah tulang punggung mental rakyat. Namun, seringkali mereka harus bekerja dalam keterbatasan ekstrem karena anggaran dan perhatian kerajaan habis terserap untuk logistik perang.

​Dalam filsafat ekonomi, kita mengenal istilah "Zero-Sum Game" dan "Opportunity Cost". Setiap bulir padi atau keping koin yang ditaruh untuk satu megaproyek kedaulatan, adalah satu unit kesejahteraan yang "hilang" dari mereka yang menjaga akar rumput. Ini adalah sebuah "Kesunyian di Balik Panggung Megah".

Epilog: Tragedi Geografis dan Keterbatasan Tangan Sang Raja

​Ketimpangan yang terjadi seringkali bukanlah kesalahan moral personal seorang penguasa, melainkan sebuah "Tragedi Geografis" dan "Kutukan Negara Besar". Menjaga keseimbangan di wilayah yang luasnya luar biasa adalah seni yang nyaris mustahil mencapai kesempurnaan.

​Pada akhirnya, kita harus menyadari: Bukan karena Sang Raja tidak melihat, tapi karena tangan Raja hanya dua, sementara kebutuhan rakyatnya seribu. Keberhasilan sebuah kebijakan seringkali ditulis dengan tinta emas, namun kertasnya adalah nasib mereka yang terpinggirkan.

Daftar Referensi:

  • Graaf, H. J. de. (1986). Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi Sultan Agung. Jakarta: Grafiti Pers.
  • Ricklefs, M. C. (2008). A History of Modern Indonesia since c. 1200. Stanford University Press.
  • Moedjanto, G. (1986). The Concept of Power in Javanese Culture. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  • Sunyoto, Agus. (2014). Atlas Wali Songo. Depok: Pustaka IIMaN.

Membaca "Doa Visual": Filosofi Rajah Wayang Semar dalam Tinjauan Syariat dan Sejarah

Membaca "Doa Visual": Filosofi Rajah Wayang Semar
dalam Tinjauan Syariat dan Sejarah

Oleh Muamar Anis

Rajahwayang. Muamaranis. Jpg.

Pendahuluan

Dunia mistisisme Nusantara selalu menyimpan rahasia di balik simbol-simbol di dalamnya. Salah satu yang paling tampak antara lain adalah Rajah Wayang Semar. Bagi orang awam, ini mungkin hanya dianggap seperti kertas biasa, benda antik atau Azimah kata orang timur tengah. Namun, jika kita bedah lebih dalam secara filosofis dan historis, rajah ini adalah titik temu antara tauhid Islam dan kearifan lokal Jawa yang sangat dalam.

​Asal-Usul Semar:

Sang Penjaga yang Berdialektika

Dalam mitologi Jawa, Semar bukanlah manusia biasa. Ia diyakini sebagai entitas tertua (bangsa jin/danyang) yang menghuni tanah Jawa jauh sebelum peradaban manusia modern berkembang.

​Salah satu fragmen sejarah metafisika yang paling menarik adalah dialektika antara Semar (Sabdo Palon) dengan Syekh Subakir, ulama asal Rum yang diutus untuk menyebarkan Islam di Jawa. Syekh Subakir sama sekali tidak menghancurkan eksistensi Semar, akan tetapi melakukan perjanjian di sebuah Gunung Tidar (Perjanjian Tidar). Islam diizinkan masuk asalkan tidak menghapus identitas kejawaannya. Inilah awal mula lahirnya Islam Nusantara yang santun dan akulturatif.

​Filosofi Wayang Semar

Sosok Semar dalam pewayangan adalah simbol kesempurnaan batin:

​Tangan Kanan Menunjuk: Simbol keteguhan pada kebenaran (Tauhid).

​Tangan Kiri ke Belakang: Simbol kepasrahan total (tawakkal) atas segala urusan dunia.

​Wajah Senyum tapi Mata Sembab: Gambaran seorang arif yang telah melampaui dualitas suka dan duka—ia tertawa melihat dunia namun hatinya menangis dalam kerinduan kepada Sang Pencipta. Maka tidak heran ketika Sunan Kalijaga, salah satu dari Wali Songo menyebarkan Islam dengan metode pewayangan terlebih lagi di masa dahulu orang masih menganut cara beragama animisme dan dinamisme. 

​Rajah Semar dalam Perspektif Syariat

Banyak yang bertanya, bagaimana hukum menggunakan rajah dalam Islam? Di dunia Arab, rajah dikenal dengan istilah Azimah.

​Merujuk pada kitab Al-Fatawi Al-Haditsiyyah karangan Syekh Ibn Hajar Al-Haitami, penggunaan azimah atau rajah yang bertuliskan bahasa Arab dan diketahui maknanya secara jelas adalah mutlak diperbolehkan. Sebaliknya, ketidakbolehan (pelarangan) azimah biasanya dilandaskan pada kekhawatiran agar pengguna yang awam tidak terseret ke dalam kemusyrikan jika tidak memahami makna tersirat di dalamnya.

​Akar Mistisisme: Antara Syiah Batiniyyah dan Kejawen

Secara historis, banyak ilmu ketabiban dan rajah-rajah batiniah di Nusantara yang dipengaruhi oleh faham Syiah Batiniyyah yang kemudian diadopsi ke dalam aliran kebatinan atau kejawen. Meskipun dalam praktiknya sering disalahgunakan oleh sebagian kalangan untuk praktik perdukunan yang bertentangan dengan syariat, namun dalam esensinya, rajah yang benar adalah sebuah "doa visual" yang mengingatkan pemiliknya kepada Allah SWT.

​Kesimpulan

Rajah Wayang Semar adalah manifestasi dari "Islam yang merangkul Budaya". Ia adalah bukti bahwa tauhid bisa bersemayam dalam simbol lokal tanpa kehilangan kemurniannya. Menjaga warisan ini berarti menjaga sejarah dialektika para leluhur dalam menemukan Tuhan di tanah Jawa. Lantas bagaimana dengan istilah Jimat dan sebagainya, di lain kesempatan akan saya suguhkan buat para pembaca


Untuk artikel lainya silahkan pembaca bisa kunjungi juga di sini👉https://muamaranis.blogspot.com/2026/01/dialektika-imperium-visi-besar-sultan.html


Referensi & Rujukan Ilmiah:

​Agus Sunyoto, Prof. KH. Ng. – Atlas Walisongo: Buku Pertama yang Mengungkap Walisongo sebagai Fakta Sejarah. (Membahas strategi dakwah kultural Sunan Kalijaga dan akulturasi Islam di tanah Jawa).

​Ibn Hajar Al-Haitami, Syekh. – Al-Fatawi Al-Haditsiyyah. (Rujukan hukum fikih terkait penggunaan Azimah/Rajah dan batasan-batasannya dalam syariat).

​Serat Darmogandul & Suluk Linglung – (Sebagai komparasi literatur terkait dialektika antara tokoh Semar/Sabdo Palon dengan tokoh-tokoh penyebar Islam awal di Jawa).

​Sejarah Lisan Nusantara – Kisah tutur mengenai Perjanjian Gunung Tidar antara Syekh Subakir dan Sang Hyang Ismaya (Semar).

Minggu, 25 Januari 2026

CAHAYA AKAL DI BULAN RAMADHAN

Cahaya Akal di Bulan Ramadhan

Oleh Muamar Anis

Cahaya Akal-Muamar-Anis.jpg.

Allah SWT menciptakan segala sesuatu tidaklah sia -sia. setiap perintah dan larangan Nya pasti ada nilai yang tersirat sampai terkadang tidak bisa dinalar dengan akal manusia. begitulah Ramadhan. Kita diperintahkan untuk berpuasa tidak lain dengan satu tujuan yaitu la'allakum tattaqun, supaya kalian menjadi pribadi yang bertakwa. Takwa berasal dari kata waqo artinya menjaga diri. Sedangkan kata la'alla berfungsi sebagai di masa sekarang dan akan datang secara kontinyu. dan salah satu karunia yang diberikan Allah kepada manusia adalah cahaya yang dimiliki setiap insan sebagai modal menuju takwa. Akan tetapi berjalanan manusia tidaklah semudah seperti membuka air dari kran. banyak lika liku dalam perjalanannya yang menyebabkan cahaya itu redup.

