Tampilkan postingan dengan label Misticism Fils. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Misticism Fils. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Juni 2013

Perang Salib: Catatan Retrospeksi, Luka Sejarah, dan Benih Renaissance

Perang Salib: Catatan Retrospeksi, Luka Sejarah, dan Benih Renaissance

Oleh:Muamar Anis




Hubungan "Benci Tapi Rindu": Barat vs Islam
Perang besar bernuansa keagamaan yang pernah terjadi dalam sejarah ialah Perang Salib. Sebutan tersebut merupakan terjemahan dari perkataan Crusade, penamaan yang diberikan orang Barat sendiri karena tujuan peperangan ini ialah merebut kota suci Yerusalem tempat Salib Suci disimpan. Perang ini terjadi bukan satu dua kali, tetapi secara beruntun dalam enam gelombang. Rentang masa peperangan pun sangat lama, hampir dua abad, antara tahun 1096 hingga 1270 M. Perang-perang kecil sering terjadi menyelingi jeda enam perang besar yang terjadi secara bergelombang itu.


Sebelum kekacauan Perang Salib melanda, dunia Islam sebenarnya telah mencapai puncak kestabilannya pasca [Revolusi Abbasiyah]


Dampak Persang Salib luar biasa, baik bagi bangsa Eropa maupun terhadap kaum Muslimin. Selain kehancuran pranata sosial, ekonomi dan politik ketika perang berkecamuk, perang ini selama berabad-abad sangat mempengaruhi corak hubungan Dunia Barat dan Dunia Islam, yang dianggap merupakan “dunia yang selebihnya’ atau “yang lain” dilihat dari sudut pandang Barat. Penyair Jabra Ibrahim Jabra menggambarkan hubungan Barat dan Islam sebagai hubungan “cinta bercampur benci” yang tumpang tindih dan silang menyilang dari waktu ke waktu.

Dampak lain yang terus mempengaruhi pandangan Barat terhadap Islam ialah seperti dikemukakan G. H. Jansen dalam bukunya Militant Islam (1979): “Sungguh menjemukan dan menyakitkan apabila kita harus mengulangi setiap argumen licik para penulis polemis Kristen dan Barat, yang sama sekali tidak kristiani, terhadap Islam terutama terhadap pribadi Nabi Muhammad. Menurut mereka pada hakikatnya Muhammad adalah seorang pelbegu (penyembah berhala) yang rendah, namun dengan pandainya memperoleh kekuasaan, menjaganya dengan cara berpura-pura menerima wahyu da menyebarkan agamanya dengan kekerasan dan mengizinkan pengikutnya melakukan praktik-praktik cabul seperti dilakukannya sendiri.” (h. 60).


Gelombang Awal:
Perang Salib I terjadi antara tahun 1096-1099 dengan kekalahan di pihak tentara Muslim, yang terutama diwakili oleh pasukan Bani Saljug, dinasti Turk yang baru saja menguasai Persia dan Asia Barat. Kekalahan tersebut menyebabkan tentara Salib dapat menduduki Yerusalem. Orang-orang Islam dan Yahudi yang menjadi penduduk Palestina kala itu digiring ke tempat penyembelihan dan yang selamat melarikan diri serta berpencaran ke banyak negeri di sekitarnya. Pasukan Salib ketika itu didukung oleh 300.000 tentara reguler yang direkrut dari seluruh Eropa.

Shalahuddin Al-Ayyubi:

Perang Salib II terjadi antara 1147-1149, dan Perang Salib III antara 1189-1192. Perang Salib II tidak begitu seru karena kurang didukung oleh negara-negara lain di Eropa kecuali Perancis. Ketika Perang Salib III meletus, Damaskus (Syria sekarang) berada di bawah pemerintahan Bani Mamalik, sebuah dinasti Turk lain yang menyingkirkan Bani Saljug. Bukan mudah bagi pasukan Mamalik menghadapi pasukan Salib yang jumlahnya besar, sebab dia harus menyingkirkan lebih dulu pasukan Bani Fatimiyah yang juga ingin merebut Yerusalem dan berkeinginan menjadi pusat penyebaran ajaran Ismailiyah. Tetapi di bawah pimpingan Salahuddin al-Ayubi, dokter dan panglima perang keturunan suku Kurdi, tentara Fatimiyah dapat dihancurkan. Baru dia dapat menghadapi pasukan Salib.

Konspirasi Besar:

Perang Salib IV terjadi antara 1195-1198. Perang Salib V antara 1201-1204. Perang Salib VI antara 1217-1228. Namun secara resmi perang ini dihentikan pada tahun 1270 dengan gencatan senjata menyeluruh dan perjanjian damai. Perang Salib VI berkobar di wilayah Syria dan Libanon. Pada waktu yang sama, negeri Islam lain di sebelah timur, yaitu wilayah Iraq, Iran, Azerbaijan. Turkmenistan dan Uzbeskitan sekarang (dulu dua yang terakhir ini disebut Khwarizmi dan Transoxiana) diharu-biru oleh pasukan Mongol yang dipimpin oleh Jengis Khan dan anak cucunya seperti Ogotai, Hulagu Khan, dan lain sebagainya. Tak mengherankan betapa beratnya perjuangan kaum Muslimin ketika itu. Dalam kenyataan kemudian terjalin konspirasi antara penguasa Mongol dan pasukan Salib untuk secara sistematis menghancurkan agama Islam.

Mengenai Perang Salib I, William K. Langer mengatakan bahwa salah satu sebab timbulnya Perang Salib I ialah: “Permintaan kaisar Byzantium untuk membalas kekalahannya dari tentara Saljug dalam Perang Manzikert pada tahun 1071 di Armenia, yang menyebabkan ditaklukkannya sebagian wilayah Anatolia/Asia Kecil oleh pasukan Muslimin. Permintaan itu ditujukan kepada Paus Gregorius VII. Setelah bala bantuan datang dari berbagai negara Eropa, sebanyak 300.000 tentara reguler, Paus Gregorius VII mengubah bantuan militer itu menjadi Perang Suci (Perang Salib) melawan tentara Islam, yang dianggapnya kafir (Encyclopaedia of World History 1956:255).

