Minggu, 25 Januari 2026

Menelusuri Jejak Nalar: Dari Paper Akademik hingga Kontemplasi Digital

 

Jejak Nalar. Muamar Anis. Jpg.


Saluran pemikiran tidak boleh berhenti di satu titik. Sejak bergabung di dunia akademik digital pada Mei 2014, saya telah membagikan berbagai riset yang kini telah dibaca lebih dari 2.400 kali oleh publik.

​Salah satu karya yang paling banyak mendapat respon adalah paper mengenai "SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM". Menariknya, baru-baru ini pihak Academia bahkan mengonversi riset tersebut ke dalam bentuk video agar lebih mudah dipahami oleh audiens yang lebih luas.

​Melalui blog MISTISCISM FILS ini, saya ingin membawa semangat riset tersebut ke dalam ruang yang lebih santai namun tetap mendalam. Perpaduan antara nalar sejarah dan kedalaman tasawuf adalah kunci untuk memahami realitas kita saat ini.

​Bagi teman-teman yang ingin meninjau karya ilmiah saya secara lengkap, silakan kunjungi profil saya di:

[https://independent.academia.edu/MuamarAnis]

Jumat, 04 Oktober 2024

Plotinus: Estetika "Cahaya" dari Timur dan Kegagalan Logika Aristoteles


Plotinus: Estetika "Cahaya" dari Timur dan Kegagalan Logika Aristoteles

Oleh:Muamar Anis 


Estetika. Muamar anis. Jpg

Pendahuluan: Filosof Timur dalam Jubah Barat

          Dalam sejarah filsafat Yunani, terdapat seorang filosof dari Timur namun sering diaku sebagai filosof Barat. Ia adalah Plotinus. Pemikiran filsafatnya sangat berpengaruh baik dalam tradisi filsafat Eropa maupun Islam. Di antara pemikiran filsafatnya yang relevan berkenaan dengan estetika dan filsafat seni. Plotinus dilahirkan di  kota Lise,  Mesir pada tahun 205 M dan wafat pada tahun 270 M. Setengah sarjana memandangnya sebagai penerus ajaran Plato, sebagian lagi memandang pemikiran filsafatnya  sebagai penghubung antara tradisi Falsafah Yunani dan tradisi Abad Pertengahan Eropa.  Yang kurang disinggung ialah betapa pemikiran filsafatnya memiliki kaitan dengan pemikiran filsafat Persia dan India.


         Sebagai seorang sarjana, Plotinus mula-mula tertarik kepada filsafat   setelah mempelajari pemikiran Ammonius Saccas yang mengajar di Akademi Iskandariah. Dahaganya kepada kebenaran filosofis mendorongnya meninggalkan Mesir, kemudian mengembara ke Suriah, Iraq dan Persia (Iran). Setelah lama menuntut ilmu di Suriah dan Persia, Plotinus pergi Byzantium, yaitu Turki sekarang ini. Dari sini pada tahun 245 M Plotinus pindah ke Roma dan mendirikan madzab filsafat tersendiri. Aliran filsafatnya disebut Neo-platonisme. Melalui pemikiran filsafatnya ini pengaruh falsafah Timur (India dan Persia) tersebar dan mempengaruhi banyak filosof  di Eropa. Salah satu perantara pemikiran Plotinus yang bercorak ketimuran dengan filsafat Eropa adalah filosof Kristen. Di antara aliran filsafat Timur dan pemikiran Persia (Zoroaster) yang berpengaruh ialah apa yang disebut gnostisisme dan apokaliptisisme.


        Kembali ke Plotinus, karyanya   yang masyhur ialah  Enneads. Buku ini terdiri dari 6 jilid, berisi 54 esai tentang filsafat. Dalam bukunya inilah kita jumpai pemikiran Plotinus tentang estetika/filsafat keindahan dan seni. Menurut Plotinus, keindahan terdapat pada banyak benda atau obyek pengamatan indera. Obyek paling nyata memancarkan keindahan ialah yang  dapat diiendera mata, dicerap pendengaran seperti ritme, musik dan irama, atau kata-kata yang disusun dengan cara tertentu serta berirama pengucapannya seperti puisi, retorika atau khotbah.


        Akal pikiran juga dapat merasakan keindahan yang tidak terdapat di alam benda. Misalnya keindahan berkenaan pola hidup, pandangan hidup, cara berpikir atau tindakan intelektual. Keindahan juga dapat dirasakan atau dinikmati melalui kearifan, kebijakan dan kebajikan moral seseorang. Bagi Plotinus persoalannya ialah apa yang membuat sesuatu itu dapat diangap indah? Apakah unsur  indah itu memperlihatkan dirinya sendiri pada obyek atau melalui sesuatu yang lain, atau disebabkan pengamatan jiwa kita?


Pukulan Telak buat Aristoteles: Mengapa Keseimbangan Itu Palsu?

        Plotinus menolak keseimbangan sebagai ciri yang mesti ada pada keindahan sebagaimana dikatakan Aristoteles. Keseimbangan hanya tampak apabila bagian dibandingkan dengan bagian lain. Benda yang bersahaja tidak memiliki bagian yang dapat dibandingkan dan dengan demikian tidak memiliki keindahan apabila ukuran keindahan adalah keseimbangan. Keseimbangan hanya ada pada obyek-obyek yang memiliki lebih dari satu atau banyak bagian atau banyak komponen seperti sebuah gedung yang bagus beserta tamannya. Atau pada diri seekor kuda yang proporsi tubuhnya sempurna, larinya kencang dan perkasa, dengan bulu bagus serta mengkilat. Nyatanya keindahan sebuah obyek yang komponen atau bagian-bagiannya kompleks itu nampak kepada kita bukan semata disebabkan keseimbangan, tetapi kepaduannya dalam arti bagian yang satu dengan bagian yang lain menjalin kesatuan yang sempurna untuk ukuran sesuatu obyek.


Jika keindahan hanyalah soal proporsi simetris, maka bagaimana kita menjelaskan keindahan bintang yang hanya berupa titik, atau keindahan jiwa seorang guru yang tak terlihat bentuk fisiknya?”


Selanjutnya Plotinus berpendapat bahwa keindahan hanya terwujud apabila obyek-obyek atau sesuatu dapat menggerakkan jiwa dan pikiran, apakah sesuatu itu obyek-obyek bersahaja atau kompleks susunannya.  Setelah jiwa bergerak maka jiwa akan naik menghubungkan dirinya dengan Yang Maha Kudus.  Keindahan obyek-obyek yang dapat dicerap indera membuat jiwa atau mata hati seseorang akrab dan merasa seolah-olah telah lama mengenal keindahan serupa itu. Keindahan yang demikian membuat seseorang  bersatu dengannya atau hanyut dalam keindahan tersebut.


Dalam teori keindahan Plotinus ide utama ialah  kontemplasi (renungan) dan penglihatan batin. Pengalaman estetik yang tertinggi bersumber dari renungan dan penglihatan batin. Seperti Plato, Plotinus mengaitkan renungan dengan sesuatu yang berada di atas jangkauan indera, misalnya keindahan menuntut ilmu, keadilan, kearifan dan kebenaran. Sarana untuk mencerap keindahan tersebut dapat ditemui dalam obyek-obyek yang dicerap melalui indera. Misalnya seorang ahli botani yang meneliti tanaman tertentu, pertama-tama adalah melalui pengamatan inderanya (empiris), baru menggerakkan pikiran dan jiwanya untuk menemukan pengetahuan dari tanaman yang ditelitinya.


Teori Plotinus mempengaruhi estetika modern. Kata-kata estetika diperkenalkan di dunia modern pada pertengahan abad ke-18 M oleh filosof rasionalis Baumgarten. Segala sesuatu yang bisa diamati indrera disebut sebagai obyek estetika. Ciri obyek yang paling mempengaruhi jiwa manusia sehingga terpesona ialah keindahan yang memancar dari bentuk dan keseluruhan unsure-unsur estetiknya.


Menurut Plotinus keindahan yang timbul dari adanya kesatuan dalam sesuatu obyek merupakan cermin kesatuan dari Yang Maha Esa. Kesatuan pada benda bersahaja bersifat homogen, seragam. Misalnya warna hijau atau kuning, atau keindahan sebuah batu di halaman rumah. Sedangkan kesatuan  obyek-obyek yang susunannya kompleks bersifat heterogen, berbagai-bagai. Keindahan obyek yang susunannya kompleks seperti keindahan sebuah lukisan bersegi-segi dan tidak tunggal.

Teori Emanasi: Tangga Menuju "Yang Maha Indah

Bagi Plotinus, keindahan yang tinggi tak punya bentuk. Misalnya keindahan menuntut ilmu atau pribadi seseorang. Keindahan yang diperoleh dari dua hal tersebut di antaranya ialah perasaan bahagia, rasa ingin tahu yang mendalam dan takjub. Semua itu timbul karena dapat membawa kita menuju kebenaran yang tinggi. Di sini Plotinus membuat kerangka teori keindahan yang berperingkat dari keindahan alam inderawi ke tahap keindahan yang lebih tinggi, yaitu kebenaran – yang dapat dicerap melalui renungan dan penelitian yang mendalam atas sesuatu.

  • Proses Turun: Keindahan memancar dari The One (Yang Esa) ke Nous (Akal), lalu ke Psyche (Jiwa), baru berakhir di materi.
  • Proses Naik: Manusia melihat benda indah (materi) \rightarrow jiwanya ingat pada keindahan sejati \rightarrow naik menuju Akal \rightarrow sampai ke titik Puncak.