Dalam perspektif filsafat Ibnu Sina, redupnya cahaya ini sering kali disebabkan oleh dominasi Jiwa Nabati (nafsu makan) dan Jiwa Hewani (amarah). Baginya, puasa adalah proses "penjinakan" jasad. Saat perut kosong, kebisingan fisik mereda, dan saat itulah Cahaya Akal—yang disebutnya sebagai Al-Aql al-Fa’al—mulai memancar kembali menyinari batin yang sempat gelap. Namun, Imam Ghazali membawa kita lebih dalam lagi ke dalam rongga dada. Beliau membagi hati dalam beberapa tingkatan: mulai dari Qolbu, Fuad, hingga yang paling dalam yaitu Lubb (inti hati/akal murni). Ramadhan adalah saatnya kita membersihkan cermin Lubb tersebut. Jika hati kotor karena dosa atau sekadar menuruti syahwat, cahaya Tuhan (Nur) hanya akan memantul tanpa pernah meresap.

​Tragedi sebenarnya terjadi ketika kita dengan sengaja memadamkan cahaya ini. Rasulullah SAW memperingatkan dalam haditsnya:

​"Barangsiapa berbuka satu hari di bulan Ramadhan tanpa uzur... maka tidak akan bisa diganti dengan puasa setahun penuh meskipun ia melakukannya." (HR. Abu Dawud & Tirmidzi).

​Ini bukan sekadar persoalan yurisprudensi hukum fiqih tentang mengganti hari. Ini adalah persoalan jiwa yang mencampakkan keagungan Tuhan. Secara mistis, sengaja berbuka tanpa uzur adalah bentuk "keangkuhan spiritual"—seolah kita menantang Tuhan dengan membuang permata yang Dia berikan secara cuma-cuma. Kerugian ini tidak bisa dihitung dengan angka hari, karena momentum cahaya yang hilang itu takkan pernah kembali dalam frekuensi yang sama.

Disinilah kita perlu menengok kembali warisan pemikiran para pencari kebenaran, mulai dari ketajaman akal Ibnu Sina hingga kelembutan hati Imam Ghazali, untuk memahami bagaimana puasa mampu menyalakan kembali lentera batin yang mulai padam.

Puasa ramadhan menjadikan kita berlatih untuk mengikis sifat yang menutupi cahaya ilahi agar kembali suci.

Mudah mudahan dengan kesempatan Ramadhan ini yang Allah SWT berikan, cahaya akal bisa menjadi penerang jiwa dalam kehidupan dan menjadi pribadi yang bertakwa yang pada akhirnya menjadi fitrah di idul fitri


​Ibnu Sina, Kitab An-Najat (Konsep Jiwa).

​Imam Ghazali, Ihya Ulumuddin (Asrar al-Shawm) & Misykat al-Anwar.

​Hadits Riwayat Abu Dawud (No. 2396) & Tirmidzi (No. 723).

Tafsir Al Qur'anul Karim

Dialektika Spiritual Menuju Puncak Kesadaran

Dialektika Spiritual Menuju Puncak Kesadaran

Oleh: Muamar Anis



Kesadaran - Muamar Anis. Jpg.
Burung ssebagai smbol Jiwa Msnusia

Bulan Sya'ban sering kali terjepit di antara dua bulan besar, Rajab dan Ramadhan, sehingga tak jarang ia terlupakan. Namun, jika kita menyelami maknanya lebih dalam, Sya'ban bukan sekadar fase menunggu, melainkan sebuah 'Syi'ib'—tangga pendakian menuju puncak kesadaran.

Dekonstruksi Ego dan Kembali ke Jati Diri

Salah satu peristiwa monumental di bulan ini adalah Tahwilul Qiblah atau perpindahan arah kiblat. Secara filosofis, ini bukan sekadar perpindahan arah fisik, melainkan simbol dekonstruksi ego untuk kembali ke jati diri yang sejati (Ka'bah). Di bulan ini, kita diajak untuk memeriksa kembali laporan amal kita (Rafa'ul A'mal) agar benar-benar menjadi 'naskah' yang membanggakan di hadapan Tuhan.

Memadukan Al-Ghazali dan Antonio Gramsci

Dalam menempuh pendakian spiritual ini, kita memerlukan kejernihan hati. Sebagaimana pesan Imam Al-Ghazali, kita harus rajin membersihkan cermin hati dari debu-debu kelalaian. Namun, kesalehan tersebut tidak boleh berhenti pada ritual pribadi saja.

​Meminjam pemikiran Antonio Gramsci, kita ditantang untuk menjadi 'Intelektual Organik'. Artinya, spiritualitas kita harus memiliki kesadaran penuh (Conscientization—meminjam istilah Paulo Freire) bahwa keberagamaan harus membawa kemaslahatan nyata bagi sesama manusia. Jangan sampai kita terjebak dalam hegemoni kelalaian yang membuat kita saleh secara ritual namun abai secara sosial.

Laboratorium Prakondisi

Mari kita manfaatkan sisa Sya'ban ini sebagai laboratorium prakondisi. Tujuannya jelas: agar saat fajar Ramadhan menyingsing, kita tidak lagi gagap, melainkan telah siap menjadi Ummatan Wasathan yang visioner dan berdaulat secara ruhani maupun intelektual.


Daftar Referensi Pemikiran:

  • Al-Ghazali. Ihya’ Ulumuddin. (Tentang konsep pembersihan cermin hati dari debu kelalaian).
  • Freire, Paulo. Pedagogy of the Oppressed. (Tentang konsep Conscientization atau proses membangun kesadaran kritis).
  • Gramsci, Antonio. Selections from the Prison Notebooks. (Tentang konsep 'Intelektual Organik' yang aktif dalam perubahan sosial).
  • An-Nasa'i. Sunan an-Nasa'i. (Hadits tentang bulan Sya'ban sebagai bulan diangkatnya amal perbuatan).
  • Al-Baqarah: 143-144. (Tentang peristiwa Tahwilul Qiblah atau perpindahan arah kiblat sebagai ujian keimanan).

Menelusuri Jejak Nalar: Dari Paper Akademik hingga Kontemplasi Digital

 

Jejak Nalar. Muamar Anis. Jpg.


Saluran pemikiran tidak boleh berhenti di satu titik. Sejak bergabung di dunia akademik digital pada Mei 2014, saya telah membagikan berbagai riset yang kini telah dibaca lebih dari 2.400 kali oleh publik.

​Salah satu karya yang paling banyak mendapat respon adalah paper mengenai "SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM". Menariknya, baru-baru ini pihak Academia bahkan mengonversi riset tersebut ke dalam bentuk video agar lebih mudah dipahami oleh audiens yang lebih luas.

​Melalui blog MISTISCISM FILS ini, saya ingin membawa semangat riset tersebut ke dalam ruang yang lebih santai namun tetap mendalam. Perpaduan antara nalar sejarah dan kedalaman tasawuf adalah kunci untuk memahami realitas kita saat ini.

​Bagi teman-teman yang ingin meninjau karya ilmiah saya secara lengkap, silakan kunjungi profil saya di:

[https://independent.academia.edu/MuamarAnis]

Jumat, 04 Oktober 2024

Plotinus: Estetika "Cahaya" dari Timur dan Kegagalan Logika Aristoteles


Plotinus: Estetika "Cahaya" dari Timur dan Kegagalan Logika Aristoteles

Oleh:Muamar Anis 


Estetika. Muamar anis. Jpg

Pendahuluan: Filosof Timur dalam Jubah Barat

          Dalam sejarah filsafat Yunani, terdapat seorang filosof dari Timur namun sering diaku sebagai filosof Barat. Ia adalah Plotinus. Pemikiran filsafatnya sangat berpengaruh baik dalam tradisi filsafat Eropa maupun Islam. Di antara pemikiran filsafatnya yang relevan berkenaan dengan estetika dan filsafat seni. Plotinus dilahirkan di  kota Lise,  Mesir pada tahun 205 M dan wafat pada tahun 270 M. Setengah sarjana memandangnya sebagai penerus ajaran Plato, sebagian lagi memandang pemikiran filsafatnya  sebagai penghubung antara tradisi Falsafah Yunani dan tradisi Abad Pertengahan Eropa.  Yang kurang disinggung ialah betapa pemikiran filsafatnya memiliki kaitan dengan pemikiran filsafat Persia dan India.