Hasrat Byzantium untuk membalas kekalahan dalam Perang Manzikert itu ditambah lagi dengan berita-berita buruk yang disebarkan para peziarah Kristen ke Yerusalem setelah mereka pulang ke kampung halamannya. Mereka menyebarkan berita bahwa orang Kristen di Yerusalem dan Palestina banyak yang dianiaya dan disiksa oleh pasukan Daulah Saljug. Ini menimbulkan kemarahan kaisar Byzantium di Konstantinopel. Berita pun segera tersebar ke seluruh daratan Eropa yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Pada masa itu pula terjadi pergolakan internal dalam tubuh gereja Kristen/Katholik. Gereja Romawi dan Gereja Yunani Ortodoks saling bersaing dalam merebut kepemimpinan umat Kristen. Paus Gregorius (1075-1085) di Roma berkeinginan menjadikan Perang Salib itu sebagai upaya menyatukan Dunia Kristen.

Sementara itu tentara Salib sedang digodog, Paus Gregorius VII diganti oleh Paus Victor II dan Paus Victor II segera diganti pula oleh Paus Urbanus II (1088-1099). Ketika Paus Urbanus II naik tahta, muncul pula Paus tandingan berkedudukan di Auvergne, Perancis, yaitu Paus Clement III (1084-1100 M). Kaisar Alexius dari Byzantium sementara meminta bantuan kepada Paus di Roma, juga menghimbau kepada seluruh pemeluk agama Kristen di Eropa. Di antara imbauannya itu berbunyi sbb. Bahwa barang siapa yang berani bergabung dengan tentara Salib, sebagai balas jasanya kelak akan dilimpahi kekayaan dan memperoleh wanita-wanita Yunani yang cantik jelita.

Imbauan itu disampaikan melalaui tahta suci Paus di Roma dan melalui gereja-gereja di seluruh Eropa. Namun semangat tentara Salib berkobar-kobar terutama disebabkan khotbah keliling seorang rahib, Peter the Hermit. Seraya menyampaikan pesan dari Paus Urbanus II, bahwa mereka yang bersedia menuju medan perang, akan mendapat pengampunan dosa, walaupun dahulunya dia seorang penyamun dan penjahat.

Penetapan keberangkatan tentara Salib I diputuskan pada tanggal 15 Agustus 1095. Segera pada permulaan tahun 1096 terjadi pertempuran besar-besaran di Anatolia dan Armenia. Mula-mula pertempuran dahsyat meletus di Nicae, sebuah kota di Selat Bosporus, kemudian merembet ke Dorylinea, Edessa dan Antiokia (dalam wilayah Armenia. Dari serbuan dilanjutkan ke Yerusalem, setelah pasukan Islam berhasil diluluhlantakkan.

Namun sebelum tentara Salib mencapai Yerusalem, terdengar kabar bahwa pasukan Daulah Fathimiyah dari Mesir menyerbu Yerusalem dan berhasil merebutnya dari tangan pasukan Saljug. Ini membuat ciut pasukan Salib. Sampai musim semi dan musim panas tahun 1098 tidak ada gerakan dari pasukan Salib. Gerakan menyerbu Yerusalem baru diputuskan pada bulan Mei 1099 atas kebijaksanaan Count Raymond. Dengan kekuatan 1500 pasukan berkuda dan 10. 000 pasukan jalan kaki, mereka menyerbu Yerusalem. Melalui pertempuran yang sengit pada akhirnya Yerusalem dapat direbut dari pasukan Fathimiyah, yaitu pada bulan Juli 1099. Selama 40 hari kota itu dikepung pasukan Salib. Banyak korban berjatuhan di kedua belah pihak.

Dalam buku Historian’s History (h. 352) misalnya ditulis: “Korban yang berlumuran darah dipersembahkan seakan binatang korban kepada Tuhan; perlawanan kecil sekalipun dari orang Islam, tanpa memandang usia dan jenis kelamin, menimbulkan kemarahan mereka yang luar biasa berang; tiga hari lamanya mereka hanyut dalam pembunuhan massal; dan tubuh-tubuh mayat yang terkapar itu menimbulkan penyakit menular.

Setelah tujuh puluh ribu orang Islam ditebas dengan pedang, dan orang-orang Yahudi yang malang dibakar dalam rumah-rumah ibadahnya, maka masih ada lagi kumpulan tawanan yang besar jumlahnya, yang karena kepentingan tertentu maupun karena kelelahan, pada akhirnya dibiarkan saja. Dari sekian banyak pahlawan Perang Salib yang ganas itu, hanya tinggal Tancred saja yang masih memperlihatkan sedikit rasa kasihan.”

Setelah peristiwa itu status Yerusalem lantas dirubah menjadi kerajaan otonom yang diperintah oleh raja Baldwin I (1100-1118) dan dia digantikan oleh Baldwin II (1118-1131). Selama pemerintahan kedua raja ini terjadi beberapa peperangan susulan dalam skala terbatas antara tentara Salib dan tentara Islam. Khususnya di wilayah-wilayah berdekatan dengan Yerusalem seperti Syria, Libanon, Armenia, Anatolia dan Georgia.
Di antara perang susulan ini terjadi pada tahun 1112 M, bertepatan dengan kesibukan pasukan Islam menghadapi pertempuran melawan suku-suku Kirgh yang ingin menaklukkan Armenia dan Kaukasus. Pasukan Salib menganggap bahwa pada saat itu sangat tepat untuk menundukkan pasukan Islam yang telah kembali menguasai Armenia. Tetapi perkiraan Raja Baldwin II keliru. Di bawah pimpinan Amir Toghrukhin (1103-1128) pasukan Islam menggagalkan serangan pasukan Salib yang memasuki Antiokia. Malahan raja Baldwin II berhasil ditawan dan hanya dapat dibebaskan dengan uang tebusan dalam jumlah besar. 