Jembatan ke Al-Ghazali: Estetika sebagai Ibadah

Kendati demikian ia beranggapan bahwa keindahan alam inderawi merupakan jalan menuju kebenaran. Jika kita melihat sebuah lukisan, maka sebenarnya kita akan mengingat kembali keindahan abadi di maa kita dahulu berasal. Ruang dan waktu yang abadi adalah tempat tinggal ini. Konsep seni Islam dipengaruhi terutama oleh pemikiran Plotinus, melalui perantaraan Imam al-Ghazali. Pemikiran estetika Imam al-Ghazali adalah penyempurnaan dari estetika Plotinus.


Ingin tahu lebih jauh tentang ini, silahkan kunjungi:

https://syuissimulacra.blogspot.com/2013/09/pemikiran-plotinus-tentang-estetika-dan.html?m=1


Menurut Plotinus lagi,  keindahan alam inderawi dapat membawa kita ke arah yang berlawanan, yaitu apabila kenikmatan yang diperoleh darinya dicemari kedukaan dan hawa nafsu, sehingga membuat jauh dari kebenaran. Misalnya lelaki melihat seorang wanita cantik yang berpakaian minim. Tetapi yang bangkit adalah nafsu berahinya dan melupakan hal-hal lain yang indah pada wanita itu. Agar kita terhindar dari kecenderungan itu, dalam melihat atau mengalami keindahan, jiwa kita sendiri perlu dijadikan indah dan suci. Caranya ialah dengan merenung dan melihat ke dalam jiwa kita sendiri. Jika belum sempurna hendaknya diperbaiki sehingga diri kita bersinar-sinar dengan kebajikan dan kemuliaan.

Estetika Al-Ghazali: Sang Penyempurna

Islam (lewat Al-Ghazali) tidak hanya cuma menelan mentah-mentah, tapi mensucikan konsep itu lewat tauhid. Indah itu bukan "milik" benda, tapi "titipan" dari Al-Jamil (Yang Maha Indah).


Pada akhirnya, keindahan bukan tentang seberapa mahal 'jas dan dasi' yang dipakai seorang badut, tapi seberapa jernih cermin jiwanya dalam memantulkan Cahaya Yang Esa. Tanpa pembersihan jiwa (Tazkiyatun Nafs), seni hanyalah simulakra—kepalsuan yang tidak pernah napak tanah."


Referensi

  • Plotinus: The Enneads (Terutama jilid I, bagian 6 tentang "On Beauty" dan jilid V tentang "The Three Initial Hypostases").
  • Imam Al-Ghazali: Ihya Ulumuddin (Kitab Al-Mahabbah tentang tingkatan keindahan) dan Misykat al-Anwar (Niche of Lights) untuk kaitan cahaya Plotinian.
  • Baumgarten, A. G.: Aesthetica (1750) — Sebagai pembanding kemunculan istilah estetika modern.
  • Ekspedisi Gordian III (242-244 M): Plotinus ikut serta dalam serangan Romawi ke Persia bukan untuk berperang, tapi untuk belajar filsafat Magi (Zoroaster) dan India. Ini bukti otentik pengembaraan intelektualnya.
  • Porphyry: Life of Plotinus — Biografi yang ditulis muridnya, yang menceritakan ketertarikan Plotinus pada hikmah-hikmah Timur.
  • Filsafat Ishraq (Suhrawardi): Lu bisa jadikan ini referensi pembanding, bahwa konsep "Cahaya" Plotinus meledak kembali di tangan Syekh Al-Ishraq.
  • Sejarah Militer: Ekspedisi Gordian III (242-244 M) sebagai bukti otentik Plotinus belajar filsafat Magi (Zoroaster) dan India.
  • Komparasi: Filsafat Ishraq (Suhrawardi) tentang konsep Cahaya.
  • Sanad Penulis: Dikembangkan dari naskah asli Muamar Anis (2013), yang kembali disempurnakan untuk diskursus estetika kontemporer pada Oktober 2024.


Sabtu, 27 Juli 2024

Dekonstruksi Sejarah Lahirnya Nahdlatul Ulama: Mandat Syaikhona vs Klaim Imigran


Dekonstruksi Sejarah Lahirnya Nahdlatul Ulama: Mandat Syaikhona vs Klaim Imigran

Oleh Muamar Anis




Latar Masalah

memperhatikan isi ceramah dari seorang habib yang menjelaskan sejarah didirikannya NU dengan mengaitkan peran Habib Muhammad bin Ahmad al-Mukhdor Bondowoso, sang habib dari Hadramaut Yaman yang hijrah ke Nusantara dan meninggal pada 4 Mei 1926 setelah tiga bulan Jam'iyah Nahdlatul Ulama didirikan pada 31 Januari 1926.

Oknum Habib itu dengan jelas mengatakan bahwa "Habib Muhammad bin Ahmad al-Mukhdor adalah pencetus dan penggagas Nahdlatul Ulama, menunjuk KH Hasyim Asy'ari untuk jadi ketua Nahdlatul ulama, karena al-Habib Muhammad bin Ahmad al-Mukhdor adalah orang Arab, orang luar asing yang oleh Belanda tidak diperbolehkan mendirikan firqoh atau perkumpulan" lalu oknum Habib itu juga mengatakan bahwa "KH. Hasyim Asy'ari awalnya menolak karena hormatnya pada para habaib, hingga tiga kali diminta baru beliau mau jadi ketua NU".


Analisa Sejarah

Habib Muhammad bin Ahmad al-Mukhdor seorang menantu dari Habib Muhammad Idrus al-Habsy adalah imigran Yaman datang ke Indonesia dan tinggal di Bondowoso, ia lahir 1859 Masehi di Quwaireh Hadramaut, Yaman dan wafat di Bondowoso pada 4 Mei 1926 dan dimakamkan di Surabaya samping mertuanya Habib Idrus al-Habsy.

Umumnya habib yang dari Yaman itu adalah berasal dari sadah Ba'Alwi, mereka mukim di Indonesia dan berkegiatan dagang juga berdakwah, itu berlangsung dari awal abad 19 Masehi hingga sampai berakhirnya masa penjajahan Belanda. Mereka ada yang tinggal di Kwitang Jakarta, ada juga yang bermukim di Surabaya dan beberapa daerah di Indonesia.

Sementara Ulama pesantren di Jawa berkegiatan mengajar ilmu-ilmu agama Islam, hingga dikatakan ulama karena kealimannya, rerata ulama tersebut sebagian mesantren di Mekkah Al-Mukarramah di bawah bimbingan masyayikh, muallifin dan mushonifin terutama mengaji di bawah bimbingan Sayyid ulama Hijaz Syaikh Nawawi al-Bantani dan Syaikh Mahfudz Termas, Syaikh Hatib Minangkabau.

fakta menunjukkan bahwa fokus pergerakan Ulama Pesantren dan imigran Yaman sangat berbeda; Ulama Pesantren bergerak pada akar rumput perjuangan bangsa, sementara kelompok imigran lebih pada urusan komunitas mereka sendiri."

Era penjajahan yang terpikirkan kemungkinan besarnya adalah bagaimana hidup, bagaimana ibadah, karena itu sedikit yang bicara soal kesadaran kebangkitan, hanya sedikit yang memikirkan nasib tanah airnya. Lahirnya Boedi Oetomo 1908 oleh kaum aristokrat seperti Dr. Wahidin Sudirohusodo, dr. Cipto Mangunkusumo adalah sekian kecil dari para bangsawan Jawa yang tergugah untuk melakukan sikap perlawanan atas penjajah.

Lahirnya SDI juga karena melihat ketidakadilan, pendirinya yakni Husni Thamrin dan H.O.S Cokroaminoto, H. Agus Salim beberapa tokoh yang memiliki sense of responsibilities karena sudah muak melihat aturan kolonial yang berakibat meningkatnya kesengsaraan kaum pribumi.

Semua perkumpulan atau perserikatan yang didirikan kaum pribumi merupakan antiklimaks dari sikap perlawanan pribumi untuk mengusir penjajah Belanda, lain tujuan itu sama sekali tidak, muaranya adalah bagaimana caranya mengusir penjajah.

Benang merahnya antara lain, 

Klaim yang menyebut bahwa NU didirikan atas instruksi atau gagasan imigran Yaman (Habaib) adalah distorsi sejarah yang fatal. Fakta sosiologis menunjukkan bahwa pada masa kolonial, kelompok imigran Arab (khususnya Ba'Alawi) diberikan status khusus oleh Belanda sebagai Vreemde Oosterlingen (Timur Asing). Mereka ditempatkan di kampung-kampung Arab khusus dengan pengawasan Kapitein der Arabieren.

​Secara politis, banyak dari kalangan ini yang justru memiliki hubungan "aman" dengan pemerintah kolonial. Snouck Hurgronje, penasihat urusan Islam pemerintah Hindia Belanda, dalam surat-suratnya (lihat: Ambtelijke Adviezen van C. Snouck Hurgronje) justru menyarankan Belanda untuk merangkul para sayyid agar bisa meredam potensi pemberontakan kaum pribumi yang fanatik. Jadi, argumen bahwa mereka "takut mendirikan organisasi karena status warga asing" adalah kebohongan publik; nyatanya Jamiat Kheir (1901) dan Rabithah Alawiyah (1928) berdiri tanpa hambatan berarti dari Belanda.


Sejarah Lahirnya NU, 

Menurut KH. As'ad Syamsul Arifin, ulama NU yang kharismatik dari Asembagus Situbondo yang juga adalah saksi sejarah lahirnya Jam'iyah Nahdlatul Ulama telah menceritakan", Kira-kira tahun 1920, waktu saya ada di Bangkalan Madura, di pondok Kiai Kholil. Adalah Kiai Muntaha Jengkebuan menantu Kiai Kholil, mengundang tamu para ulama dari seluruh Indonesia. Secara bersamaan tidak dengan berjanji datang bersama, sejumlah sekitar 66 ulama dari seluruh Indonesia, masing masing-masing ulama melaporkan, dengan kata-kata bagaimana kiai Muntaha? tolong sampaikan kepada Kiai Kholil, saya tidak berani menyampaikannya, ini semua sudah berniat untuk sowan kepada Hadrotusyaikh, tidak ada yang berani kalau bukan anda yang menyampaikannya".

