Di Balik Sihir Kertas dan Obsesi Ubermensch: Menemukan Kembali Insan Kamil di Tengah Dehumanisasi
Oleh: Muamar Anis
![]() |
| Nietzsche. Jpg. |
Secarik Kertas dan Robot-Robot Bernafas
Setelah kemarin di Warung membahas "Nietzsche Masuk Pesantren", pandangan saya tertuju pada seorang sahabat di pojok meja. Ia mengeluarkan uang kertas yang dilipat sekecil mungkin, terselip di saku celananya yang kucel, tampak susah payah ia mengeluarkannya.
Saya mendadak teringat sejarah seribu tahun lalu. Dulu, seorang pedagang teh bernama Zhang Wei berdiri di tepi Sungai Min, Sichuan. Di tangannya ada Jiaozi—selembar kertas tipis dengan lukisan rumit bernilai seribu koin tembaga. Tanpa Zhang Wei sadari, selembar kertas itu adalah "janji" yang kelak berevolusi menjadi sihir moneter modern yang mendominasi dunia.
Bayangkan, dulu 1 gram emas hanya Rp2, kini melonjak sejuta lebih. Namun, keresahan ini bukan cuma soal dompet yang menipis, melainkan Keterasingan Spiritual. Modernisme telah membawa kita pada titik dehumanisasi. Manusia hanya dianggap sekrup dalam mesin industri, menjadi asing bagi dirinya sendiri, sesama, bahkan bagi Sang Pencipta.
Ubermensch—Antara Permen Nietzsche dan Peluru Hitler
Puncak dehumanisasi ini bermuara pada obsesi kekuasaan. Friedrich Nietzsche melahirkan konsep Ubermensch—Manusia Unggul yang berdaulat atas dirinya sendiri. Namun, sejarah mencatat pengkhianatan intelektual yang mengerikan oleh saudara perempuannya sendiri, Elizabeth Förster-Nietzsche.
![]() |
| Elizabeth Förster-Nietzsche.Muamaranis.Jpg |
Elizabeth memanipulasi karya saudaranya, menciptakan buku The Will to Power, dan menahan penerbitan Ecce Homo. Lewat tangan Elizabeth-lah, pemikiran Nietzsche yang asli—yang sebenarnya adalah sosok pria ramah pembagi permen bagi anak-anak—dipelintir menjadi alat propaganda Nazi. Hitler menggunakan istilah ini untuk melegitimasi "Ras Arya" dan menyingkirkan mereka yang dianggap lemah (Untermenschen). Inilah bahaya ketika manusia merasa menjadi "tuhan" tanpa panduan moral ketuhanan: mereka tidak membangun peradaban, melainkan menghancurkan kemanusiaan.
Rekonstruksi Iqbal dan Penawar Perenialisme
Sebagai penawar racun, kita harus menoleh pada Sir Muhammad Iqbal. Dalam The Reconstruction of Religious Thought in Islam, Iqbal menyerukan Ijtihad untuk membangunkan umat dari fatalisme. Insan Kamil versi Iqbal bukanlah penindas, melainkan sosok Ulul Albab yang memperkuat Khudi (Kedirian) untuk menjadi mitra Tuhan dalam memperbaiki dunia.
Melengkapi itu, Seyyed Hossein Nasr melalui perspektif Perenialisme mengingatkan bahwa manusia modern adalah "manusia yang lupa". Kita butuh kembali ke Tradisi Suci untuk menyembuhkan luka keterasingan ini. Jika modernisme memutus hubungan kita dengan langit, maka Perenialisme mengajak kita menemukan kembali kesakralan hidup di tengah gempuran materi.
Suara dari Meja Warung
Kembali ke meja warung, kita sadar bahwa melawan dehumanisasi dimulai dari akal budi. Kita bukan robot, bukan sekadar angka inflasi. Perlawanan ini adalah tentang menjaga kewarasan dan ruhaniah di tengah sistem yang dingin.u
Author’s Note for My Global Readers:
This article is part of a larger philosophical journey. Before we deconstructed the "monetary magic" and the distortion of the Ubermensch here, I invited Nietzsche to a sacred space to find his "Divine Spring." To understand the spiritual foundation of this critique, I invite you to read the preceding chapter:
👉 [Nietzsche Masuk Pesantren: Saat Sang Ubermensch Bertemu Mata Air Ilahi]https://muamaranis.blogspot.com/2026/01/nietzsche-masuk-pesantren-saat-sang.html
A bridge between the radical ego and the ultimate surrender.
"Nietzsche itu sebenarnya filsuf yang baik dan ramah, yang suka membagikan permen kepada anak-anak. Namun di tangan penguasa yang mabuk, permen itu diganti menjadi peluru, dan nalar diubah menjadi sihir kertas yang membunuh jiwa secara perlahan." > — Muamar Anis
"Bahwa modernisme makin membawa manusia dalam keterasingan spiritual sudah ditengarai sedari awal. Munculnya tesis postmodernisme adalah realitas jawaban atas dehumanisasi yang kita alami hari ini." > — Samsul Ma'arif
Referensi Kajian:
- Nietzsche, Friedrich. Thus Spoke Zarathustra & Ecce Homo.
- Iqbal, Muhammad. The Reconstruction of Religious Thought in Islam.
- Nasr, Seyyed Hossein. Knowledge and the Sacred & Man and Nature.
- Sejarah Moneter: Sejarah Jiaozi Dinasti Song (Sichuan, Tiongkok).