Setelah peristiwa itu terjadi beberapa peperangan lain di wilayah Syria dan Anatolia antara pasukan Islam melawan pasukan Byzantium. Pada waktu itu pasukan Islam diserang lagi oleh pasukan Salib yang dipimpin raja Baldwin II. Serangan ditujukan ke Aleppo dan Damaskus, namun sekali lagi pasukan Salib dikalahkan.

Perang Salib II berlangsung antara tahun 1147-1149 M. Berbeda dengan Perang Salib I yang timbul secara spontan dan mendapat dukungan rakyat banyak, Perang Salib II hanya didukung oleh raja-raja dan pangeran-pangeran. Kebanyakan pasukan yang dikirim berasal dari tentara kerajan Perancis di bawah pimpinan Raja Louis VII (1137-1180) dan tentara kerajaan Jerman di bawah pimpinan Raja Conrad III (1138-1152 M). Rencana perang itu sendiri datang dari Paus Eugenius II (1145-1153 M).

Pasukan Perancis dan Jerman mengalami kekalahan telak di tangan pasukan Amir Mas`ud I. Sebagian pasukan Conrad III memang telah mencapai Damaskus, tetapi gagal menembus pertahanan tentara Muslim. Conrad III sendiri jatuh sakit dan akhirnya dipulangkan ke Jerman setelah dirawat di Konstantinopel. Sedangkan Pasukan Louis VII dipukul mundur oleh pasukan Nuruddin Zanki di Antiokia. Sebagian pasukannya turut berperang di Damaskus, tetapi mengalami kekalahan dan pada akhirnya Raja Louis VII dan tentaranya kembali ke Perancis melalui jalan laut.

Perang Salib III (1189-1192) timbul disebabkan didudukinya kembali Yerusalem oleh pasukan Islam di bawah pimpinan Sultan Salahuddin al-Ayubi , jenderal keturunan suku Kurdi yang legendaris. Uskup Agung William di Tyre, Paus Clement III (1187-1191) menyerukan raja-raja Eropa dan orang Kristen merebut kembali Yerusalem. Dalam perang kali ini tentara Salib tidak berhasil merekrut tentara dalam jumlah besar dan mengalami kekalahan besar. Genjatan senjata diumumkan pada tahun 1192 dan raja Richard I yang memimpin pasukan Inggeris mengusulkan agar Amir Turan Syah, saudara Salahuddin al-Ayubi, menikahi saudarinya Putri Joanna.

Perang Salib IV (1195-1198) terjadi setelah wafatnya Sultan Salahuddin al-Ayyubi pada tahun 1193 dalam usia 80 tahun. Pergantian pimpinan pemerintahan di Syria, Palestina dan Mesir lebih jauh menghidupkan harapan Paus Calestine II (1191-1198) untuk merebut kembali Yerusalem. Dia memerintahkan Ordo St John mengorganisasikan angkatan Perang Salib IV. Dalam perang ini kekalahan telak kembali menimpa pasukan Salib.

Perang Salib V (1201-1204) timbul atas rencana Paus Innocent III (1198-1216) untuk menyatukan Gereja Yunani Ortodoks ke dalam Gereja Romawi. Karena keuangan tidak cukup, Paus tidak dapat mengirim tentara dalam jumlah besar. Bahkan sebelum bertempur melawan pasukan Islam, pasukan Salib yang dipimpin oleh raja Venezia harus berperang melawan pasukan Hongaria dan juga dengan pasukan Kristen Byzantium di Konstantinopel. Perang Salib V memang tidak dimaksudkan untuk merebut Yerusalem, tetapi membasmi raja-raja Kristen yang dianggap menyebarkan bid’ah di kalangan penganut Nasrani.

Perang Salib VI terjadi antara tahun 1217 dan 1221 M. Sasaran utamanya ialah untuk menaklukkan Mesir. Mengapa? Sebab jika Mesir dapat ditaklukkan maka penaklukan Yerusalem akan menjadi lebih mudah. Namun sekali lagi tentara Salib gagal menghancurkan pasukan Islam. Pada tahun 1211 M kedua pihak yang berperang menandatangani perjanjian damai yang dikenal dengan nama Treaty of 1221 AD. Tetapi sayang perjanjian ini dilanggar tidak lama kemudian, sehingga beberapa peperangan skala kecil meletus secara berkala sampai akhirnya padam pada tahun 1270 M. 

Ketika itu seluruh wilayah kekhalifatan Abbasiyah, yang meliputi Iran, Iraq, Uzbekistan, Turkmenistan, Azerbaijan, dan sekitarnya telah dikuasai oleh penguasa Mongol keturunan Jengis Khan dan Hulagu Khan. Terhentinya Perang Salib itu dimanfaatkan oleh penguasa Kristen untuk membangun konspirasi dengan penguasa Mongol dalam rangka menghancurkan dunia Islam. Mereka menginginkan penguasa Mongol memeluk agama Kristen. Upaya ini pada mulanya berhasil, tetapi menjelang akhir abad ke-13 M penguasa dan bangsa Mongol memeluk agama Islam dan berbalik menjadi pelindung kebudayaan Islam.


Epilog
Di lain hal kendati pasukan Salib mengalami kekalahan, mereka berhasil membawa pulang banyak khazanah Islam yang sangat berharga ke Eropa. Di antara khazanah itu ialah naskah dan buku-buku ilmu pengetahuan, filsafat, kesusastraan, dan kitab-kitab agama. Kitab-kitab itu dikaji dengan cermat dan yang dianggap penting diterjemahkan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Latin.

Kegiatan tersebut dua abad kemudian melahirkan apa yang kita kenal sebagai Renaissance. Di lain hal justru pasca Perang Salib dan penaklukan bangsa Mongol itulah agama Islam kian tersebar menjangkau wilayah-wilayah yang jauh lebih luas yang pernah dicapai sebelumnya. Misalnya ke Afrika Barat dan pedalaman benua itu, serta India, kepulauan Nusantara dan Cina Selatan yaitu Yunan Referensi


Daftar Referensi:
  1. Prof. Abdul Hadi WM. Cakrawala Budaya Islam. (Untuk memperkuat argumen soal transfer ilmu pengetahuan dan estetika sejarah).
  2. Jabra Ibrahim Jabra. The Ship. (Sumber kutipan "Cinta bercampur benci" yang sangat puitis itu).
  3. Edward Said. Orientalism (1978). (Sangat pas untuk mendukung argumen lu soal bagaimana Barat menciptakan citra "Yang Lain" atau the others terhadap Islam).
  4. Carole Hillenbrand. The Crusades: Islamic Perspectives. (Buku wajib kalau mau melihat Perang Salib dari kacamata orang Islam, bukan cuma kacamata Barat).
  5. Philip K. Hitti. History of the Arabs. (Referensi klasik untuk detail kronologi dinasti Saljug, Fatimiyah, hingga Mamalik).