Di luar dugaan, ketika Kiai Muntaha hendak menghadap kepada Kiai Kholil di Bangkalan, tiba-tiba kiai Muntaha dan 66 orang kiai itu didatangi oleh Kiai Nasib, suruhan Kiai Kholil dengan menyampaikan ayat yang ke 32 dari al-Quran surat al-Taubat.

Semua dibuat tercengang karena Kiai Kholil justru sudah tahu maksud mereka mau sowan kepadanya, hingga 66 kiai yang di jungkeban tidak jadi sowan kepada Kiai Kholil di Bangkalan, karena mereka sudah puas ada jawaban ayat yang disampaikan oleh kiai Nasib, atas perintah Kiai Kholil.

Pada ahun 1921, dilanjutkan di tahun 1922 ulama ahli Sunnah wal Jama'ah berjumlah 46 orang yang semuanya pengasuh pesantren mengadakan musyawarah di rumah Mas Alwi di Kawatan Surabaya, diantara 46 ulama itu adalah ayahnya Kiai As'ad Syamsul Arifin yaitu Kiai Syamsul Arifin, ada pula Kiai dari pondok Sidogiri, Kiai Hasan Genggong. Sementara dari Kudus ada Kiai Raden Asnawi, sisanya dari Jombang, namun musyawarah tersebut tidak menemukan kesimpulan, bahwa pada tahun 1924 ia dipanggil gurunya yakni Syaikhona Kholil untuk menemui KH. Hasyim Asy'ari di Tebuireng Jombang, agar membawakan sebuah tongkat dan diberikan kepada KH. Hasyim Asy'ari, disertai pula tugas untuk menyampaikan ayat Al-Qur'an (17-21) surat Thoha.

Sesampainya di pesantren Tebuireng, tongkat Syaikhona Kholil diterima oleh KH. Hasyim Asy'ari, dan Kiai Hasyim mengatakan kepada As'ad Syamsul Arifin " alhamdulillah nak, saya ingin mendirikan Jam'iyah ulama, saya teruskan kalau begini dan tongkat ini tongkat Nabi Musa yang diberikan Kiai Kholil kepada saya".

Masih di tahun yang sama yakni tahu 1924, hanya beda bulan Kiai As'ad Syamsul Arifin ditugaskan kembali oleh gurunya untuk datang kembali ke pesantren Tebuireng, kata Syaikhona Kholil kepada As'ad Syamsul Arifin, "As'ad, kesini!, Kamu tidak lupa rumahnya Hasyim, ini tasbih antarkan " lalu disuruh pegang ujung tasbihnya, kemudian Syaikhona Kholil mengucapkan "ya Jabbar ya Jabbar ya Jabbar, ya Qohhar ya Qohhar ya Qohhar".

Sesampainya di Tebuireng, Kiai As'ad Syamsul Arifin menyerahkan tasbih dan mengucapkan ya Jabar ya Qohhar sesuai yang diperintahkan syaikhona Kholil gurunya, kemudian KH. Hasyim Asy'ari mengatakan kepada kiai As'ad ketika akan menerima tasbih tersebut. 

"Masya Allah, Masya Allah saya diperhatikan betul oleh guru saya, mana tasbihnya?". Lalu KH. Hasyim Asy'ari berucap" siapa yang berani pada jam'iyah ulama akan hancur, siapa yang berani pada ulama akan hancur".

Pada 31 Januari 1926, bertepatan 16 Rajab 1344 H, pukul 11.15 WITA bertempat di gedung Bubutan Surabaya, Jawa Timur Jam'iyah Nahdlatul Ulama telah lahir sebagai organisasi para ulama yang bermadzhab Ahli Sunnah wal Jama'ah, sekaligus wadahnya kiai-kiai pesantren. Meski sebelumnya melalui proses panjang niatan para ulama untuk mendirikan Jam'iyah ulama dari runtutannya sejak tahun 1920, 1921, 1922, 1923 hingga 1924.

Jadi kelahiran Nahdlatul Ulama tidak kala itu langsung jadi di tahun 1926, akan tetapi melalui proses panjang. Itupun diinisiasi, digagas, dan digerakan oleh kiai-kiai pesantren seluruh Jawa. Terutama peran KH. Wahab Hasbullah, KH. Ridwan Abdullah, Mas Alwi Abdul Aziz (kiai ini yang mengusulkan nama Nahdlatul di depan kata Ulama), KH. Dahlan, KH. Raden Asnawi, KH. Maksum, KH. Hasan Genggong, KH. Nawawi Sidogiri.

Diantara para ulama tersebut, figur sentralnya yaitu KH. Hasyim Asy'ari, ulama besar yang ahli hadits, mutafannin, pendiri dan pengasuh Pesantren Tebuireng yang oleh seluruh ulama di Jawa menggelarinya dengan Hadrotusyaikh. Berdasarkan restu dan do'anya Syaikhona Kholil Bangkalan, maka Hadrotusyaikh KH. Hasyim Asy'ari memimpin pendirian Jam'iyah Nahdlatul Ulama.

Dengan demikian tidak ada sama sekali peran Habaib di dalam proses pendirian Jam'iyah Nahdlatul Ulama. 

Dari sini kita bisa gambarkan bahwa, sejarah autentik yang dituturkan oleh KH. As'ad Syamsul Arifin tidak menyebut satu pun nama Habib dalam proses spiritual lahirnya NU. Isyarat berupa Tongkat (Simbol Kepemimpinan) dan Tasbih (Simbol Zikir/Kedekatan pada Allah) murni datang dari Syaikhona Kholil Bangkalan kepada Hadrotusyaikh KH. Hasyim As'ari.

​Para Ulama Pesantren memiliki kemandirian (otonomi) penuh. Mereka berguru langsung ke Mekkah kepada ulama-ulama besar Nusantara di sana seperti Syaikh Nawawi Al-Bantani. Garis sanad keilmuan mereka tersambung langsung ke Rasulullah SAW melalui jalur intelektual (isnad), bukan sekadar klaim biologis yang seringkali dipolitisasi untuk mencari pengaruh di organisasi NU.

Untuk lebih jelas bahwa Jam'iyah Nahdlatul Ulama didirikan oleh para ulama Ahli Sunnah wal Jama'ah, maka saya tuliskan struktur pengurus NU di tahun 1926, yaitu.

Struktur Awal

Syuriah,

Rois Akbar : Hadrotusyaikh KH. Hasyim Asy'ari

Wakil Rois : KH. Ahmad Dahlan (Surabaya)

Katib Awal : KH. Abdul Wahab Hasbullah

Katib Tsani: KH. Abdul Halim Leuwimunding

A'wan :

KH. Mas Alwi Abdul Aziz

KH. Ridwan

KH. Said

KH. Bisri Sansuri

KH. Abdullah Ubaid

KH. Nachrawi ( Malang)

KH. Amin

KH. Masyhuri

KH. Nachrawi ( Surabaya)


Mustasyar

KH. Raden Asnawi Kudus

KH. Ridwan ( Semarang)

KH. Mas Nawawi ( Sidogiri)

KH. Muntaha ( Madura)

Syaikh Ghanaim al-Misri

KH. Raden Hambali


Tanfidziyah

Ketua : H. Hasan Gipo (Surabaya)

Sekretaris: H. Sidiq (Pemalang)

Bendahara:

H. Burhan

H. Saleh Syamil

H. Ichsan

H. Djafar Aiwan

H. Usman

H. Achzab

H. Nawawi

H. Dahlan

H. Mangun


Struktur Pengurus awal Jam'iyah Nahdlatul Ulama tahun 1926 diambil dari sumber buku karya Abu Bakar Atjeh yaitu "Sejarah Hidup KH.A. Wachid Hasyim", dan dari buku karya Muhammad Rifai yaitu "KH. Hasyim Asy'ari, Biografi Singkat 1871-1947".

Mas Alwi Abdul Aziz, KH. Ridwan Abdullah, dan H. Hasan Gipo. Tegaskan bahwa mereka adalah motor penggerak murni pribumi

Kesaksian Orang Barat,

Adalah Prof. Benhard Dahm dalam bukunya "History of Indonesia in the twentieth Century" telah menjelaskan mengenai figur keulamaan Hadrotusyaikh KH Hasyim Asy'ari Tebuireng.

"At the same time as the traditional authorities declined in public estimation a new elite came into prominence the hajis and the kyais".

Sementara Peter Mansfield menggambarkan gerakan ilmiah yang dilakukan oleh KH Hasyim Asy'ari dan ulama lainnya dalam upaya menghadapi bahaya ekspansionisme Eropa, ia mengatakan.

"The burden of their calls was that they should unite in a great pan islamic movement to face the common danger of Europe pean expansionism".

Jadi dalam kesejarahan di awal abad 20, pergolakan yang tengah terjadi, dan pergulatan dalam upaya kebangkitan tanah air yang digerakkan oleh Hadrotusyaikh KH Hasyim Asy'ari mendapat sorotan dari para sejarawan Barat yang hidup sekurun dengan Hadrotusyaikh. Figur ulama besar tanah Jawa bahkan Nusantara umunya, ada pada sosok Hadrotusyaikh KH Hasyim Asy'ari.

Kesaksian Orang Barat tersebut kita pahami bahwa derajat Hadrotusyaikh KH Hasyim Asy'ari pasca meninggalnya syaikhona Kholil Bangkalan yang tertinggi dari sekian ulama yang ada di Nusantara, karena kealimannya, kesalehannya, akhlaqnya, dan spiritualitasnya.