         Sebagai seorang sarjana, Plotinus mula-mula tertarik kepada filsafat   setelah mempelajari pemikiran Ammonius Saccas yang mengajar di Akademi Iskandariah. Dahaganya kepada kebenaran filosofis mendorongnya meninggalkan Mesir, kemudian mengembara ke Suriah, Iraq dan Persia (Iran). Setelah lama menuntut ilmu di Suriah dan Persia, Plotinus pergi Byzantium, yaitu Turki sekarang ini. Dari sini pada tahun 245 M Plotinus pindah ke Roma dan mendirikan madzab filsafat tersendiri. Aliran filsafatnya disebut Neo-platonisme. Melalui pemikiran filsafatnya ini pengaruh falsafah Timur (India dan Persia) tersebar dan mempengaruhi banyak filosof  di Eropa. Salah satu perantara pemikiran Plotinus yang bercorak ketimuran dengan filsafat Eropa adalah filosof Kristen. Di antara aliran filsafat Timur dan pemikiran Persia (Zoroaster) yang berpengaruh ialah apa yang disebut gnostisisme dan apokaliptisisme.


        Kembali ke Plotinus, karyanya   yang masyhur ialah  Enneads. Buku ini terdiri dari 6 jilid, berisi 54 esai tentang filsafat. Dalam bukunya inilah kita jumpai pemikiran Plotinus tentang estetika/filsafat keindahan dan seni. Menurut Plotinus, keindahan terdapat pada banyak benda atau obyek pengamatan indera. Obyek paling nyata memancarkan keindahan ialah yang  dapat diiendera mata, dicerap pendengaran seperti ritme, musik dan irama, atau kata-kata yang disusun dengan cara tertentu serta berirama pengucapannya seperti puisi, retorika atau khotbah.


        Akal pikiran juga dapat merasakan keindahan yang tidak terdapat di alam benda. Misalnya keindahan berkenaan pola hidup, pandangan hidup, cara berpikir atau tindakan intelektual. Keindahan juga dapat dirasakan atau dinikmati melalui kearifan, kebijakan dan kebajikan moral seseorang. Bagi Plotinus persoalannya ialah apa yang membuat sesuatu itu dapat diangap indah? Apakah unsur  indah itu memperlihatkan dirinya sendiri pada obyek atau melalui sesuatu yang lain, atau disebabkan pengamatan jiwa kita?


Pukulan Telak buat Aristoteles: Mengapa Keseimbangan Itu Palsu?

        Plotinus menolak keseimbangan sebagai ciri yang mesti ada pada keindahan sebagaimana dikatakan Aristoteles. Keseimbangan hanya tampak apabila bagian dibandingkan dengan bagian lain. Benda yang bersahaja tidak memiliki bagian yang dapat dibandingkan dan dengan demikian tidak memiliki keindahan apabila ukuran keindahan adalah keseimbangan. Keseimbangan hanya ada pada obyek-obyek yang memiliki lebih dari satu atau banyak bagian atau banyak komponen seperti sebuah gedung yang bagus beserta tamannya. Atau pada diri seekor kuda yang proporsi tubuhnya sempurna, larinya kencang dan perkasa, dengan bulu bagus serta mengkilat. Nyatanya keindahan sebuah obyek yang komponen atau bagian-bagiannya kompleks itu nampak kepada kita bukan semata disebabkan keseimbangan, tetapi kepaduannya dalam arti bagian yang satu dengan bagian yang lain menjalin kesatuan yang sempurna untuk ukuran sesuatu obyek.


Jika keindahan hanyalah soal proporsi simetris, maka bagaimana kita menjelaskan keindahan bintang yang hanya berupa titik, atau keindahan jiwa seorang guru yang tak terlihat bentuk fisiknya?”


Selanjutnya Plotinus berpendapat bahwa keindahan hanya terwujud apabila obyek-obyek atau sesuatu dapat menggerakkan jiwa dan pikiran, apakah sesuatu itu obyek-obyek bersahaja atau kompleks susunannya.  Setelah jiwa bergerak maka jiwa akan naik menghubungkan dirinya dengan Yang Maha Kudus.  Keindahan obyek-obyek yang dapat dicerap indera membuat jiwa atau mata hati seseorang akrab dan merasa seolah-olah telah lama mengenal keindahan serupa itu. Keindahan yang demikian membuat seseorang  bersatu dengannya atau hanyut dalam keindahan tersebut.


Dalam teori keindahan Plotinus ide utama ialah  kontemplasi (renungan) dan penglihatan batin. Pengalaman estetik yang tertinggi bersumber dari renungan dan penglihatan batin. Seperti Plato, Plotinus mengaitkan renungan dengan sesuatu yang berada di atas jangkauan indera, misalnya keindahan menuntut ilmu, keadilan, kearifan dan kebenaran. Sarana untuk mencerap keindahan tersebut dapat ditemui dalam obyek-obyek yang dicerap melalui indera. Misalnya seorang ahli botani yang meneliti tanaman tertentu, pertama-tama adalah melalui pengamatan inderanya (empiris), baru menggerakkan pikiran dan jiwanya untuk menemukan pengetahuan dari tanaman yang ditelitinya.


Teori Plotinus mempengaruhi estetika modern. Kata-kata estetika diperkenalkan di dunia modern pada pertengahan abad ke-18 M oleh filosof rasionalis Baumgarten. Segala sesuatu yang bisa diamati indrera disebut sebagai obyek estetika. Ciri obyek yang paling mempengaruhi jiwa manusia sehingga terpesona ialah keindahan yang memancar dari bentuk dan keseluruhan unsure-unsur estetiknya.


Menurut Plotinus keindahan yang timbul dari adanya kesatuan dalam sesuatu obyek merupakan cermin kesatuan dari Yang Maha Esa. Kesatuan pada benda bersahaja bersifat homogen, seragam. Misalnya warna hijau atau kuning, atau keindahan sebuah batu di halaman rumah. Sedangkan kesatuan  obyek-obyek yang susunannya kompleks bersifat heterogen, berbagai-bagai. Keindahan obyek yang susunannya kompleks seperti keindahan sebuah lukisan bersegi-segi dan tidak tunggal.

Teori Emanasi: Tangga Menuju "Yang Maha Indah

Bagi Plotinus, keindahan yang tinggi tak punya bentuk. Misalnya keindahan menuntut ilmu atau pribadi seseorang. Keindahan yang diperoleh dari dua hal tersebut di antaranya ialah perasaan bahagia, rasa ingin tahu yang mendalam dan takjub. Semua itu timbul karena dapat membawa kita menuju kebenaran yang tinggi. Di sini Plotinus membuat kerangka teori keindahan yang berperingkat dari keindahan alam inderawi ke tahap keindahan yang lebih tinggi, yaitu kebenaran – yang dapat dicerap melalui renungan dan penelitian yang mendalam atas sesuatu.

  • Proses Turun: Keindahan memancar dari The One (Yang Esa) ke Nous (Akal), lalu ke Psyche (Jiwa), baru berakhir di materi.
  • Proses Naik: Manusia melihat benda indah (materi) \rightarrow jiwanya ingat pada keindahan sejati \rightarrow naik menuju Akal \rightarrow sampai ke titik Puncak.


Jembatan ke Al-Ghazali: Estetika sebagai Ibadah

Kendati demikian ia beranggapan bahwa keindahan alam inderawi merupakan jalan menuju kebenaran. Jika kita melihat sebuah lukisan, maka sebenarnya kita akan mengingat kembali keindahan abadi di maa kita dahulu berasal. Ruang dan waktu yang abadi adalah tempat tinggal ini. Konsep seni Islam dipengaruhi terutama oleh pemikiran Plotinus, melalui perantaraan Imam al-Ghazali. Pemikiran estetika Imam al-Ghazali adalah penyempurnaan dari estetika Plotinus.