Sumber & Bacaan Lanjutan:

  • Anis, Muamar. Perang Salib: Catatan Retrospeksi.
  • Hadi WM, Abdul. Pemikiran dan Peradaban Islam.
  • Jansen, G. H. (1979). Militant Islam. Pan Books.
  • Langer, William K. (1956). Encyclopaedia of World History.












Selasa, 14 Mei 2013

Revolusi Abbasiyah: Runtuhnya Umayyah dan Lahirnya Imperium Baru di Atas Tahta Darah

Runtuhnya Umayyah dan Lahirnya Imperium Baru di Atas Tahta Darah

Oleh:Muamar Anis


               Pada penghujung tahun 749 M  berakhirlah kekuasaan Daulah Umayyah yang memegang tampuk pemerintahan sejak tahun 661 M.  Penggantinya Daulah Abbasiyah (750-1258 M) mewarisi wilayah yang luas membentang dari pegunungan Thyansan di sebelah barat Tiongkok hingga wilayah Maghribi di Afrika Utara yang dahulunya merupakan wlayah kekaisaran Romawi. Bekas kemaharajaan Persia yang dirambah membentang hingga lembah Indus dan wilayah Turkistan.



Peta Ekspansi Daulah Abbasiyah Sejarah Islam
"Peta Kekhalifahan Abbasiyah yang membentang luas, mewarisi wilayah bekas Umayyah dan Bizantium, menjadikannya imperium terkuat di masanya."





          Wilayah-wilayah ini tidak sepenuhnya aman dan stabil ketika pasukan Abbasiyah berhasil menundukkan sisa-sisa pasukan Umayyah yang terpecah belah. Begitu berhasil alih kekuasaan melalui revolusi berdarah selama tiga tahun, Abbasiyah memindahkan pusat kekuasaan dari Damaskus di Syria atau Syams ke Kufa, di Iraq sekarang. Kufa dahulunya merupakan pusat pemerintahan ketika Ali bin Abi Thalib menjabat sebagai khalifah. Beberapa tahun kemudian  Daulah Abbasiyah membangun ibukota baru Baghdad, tidak jauh dari Cseiphon  bekas ibukota kemaharajaan Sassan Persia.

            Pada zaman pemerintahan Abbasiyah inilah peradaban Islam mencapai kejayaan besar dalam arti yang sebenarnya. Terutama pada periode-periode awal. Di ibukota Baghdad, yang terletak di wilayah yang subur dialiri sungai Tigris atau Dajlah, sekali lagi muncul peradaban baru di negeri yang telah sejak zaman kuna menjadi negeri buaian peradaban itu. Peradaban-peradaban besar seperti Sumeria, Assyria, Babylonia, dan Akkadia muncul di wilayah ini.  Di negeri ini pula, tepatnya di kota kuna Ur,  bapak agama monotheis Nabi Ibrahim a.s. dilahirkan.


Asal Usul Abbasiyah

            Nama Abbasiyah dinisbahkan kepada Ibn Abbas, kakek pendiri gerakan ini dan juga paman Nabi Muhammad  s.a.w. Jadi keluarga ini seeperti keluarga Nabi termasuk ke dalam keluarga besar Bani Hasyim. Sejak Umayyah berhasil mengambil alih kekuasaan dari khalifah al-rasyidin keempat Ali bin Abi Thalib, keturunan Bani Abbas sangat setia kepada Umayyah. Mereka diberi daerah kekuasaan yang berpusat di Hamimah, tidak jauh dari Damaskus. Hamimah adalah kota kecil yang tenang dan keturunan Abbas memang terkenal saleh. Tetapi perubahan segera terjadi setelah mereka menyaksikan dan kesewenang-wenangan dan penindasan yang dilakukan oleh penguasa-penguasa Umayyah. Tetapi mereka harus menunggu waktu yang tepat untuk membentuk gerakan.


            Saat yang ditunggu tiba. Yaitu pada masa pemerintahan Umar ibn Abdul Aziz (717-720 M) yang termasuk  lunak dalam menghadapi gerakan pembangkam. Dengan rancangan yang matang, cucu Abdullah bin Abbas yaitu Muhammad bin Ali bin Abdullah Abbas, memutuskan membentuk sebuah gerakan rahasia dengan sistem organisasi berdasarkan sel-sel jaringn yang sukar diketahui orang.  Tiga pusat jaringan yaitu Hamimah, Kufa, dan Khurasan di Iran Utara akhirnya terbentuk. Utusan-utusan rahasia bolek balik selama bertahun-tahun memperluas dan memantapkan jaringan dengan propaganda-propaganda memikat.


            Belum mencapai hasil yang dicita-citakan, Muhammad meninggal dunia. Kepemimpinan beralih ke tangan adiknya Ibrahim bin Ali.. Di bawah pimpinan imam baru inilah Abbasiyah menjelma orrganisasi bawah tanah dengan jumlah kader, pasukan dan pengikut yang jumlahnya besar. Pada tahun 746 M gerakan ini tercium oleh penguasa. Umayyah memerintahkan tentara menangkap pemimpinnya Ibrahim. Sebelum Ibrahim terbunuh ia telah mengungsikan semua sanak keluarga dan pengikutnya dari Hamimah ke Kufa, serta mengangkat keponakannya Abdullah bin Muhammad Ali bin Abbas sebagai penggantinya. Ketika itu Abdullah ibn Abbas baru berusia 24 tahun, namun ternyata cakap dan berwibawa. Tokoh inilah kelak yang ditakdirkan menjadi khalifah pertama Daulah Abbasiyah.


