Tampilkan postingan dengan label Al-Mawardi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Mawardi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Januari 2026

Geometri Langit dalam Al-Fatihah: Membedah Arsy Kekuasaan yang Melampaui Siasat Pragmatis Machiavelli

Geometri Langit dalam Al-Fatihah: Membedah Arsy Kekuasaan yang Melampaui Siasat Pragmatis Machiavelli

Oleh: Muamar Anis


Geometri Langit-Muamar Anis. Jpg


​Di Syuis Simulakra, kita telah menelanjangi dasar-dasar manajemen kekuasaan Niccolo Machiavelli. Namun di sini, di Warung Mysticism, kita melangkah lebih jauh ke dalam lorong esoteris. Kita tidak lagi bicara soal menang-kalah, melainkan posisi seorang pemimpin dalam arsitektur alam semesta. Jika Machiavelli membedah anatomi kekuasaan dari sudut pandang horisontal—manusia dengan manusia—maka Al-Fatihah menawarkan sebuah Geometri Langit: sebuah jalur vertikal yang menghubungkan ambisi seorang 'Pangeran' dengan kehendak Sang Penguasa Mutlak.

Akar Pesimisme: Kegagalan Machiavelli Membaca Fitrah

Nasihat Machiavelli kepada Lorenzo de' Medici lahir dari rahim kekecewaan. Ia melihat Eropa yang koyak dan menyimpulkan secara prematur bahwa 'manusia selalu condong pada keburukan'. Karena kesimpulan gelap inilah, ia menyarankan makar dan pengabaian moral sebagai alat efektivitas kekuasaan.

Baca Juga: Niccolo Machiavelli Belajar Tafsir Al-Fatihah


Machiavelli. Muamar Anis. Jpg

​Padahal, jika kita hadapkan pada filosof kontrak sosial seperti Thomas Hobbes, John Locke, hingga Rousseau, kekuasaan seharusnya sejalan dengan hukum alam dan aspirasi rakyat. Mereka menegaskan bahwa rakyat berhak memberontak jika penguasa keluar dari jalur aspirasi tersebut. Namun, Machiavelli memilih jalan sunyi yang jauh dari etika. Di sinilah letak cacat logikanya: ia menjadikan anomali perilaku sebagai pondasi teori, bukan fitrah kesucian manusia sebagai pijakan.

Refleksi Sejarah: Siyasah yang Membelah Umat

Sejarah mencatat, politikus Islam ulung sekelas Amr bin Ash—yang fasih Al-Qur'an—pun terjebak dalam pragmatisme serupa. Tragedi Tahkim adalah bukti nyata bagaimana politik sanggup melahirkan sekte-sekte awal dalam Islam. Seperti kata Imam Asy-Syahrastani dalam kitab Al-Milal wa al-Nihal, benih perpecahan bukan lahir dari teologi murni, melainkan dari syahwat politik (Siyasah). Saat agama hanya dijadikan instrumen kekuasaan, ia kehilangan fungsi As-Syifa (obat) dan berubah menjadi pembenaran konflik.

Al-Ghazali & Al-Mawardi: Politik sebagai Khidmat Batin

Sangat kontradiktif jika kita membandingkan Machiavelli dengan Imam Al-Ghazali. Dalam At-Tibru al-Masbuk fi Nasihati al-Mulk, Al-Ghazali menegaskan bahwa akhlak adalah inti dari praktik politik. Politik tanpa akhlak hanyalah bangkai.

​Senada dengan itu, Al-Mawardi dalam Tashil an-Natzr memberikan nasihat yang jauh lebih manusiawi: seorang penguasa wajib memeriksa keadaan rakyatnya dengan sikap amanah dan ikhlas. Al-Mawardi melihat politik sebagai hubungan alami antarmanusia, bukan medan pertempuran kelicikan. Nasihat ini lebih dekat dengan fitrah manusia daripada teori The Prince yang dingin dan kaku.

Vibrasi Al-Fatihah: Audit Energi di Balik Takhta

Dalam tradisi esoteris, Al-Fatihah adalah Asasul Qur’an (fondasi) dan Al-Kanzu (perbendaharaan). Ia bekerja sebagai penawar bagi penyakit kekuasaan:

  1. Vibrasi Ar-Rahman vs Kalkulasi Pragmatis: Machiavelli memuja strategi, namun mistisisme mengenal Vibrasi Kasih. Pemimpin yang selaras dengan Ar-Rahman menjadi magnet kedamaian tanpa perlu pencitraan buatan.
  2. Maliki Yaumiddin: Audit Energi: Seperti terekam dalam kitab Madarij as-Su’ud karya Syeikh Nawawi Al-Bantani, pemandangan Mi’raj memperlihatkan Nabi Adam as. menangis saat menoleh ke kiri—melihat beban dosa anak cucunya. Maliki Yaumiddin adalah pengingat bahwa setiap kebijakan yang menindas akan menjadi beban metafisika yang terus mengalir meski sang penguasa sudah tertanam tanah.
  3. Ihdinash Shiraathal Mustaqiim: Jalur vertikal menuju titik nol keseimbangan. Titik di mana seorang penguasa menjalankan amanah tanpa sedikit pun rasa memiliki.

Penutup: Batas Fitrah Manusia

Ingatlah, sehebat-hebatnya seorang Atheis mencoba ingkar, ia tidak akan sanggup bertahan lebih dari 70 tahun dalam penyangkalannya, karena ia takkan mampu melawan jeritan fitrahnya sendiri sebagai manusia. Begitu pun dengan sistem Machiavelli..."


Referensi Kitab & Tokoh:

  • Imam Asy-SyahrastaniAl-Milal wa al-Nihal
  • Syeikh Nawawi Al-BantaniMadarij as-Su'ud
  • Imam Al-GhazaliAt-Tibru al-Masbuk fi Nasihati al-Mulk
  • Al-MawardiTashil an-Natzr
  • Thomas Hobbes, John Locke, J.J. RousseauSocial Contract Theories
  • Niccolo MachiavelliIl Principe (The Prince)




Beyond the Nausea: Sartre and Nietzsche at the Kaaba – Finding Existence in the Ultimate Prostration

  Beyond the Nausea: Sartre and Nietzsche at the Kaaba – Finding Existence in the Ultimate Prostration Oleh: Muamar Anis Nietzsche and Sartr...