Ingin tahu lebih jauh tentang ini, silahkan kunjungi:

https://syuissimulacra.blogspot.com/2013/09/pemikiran-plotinus-tentang-estetika-dan.html?m=1


Menurut Plotinus lagi,  keindahan alam inderawi dapat membawa kita ke arah yang berlawanan, yaitu apabila kenikmatan yang diperoleh darinya dicemari kedukaan dan hawa nafsu, sehingga membuat jauh dari kebenaran. Misalnya lelaki melihat seorang wanita cantik yang berpakaian minim. Tetapi yang bangkit adalah nafsu berahinya dan melupakan hal-hal lain yang indah pada wanita itu. Agar kita terhindar dari kecenderungan itu, dalam melihat atau mengalami keindahan, jiwa kita sendiri perlu dijadikan indah dan suci. Caranya ialah dengan merenung dan melihat ke dalam jiwa kita sendiri. Jika belum sempurna hendaknya diperbaiki sehingga diri kita bersinar-sinar dengan kebajikan dan kemuliaan.

Estetika Al-Ghazali: Sang Penyempurna

Islam (lewat Al-Ghazali) tidak hanya cuma menelan mentah-mentah, tapi mensucikan konsep itu lewat tauhid. Indah itu bukan "milik" benda, tapi "titipan" dari Al-Jamil (Yang Maha Indah).


Pada akhirnya, keindahan bukan tentang seberapa mahal 'jas dan dasi' yang dipakai seorang badut, tapi seberapa jernih cermin jiwanya dalam memantulkan Cahaya Yang Esa. Tanpa pembersihan jiwa (Tazkiyatun Nafs), seni hanyalah simulakra—kepalsuan yang tidak pernah napak tanah."


Referensi

  • Plotinus: The Enneads (Terutama jilid I, bagian 6 tentang "On Beauty" dan jilid V tentang "The Three Initial Hypostases").
  • Imam Al-Ghazali: Ihya Ulumuddin (Kitab Al-Mahabbah tentang tingkatan keindahan) dan Misykat al-Anwar (Niche of Lights) untuk kaitan cahaya Plotinian.
  • Baumgarten, A. G.: Aesthetica (1750) — Sebagai pembanding kemunculan istilah estetika modern.
  • Ekspedisi Gordian III (242-244 M): Plotinus ikut serta dalam serangan Romawi ke Persia bukan untuk berperang, tapi untuk belajar filsafat Magi (Zoroaster) dan India. Ini bukti otentik pengembaraan intelektualnya.
  • Porphyry: Life of Plotinus — Biografi yang ditulis muridnya, yang menceritakan ketertarikan Plotinus pada hikmah-hikmah Timur.
  • Filsafat Ishraq (Suhrawardi): Lu bisa jadikan ini referensi pembanding, bahwa konsep "Cahaya" Plotinus meledak kembali di tangan Syekh Al-Ishraq.
  • Sejarah Militer: Ekspedisi Gordian III (242-244 M) sebagai bukti otentik Plotinus belajar filsafat Magi (Zoroaster) dan India.
  • Komparasi: Filsafat Ishraq (Suhrawardi) tentang konsep Cahaya.
  • Sanad Penulis: Dikembangkan dari naskah asli Muamar Anis (2013), yang kembali disempurnakan untuk diskursus estetika kontemporer pada Oktober 2024.


Sabtu, 27 Juli 2024

Dekonstruksi Sejarah Lahirnya Nahdlatul Ulama: Mandat Syaikhona vs Klaim Imigran


Dekonstruksi Sejarah Lahirnya Nahdlatul Ulama: Mandat Syaikhona vs Klaim Imigran

Oleh Muamar Anis




Latar Masalah

memperhatikan isi ceramah dari seorang habib yang menjelaskan sejarah didirikannya NU dengan mengaitkan peran Habib Muhammad bin Ahmad al-Mukhdor Bondowoso, sang habib dari Hadramaut Yaman yang hijrah ke Nusantara dan meninggal pada 4 Mei 1926 setelah tiga bulan Jam'iyah Nahdlatul Ulama didirikan pada 31 Januari 1926.

Oknum Habib itu dengan jelas mengatakan bahwa "Habib Muhammad bin Ahmad al-Mukhdor adalah pencetus dan penggagas Nahdlatul Ulama, menunjuk KH Hasyim Asy'ari untuk jadi ketua Nahdlatul ulama, karena al-Habib Muhammad bin Ahmad al-Mukhdor adalah orang Arab, orang luar asing yang oleh Belanda tidak diperbolehkan mendirikan firqoh atau perkumpulan" lalu oknum Habib itu juga mengatakan bahwa "KH. Hasyim Asy'ari awalnya menolak karena hormatnya pada para habaib, hingga tiga kali diminta baru beliau mau jadi ketua NU".


Analisa Sejarah

Habib Muhammad bin Ahmad al-Mukhdor seorang menantu dari Habib Muhammad Idrus al-Habsy adalah imigran Yaman datang ke Indonesia dan tinggal di Bondowoso, ia lahir 1859 Masehi di Quwaireh Hadramaut, Yaman dan wafat di Bondowoso pada 4 Mei 1926 dan dimakamkan di Surabaya samping mertuanya Habib Idrus al-Habsy.

Umumnya habib yang dari Yaman itu adalah berasal dari sadah Ba'Alwi, mereka mukim di Indonesia dan berkegiatan dagang juga berdakwah, itu berlangsung dari awal abad 19 Masehi hingga sampai berakhirnya masa penjajahan Belanda. Mereka ada yang tinggal di Kwitang Jakarta, ada juga yang bermukim di Surabaya dan beberapa daerah di Indonesia.

Sementara Ulama pesantren di Jawa berkegiatan mengajar ilmu-ilmu agama Islam, hingga dikatakan ulama karena kealimannya, rerata ulama tersebut sebagian mesantren di Mekkah Al-Mukarramah di bawah bimbingan masyayikh, muallifin dan mushonifin terutama mengaji di bawah bimbingan Sayyid ulama Hijaz Syaikh Nawawi al-Bantani dan Syaikh Mahfudz Termas, Syaikh Hatib Minangkabau.

fakta menunjukkan bahwa fokus pergerakan Ulama Pesantren dan imigran Yaman sangat berbeda; Ulama Pesantren bergerak pada akar rumput perjuangan bangsa, sementara kelompok imigran lebih pada urusan komunitas mereka sendiri."

Era penjajahan yang terpikirkan kemungkinan besarnya adalah bagaimana hidup, bagaimana ibadah, karena itu sedikit yang bicara soal kesadaran kebangkitan, hanya sedikit yang memikirkan nasib tanah airnya. Lahirnya Boedi Oetomo 1908 oleh kaum aristokrat seperti Dr. Wahidin Sudirohusodo, dr. Cipto Mangunkusumo adalah sekian kecil dari para bangsawan Jawa yang tergugah untuk melakukan sikap perlawanan atas penjajah.

Lahirnya SDI juga karena melihat ketidakadilan, pendirinya yakni Husni Thamrin dan H.O.S Cokroaminoto, H. Agus Salim beberapa tokoh yang memiliki sense of responsibilities karena sudah muak melihat aturan kolonial yang berakibat meningkatnya kesengsaraan kaum pribumi.

Semua perkumpulan atau perserikatan yang didirikan kaum pribumi merupakan antiklimaks dari sikap perlawanan pribumi untuk mengusir penjajah Belanda, lain tujuan itu sama sekali tidak, muaranya adalah bagaimana caranya mengusir penjajah.

Benang merahnya antara lain, 

Klaim yang menyebut bahwa NU didirikan atas instruksi atau gagasan imigran Yaman (Habaib) adalah distorsi sejarah yang fatal. Fakta sosiologis menunjukkan bahwa pada masa kolonial, kelompok imigran Arab (khususnya Ba'Alawi) diberikan status khusus oleh Belanda sebagai Vreemde Oosterlingen (Timur Asing). Mereka ditempatkan di kampung-kampung Arab khusus dengan pengawasan Kapitein der Arabieren.

​Secara politis, banyak dari kalangan ini yang justru memiliki hubungan "aman" dengan pemerintah kolonial. Snouck Hurgronje, penasihat urusan Islam pemerintah Hindia Belanda, dalam surat-suratnya (lihat: Ambtelijke Adviezen van C. Snouck Hurgronje) justru menyarankan Belanda untuk merangkul para sayyid agar bisa meredam potensi pemberontakan kaum pribumi yang fanatik. Jadi, argumen bahwa mereka "takut mendirikan organisasi karena status warga asing" adalah kebohongan publik; nyatanya Jamiat Kheir (1901) dan Rabithah Alawiyah (1928) berdiri tanpa hambatan berarti dari Belanda.