            Gerakan Abbasiyah didirikan di tengah persaingan hebat antara golongan Umayyah yang berkuasa dan Syiah atau pengikut Ali. Sepert telah kita ketahui pertentangan antara dua fraksi bermula sejak wafatnya Usman bin Affan yang tewas dibunuh. Prinsip dasar Abbasiyah sebagai gerakan rahasia ialah : (1) Orang Islam harus ridha menerima kepemimpinan dari keluarga Bani Hasyim, yang telah menurunkan Nabi Muhammad s.a.., Ali bin Abi Thalib, dan anak cucu Abdullah ibn Abbas.  Pada mulanya prinsip ini dijalankan oleh kaum Syiah, tetapi pada hakikatnya dikendalkan oleh Abbasiyah. (2) Semua pengikut gerakan ini tidak diperbolehkan memberontak untuk menumbangkan rezim Umayyah sebelum mampu merintis munculnya pemerintahan baru dengan persiapan yang matang. (3), Membentuk poros Hamimah-Kufa-Khurasan. Poros dibentuk melalui gerakan rahasia dengan sistem jaringan organisasi sel.


            Hamimah dipilih karena kendati dekat dengan Damaskus, merupakan kota kecil yang terpencil dan jarang dikunjungi orang dari kota lain. Kufa terletak di pertengahan jalan dan merupakan wilayah kediaman pendukung Ali. Khurasan di Iran adaah tempat yang strategs untuk mendidik kader dan pasukan, karena penduduk kota ini secara iam-diam adalah penentang Umayyah. Tempat ini pun sangat jauh dari pusat pemerintahan Umayyah. Di sini telah lama timbul sengketa etnik atau suku yang bisa diekslpoitasi untuk sebuah gerakan besar.


            Ada dua faktor  yang membuat Abbasiyah bisa mengembangkan sayap sebagai organisasi rahasia.Pertama, di bawah pemerintahan khalif Umar bin Abdul Aziz (717-20) penguasa Umayyah yang terkenal adil, terdapat kebebasan untuk mengemukakan penapat. Keadaan ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh pemimpin Abbasiyah. Kedua, terbunuhnya seorang pemimpin Kaisaniyah, fraksi Syiah yang militan dan punya banyak pengikut, yitu Abu Hasyim bin Muhammad Hanifah oleh khalif Hisyam ibn Abdul Malik yang menggantikan Umar bin Abdul Aziz. Padahal sebelumnya antara kedua pemimpin ini telah menandatangani perjanjian damai dan mengikat tali persahabatan.


Namun iri hati dan cemburu kepada Hisyam yang selain luas ilmunya dan banyak pengkutnya, khalif Hisyam berniat membunuh Abu Hasyim. Ketika Abu Hasyim dan pengikutnya sedang melakukan perjalanan ke Madinah, khalif  Hisyam meletakkan racun ke dalam susu yang akan diminum Abu Hasyim. Ketika Abu Hasyim merasa kesakitan oleh racun yang dimumnya, dia menukar haluan perjalananya menuju Hamimah tempat Ali bin Abdullah ibn Abbas. Sebelum menghembuskan nafas terakhir Abu Hasyim berpesan agar Ali bin Abdullah sudi menjadi pemimpin kaum Kaisyaniyah. Sejak itulah pengikut Abbasiyah bertambah besar dan jaringan organisasinya meluas. Selama bertahun-tahun kaderisasi dilakukan dengan baik.


            Ketika Ali bin Abdullah wafat, kedudukannya digantikan oleh saudaranya Ibrahim ibn Abbas. Di tangan Ibrahim gerakan Abbasiyah semakin meluas. Sebagai imam kedua gerakan ini, Ibrahim ibn Abbas  melantik Abu Muslim al-Khurasani sebagai panglima perang. Tokoh yang berkedudukan di Khurasan, Iran timur laut ini, terkenal sebagai ahli strategi yang piawai. Dia adalah tangan kanan Ibrahim ibn Abbas atau Ibrahim al-Imam. Dia pula yang memelihara Abdullah ibn Abbas yang sejak kecil telah ditinggalkan ayahandanya Ali bin Abdullah ibn Abbas. Nama Abu Muslim sebenarnya hanya samaran. Nama sebenarnya adalah Abdul Rahman ibn Muslim, lahir di Isfahan dan besar di Kufa, sebuah kota dagang yang makmur d Teluk Persia ketika itu. Dia ditugaskan di Khurasan karena merupakan ahli strategi  yan hebat. Di tanganya itulah Revolusi Besar pertama dalam sejarah Islam  pecah..


Revolusi Pecah

            Pada masa pemerintahan khalif Umayyah yang terakhir, yaitu Mirwan II (744-750 M)  keadaan tdak menentu. Banyak kerusuhan dan pembrontakan yang sukar diatasi hampir di seluruh wilayah kekhalifatan Islam. Pergolakan terbesar yang menjadi pukulan terakhir bagi kekuasaan Umayyah ialah pembrontakan golongan Syiah di Khurasan pada tahun 747 M. Pembrontakan ini dpimpin oleh Jadik ibn Ali-al-Azadi, yang lebh dikenal dengan panggian al-Karmani.  Melalui peperangan yang hebat Panglma Syiah al-Karmani  berhasil merebut beberapa kota penting. Mula-mula Merv, di Iran yan waktu itu merupakan pusat pemerintahan Amir atau gubernur Khurasan. Gempuran pasukan al-Karmani menyebabkan pasukan Umayyah mundur ke Herat, di Afghanistan sekarang.