Kita pun tentu tahu bahwa Hadrotusyaikh KH Hasyim Asy'ari adalah keturunan Kanjeng Sunan Giri, Syaikh Sayid Ainul Yaqin bin Syaikh Sayyid Maulana Ishak II, dan itu artinya Kanjeng Sunan Giri berdasarkan Naqob internasional tersambung pada jalur keturunan Saidina Hasan bin Sayyidah Fatimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rosulillah S.a.w.H

Hal ini menegaskan bahwa kepemimpinan Hadrotusyaikh bukan hanya sah secara keilmuan, tapi juga memiliki akar genealogis (nasab) yang suci, mandiri, dan berdaulat tanpa perlu legitimasi dari pihak asing


Kesimpulan,

Berdasarkan sejarah yang benar dan valid, bahkan sesuai bukti, informasi dari saksi sejarah berdirinya Jam'iyah Nahdlatul Ulama yaitu KH. As'ad Syamsul Arifin tidak disebutkan Habib siapapun dari marga manapun yang ikut mendirikan Jam'iyah Nahdlatul Ulama.


Referensi dan Daftar Pustaka

  • Martin van Bruinessen, dalam buku "NU: Tradisi, Relasi-relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru". Martin secara detail menyebutkan peran KH Wahab Hasbullah dan KH Hasyim Asy'ari tanpa menyebutkan keterlibatan habaib dalam proses penggagasan struktural awal.
  • Choirul Anam (Cak Anam), dalam buku "Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama". Ini kitab "wajib" sejarah NU. Di sana dijelaskan detail musyawarah di rumah KH. Ridwan Abdullah hingga Mas Alwi Abdul Aziz.
  • Ketetapan Muktamar NU ke-27 di Situbondo (1984). Saat itu, KH. As'ad Syamsul Arifin secara resmi menceritakan sejarah "Tongkat dan Tasbih" Syaikhona Kholil di hadapan ribuan muktamirin untuk menegaskan garis sanad berdirinya NU
  • L.W.C. van den Berg, dalam "Le Hadhramout et les Colonies Arabes dans l'Archipel Indien": Menjelaskan posisi sosial imigran Arab yang lebih banyak fokus pada perdagangan dan status sosial daripada pergerakan kemerdekaan pribumi.
  • Karel A. Steenbrink, dalam "Pesantren, Madrasah, Sekolah": Menegaskan bahwa NU adalah respon atas ancaman Wahabisme dan kebutuhan konsolidasi ulama pesantren tradisionalis pribumi


Minggu, 01 Oktober 2023

KESAKTIAN PANCASILA SEDANG DIUJI

Kesaktian Pancasila Sedang Diuji
Oleh: Muamar Anis

Pancasila-Muamar-Anis.jpg.

Indonesia adalah produk sebuah kontrak sosial yang disahkan berdasarkan prinsip kebhinekaan dan kesatuan, yaitu kebhinekaan agama, suku, budaya, aliran, bahasa, daerah dan lainnya; dan kesatuan sebagai sebuah bangsa dan negara.

Nasionalisme adalah paradigma yang mempertemukan semua perbedaan dalam sebuah tenunan yang indah dan luas. Indonesia adalah karya tenun yang dipersembahkan oleh para bijak awan, pahlawan, dan agamawan. Ia bukan lahir dari mitos dan folklor, namun lahir dari rasionalitas dan spiritualitas yang prima.

Pancasila:Antara Rasionalitas dan Spiritualitas

Pancasila memang bukan agama. Namun ia adalah sebuah gagasan yang menerjemahkan agama dalam sebuah platform yang menjadi bingkai sebuah bangsa yang bersepakat hidup bersama dalam satu institusi negara.

Pancasila telah dirancang dan ditetapkan dengan memperhatikan dan mempertimbangkan serta menghitung segala asumsi dan konsekuensi. Ia bukan hanya konsep yang dicetuskan berdasarkan konsensus namun juga diilhami oleh sentra-sentra spiritualitas yang sakral dan abadi

Pancasila adalah aksioma yang memadukan kearifan horisontal insani dan kekudusan vertikal rabbani. Karena itu, ketuhanan, yang merupakan puncak dan tujuan semua perilaku baik dan penghambaan, menempati posisi pertama di dalamnya. Tanpa sila pertama ini, prinsip-prinsip lain pada urutan setelahnya menjadi kehilangan pijakan dan tujuan.

    • Ekstremitas sikap dan gaya hidup
    • Tuhan-tuhan bertulang dalam fatwa

Kini Pancasila sedang diuji kesaktiannya. Kebhinekaan sedang menghadapi gangguan yang cukup serius. Konflik-konflik menjadi berita harian mulai dari konflik dan tawuran antar pelajar, antar pendukung klub sepakbola, antar penduduk desa dan kampung, antar massa pendukung calon bupati, antar suku hingga konflik antar elite kekuasaan.

Individualisme, tribalisme dan rasisme seiring dengan menyebarnya kapitalisme dan liberalisme agnostik mulai tumbuh bagai benalu yang perlahan-lahan menggerus sendi-sendi nasionalisme dan kebangsaan.

Di tengah kemelut dan kebingungan mencari jalan keluar, tiba-tiba bangsa yang sedang berjuang untuk bertahan ini diganggu dengan ekstremisme dan paham-paham yang secara nyata menentang kebhinekaan yang merupakan salah satu pilar utama bangsa dan negara ini.

Ekstremisme adalah akibat yang tak terelakkan dari melelehnya nasionalisme dan memudarnya kesadaran akan nilai dan arti kebhinekaan. Karena bukan merupakan gagasan logis dan metodis, ekstremisme tak selalu tampil dalam satu pola atau gerakan dan modus. Ia kadang muncul sebagai sebuah sikap personal, namun kadang pula muncul sebagai pilihan komunal. Ia kadang didesain oleh sekelompok orang yang menyimpan kepentingan dan tendensi negatif, kadang pula diyakini secara naïf sebagai kesalehan dan kualitas keimanan.

Ekstremitas biasanya mudah diterima terutama oleh individu-individu yang tak waspada dan memahami dampak serta efeknya. Ia mudah diterima karena cenderung meliburkan logika dan memakzulkan segala pertimbangan dan aturan, termasuk hak individu-individu yang tidak menerimanya.

Dari sinilah, ekstremitas berpeluang mengalami ekspansi makna. Ekstremitas keyakinan biasanya berproses menuju ekstremitas sikap dan gaya hidup.


Ekstremisme sikap biasanya menolak semua perbedaan, terutama dalam penafsiran terhadap doktrin agama. Bagi ekstremis, perbedaan muncul karena penyimpangan dari doktrin yang benar. Berbeda dalam memahami dan mengamalkan agama dianggap sebagai upaya menghancurkan dan menodai doktrin agama. Sejurus dengan itu, individu yang meyakini atau memilih doktrin yang berbeda dengan doktrin yang diyakini secara ekstrem sebagai kebenaran yang utuh dan mutlak, dianggap sebagai musuh, bahaya, ancaman dan perusak.

Ekstremisme berproses dalam pikiran penganutnya seperti narkoba yang terus merangsangnya menutupi kelemahan dalam sikap dengan cara yang ekstrem pula. Karena itu, ia memerlukan legitimasi dan dasar agar terus mengabaikan pertimbangan-pertimbangan dan nilai-nilai yang dianut di luar lingkarannya.

Pluralitas dan realitas yang menampilkan perbedaan dengan apa yang dianutnya akan membuat pengiman ekstremisme gamang dan mencoba untuk mengukur kebenaran doktrin yang dianutnya. Karena itu, sebelum menggoyahkan doktrin yang telah dianut secar ekstrem, ia harus membasminya dengan harapan perbedaan yang ada di hadapannya tidak lagi memancing pertanyaan tentang kebenaran doktrinnya.

Tak ayal lagi, diperlukan sebuah doktrin yang mampu memantapkan ekstremitas sikapnya sekaligus menjadi pembius kesadaran intelektualnya. Doktrin pemantapan ini haruslah kuat dan sebisa mungkin mampu menutup semua keraguan yang berseliweran dalam benaknya.

Dengan dasar doktrin itu, ia diharapkan menjadi tenang dan mencerabut naluri keingintahuan. Tidak hanya itu, ia bahkan bisa menambah poin kesalehannya bila menerapkannya secara ekstrem. Dengan doktrin ini, kekerasan bisa terlihat sebagai kesalehan, penindasan menjadi cara meraih pahala, pembunuhan, penjarahan, dan semua tindakan yang menurut standar di luar doktrin itu adalah kebiadaban, bisa dipastikan sebagai jalan pintas meraih kerelaan Tuhan.

Doktrin itu bukan undang-undang negara, bukan pula aksioma rasional, tapi dikemas dalam sebuah frase yang kudus. Fatwa sebutannya.

Ia terlanjur dipahami sebagai teks yang datang dari langit. Para pembuatnya juga sudah dianggap sebagai “tuhan-tuhan bertulang” yang tidak layak dipertanyakan apalagi ditentang.

Pendapat yang dikemas dengan kata “fatwa” bisa menimbulkan sebuah atau beberapa peristiwa. Ia sangat efektif untuk menciptakan sebuah aksi dan mengubah manusia yang lugu dan santun menjadi beringas dan sadis. Dengan satu kata “fatwa”, rumah-rumah bisa rata dengan bumi, anak-anak menggigil menangis tercekam takut dan wanita-wanita menjerit takut kehilangan kehormatan.

Hanya karena yang menerbitkan fatwa itu adalah orang-orang yang entah bagaimana prosesnya dianggap duplikat-duplikat Nabi, tiba-tiba parang, clurit dan semua sarana pemusnahan dihunus dan ditarik - tarikan dalam sebuah even kolosal pembantaian. Alasan peragaan seni kebencian itu cukup satu: “berbeda”!