Sejarah Lahirnya NU, 

Menurut KH. As'ad Syamsul Arifin, ulama NU yang kharismatik dari Asembagus Situbondo yang juga adalah saksi sejarah lahirnya Jam'iyah Nahdlatul Ulama telah menceritakan", Kira-kira tahun 1920, waktu saya ada di Bangkalan Madura, di pondok Kiai Kholil. Adalah Kiai Muntaha Jengkebuan menantu Kiai Kholil, mengundang tamu para ulama dari seluruh Indonesia. Secara bersamaan tidak dengan berjanji datang bersama, sejumlah sekitar 66 ulama dari seluruh Indonesia, masing masing-masing ulama melaporkan, dengan kata-kata bagaimana kiai Muntaha? tolong sampaikan kepada Kiai Kholil, saya tidak berani menyampaikannya, ini semua sudah berniat untuk sowan kepada Hadrotusyaikh, tidak ada yang berani kalau bukan anda yang menyampaikannya".

Di luar dugaan, ketika Kiai Muntaha hendak menghadap kepada Kiai Kholil di Bangkalan, tiba-tiba kiai Muntaha dan 66 orang kiai itu didatangi oleh Kiai Nasib, suruhan Kiai Kholil dengan menyampaikan ayat yang ke 32 dari al-Quran surat al-Taubat.

Semua dibuat tercengang karena Kiai Kholil justru sudah tahu maksud mereka mau sowan kepadanya, hingga 66 kiai yang di jungkeban tidak jadi sowan kepada Kiai Kholil di Bangkalan, karena mereka sudah puas ada jawaban ayat yang disampaikan oleh kiai Nasib, atas perintah Kiai Kholil.

Pada ahun 1921, dilanjutkan di tahun 1922 ulama ahli Sunnah wal Jama'ah berjumlah 46 orang yang semuanya pengasuh pesantren mengadakan musyawarah di rumah Mas Alwi di Kawatan Surabaya, diantara 46 ulama itu adalah ayahnya Kiai As'ad Syamsul Arifin yaitu Kiai Syamsul Arifin, ada pula Kiai dari pondok Sidogiri, Kiai Hasan Genggong. Sementara dari Kudus ada Kiai Raden Asnawi, sisanya dari Jombang, namun musyawarah tersebut tidak menemukan kesimpulan, bahwa pada tahun 1924 ia dipanggil gurunya yakni Syaikhona Kholil untuk menemui KH. Hasyim Asy'ari di Tebuireng Jombang, agar membawakan sebuah tongkat dan diberikan kepada KH. Hasyim Asy'ari, disertai pula tugas untuk menyampaikan ayat Al-Qur'an (17-21) surat Thoha.

Sesampainya di pesantren Tebuireng, tongkat Syaikhona Kholil diterima oleh KH. Hasyim Asy'ari, dan Kiai Hasyim mengatakan kepada As'ad Syamsul Arifin " alhamdulillah nak, saya ingin mendirikan Jam'iyah ulama, saya teruskan kalau begini dan tongkat ini tongkat Nabi Musa yang diberikan Kiai Kholil kepada saya".

Masih di tahun yang sama yakni tahu 1924, hanya beda bulan Kiai As'ad Syamsul Arifin ditugaskan kembali oleh gurunya untuk datang kembali ke pesantren Tebuireng, kata Syaikhona Kholil kepada As'ad Syamsul Arifin, "As'ad, kesini!, Kamu tidak lupa rumahnya Hasyim, ini tasbih antarkan " lalu disuruh pegang ujung tasbihnya, kemudian Syaikhona Kholil mengucapkan "ya Jabbar ya Jabbar ya Jabbar, ya Qohhar ya Qohhar ya Qohhar".

Sesampainya di Tebuireng, Kiai As'ad Syamsul Arifin menyerahkan tasbih dan mengucapkan ya Jabar ya Qohhar sesuai yang diperintahkan syaikhona Kholil gurunya, kemudian KH. Hasyim Asy'ari mengatakan kepada kiai As'ad ketika akan menerima tasbih tersebut. 

"Masya Allah, Masya Allah saya diperhatikan betul oleh guru saya, mana tasbihnya?". Lalu KH. Hasyim Asy'ari berucap" siapa yang berani pada jam'iyah ulama akan hancur, siapa yang berani pada ulama akan hancur".

Pada 31 Januari 1926, bertepatan 16 Rajab 1344 H, pukul 11.15 WITA bertempat di gedung Bubutan Surabaya, Jawa Timur Jam'iyah Nahdlatul Ulama telah lahir sebagai organisasi para ulama yang bermadzhab Ahli Sunnah wal Jama'ah, sekaligus wadahnya kiai-kiai pesantren. Meski sebelumnya melalui proses panjang niatan para ulama untuk mendirikan Jam'iyah ulama dari runtutannya sejak tahun 1920, 1921, 1922, 1923 hingga 1924.

Jadi kelahiran Nahdlatul Ulama tidak kala itu langsung jadi di tahun 1926, akan tetapi melalui proses panjang. Itupun diinisiasi, digagas, dan digerakan oleh kiai-kiai pesantren seluruh Jawa. Terutama peran KH. Wahab Hasbullah, KH. Ridwan Abdullah, Mas Alwi Abdul Aziz (kiai ini yang mengusulkan nama Nahdlatul di depan kata Ulama), KH. Dahlan, KH. Raden Asnawi, KH. Maksum, KH. Hasan Genggong, KH. Nawawi Sidogiri.

Diantara para ulama tersebut, figur sentralnya yaitu KH. Hasyim Asy'ari, ulama besar yang ahli hadits, mutafannin, pendiri dan pengasuh Pesantren Tebuireng yang oleh seluruh ulama di Jawa menggelarinya dengan Hadrotusyaikh. Berdasarkan restu dan do'anya Syaikhona Kholil Bangkalan, maka Hadrotusyaikh KH. Hasyim Asy'ari memimpin pendirian Jam'iyah Nahdlatul Ulama.

Dengan demikian tidak ada sama sekali peran Habaib di dalam proses pendirian Jam'iyah Nahdlatul Ulama. 

Dari sini kita bisa gambarkan bahwa, sejarah autentik yang dituturkan oleh KH. As'ad Syamsul Arifin tidak menyebut satu pun nama Habib dalam proses spiritual lahirnya NU. Isyarat berupa Tongkat (Simbol Kepemimpinan) dan Tasbih (Simbol Zikir/Kedekatan pada Allah) murni datang dari Syaikhona Kholil Bangkalan kepada Hadrotusyaikh KH. Hasyim As'ari.

​Para Ulama Pesantren memiliki kemandirian (otonomi) penuh. Mereka berguru langsung ke Mekkah kepada ulama-ulama besar Nusantara di sana seperti Syaikh Nawawi Al-Bantani. Garis sanad keilmuan mereka tersambung langsung ke Rasulullah SAW melalui jalur intelektual (isnad), bukan sekadar klaim biologis yang seringkali dipolitisasi untuk mencari pengaruh di organisasi NU.

Untuk lebih jelas bahwa Jam'iyah Nahdlatul Ulama didirikan oleh para ulama Ahli Sunnah wal Jama'ah, maka saya tuliskan struktur pengurus NU di tahun 1926, yaitu.

Struktur Awal

Syuriah,

Rois Akbar : Hadrotusyaikh KH. Hasyim Asy'ari

Wakil Rois : KH. Ahmad Dahlan (Surabaya)

Katib Awal : KH. Abdul Wahab Hasbullah

Katib Tsani: KH. Abdul Halim Leuwimunding

A'wan :

KH. Mas Alwi Abdul Aziz

KH. Ridwan

KH. Said

KH. Bisri Sansuri

KH. Abdullah Ubaid

KH. Nachrawi ( Malang)

KH. Amin

KH. Masyhuri

KH. Nachrawi ( Surabaya)


Mustasyar

KH. Raden Asnawi Kudus

KH. Ridwan ( Semarang)

KH. Mas Nawawi ( Sidogiri)

KH. Muntaha ( Madura)

Syaikh Ghanaim al-Misri

KH. Raden Hambali


Tanfidziyah

Ketua : H. Hasan Gipo (Surabaya)

Sekretaris: H. Sidiq (Pemalang)

Bendahara:

H. Burhan

H. Saleh Syamil

H. Ichsan

H. Djafar Aiwan

H. Usman

H. Achzab

H. Nawawi

H. Dahlan

H. Mangun


Struktur Pengurus awal Jam'iyah Nahdlatul Ulama tahun 1926 diambil dari sumber buku karya Abu Bakar Atjeh yaitu "Sejarah Hidup KH.A. Wachid Hasyim", dan dari buku karya Muhammad Rifai yaitu "KH. Hasyim Asy'ari, Biografi Singkat 1871-1947".