            Ketika pemberontakan itu berlangsung Abu Muslim al-Khurasani mengamati dari dekat dan mulai mengatur siasat dan mencri saat yang tepat untuk terlibat dalam peang menaklukkan pasukan Umayyah.  Ketka kedua pihak yang bertenpur tengah mengadu tenaga terakhr dan memuasatkan perhatian sepenuhnya ke medan perang, secara terang-terangan Abu Muslim mengumumkan maksud gerakan Abbasiyah yang sebenarnya. Pasukan Syiah pmpinan al-Karmani yang mulai kewalahan menghadapi pasukan Umayyah berhasl dibujuk untuk berpihak kepadanya. Sementara itu antara Abu Muslim dan  gubernur Umayyah yang mundur ke Herat surat menyurat dan saling kirim utusan terus berlangsung. Tetapi Amir Umayyah tetap tidak mau tunduk sehingga akhirnya Abu Muslim harus bertndak. Khurasan bisa direbut dan kemenangan ini merupakan awal dari kemenangan Revolusi Abbasyah.


            Keluarga Ibrahim ibn Ali, imam kedua gerakan Abbsiyah, beserta keponakannya Abdullah bin Ali dan keluarga mereka telah tinggal di Kufa semenjak gerakan rahasia yang dipimpimnya tercium oleh khalif Mirwan II. Begitu kemenangan pasukan Abu Muslim terdengar pada tahun 749 M, barulah Abdullah bin Ali muncul di hadapan khalayak untuk mengumumkan diri sebagai pemimpin baru yang menggantikan Ibrahim ibn Ali yang tewas dibunuh. Waktu itu usianya baru 27 tahun. Penduduk Kufa menyampaikan ta’zim dan memberinya gelar khalif Abbasiyah.


            Setelah itu bersama pasukan pengawalnya da diikuti orang banyak ia berangkat menuju Darul Imamah dan penguasa setempat pun mengangkat baiat bersama para pembesar dan pejabat lain. Sejak lama penduduk Kufa yang secara diam-diam mendukung gerakan ini telah menanti-nati peristiwa bersejarah ini. Kejadian ini berlangsung pada hari Jum’at 12 Rabiul Awal 132 H bertepatan dengan 24 Agustus 749 M. Dari Darul Imamah rombongan kemudian berangkat menuju Masjid Agung Kufa. Di sinilah berlangsung baiat umum atau pengangkatan Abdullah bin Ali sebagai khalif Abbasiyah I.


            Pada hari yang sama khalif Mirwan II sedang berada di kota benteng Harran, yang terletak agak jauh di utara kota Mosul, Iraq sekarang.  Dia dan pasukannya baru saja berhasil menumpas kekacauan di Armenia. Mendengar berita kemenangan pasukan Abbasiyah dia segera menggerakkan tentaranya yang berkekuatan 120.000 orang ke arah selatan  lembah Iraq dekat Kufa. Pasukan ini dihadang  pemuka gerakan Abbasiyah di sana yaitu Abu Oun  dan pasukannya di Syahrazw.  Tak lama kemudian bala bantuan datang untuk Abu Oun dari Kufa. Untuk mengatur strategi pasukan Abbasiyah bertahan di pinggir sebelah barat sungai Eufrat. Sedangkan pasukan Umayyah membangun perkemahan di pinggir sebelah timur sungai tersebut.


            Untuk waktu yang lama kedua pasukan hanya saling perang dengan menghujankan panah api.  Karena tak sabar atas jalannya peperangan yang lambat ini, khalif Mirwan II memberintahkan pasukannya membangun jembatan di bawah lindungan serangan anak panah ke arah musuh. Pekerjaan itu berjalan lambat dan memakan banyak korban kendati akhirnya selesai. Begitu jembatan usai dibangun, khalif Mirwan I dan pasukannya pun melintas jembaan dan sebagian lagi menggunakan perahu. Pertempuran hebat berlangsung sepanjang jembatan dan tepian sungai Eufrat. Dalam pertempuran ini khalif Mirwan II kehilangan banyak tentara. Ribuan mayat bergelimpangan dan hanyut di sungai Eufrat. Khalif Mirwan II akhirnya memerintahkan tentaranya mundur dan kembali menuju Mosul. Bersama sisa pasukannya dia terus dikejar oleh pasukan Abbasiyah hingga dia mundur lagi ke kota benteng Harran. Untuk beberapa waktu lamanya dia mampu bertahan di sini.


            Bantuan pasukan mengalir ke pihak Abbasiyah. Kian terdesak khalif Mirwan kemudian meninggakan Harran menuju Urfa, tetapi pasukan Abbasiyah terus mengejarnya.  Serangkaian pertempuran berlangsung kemudian di kota Homs, Syria Utara. Setelah itu pertempuran berlangsung pula di Damaskus dan Palestina.  Di Palestina inlah khalif Mirwan II mengalami kekalahan besar. Kemudian penguasa Umayyah terakhir ini melrikn diri ke Mesir. Dengan kekalahan itu wilayah-wilayah seperti Iraq, Syria dan Palestina jatuh ke tangan Abbasiyah. Pertempuran terakhir berlangsung di wilayah Mesir. Kemenangan pasukan Abbasiyah disambut gembira oleh penduduk. Secara berbondong-bondon mereka menangkat baiat kepada khalif Abdullah bin Ali. Pada akhir 750 M khalif Mirwan II berlindung di sebuah biara/keniset di kota pealabuhan Abusir, Mesir. Di sini dia ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Sejak itu berakhirlah kekuasaan Daulah Umayyah.


Tahta Darah

            Dari pendahulunya yang diruntuhkan Daulah Abbasiyah  mewarisi wilayah imperium yang luas, membentang dari ujung barat Afrika Utara hingga pegunungan Tyan San yang berbatasan dengan wilayah kekaisaran Tiongkok dan sebagian Hindustan di timur. Kecuali itu mewarisi pula sejumlah pemberontakan di wilayah-wilayah yang luas, terutama di Syria, Iraq dan Iran. Selama empat tahun memegang tampuk pemerintahan khalif pertama Abbasiyah Abdullah bin Ali bin Abbas yang wafat dalam usia 31 tahun itu harus berjuang sekuat tenaga memadamkan sejumlah pembrontakan. Di antara pemberontakan-pemberontakan besar yang harus ditumpas ialah pemberontakan Habib ibn Murra bekas panglima pasukan Mirwan II di Hauran dan Tsania. Tak lama setelah tewasnya khalif Umayyah yang terakhir itu dia mengerahkan tentaranya untuk memberontak. Pemberontakan ini bisa diredam setelah pasukan Habib berhasil dipukul mundur yang memaksa sang panglima menandatangani perjanjian damai. Bersama pasukannya dia meminta pengampunan dan dikabulkan oleh imam Abbasiyah.