“Berbeda” ditafsirkan secara ekstrem sebagai sinonim “sesat”. Sesat terlanjur direduksi sebagai “kehilangan hak menghirup udara”, manusia maupun ternaknya, rumah maupun ladang tembakaunya.

Untuk kesekian kalinya kesaktian Pancasila diuji… Semoga kesaktian Pancasila tidak hanya menjadi kalender tragedi Lubang Buaya dengan segala misteri dan distorsinya. Semoga ia tetap sakti menghadapi oligarki dan tirani atas nama mayoritas agama, aliran dan apapun yang akan menggergaji kebhinekaan, penyangga utama bangsa dan negara ini.


Daftar Referensi 

  • Madjid, Nurcholish. (1992). Islam, Doktrin, dan Peradaban: Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan, dan Kemodernan. Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina. (Sangat cocok untuk mendukung poin lu tentang Pancasila sebagai platform yang menerjemahkan agama dalam bingkai bangsa).
  • Armstrong, Karen. (2014). Fields of Blood: Religion and the History of Violence. Knopf. (Mendukung argumen lu bahwa kekerasan seringkali menggunakan kemasan "kudus" atau fatwa untuk melegitimasi tindakan biadab).
  • Hassan, Noorhaidi. (2006). Laskar Jihad: Islamism, Militancy, and the Quest for Identity in Post-New Order Indonesia. Cornell University Press. (Referensi kuat untuk fenomena ekstremisme dan konflik komunal yang lu singgung di tulisan).
  • Maarif, Ahmad Syafii. (2010). Radikalisme Keagamaan dan Ancaman Kebangsaan. Yogyakarta: PSAP. (Pas banget untuk bagian "Kesaktian Pancasila sedang diuji" oleh paham-paham yang menentang kebhinekaan).
  • Fromm, Erich. (1941). Escape from Freedom. Farrar & Rinehart. (Mendukung analisis psikologis lu bahwa individu menerima ekstremisme karena "meliburkan logika" demi rasa aman semu dalam kelompok).
  • Latif, Yudi. (2011). Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualisasi Pancasila. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Jumat, 25 Agustus 2023

Tantangan Dakwah NU di Era Digital dan Disrupsi Teknologi

Manhajiy di Tengah Simulakra: Rejuvenasi Epistemologi Dakwah NU di Abad Kedua
Oleh: Muamar Anis

Perspektif Epistemologi: "Manhajiy" sebagai Rasionalitas yang Hidup

Dakwah Nahdlatul Ulama (NU) tidak hanya dalam bidang keagamaan, tetapi sosial kemasyarakatan yang mencakup segala lini kehidupan manusia. Hal ini sesuai dengan definisi organisasi NU yaitu jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah. Peran keagamaan NU dengan prinsip Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, khususnya para ulama pesantren sejak dahulu memang mampu memberikan solusi konkret bagi problem kemasyarakatan dan kebangsaan.

Tradisi akademik dan tradisi keilmuan pesantren yang lekat dengan turats (kitab-kitab klasik atau kitab kuning) berbasis teks justru relevan dengan konteks zaman yang terus berubah. Tentu hal ini dipengaruhi oleh keterbukaan pemikiran dan pandangan (inklusivitas) yang dibarengi dengan kemajuan metodologi dalam upaya pengambilan hukum dalam Islam.

Banyak hal telah dilalui oleh jamaah dan jam’iyah NU, baik rintangan, tantangan, sejarah, program, jasa untuk umat, bangsa, dan negara hingga saat ini Indonesia masih menjadi satu kesatuan di tengah kemajemukan bangsa.

Bahkan, peran global yang sedari awal telah dibangun oleh KH Abdul Wahab Chasbullah melalui pengiriman delegasi bernama Komite Hijaz di Makkah turut memberikan inspirasi bagi Nahdliyin agar tidak terlepas dari problem dunia internasional. Setidaknya, peran NU yang mendunia itu tetap akan menjadi rel dan fondasi kokoh seperti terlihat dalam gambaran bola dunia di logo NU.

Saat ini, perubahan sosial semakin cepat. Hal ini berakibat problem yang ditimbulkan juga semakin kompleks sehingga dengan sendirinya, tantangan dakwah NU sebagai organisasi sosial keagamaan terbesar di dunia juga mempunyai pekerjaan rumah yang tidak mudah. Apalagi perubahan tersebut disertai kemajuan pesat teknologi informasi dan digital. Dunia dalam genggaman membentuk kampung global (global village).

Seluruh individu, komunitas, kelompok, organisasi, bangsa, dan negara di semua belahan dunia dapat mengakses informasi secara real time. Jarak bukan menjadi persoalan karena individu sudah terhubung satu sama lain secara digital. Bahkan di zaman pandemi Covid-19, masyarakat semakin intens dengan komunikasi, interaksi, dan pertemuan secara daring atau online untuk mencegah penularan wabah mematikan itu.

NU sedang melakukan "Rekonstruksi Epistemologis".Jika qauliy adalah bentuk penghormatan pada sejarah (masa lalu), maka manhajiy adalah bentuk keberanian akal untuk berdialog dengan masa depan. Ini sejalan dengan konsep Heidegger tentang Dasein (manusia yang mengada dalam waktu). NU tidak hanya "ada" di masa lalu, tapi "mengada" di era digital melalui metodologi yang dinamis.

Kondisi di mana masyarakat lebih banyak berada di rumah, pengajian online pun semakin menjadi primadona. Lebih banyak mengakses melalui YouTube sehingga tantangan dakwah NU secara digital tetap dapat mewarnai sikap dan pemikiran yang ramah terhadap kemajemukan bangsa Indonesia.

Kritik Post-Humanisme: Ruang Virtual vs Keintiman Spiritual

Dahulu tradisi menuntut ilmu harus didapat dengan mendatangi langsung seorang guru. Saat ini, dengan gadget di tangan, siapa pun bisa belajar lewat transformasi era digital berwujud media sosial, baik tulisan, video, gambar kartun, maupun gambar kutipan (meme). Bedanya, tradisi lama membentuk sekaligus mampu merawat jalinan masyarakat yang kuat dan kokoh secara keilmuan sehingga bisa membentuk budaya baru, sedangkan tradisi baru atau digital membentuk masyarakat virtual yang cenderung kurang humanis.

Namun, melihat realitas sosial saat ini, NU tidak terlalu takjub apalagi kaget. Sebab sedari awal, NU mempunyai prinsip al-muhafadzatu ‘alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah (menjaga nilai-nilai tradisi yang berguna buat umat dan mengambil secara selektif terhadap nilai-nilai baru yang lebih berguna untuk umat).

Di usia organisasi yang hampir mencapai satu abad, Nahdliyin juga dituntut mempunyai jiwa inovatif di segala lini kehidupan, tak terkecuali bidang sosial dan agama yang selama ini menjadi concern NU. Langkah inovatif ini harus berjalan terus menerus agar NU tetap menjadi subjek (fa’il/produsen), bukan objek (maf’ul/konsumen) di era disrupsi saat ini.

Era disrupsi memungkinkan individu melakukan kemajuan pesat, tetapi di sisi lain juga bisa mengalami kemunduran dalam waktu sekejap. Itulah disrupsi. Sehingga diperlukan inovasi terus menerus dalam menghadapinya.

Langkah itulah yang disebut Mustasyar PBNU KH Ma’ruf Amin dalam Peta Jalan NU Abad Kedua  (2018) sebagai prinsip al-ashlah ilaa ma huwal ashlah tsummal ashlah fal ashlah (innovative and continous improvement). Ini mirip dengan konsep Hegel tentang Aufheben—meniadakan yang lama tapi sekaligus mengangkat dan melestarikannya dalam level yang lebih tinggi.  NU tidak sekadar "ikut-ikutan" digital. NU melakukan "Sintesa" antara kekudusan teks kitab kuning dengan kecepatan bit digital. NU bukan korban disrupsi, tapi agen yang melakukan "Disrupsi Suci" (Holy Disruption) terhadap narasi radikal di internet.

Jadi, menjaga tradisi merupakan hal penting, mengadopsi dan selektif terhadap tradisi baru juga langkah yang tidak kalah penting, tetapi tetap berinovasi merupakan langkah yang sangat penting sehingga peran NU sebagai subjek akan konsisten atau istiqomah dalam keaktifan memberi manfaat (maslahah) untuk umat di seluruh dunia.

Konsep Islam Nusantara sebagai sebuah karakter dan tipologi Islam khas di Indonesia juga perlu terus digaungkan dalam menghadapi perubahan masyarakat dunia yang berjalan begitu cepat. Sebab, nilai-nilai Islam yang dikembangkan oleh para ulama Nusantara dengan jutaan khazanahnya selama ini mampu menginspirasi warga Muslim dunia untuk bisa adaptif dengan tradisi dan budaya lokal, di mana pun Muslim itu berada.

Dengan prinsip kemasyarakatan yang dikembangkan oleh NU seperti tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), i’tidal (tegak lurus/adil), dan amar ma’ruf nahi munkar (mengaja pada kebaikan dan mencegah kemungkaran) menjadikan Islam dapat diterima siapa saja. Alasan fundamental itulah yang menjadikan Islam dapat mudah diterima oleh masyarakat lokal Nusantara hingga saat ini Indonesia menjadi negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia.

Sebagai organisasi yang terus mentradisikan kitab-kitab ulama klasik dalam setiap pengambilan hukum, NU juga perlu istiqomah dengan tradisi Bahtsul Masail-nya. Pembahasan problem-problem aktual keagamaan dalam realitas sosial masyarakat itu selama ini mampu memberikan solusi konkret dalam menjawab perubahan zaman. Artinya, tradisi Bahtsul Masail merupakan salah satu fondasi penting dan kebutuhan pokok dalam menjawab problem keagamaan dan sosial di tengah masyarakat digital.