Mas Alwi Abdul Aziz, KH. Ridwan Abdullah, dan H. Hasan Gipo. Tegaskan bahwa mereka adalah motor penggerak murni pribumi

Kesaksian Orang Barat,

Adalah Prof. Benhard Dahm dalam bukunya "History of Indonesia in the twentieth Century" telah menjelaskan mengenai figur keulamaan Hadrotusyaikh KH Hasyim Asy'ari Tebuireng.

"At the same time as the traditional authorities declined in public estimation a new elite came into prominence the hajis and the kyais".

Sementara Peter Mansfield menggambarkan gerakan ilmiah yang dilakukan oleh KH Hasyim Asy'ari dan ulama lainnya dalam upaya menghadapi bahaya ekspansionisme Eropa, ia mengatakan.

"The burden of their calls was that they should unite in a great pan islamic movement to face the common danger of Europe pean expansionism".

Jadi dalam kesejarahan di awal abad 20, pergolakan yang tengah terjadi, dan pergulatan dalam upaya kebangkitan tanah air yang digerakkan oleh Hadrotusyaikh KH Hasyim Asy'ari mendapat sorotan dari para sejarawan Barat yang hidup sekurun dengan Hadrotusyaikh. Figur ulama besar tanah Jawa bahkan Nusantara umunya, ada pada sosok Hadrotusyaikh KH Hasyim Asy'ari.

Kesaksian Orang Barat tersebut kita pahami bahwa derajat Hadrotusyaikh KH Hasyim Asy'ari pasca meninggalnya syaikhona Kholil Bangkalan yang tertinggi dari sekian ulama yang ada di Nusantara, karena kealimannya, kesalehannya, akhlaqnya, dan spiritualitasnya.

Kita pun tentu tahu bahwa Hadrotusyaikh KH Hasyim Asy'ari adalah keturunan Kanjeng Sunan Giri, Syaikh Sayid Ainul Yaqin bin Syaikh Sayyid Maulana Ishak II, dan itu artinya Kanjeng Sunan Giri berdasarkan Naqob internasional tersambung pada jalur keturunan Saidina Hasan bin Sayyidah Fatimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rosulillah S.a.w.H

Hal ini menegaskan bahwa kepemimpinan Hadrotusyaikh bukan hanya sah secara keilmuan, tapi juga memiliki akar genealogis (nasab) yang suci, mandiri, dan berdaulat tanpa perlu legitimasi dari pihak asing


Kesimpulan,

Berdasarkan sejarah yang benar dan valid, bahkan sesuai bukti, informasi dari saksi sejarah berdirinya Jam'iyah Nahdlatul Ulama yaitu KH. As'ad Syamsul Arifin tidak disebutkan Habib siapapun dari marga manapun yang ikut mendirikan Jam'iyah Nahdlatul Ulama.


Referensi dan Daftar Pustaka

  • Martin van Bruinessen, dalam buku "NU: Tradisi, Relasi-relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru". Martin secara detail menyebutkan peran KH Wahab Hasbullah dan KH Hasyim Asy'ari tanpa menyebutkan keterlibatan habaib dalam proses penggagasan struktural awal.
  • Choirul Anam (Cak Anam), dalam buku "Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama". Ini kitab "wajib" sejarah NU. Di sana dijelaskan detail musyawarah di rumah KH. Ridwan Abdullah hingga Mas Alwi Abdul Aziz.
  • Ketetapan Muktamar NU ke-27 di Situbondo (1984). Saat itu, KH. As'ad Syamsul Arifin secara resmi menceritakan sejarah "Tongkat dan Tasbih" Syaikhona Kholil di hadapan ribuan muktamirin untuk menegaskan garis sanad berdirinya NU
  • L.W.C. van den Berg, dalam "Le Hadhramout et les Colonies Arabes dans l'Archipel Indien": Menjelaskan posisi sosial imigran Arab yang lebih banyak fokus pada perdagangan dan status sosial daripada pergerakan kemerdekaan pribumi.
  • Karel A. Steenbrink, dalam "Pesantren, Madrasah, Sekolah": Menegaskan bahwa NU adalah respon atas ancaman Wahabisme dan kebutuhan konsolidasi ulama pesantren tradisionalis pribumi


Minggu, 01 Oktober 2023

KESAKTIAN PANCASILA SEDANG DIUJI

Kesaktian Pancasila Sedang Diuji
Oleh: Muamar Anis

Pancasila-Muamar-Anis.jpg.

Indonesia adalah produk sebuah kontrak sosial yang disahkan berdasarkan prinsip kebhinekaan dan kesatuan, yaitu kebhinekaan agama, suku, budaya, aliran, bahasa, daerah dan lainnya; dan kesatuan sebagai sebuah bangsa dan negara.

Nasionalisme adalah paradigma yang mempertemukan semua perbedaan dalam sebuah tenunan yang indah dan luas. Indonesia adalah karya tenun yang dipersembahkan oleh para bijak awan, pahlawan, dan agamawan. Ia bukan lahir dari mitos dan folklor, namun lahir dari rasionalitas dan spiritualitas yang prima.

Pancasila:Antara Rasionalitas dan Spiritualitas

Pancasila memang bukan agama. Namun ia adalah sebuah gagasan yang menerjemahkan agama dalam sebuah platform yang menjadi bingkai sebuah bangsa yang bersepakat hidup bersama dalam satu institusi negara.

Pancasila telah dirancang dan ditetapkan dengan memperhatikan dan mempertimbangkan serta menghitung segala asumsi dan konsekuensi. Ia bukan hanya konsep yang dicetuskan berdasarkan konsensus namun juga diilhami oleh sentra-sentra spiritualitas yang sakral dan abadi

Pancasila adalah aksioma yang memadukan kearifan horisontal insani dan kekudusan vertikal rabbani. Karena itu, ketuhanan, yang merupakan puncak dan tujuan semua perilaku baik dan penghambaan, menempati posisi pertama di dalamnya. Tanpa sila pertama ini, prinsip-prinsip lain pada urutan setelahnya menjadi kehilangan pijakan dan tujuan.

    • Ekstremitas sikap dan gaya hidup
    • Tuhan-tuhan bertulang dalam fatwa

Kini Pancasila sedang diuji kesaktiannya. Kebhinekaan sedang menghadapi gangguan yang cukup serius. Konflik-konflik menjadi berita harian mulai dari konflik dan tawuran antar pelajar, antar pendukung klub sepakbola, antar penduduk desa dan kampung, antar massa pendukung calon bupati, antar suku hingga konflik antar elite kekuasaan.

Individualisme, tribalisme dan rasisme seiring dengan menyebarnya kapitalisme dan liberalisme agnostik mulai tumbuh bagai benalu yang perlahan-lahan menggerus sendi-sendi nasionalisme dan kebangsaan.

Di tengah kemelut dan kebingungan mencari jalan keluar, tiba-tiba bangsa yang sedang berjuang untuk bertahan ini diganggu dengan ekstremisme dan paham-paham yang secara nyata menentang kebhinekaan yang merupakan salah satu pilar utama bangsa dan negara ini.

Ekstremisme adalah akibat yang tak terelakkan dari melelehnya nasionalisme dan memudarnya kesadaran akan nilai dan arti kebhinekaan. Karena bukan merupakan gagasan logis dan metodis, ekstremisme tak selalu tampil dalam satu pola atau gerakan dan modus. Ia kadang muncul sebagai sebuah sikap personal, namun kadang pula muncul sebagai pilihan komunal. Ia kadang didesain oleh sekelompok orang yang menyimpan kepentingan dan tendensi negatif, kadang pula diyakini secara naïf sebagai kesalehan dan kualitas keimanan.