            Pemberontakan berikutnya adaka yang dipimpin Abul Wirdi Majzat di kota bentang Qunissirin Syria. Pemberontakan ini dapat diredam pula dengan mudah. Berikutnya pemberontakan yang dilancarkan penduduk Damaskus. Pada mulanya pemberontak mampu memorakporandakan pasukan Abbasiyah yang dipimpin Abu Ghanim ibn Razi. Setelah itu pemberontak merebut kota benteng lain Homs. Melalui pertempuran yang hebat dan memakan banyak korban, akhirnya pemberontakan bisa dipadamkan. Penduduk Qunissirin yang terlibat pemberontakan diampuni. Pemberontakan berikutnya yang juga dapat dipadamkan ialah pemberontakan Al-Jazira, wilayah utara Iraq... Di wilayah ini terletak kota-kota penting seperti Mosul, Harran, Siffin, dan lain-lain yang diapit dua sungai utama Tigris dan Eufrat.


            Di Madain, bekas ibukota kemaharajaan Persia yang sebelumnya disebut Ctesiphon, kaum Khawarij juga mengangkat senjata. Pemberontakan yang dipimpin Syaiban ibn Abdul Aziz, ideolog Khawarij di di Iraq pada akhirnya bisa ditumpas tanpa pengampunan sedikit pun. Tragedi yang paling memilukan ialah pembunuhan terhadap bekas gubernur Umayyah Yazid bin Hubaiat dan sejumlah besar keluarganya di kota benteng Wasit. Bertolak dari kejadian-kejadian ini sepanjang masa awal pemerintahannya, Abdullah bin Ali bin Abbas memberi dirinya gelas al-Saffah, artinya si penumpah darah. Maka dia disebut Abdullah al-Saffa’.


            Setelah berhasil memadamkan pemberontakan, kaisar Byzantium di Konstatinopel menyerang untuk merebut kembali wilayahnya yang hilang semasa pemerintahan Daulah Umayyah.  Pada mulanya Byzantium berhasil kembali Asia Kecil sampai wilayah Kelikia di sebelah utara Syria. Kemudian menguasa Malatia dan Mardian di utara yang berbatasan dengan Iraq. Peperangan berjalan alot dan berkelanjutan hingga khalif Abdullah al-Saffa wafat pada tahun 753 M dan baru berakhir pada masa pemerintahan khalif II Abbasiyah al-Manshur. Sebelum wafat, Abdullah al-Saffa’ berhasil membangun ibukota baru Hasymia di sebelah utara Anbar di tepi sungai Eufrat.


            Di samping perang yang meletihkan melawan pemberontakan dan serangan Byzantium itu, banyak sekali peristiwa memilukan yang terjadi. Di antaranya pembunuhan besar-besaran terhadap keluarga Daulah Umayyah di Damaskus. Padahal setelah tewasnya khalif Mirwan II, seluruh lapisan elit Umayyah di Damaskus telah sepakat berdamai dan mengakui pemerintahan Abbasiyah, dan mereka pun telah mendapat pengampunan. Tetapi gubernur Abbasiyah di Damaskus merasa kuatir mereka akan berkhianat.  Pada suatu hari mereka diundang untuk menghadiri perjamuan agung sebagai penghormatan. Sekitar 90 orang bangsawan dari keluarga Umayyah hadir. Mereka disambut penuh penghormatan, tetapi kemudian di bawa ke dalam ruangan malului jalan yang berlilit-lilit. Sampai di ruangan yang dituju mereka lantas dibunuh oleh pengawal yang sudah menunggu di tempat itu.


            Setelah itu terjadi pula pengejaran dan pembunuhan terhadap sisa-sisa keluarga Umayyah yang tinggal di Syria dan Palestina yang berhasil melarikan diri ke Mesir. Di atara yang lolos itu terdapat seorang pemuda bernama Abdul Rahman (730-788 M) yng baru berusia 22 tahun. Dia adalah cucu khalif Umayyah Hisyam ibn Abdul Malik (724-743 M). Setelah lolos, dengan susah payah melalui gurun yang panas dan terik, akhirnya dia dan keluarganya serta pasukan pengawalnya berhasil melarikan diri ke Mesir. Dari Mesir menuju ujung barat Afrika Timur yaitu Maghribi atau Maroko sekarang ini.  Dibawah komando panglimanya yang setia Jabal Tariq, Abdul Rahman dengan rombongan akhirnya berhasil berlabuh di Andalusia. Entah bagaimana caranya, dan itu merupakan cerita yang lain, hanya dalam waktu enam tahun setelah melarikan diri pemuda itu dapat mendirikan kembali Daulah Umayyah di Andalusia.


Catatan Referensi:

Artikel ini disusun merujuk pada pemaparan Prof Abdul Hadi WM mengenai transisi kekuasaan dalam Islam. Beliau sering menekankan bahwa meskipun Abbasiyah lahir dari revolusi berdarah, namun di era inilah Islam mencapai puncak estetika dan intelektualnya (The Golden Age).


KHASANAH ISLAM


ALIRAN-ALIRAN DAN FAHAM KEAGAMAAN
PADA  MASA UMAYYAH

Oleh:Muamar Anis

               Terlepas dari banyaknya kelemahan dalam masa pemerintahan Umayyah, terutama pada masa pemerintahan Muawiyah dan Yazaid, akan tetapi Umayyah sangat berjasa dalam banyak hal. Kontribusi mereka kepada peradaban Islam selain terlihat di bidang arsitektur atau seni bangunan, ialah pesatnya perkembangan lembaga pendidikan yang disusul oleh berseminya ilmu pengetahuan, terutama ilmui-ilmu keagamaan seperti Tafsir Qur’an, ilmu Hadis, fiqih (jurisprudensi), dan tarikh (sejarah). Kecuali itu pemakaian bahasa Arab sebagai bahasa ilmu dan sekaligus lingua franca berhasil dilakukan sehingga meluas ke seluruh wilayah kaum Muslimin. Akan tetapi pada saat sama, disebabkan factor-faktor politik terjadi perpecahan internal dalam Islam yang meruncing dari waktu ke waktu.