Dalam hal ini, semangat hasil Munas Alim Ulama di Lampung 1992 perlu menjadi rujukan, yakni prinsip istinbath jama’iy untuk menghadapi berbagai dinamika masyarakat yang berubah secara cepat. Jika di abad pertama NU telah membuktikan kecerdasan ijtihadnya untuk mempertemukan paham keagamaan dengan paham kebangsaan yang kemudian melahirkan ideologi Pancasila dan NKRI sebagai sebuah konsep kenegaraan yang sudah final secara hukum agama, maka tantangan NU di abad kedua akan menghadapi hiruk-pikuk perubahan sehingga istinbath jama’iy perlu terus dilakukan.

Istinbath jama’iy ini metode pengambilan hukum secara kolektif dengan menyandarkan diri kepada berbagai pendapat para ulama mazhab. Salah satu poin penting dari keputusan Munas Lampung tersebut ialah pengembangan pengambilan hukum dari secara qauliy (pendapat ulama) ke manhajiy (metodologis).

Metode qauliy mengharuskan pengambilan hukum jika ada pendapat ulama yang menjelaskan. Konsekuensinya, jika pendapat ulama tersebut tidak ada dalam kitab mana pun, maka sebuah hukum tidak bisa diputuskan alias mauquf. Dampak dari metode ini, NU tidak bisa merespon perubahan zaman secara cepat. Maka dari itu, diambillah metode manhajiy yang dititikberatkan kepada metodologi pengambilan hukum. Manhajiy ini yang paling relevan, sebab meskipun pendapat ulama secara sharih tidak ada, namun hukum tetap bisa diputuskan secara metodologis sehingga NU bisa terus merespons perubahan secara cepat pula.

Sebagai jamaah dan jam’iyah yang telah diakui kebesaran dan perannya, menuntut warga NU secara umum untuk tidak jumawa. Karena perubahan dan tantangan ke depan justru makin tidak mudah. Tetapi sejarah panjang NU dalam menghadapi setiap perubahan zaman menjadi modal penting untuk tetap membersamai rakyat Indonesia, terutama masyarakat miskin dan kaum dhuafa.

Wallahu a’lam bisshawab.

Referensi

  • Baudrillard, J. (1981). Simulacra and Simulation. (Untuk kritik masyarakat virtual).
  • Al-Jabiri, Abed. (1991). Takwin al-Aql al-Arabi. (Sangat relevan untuk bahas nalar bayani/tekstual vs nalar burhani/rasional dalam manhaj NU).
  • Muamar Anis

Senin, 21 Oktober 2019

DETIK - DETIK RESOLUSI JIHAD NU DAN PERLAWANAN 10 NOVEMBER 1945

RESOLUSI JIHAD NAHDLATUL ULAMA
Oleh: Muamar Anis



Resolusi Jihad-Muamar Anis. Jpg.
Ilustrasi Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama


Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama merupakan rangkaian panjang dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sebelum Resolusi Jihad, telah muncul Fatwa Jihad, setelahnya, muncul pertempuran 10 November yang kemudian ditetapkan menjadi hari Pahlawan.

Berikut rangkaian sejarah perjuangan kaum santri dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, yang kemudian menjadi dasar lahirnya Hari Santri Nasional 22 Oktober. 17 Agustus 1945 Siaran berita Proklamasi Kemerdekaan sampai ke Surabaya dan kota-kota lain di Jawa, membawa situasi revolusioner. Tanpa komando, rakyat berinisiatif mengambil-alih berbagai kantor dan instalasi dari penguasaan Jepang. 31 Agustus 1945 Belanda mengajukan permintaan kepada pimpinan Surabaya untuk mengibarkan bendera Tri-Warna untuk merayakan hari kelahiran Ratu Belanda, Wilhelmina Armgard. 17 September 1945 Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan sebuah Fatwa Jihad yang berisikan ijtihad bahwa perjuangan membela tanah air sebagai suatu jihad fi sabilillah.

Fatwa ini merupakan bentuk penjelasan atas pertanyaan Presiden Soekarno yang memohon fatwa hukum mempertahankan kemerdekaan bagi umat Islam. 19 September 1945 Terjadi insiden tembak menembak di Hotel Oranje antara pasukan Belanda dan para pejuang Hizbullah Surabaya. Seorang kader Pemuda Ansor bernama Cak Asy’ari menaiki tiang bendera dan merobek warna biru, sehingga hanya tertinggal Merah Putih. 23-24 September 1945 Terjadi perebutan dan pengambilalihan senjata dari markas dan gudang-gudang senjata Jepang oleh laskar-laskar rakyat, termasuk Hizbullah.

25 September 1945 Bersamaan dengan situasi Surabaya yang makin mencekam, Laskar Hizbullah Surabaya dipimpin KH Abdunnafik melakukan konsolidasi dan menyusun struktur organisasi. Dibentuk cabang-cabang Hizbullah Surabaya dengan anggota antara lain dari unsur Pemuda Ansor dan Hizbul Wathan.Diputuskan pimpinan Hizbullah Surabaya Tengah (Hussaini Tiway dan Moh. Muhajir), Surabaya Barat (Damiri Ichsan dan A. Hamid Has), Surabaya Selatan (Mas Ahmad, Syafi’i, dan Abid Shaleh), Surabaya Timur (Mustakim Zain, Abdul Manan, dan Achyat). 5 Oktober 1945 Pemerintah pusat membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Para pejuang eks PETA, eks KNIL, Heiho, Kaigun, Hizbullah, Barisan Pelopor, dan para pemuda lainnya diminta mendaftar sebagai anggota TKR melalui kantor-kantor BKR setempat. 15-20 Oktober 1945 Meletus pertempuran lima hari di Semarang antara sisa pasukan Jepang yang belum menyerah dengan para pejuang.

 21-22 Oktober 1945 PBNU menggelar rapat konsul NU se-Jawa dan Madura. Rapat digelar di Kantor Hofdsbestuur Nahdlatul Ulama di Jalan Bubutan VI No 2 Surabaya. Di tempat inilah setelah membahas situasi perjuangan dan membicarakan upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia, Di akhir pertemuan pada tanggal 22 Oktober 1945 PBNU akhirnya mengeluarkan sebuah Resolusi Jihad sekaligus menguatkan fatwa jihad Rais Akbar NU Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. 25 Oktober 1945 Sekitar 6.000 pasukan Inggris yang tergabung dalam Brigade ke-49 Divisi ke-26 India mendarat di Surabaya.

 Pasukan ini dipimpin Brigjend AWS. Mallaby. Pasukan ini diboncengi NICA (Netherlands-Indies Civil Administration). 26 Oktober 1945 Terjadi perundingan lanjutan mengenai genjatan senjata antara pihak Surabaya dan pasukan Sekutu. Hadir dalam perundingan itu dari pihak Sekutu Brigjend Mallaby dan jajarannya, dari pihak Surabaya diwakili Sudirman, Dul Arnowo, Radjamin Nasution (Walikota Surabaya) dan Muhammad.

27 Oktober 1945 Mayjen DC.Hawtorn bertindak sebagai Panglima AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) untuk Jawa, Madura, Bali dan Lombok menyebarkan pamflet melalui udara menegaskan kekuasaan Inggris di Surabaya, dan pelarangan memegang senjata selain bagi mereka yang menjadi pasukan Inggris. Jika ada yang memegangnya, dalam pamflet tersebut disebutkan bahwa Inggris memiliki alasan untuk menembaknya. Laskar Hizbullah dan para pejuang Surabaya marah dan langsung bersatu menyerang Inggris. Pasukan Inggris pun balik menyerang, dan terjadi pertempuran di Penjara Kalisosok yang ketika itu berada dalam penjagaaan pejuang Surabaya.

28 Oktober 1945 Laskar Hizbullah dan Pejuang Surabaya lainnya berbekal senjata rampasan dari Jepang, bambu runcing, dan clurit, melakukan serangan frontal terhadap pos-pos dan markas Pasukan Inggris. Inggris kewalahan menghadapi gelombang kemarahan pasukan rakyat dan massa yang semakin menjadi-jadi. 29 Oktober 1945 Terjadi baku tembak terbuka dan peperangan massal di sudut-sudut Kota Surabaya. Pasukan Laskar Hizbullah Surabaya Selatan mengepung pasukan Inggris yang ada di gedung HBS, BPM, Stasiun Kereta Api SS, dan Kantor Kawedanan.

Kesatuan Hizbullah dari Sepanjang bersama TKR dan Pemuda Rakyat Indonesia (PRI) menggempur pasukan Inggris yang ada di Stasiun Kereta Api Trem OJS Joyoboyo. 29 Oktober 1945 Perwira Inggris Kolonel Cruickshank menyatakan pihaknya telah terkepung. Mayjen Hawtorn dari Brigade ke-49 menelpon dan meminta Presiden Soekarno agar menggunakan pengaruhnya untuk menghentikan pertempuran. Hari itu juga, dengan sebuah perjanjian, Presiden Soekarno didampingi Wapres Mohammad Hatta terbang ke Surabaya dan langsung turun ke jalan-jalan meredakan situasi perang. 