Ekstremitas biasanya mudah diterima terutama oleh individu-individu yang tak waspada dan memahami dampak serta efeknya. Ia mudah diterima karena cenderung meliburkan logika dan memakzulkan segala pertimbangan dan aturan, termasuk hak individu-individu yang tidak menerimanya.

Dari sinilah, ekstremitas berpeluang mengalami ekspansi makna. Ekstremitas keyakinan biasanya berproses menuju ekstremitas sikap dan gaya hidup.


Ekstremisme sikap biasanya menolak semua perbedaan, terutama dalam penafsiran terhadap doktrin agama. Bagi ekstremis, perbedaan muncul karena penyimpangan dari doktrin yang benar. Berbeda dalam memahami dan mengamalkan agama dianggap sebagai upaya menghancurkan dan menodai doktrin agama. Sejurus dengan itu, individu yang meyakini atau memilih doktrin yang berbeda dengan doktrin yang diyakini secara ekstrem sebagai kebenaran yang utuh dan mutlak, dianggap sebagai musuh, bahaya, ancaman dan perusak.

Ekstremisme berproses dalam pikiran penganutnya seperti narkoba yang terus merangsangnya menutupi kelemahan dalam sikap dengan cara yang ekstrem pula. Karena itu, ia memerlukan legitimasi dan dasar agar terus mengabaikan pertimbangan-pertimbangan dan nilai-nilai yang dianut di luar lingkarannya.

Pluralitas dan realitas yang menampilkan perbedaan dengan apa yang dianutnya akan membuat pengiman ekstremisme gamang dan mencoba untuk mengukur kebenaran doktrin yang dianutnya. Karena itu, sebelum menggoyahkan doktrin yang telah dianut secar ekstrem, ia harus membasminya dengan harapan perbedaan yang ada di hadapannya tidak lagi memancing pertanyaan tentang kebenaran doktrinnya.

Tak ayal lagi, diperlukan sebuah doktrin yang mampu memantapkan ekstremitas sikapnya sekaligus menjadi pembius kesadaran intelektualnya. Doktrin pemantapan ini haruslah kuat dan sebisa mungkin mampu menutup semua keraguan yang berseliweran dalam benaknya.

Dengan dasar doktrin itu, ia diharapkan menjadi tenang dan mencerabut naluri keingintahuan. Tidak hanya itu, ia bahkan bisa menambah poin kesalehannya bila menerapkannya secara ekstrem. Dengan doktrin ini, kekerasan bisa terlihat sebagai kesalehan, penindasan menjadi cara meraih pahala, pembunuhan, penjarahan, dan semua tindakan yang menurut standar di luar doktrin itu adalah kebiadaban, bisa dipastikan sebagai jalan pintas meraih kerelaan Tuhan.

Doktrin itu bukan undang-undang negara, bukan pula aksioma rasional, tapi dikemas dalam sebuah frase yang kudus. Fatwa sebutannya.

Ia terlanjur dipahami sebagai teks yang datang dari langit. Para pembuatnya juga sudah dianggap sebagai “tuhan-tuhan bertulang” yang tidak layak dipertanyakan apalagi ditentang.

Pendapat yang dikemas dengan kata “fatwa” bisa menimbulkan sebuah atau beberapa peristiwa. Ia sangat efektif untuk menciptakan sebuah aksi dan mengubah manusia yang lugu dan santun menjadi beringas dan sadis. Dengan satu kata “fatwa”, rumah-rumah bisa rata dengan bumi, anak-anak menggigil menangis tercekam takut dan wanita-wanita menjerit takut kehilangan kehormatan.

Hanya karena yang menerbitkan fatwa itu adalah orang-orang yang entah bagaimana prosesnya dianggap duplikat-duplikat Nabi, tiba-tiba parang, clurit dan semua sarana pemusnahan dihunus dan ditarik - tarikan dalam sebuah even kolosal pembantaian. Alasan peragaan seni kebencian itu cukup satu: “berbeda”!



“Berbeda” ditafsirkan secara ekstrem sebagai sinonim “sesat”. Sesat terlanjur direduksi sebagai “kehilangan hak menghirup udara”, manusia maupun ternaknya, rumah maupun ladang tembakaunya.

Untuk kesekian kalinya kesaktian Pancasila diuji… Semoga kesaktian Pancasila tidak hanya menjadi kalender tragedi Lubang Buaya dengan segala misteri dan distorsinya. Semoga ia tetap sakti menghadapi oligarki dan tirani atas nama mayoritas agama, aliran dan apapun yang akan menggergaji kebhinekaan, penyangga utama bangsa dan negara ini.


Daftar Referensi 

  • Madjid, Nurcholish. (1992). Islam, Doktrin, dan Peradaban: Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan, dan Kemodernan. Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina. (Sangat cocok untuk mendukung poin lu tentang Pancasila sebagai platform yang menerjemahkan agama dalam bingkai bangsa).
  • Armstrong, Karen. (2014). Fields of Blood: Religion and the History of Violence. Knopf. (Mendukung argumen lu bahwa kekerasan seringkali menggunakan kemasan "kudus" atau fatwa untuk melegitimasi tindakan biadab).
  • Hassan, Noorhaidi. (2006). Laskar Jihad: Islamism, Militancy, and the Quest for Identity in Post-New Order Indonesia. Cornell University Press. (Referensi kuat untuk fenomena ekstremisme dan konflik komunal yang lu singgung di tulisan).
  • Maarif, Ahmad Syafii. (2010). Radikalisme Keagamaan dan Ancaman Kebangsaan. Yogyakarta: PSAP. (Pas banget untuk bagian "Kesaktian Pancasila sedang diuji" oleh paham-paham yang menentang kebhinekaan).
  • Fromm, Erich. (1941). Escape from Freedom. Farrar & Rinehart. (Mendukung analisis psikologis lu bahwa individu menerima ekstremisme karena "meliburkan logika" demi rasa aman semu dalam kelompok).
  • Latif, Yudi. (2011). Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualisasi Pancasila. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Jumat, 25 Agustus 2023

Tantangan Dakwah NU di Era Digital dan Disrupsi Teknologi

Manhajiy di Tengah Simulakra: Rejuvenasi Epistemologi Dakwah NU di Abad Kedua
Oleh: Muamar Anis

Perspektif Epistemologi: "Manhajiy" sebagai Rasionalitas yang Hidup

Dakwah Nahdlatul Ulama (NU) tidak hanya dalam bidang keagamaan, tetapi sosial kemasyarakatan yang mencakup segala lini kehidupan manusia. Hal ini sesuai dengan definisi organisasi NU yaitu jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah. Peran keagamaan NU dengan prinsip Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, khususnya para ulama pesantren sejak dahulu memang mampu memberikan solusi konkret bagi problem kemasyarakatan dan kebangsaan.

Tradisi akademik dan tradisi keilmuan pesantren yang lekat dengan turats (kitab-kitab klasik atau kitab kuning) berbasis teks justru relevan dengan konteks zaman yang terus berubah. Tentu hal ini dipengaruhi oleh keterbukaan pemikiran dan pandangan (inklusivitas) yang dibarengi dengan kemajuan metodologi dalam upaya pengambilan hukum dalam Islam.

Banyak hal telah dilalui oleh jamaah dan jam’iyah NU, baik rintangan, tantangan, sejarah, program, jasa untuk umat, bangsa, dan negara hingga saat ini Indonesia masih menjadi satu kesatuan di tengah kemajemukan bangsa.

Bahkan, peran global yang sedari awal telah dibangun oleh KH Abdul Wahab Chasbullah melalui pengiriman delegasi bernama Komite Hijaz di Makkah turut memberikan inspirasi bagi Nahdliyin agar tidak terlepas dari problem dunia internasional. Setidaknya, peran NU yang mendunia itu tetap akan menjadi rel dan fondasi kokoh seperti terlihat dalam gambaran bola dunia di logo NU.

Saat ini, perubahan sosial semakin cepat. Hal ini berakibat problem yang ditimbulkan juga semakin kompleks sehingga dengan sendirinya, tantangan dakwah NU sebagai organisasi sosial keagamaan terbesar di dunia juga mempunyai pekerjaan rumah yang tidak mudah. Apalagi perubahan tersebut disertai kemajuan pesat teknologi informasi dan digital. Dunia dalam genggaman membentuk kampung global (global village).