30 Oktober 1945 Genjatan senjata dicapai kedua pihak, Laskar arek-arek Surabaya dan pasukan Sekutu-Inggris. Disepakati diadakan pertukaran tawanan, pasukan Inggris mundur ke Pelabuhan Tanjung Perak dan Darmo (kamp Interniran), dan mengakui eksistensi Republik Indonesia. 30 Oktober 1945 Sore hari usai kesepakatan genjatan senjata, rombongan Biro Kontak Inggris menuju ke Gedung Internatio yang terletak disaping Jembatan Merah. Namun sekelompok pemuda Surabaya menolak penempatan pasukan Inggris di gedung tersebut. Mereka meminta pasukan Inggris kembali ke Tanjung Perak sesuai kesepakatan genjatan senjata. Hingga akhirnya terjadi ketegangan yang menyulut baku tembak. Di tempat ini secara mengejutkan Brigjen Mallaby tertembak dan mobilnya terbakar.

31 Oktober 1945 Panglima AFNEI Letjen Philip Christison mengeluarkan ancaman dan ultimatum jika para pelaku serangan yang menewaskan Brigjen Mallaby tidak menyerahkan diri maka pihaknya akan mengerahkan seluruh kekuatan militer darat, udara, dan laut untuk membumihanguskan Surabaya.

7-8 November 1945 Kongres Umat Islam di Yogyakarta mengukuhkan Resolusi Jihad Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari sebagai kebulatan sikap merespon makin gentingnya keadaan pasca ultimatum AFNEI. 9 November 1945 Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari sebagai komando tertinggi Laskar Hizbullah menginstruksikan Laskar Hizbullah dari berbagai penjuru memasuki Surabaya untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan dengan satu sikap akhir, menolak menyerah.

KH Abbas Buntet Cirebon diperintahkan memimpin langsung komando pertempuran. Para komandan resimen yang turut membantu Kiai Abbas antara lain Kiai Wahab (KH. Abd. Wahab Hasbullah), Bung Tomo (Sutomo), Cak Roeslan (Roeslan Abdulgani), Cak Mansur (KH. Mas Mansur), dan Cak Arnowo (Doel Arnowo).Bung Tomo melalui pidatonya yang disiarkan radio membakar semangat para pejuang dengan pekik takbirnya untuk bersiap syahid di jalan Allah SWT. 10 November 1945 Pertempuran kembali meluas menyambut berakhirnya ultimatum AFNEI.

Inggris mengerahkan 24.000 pasukan dari Divisi ke-5 dengan persenjataan meliputi 21 tank Sherman dan 24 pesawat tempur dari Jakarta untuk mendukung pasukan mereka di Surabaya. Perang besar pun pecah. Ribuan pejuang syahid. Pasukan Kiai Abbas berhasil memaksa pasukan Inggris kocar-kacir dan berhasil menembak jatuh tiga pesawat tempur RAF Inggris.


Senin, 01 Juni 2015

TIGA PILAR DIALEKTIKA ISLAM: FILSAFAT,TEOLOGI DAN TASAWUF

KAJIAN PILAR DIALEKTIKA ISLAM:FILSAFAT,TEOLOGI DAN TASAWUF
Oleh:Muamar Anis

Teologi. Muamaranis. Jpg.



Peradaban Islam mempunyai keistimewaan berbanding peradaban pendahulunya. Karena peradaban Islam bertahan lebih lama dari peradaban orang-orang Kaldan, Suryani, Persia dan Yunani. Bukanlah hal yang diragukan lagi, panji peradaban yang sekarang berpindah ke Eropa dari zaman renaissanse bersumber dari orang-orang Islam, yang pada masa selanjutnya mengalami perkembangan sampailah kepada zaman kita hari ini, dan mulai kembali lagi kepada orang Islam. Kenyataan ini sesuai dengan apa yang dinukil oleh Nurcolis Majid pada pendahuluan terjemahan buku W. Montgomery Watt,yang berjudul “Islam dan Peradaban Dunia: Pengaruh Islam Atas Eropa Abad Pertengahan”. Ia manyatakan “perhatikan saja istilah-istilah ilmiah dalam peradaban Barat: sebagian besarnya berasal dari bahasa Arab, seperti zero, summit dan sebagainya. Demikian juga dengan istila-istilah matematika dan astronomi. Dalam acara pengajian Yayasan Wakap Paramadina, ada seorang penatar guru-guru matematika di bidanng sains dan Ketua Asosiasi Astronomi Indonesia. Dalam salah satu kesempatan dia mengatakan, bahwa tujuh puluh persen nama bintang di langit berasal dari bahasa Arab.”

Ungkapan seperti ini bukan hanya dari pihak orang Islam, namun ia juga diakui oleh orang Barat sendiri. Thatcher dan Chawel secara tegas mengatakan bahwa bangsa Eropa sangat berhutang dengan kedatangan Islam. Banyak ilmu yang dapat ditemukan sehingga dapat diadopsinya seperti ilmu falak, fisiologi dan masih banyak lagi. Kesan serupa juga diungkapkan oleh Sartios, di mana ia mengatakan bahwa bidang-bidang ilmu pengetahuan yang dibawa Islam terutama ilmu dan penerapannya lebih banyak dari pada dari Byzantium.

Penting di catat di sini, bahwa pemberian pujian atas sains Islam merupakan fenomena baru abad ke-20. Tidak akan ditemukan hal yang sama di dalam literatur Orientalis abad ke-18 dan ke-19. Alasannya sangat jelas. Sampai periode supremasi bangsa Eropa, Islam telah menjadi lambang ancaman militer dan moral yang penting bagi agama Kristen, karena Islamlah agama alternatif yang amat kuat dan berkembang pesat.

Di pertengahan abad ke-8 M, ketika Afika Timur dan Barat menikmati kenyamanan dalam segi material, kebersamaan, keadilan, dan kesejahteraan di bawah naungan pemimpin Islam,tetangganya di jazirah Spanyol berada dalam keadaan menyedihkan di bawah kekuasaan tangan besi penguasa Visighotic. Kemudian pada tahun 750 M,Islam memasuki Andalusia di bawah pimpinan Panglima Thariq, seorang remaja berkebangsaan Barber yang baru memeluk Islam. Sebenarnya masyarakat kelas ke-2 dan kelas ke-3 di Andalusia telah mendengar akan ketinggian moral dan peradaban Islam, sehingga kemenangan Panglima Thariq di sambut dengan gegap gempita oleh masyarakat setempat. Pada masa selanjutnya kehadiran Islam di Eropa Barat Daya tersebut bagaikan cahaya di tengah kegelapan.Di bawah pimpinan pemerintah Islam, Andalusia mengalami kemajuan pesat seiring dengan peradaban-peradaban Islam pada masanya. Andalusia menjadi setinggi-tinggi peradaban selari dengan peradan dinegeri-negeri Islam tetangganya yang berkilauan bagaikan bintang-bintang di antariksa, layaknya negeri “seribu satu malam.”

Dari Andalusia inilah (sekarang dikenal Spanyol) masyarakat Eropa menyerap peradaban Islam baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan peradaban antar negara, tidak terkecuali ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagaimana Watt menyatakan, pengaruh Islam dirasakan di Eropa Barat terutama melalui Spanyol, dan pada tingkat yang lebih kecil melalui Sisilia.

Kesenjangan di antara umat Islam dan Eropa pada masa masa keemasan Islam sangat ketara sekali. Jalan-jalannya mulus, lorong-lorong kota Bagdad, Damaskus, Cordoba dan kota-kota lainnya diterangi beribu lampu di malam hari, sedang jalan-jalan di Eropa masih becek dan gelap. Penguasa-penguasa Islam sangat mencintai Ilmu, istana-istana kekhalifahan di penuhi buku-buku dan ilmuwan-ilmuwan, sedangkan di Eropa, geraja masih disibukkan dengan pembunuhan dan pembakaran ilmuwan dan ahli sihir yang dianggap bertentangan dengan ajaran gereja.

Islam mampu membangun peradaban yang mengagumkan dunia. Baik itu dari segi arsitektur, teknologi, kudayaan, ilmu pengetahuan, tata bahasa, norma-norma sosial dan banyak lagi. Kalau boleh memijam istilah Maria Rosa Menocal dalam bukunya yang berjudul Sepotong Surga di Andalusia, ungkapan “The ornament of the world”,secara harfiah bisa didefinisikan sebagai “Perhiasan dunia”, adalah gambaran ketinggian peradaban Islam. Karena itulah gelar yang diberikan kepada Cordoba ibu kota Andalusia, sebagai ungkapan kagum seorang biarawati sekaligus penulis berkebangsaan Saxon pada abad ke-10. Dan yang terpenting di dalam makalah ini adalah pemikir-pemikir Islam yang telah menyumbangkan keunggulan-keunggulan karya mereka sehingga memposisikan umat Islam pada masa itu benar-benar menjadi umat terbaik di dunia. Tidak hanya sekadar itu, pemikir-pemikir Islam mampu memberikan kontribusi yang masih signifikan sampai peradaban hari ini. Terlepas dari apakah pada saat ini Islam telah menjadi umat yang terbelakang atau umat yang mulai kembali berkembang untuk membangun peradabannya, namun Islam baik sebagai agama atau sebagai the way of life, tetap dianggap sebagai sebuah konsep yang unggul.

Ini dibuktikan dengan ungkapan Paul alvarus,seorang tokoh Kristen yang vokal dan dihormati, yang hidup di Cordova pada pertengahan abad ke-9 mengungkapkan keresahan suara hatinya:

“Orang-orang Kristen sangat senang membaca berbagai syair dan roman Arab. Mereka mempelajari para teolog dan filosof Arab, bukan untuk menolak pemikiranya, melainkan untuk mengetahui tata bahasa Arab yang benar dan indah. Adakah rakyat jelata yang masih mau membaca tafsir-tafsir kitab suci berbahasa Latin atau mempelajari Injil, kisah-kisah Nabi dan Rasul? Celaka! Semua pemuda Kristen yang berbakat membaca dan mempelajari buku-buku Arab dengan antusias. Mereka menghimpun perpustakaan-perpustakaan besar dengan biaya yang tak sedikit. Mereka sepelekan buku-buku Kristen dan menganggapnya tak layak dipelajari. Pemuda-pemuda Kristen telah lupa terhadap bahasa sendiri. Untuk setiap satu orang yang bisa berkorespondensi dalam bahasa Latin kepada temannya, terdapat seribu orang yang bisa menulis, menuangkan ide dan pemikiran mereka dengan bahasa Arab yang indah, dan bahkan menulis syair-syair Arab lebih baik dibanding orang-orang Arab sendiri”.

Ini adalah sebuah ancaman yang sangat besar bagi bangsa Eropa dan agama Kristen yang menjadi jirannya pada masa itu, baik sebagai kelompok manusia budaya maupun umat beragama. Jadi untuk menjelaskan tersebarnya Islam, Kristen telah mengembangkan stigma yang mengatakan sukses Islam adalah hasil dari kekerasan, gejolak nafsu dan kebohongan kaum Muslim. Tentu saja ini adalah pernyataan yang “menghibur” pada masa ketika imperialisme perdagangan Eropa mulai tumbuh. Dengan mengembangkan teori tersebut ‘penderitaan orang kulit putih’ tidak hanya menjadi lebih ringan untuk dipikul, tapi penaklukan militer juga membentuk moral imperatif saat-saat orang-orang buas yang tidak mengerti akan keagungan nilai sains.

Ungkapan di atas menggambarkan keunggulan Islam yang membuat ciut nyali dunia dengan kreativitas umatnya dalam membangun peradaban. Kendatipun dalam catan sejarah, pada abad 13 sampai abad 18 peradaban Islam telah mengalami kemunduran, tetapi Islam masih saja membuat kecut pihak yang menganggapnya sebagai lawan. Karena pada abad-abad sebelumnya, para pemikir Islam telah mewariskan karya-karya agung yang tidak hanya digandrungi oleh umat Islam, tapi oleh umat-umat yang memusuhi Islam.

Tidak dinapikan keunggulan itu terlahir dengan ajaran Islam yang sangat mendorong umatnya mendalami ilmu pengetahuan. Islam juga memandang tinggi kedudukan akal. Dalam waktu yang sama Islam juga menekankan tingginya nilai etika, akhlak dan norma-norma sosial. Tapi yang paling utama dasar ajaran Islam adalah tauhid.

Bila kita kembali ke sejarah,pasti kita akan menemukan manusia-manusia unggul,pemikir-pemikir yang berjasa kepada kemajuan Islam dan dunia pada saat ini. Sebut saja misalnya Al-kindi (801-865), Al-Farabi (870-950), Ibnu Sina (980-1037), dan Ibn Rusyd (1126-1198), masih disebut sebagai tokoh-tokoh ideal yang dicanangkan sebagai model fase kemajuan berfikir dan kebangkitan dalam dunia Muslim. Para filosof Muslim sangat mengedepankan logika dan cara berfikir yang benar, tanpa ada maksud untuk mngesampingkan wahyu, tetapi penggunaan rasio adalah juga karunia Allah yang amat berharga. Di tangan para ilmuwan inilah terlahir karya-karya yang masih menjadi rujukan berabad-abad dan sebagian teks aslinya masih bisa kita temukan di perpustakaan-perpustakan Eropa.

Pemikir Islam, Ibnu Rusyd (1120-1198 M) misalnya, di barat dikenal dengan nama Averos. Ia melepaskan belenggu taklid dan menganjurkan kebebasan berfikir. Ia mengulas pemikiran Aristoteles dengan cara yang memikat minat semua orang yang befikir bebas. Ia mengedepankan sunatullah menurut pengertian Islam terhadap patheisme dan anthrophomorphisme Kristen. Demikian besar pengaruhnya di Eropa, sehingga di Eropa timbul gerakan Averoisme (Ibn Rusyd-isme) yang menuntut kebebasan berfikir. Bermula dari pemikiran dan gerakan ini di Eropa kemudian lahir reformasi pada abad ke-16 M dan rasionalisme pada abad ke 17 M. Berawalnya pengaruh penyerapan peradaban Islam ke Eropa dimulai dari pemuda-pemuda Kristen belajar ke Universitas-Universitas Islam. Kemudian di Paris didirikan Universitas yang sama dengan Negara Islam pada tahun 1231 M, tiga puluh tahun setelah wafatnya Ibnu Rusyd.
Dibidang teologi, dunia Islam diramaikan oleh ahli-ali ilmu kalam yang berasal dari berbagai aliran. Seperti aliran Mu’tazilah yang sangat menghargai ketinggian akal. Bagi kaum yang berfaham Mu’tazilah, dengan potensi akal yang dimiliki manusa, manusia dapat mengkaji kebenaran sampai ketahap mampu mengetahui adanaya Tuhan, baik buruk sebuah perbuatan dan banyak lagi persoalan teologi yang diparkannya dengan pola yang sangat menarik. Pada dasarnya pemikiran Mu’tazilah didominasi teologi rasional.

Paham yang bersebrangan denga Mu’tazilah adalah Asy’ariyah. Teologi Asy’ariyah yang lebih berpandangan teologi tradisional beranggapan kemampuan akal hanya mampu ke tahap mengakui adanya Tuhan. Sedangkan selebihnya tidak mampu diakses oleh akal. Kendati demikian, dari segi diaelektikanya, kaum Asy’ariyah tetap mengedepankan argumen secara rasional untuk mengenal Allah dan ini tetap dianggap merupakan kelanjutan metode kalam Mu’tazilah.

Selain ketinggian akal dan keutamaan argumen rasio seorang muslim juga wajib memiliki ketinggian Akhlak. Keutamaan ajaran tasawuf adalah menuju akhlak yang terpuji dan meninggalkan serta menjauhi akhlak yang tercela. Mengutamakan gerakan hati nurani atau intuisi disamping akal untuk melihat kebenaran. Namun, ketika ketiga unsur ini dikolaborasikan, maka, akal yang di bimbing oleh wahyu dan di barengi ketinggian akhlak akan melahirkan pribadi-pribadi unggul yang sangat diperlukan untuk membangun umat. Inilah keunggulan peradaban Islam yang tidak dimiliki oleh peradaban-peradaban lainnya. Kendatipun Islam dihancurkan oleh orang-orang yang buas dan rakus seperti bangsa Mughal, namun ketika mereka berinteraksi dan mendalami peradaban Islam, mereka terus jatuh cinta padanya dan membangun kembali peradaban Islam.

Begitu juga bangsa-bangsa Eropa yang dengan keji dan brutal mengusir Islam dari Granada Spanyol, namun nilai-nilai Islam sangat mereka cintai. Sebagaiman Watt mencatatkan “ … dan nampaknya dapat dibenarkan kalau disebutkan bahwa agenda-agenda acara atau aturan-aturan waktu yang harus kita ikuti dalam acara-acara formal mungkin berasal dari Ziryab ini”. Selanjutnya Watt menyatakan, ketika orang-orang Romawi memasukkan wilayah Yunani ke dalam wilayah kekuasaan mereka, akibatnya adala seperti yang dikatakan seorang penyair Latin “Yunani yang telah tertaklukkan membuat takluk penakluknya yang besar.” Namun penaklukkan orang-orang Arab tidak membawa mereka “tertaklukkan” sebagaimana terjadi pada penakluk Romawi. Mereka bahkan berhasil mendesakkan bahasa mereka, bahkan apa yang menjadi sudut pandang mereka, kepada hampir seluruh masyarakat yang ditundukkan di bawah kekuasaanya.

Islam adalah agama yang benar, maka dari itu Islam tidak akan melewatkan segala aspek yang diperlukan manusia. Filsafat sangat diperlukan manusia untuk mencapai kesuksesan di dunia. Teologi adalah keperluan manusia sendiri kepada Tuhan yang menciptakannya supaya manusia selalu ingat pada setiap kesuksesan pikirannya. Tasawuf diperlukan filsafat dan teologi sebagai penyeimbang diantara dunia dan Tuhannya. Tasawuf juga merupakan pembimbing akhlak manusia supaya benar-benar kelihatan manusianya dan untuk manusia mencapai kebahagiaan serta kesuksesan di akhiran maupun di akhirat. Manusia memerlukan akal, dan akal perlukan Tuhan. Di antara manusi, akal, dan Tuhan diperlukan hati atau intuisi yang di cerminkan oleh etika dan akhlak yang mulia supaya semua unsur tersebut tetap seimbang di dalam manusia.


Daftar Pustaka (Referensi)

• Madjid, Nurcholish. (1995). Islam dan Peradaban Dunia: Pengaruh Islam Atas Eropa Abad Pertengahan (Pendahuluan). Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina..
• Menocal, Maria Rosa. (2002). The Ornament of the World: How Muslims, Jews, and Christians Created a Culture of Tolerance in Medieval Spain (Edisi Terjemahan: Sepotong Surga di Andalusia)..
• Nasr, Seyyed Hossein. (1968). Science and Civilization in Islam. New York: New American Library. (Sebagai referensi pendukung tokoh filosof Ibnu Sina, Al-Kindi, dan Al-Farabi)..
• Watt, W. Montgomery. (1972). The Influence of Islam on Medieval Europe. Edinburgh: Edinburgh University Press..
• Zar, Sirajuddin. (2004). Filsafat Islam: Filosof dan Filsafatnya. Jakarta: RajaGrafindo Persada. (Sebagai referensi tambahan aliran Mu’tazilah dan Asy’ariyah).
• Prof Abdul Hadi WM







Beyond the Nausea: Sartre and Nietzsche at the Kaaba – Finding Existence in the Ultimate Prostration

  Beyond the Nausea: Sartre and Nietzsche at the Kaaba – Finding Existence in the Ultimate Prostration Oleh: Muamar Anis Nietzsche and Sartr...