Seluruh individu, komunitas, kelompok, organisasi, bangsa, dan negara di semua belahan dunia dapat mengakses informasi secara real time. Jarak bukan menjadi persoalan karena individu sudah terhubung satu sama lain secara digital. Bahkan di zaman pandemi Covid-19, masyarakat semakin intens dengan komunikasi, interaksi, dan pertemuan secara daring atau online untuk mencegah penularan wabah mematikan itu.

NU sedang melakukan "Rekonstruksi Epistemologis".Jika qauliy adalah bentuk penghormatan pada sejarah (masa lalu), maka manhajiy adalah bentuk keberanian akal untuk berdialog dengan masa depan. Ini sejalan dengan konsep Heidegger tentang Dasein (manusia yang mengada dalam waktu). NU tidak hanya "ada" di masa lalu, tapi "mengada" di era digital melalui metodologi yang dinamis.

Kondisi di mana masyarakat lebih banyak berada di rumah, pengajian online pun semakin menjadi primadona. Lebih banyak mengakses melalui YouTube sehingga tantangan dakwah NU secara digital tetap dapat mewarnai sikap dan pemikiran yang ramah terhadap kemajemukan bangsa Indonesia.

Kritik Post-Humanisme: Ruang Virtual vs Keintiman Spiritual

Dahulu tradisi menuntut ilmu harus didapat dengan mendatangi langsung seorang guru. Saat ini, dengan gadget di tangan, siapa pun bisa belajar lewat transformasi era digital berwujud media sosial, baik tulisan, video, gambar kartun, maupun gambar kutipan (meme). Bedanya, tradisi lama membentuk sekaligus mampu merawat jalinan masyarakat yang kuat dan kokoh secara keilmuan sehingga bisa membentuk budaya baru, sedangkan tradisi baru atau digital membentuk masyarakat virtual yang cenderung kurang humanis.

Namun, melihat realitas sosial saat ini, NU tidak terlalu takjub apalagi kaget. Sebab sedari awal, NU mempunyai prinsip al-muhafadzatu ‘alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah (menjaga nilai-nilai tradisi yang berguna buat umat dan mengambil secara selektif terhadap nilai-nilai baru yang lebih berguna untuk umat).

Di usia organisasi yang hampir mencapai satu abad, Nahdliyin juga dituntut mempunyai jiwa inovatif di segala lini kehidupan, tak terkecuali bidang sosial dan agama yang selama ini menjadi concern NU. Langkah inovatif ini harus berjalan terus menerus agar NU tetap menjadi subjek (fa’il/produsen), bukan objek (maf’ul/konsumen) di era disrupsi saat ini.

Era disrupsi memungkinkan individu melakukan kemajuan pesat, tetapi di sisi lain juga bisa mengalami kemunduran dalam waktu sekejap. Itulah disrupsi. Sehingga diperlukan inovasi terus menerus dalam menghadapinya.

Langkah itulah yang disebut Mustasyar PBNU KH Ma’ruf Amin dalam Peta Jalan NU Abad Kedua  (2018) sebagai prinsip al-ashlah ilaa ma huwal ashlah tsummal ashlah fal ashlah (innovative and continous improvement). Ini mirip dengan konsep Hegel tentang Aufheben—meniadakan yang lama tapi sekaligus mengangkat dan melestarikannya dalam level yang lebih tinggi.  NU tidak sekadar "ikut-ikutan" digital. NU melakukan "Sintesa" antara kekudusan teks kitab kuning dengan kecepatan bit digital. NU bukan korban disrupsi, tapi agen yang melakukan "Disrupsi Suci" (Holy Disruption) terhadap narasi radikal di internet.

Jadi, menjaga tradisi merupakan hal penting, mengadopsi dan selektif terhadap tradisi baru juga langkah yang tidak kalah penting, tetapi tetap berinovasi merupakan langkah yang sangat penting sehingga peran NU sebagai subjek akan konsisten atau istiqomah dalam keaktifan memberi manfaat (maslahah) untuk umat di seluruh dunia.

Konsep Islam Nusantara sebagai sebuah karakter dan tipologi Islam khas di Indonesia juga perlu terus digaungkan dalam menghadapi perubahan masyarakat dunia yang berjalan begitu cepat. Sebab, nilai-nilai Islam yang dikembangkan oleh para ulama Nusantara dengan jutaan khazanahnya selama ini mampu menginspirasi warga Muslim dunia untuk bisa adaptif dengan tradisi dan budaya lokal, di mana pun Muslim itu berada.

Dengan prinsip kemasyarakatan yang dikembangkan oleh NU seperti tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), i’tidal (tegak lurus/adil), dan amar ma’ruf nahi munkar (mengaja pada kebaikan dan mencegah kemungkaran) menjadikan Islam dapat diterima siapa saja. Alasan fundamental itulah yang menjadikan Islam dapat mudah diterima oleh masyarakat lokal Nusantara hingga saat ini Indonesia menjadi negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia.

Sebagai organisasi yang terus mentradisikan kitab-kitab ulama klasik dalam setiap pengambilan hukum, NU juga perlu istiqomah dengan tradisi Bahtsul Masail-nya. Pembahasan problem-problem aktual keagamaan dalam realitas sosial masyarakat itu selama ini mampu memberikan solusi konkret dalam menjawab perubahan zaman. Artinya, tradisi Bahtsul Masail merupakan salah satu fondasi penting dan kebutuhan pokok dalam menjawab problem keagamaan dan sosial di tengah masyarakat digital.

Dalam hal ini, semangat hasil Munas Alim Ulama di Lampung 1992 perlu menjadi rujukan, yakni prinsip istinbath jama’iy untuk menghadapi berbagai dinamika masyarakat yang berubah secara cepat. Jika di abad pertama NU telah membuktikan kecerdasan ijtihadnya untuk mempertemukan paham keagamaan dengan paham kebangsaan yang kemudian melahirkan ideologi Pancasila dan NKRI sebagai sebuah konsep kenegaraan yang sudah final secara hukum agama, maka tantangan NU di abad kedua akan menghadapi hiruk-pikuk perubahan sehingga istinbath jama’iy perlu terus dilakukan.

Istinbath jama’iy ini metode pengambilan hukum secara kolektif dengan menyandarkan diri kepada berbagai pendapat para ulama mazhab. Salah satu poin penting dari keputusan Munas Lampung tersebut ialah pengembangan pengambilan hukum dari secara qauliy (pendapat ulama) ke manhajiy (metodologis).

Metode qauliy mengharuskan pengambilan hukum jika ada pendapat ulama yang menjelaskan. Konsekuensinya, jika pendapat ulama tersebut tidak ada dalam kitab mana pun, maka sebuah hukum tidak bisa diputuskan alias mauquf. Dampak dari metode ini, NU tidak bisa merespon perubahan zaman secara cepat. Maka dari itu, diambillah metode manhajiy yang dititikberatkan kepada metodologi pengambilan hukum. Manhajiy ini yang paling relevan, sebab meskipun pendapat ulama secara sharih tidak ada, namun hukum tetap bisa diputuskan secara metodologis sehingga NU bisa terus merespons perubahan secara cepat pula.

Sebagai jamaah dan jam’iyah yang telah diakui kebesaran dan perannya, menuntut warga NU secara umum untuk tidak jumawa. Karena perubahan dan tantangan ke depan justru makin tidak mudah. Tetapi sejarah panjang NU dalam menghadapi setiap perubahan zaman menjadi modal penting untuk tetap membersamai rakyat Indonesia, terutama masyarakat miskin dan kaum dhuafa.

Wallahu a’lam bisshawab.

Referensi

  • Baudrillard, J. (1981). Simulacra and Simulation. (Untuk kritik masyarakat virtual).
  • Al-Jabiri, Abed. (1991). Takwin al-Aql al-Arabi. (Sangat relevan untuk bahas nalar bayani/tekstual vs nalar burhani/rasional dalam manhaj NU).
  • Muamar Anis

Beyond the Nausea: Sartre and Nietzsche at the Kaaba – Finding Existence in the Ultimate Prostration

  Beyond the Nausea: Sartre and Nietzsche at the Kaaba – Finding Existence in the Ultimate Prostration Oleh: Muamar Anis Nietzsche and Sartr...