             Pada mulanya perpecahan itu terjadi disebabkan pemikiran politik, namun lambat laun diikuti oleh perbedaan paham keagamaan. Pertikaian internal ini antara lain disebabkan: Pertama, masalah kedudukan khalifah sebagai pengganti Nabi, apakah mesti didasarkan atas pemilihan secara demokratis (musyawarah,syura) atau berdasar tingkat kearifan yang dimiliki (melalui bai’at).. Kedua, masalah kedudukan orang beriman, termasuk khalifah dilihat dari sudut hukum Islam. Atau tentang bagaimana cara menetapkan ukuran orang beriman. Ketiga, sistem pemerintahan Umayyah yang meniru gaya pemerintahan Byzantium yang sekular, menimbulkan pro kontra. Kelima, keinginan menafsirkan al-Qur`an yang berbeda-beda  yang dilanjutkan dengan upaya merumuskan doktrin keagamaan (kalam, teologi).

Pada zaman khalifah Usman bin Affan sampai zaman Umayyah terdapat beberapa golongan Muslim, yang saling berbeda pendapat mengenai berbagai masalah keagamaan.

             Di antara golongan-golongan itu ialah: (1) Golongan orang-orang Zuhud atau ahli Sunnah yang merupakan sayap ortodoksi Islam. (2)   Khawarij, yang disebut golongan puritan dan radikal, pembela teokrasi| (3) Syi`ah, partai Ali atau kaum `Aliyun| (4) Mawali atau Maula, orang-orang Muslim non-Arab yang berpikiran sederhana. Pada umumnya mereka adalah para tuan tanah dan pedagang. Kelak kemudian hari golongan ini merapat dengan golongan Zuhudiyah atau ahli ibadah, yang merupakan cikal bakal Ahlu Sunnah wal Jamaah (Sunni).

             Pada masa selanjutnya muncul pula golongan Murji`ah, Jabariyah dan Qadariyah. Dari kalangan Qadariyah lahir golongan Mu`tazila. Apabila empat golongan yang disebut pertama muncul dari gerakan politik, baru kemudian mengembangkan pemikiran keagamaan tersendiri, maka golongan yang disebut terakhir muncul dari gerakan keagamaan, baru kemudian mendapat nuansa sebagai gerakan sosial atau politik.

Golongan Zuhud. Mereka terdiri dari para ahli hukum Islam (fiqih), hafiz (penghafal al-Qur`an), sahabat Nabi dan keturunan mereka. Karena tidak tahan melihat kezaliman dan penindasan pada zaman Umayyah, mereka melakukan pembangkangan dan memberontak. Banyak mereka yang ditindas dengan kejam dan mati dalam pemberontakan. Yang dapat menyelamatkan diri meninggalkan Madinah. Di antaranya seorang tokoh terkenal Hasan al-Basri, yang memilih tinggal di Basrah bersama para pengikut dan murid-muridnya, dan membentuk gerakan ahli zuhud. Gerakan ini merupakan cikal bakal tasawuf atau gerakan sufi

              Golongan Syiah. Disebut juga pengikut Ali. Syiah artinya Partai, maksudnya Partai Ali. Saingannya ialah Partai Mu`awiyah. Kedua golongan ini muncul setelah terbunuhnya khalifah Usman bin Affan di tangan orang Khawarij. Begitu partai kedua itu  dapat meraih kekuasaan melalui peperangan yang menelan banyak korban, hanya partai Ali yang disebut Syiah. Golongan Syiah tidak mengakui klaim Bani Umayyah sebagai pewaris kekhalifatan Islam. Bagi mereka hanya Ali dan keturunannya yang merupakan khalifah yang syah. Ali orang yang dekat dengan Nabi, dan memiliki tingkat pengetahuan agama dan kerohanian paling tinggi di antara sekalian sahabat Nabi.

"Simak juga peristiwa yang memicu gerakan politik Syiah: [LINTASAN SEJARAH ISLAM (2): Sistem Pemerintahan & Tragedi Kerbela]"

https://muamaranis.blogspot.com/2013/05/lintasan-sejarah-islam2.html 


            Menurut golongan Syiah hanya Ahli Bait (keturunan langsung Nabi) mempunyai hak ilahiyah sebagai pemimpin umat Islam. Ajaran Syiah bahwa seorang khalifah mempunyai hak ilahiyah merupakan kelanjutan dari kepercayaan Persia Lama. Orang Persia Lama percaya bahwa raja, yaitu khalifah, merupakan inkarnasi dari kekuasaan Tuhan dan karenanya memperoleh gelar dewata.  Menurut Syiah hak ilahiyah untuk memimpin ummat berada di tangan Ali dan keturunannya. Disebabnya adanya dua pendekatan yang berbeda di kalangan Syiah terhadap teori di atas, maka kemudian Syiah pun terbagi menjadi dua golongan utama, yaitu Syiah Imam Dua Belas (biasa disebut Syiah Imamiyah) dan Syiah Imam Tujuh.


Makam Imam Husain Karbala Sejarah Islam. Muamar Anis. Jpg.


             Syiah Imamiyah (Syi`ah al-Itsna`asyariyya). Mereka meyakini bahwa `Ali ialah Imam pertama yang memiliki hak ilahiyah menjadi khalifah. Imam ke-2 dan selanjutnya adalah keturunan `Ali. Oleh karena Imam ke-7, yaitu Muhammad bin al-Hasan menghilang secara misterius pada tahun 770 M dan dipercaya tidak meninggal dunia, maka mulailah golongan ini mengemukakan doktrin Imam Tersembunyi, yaitu Imam Mahdi. Imam Mahdi akan muncul pada akhir zaman setelah putaran Imam ke-11  berakhir.

            Syiah Imam Tujuh (Syi`ah al-Sab`iyya). Aliran atau sekte ini diasaskan oleh Abdullah bin Saba`, seorang penduduk Yaman keturunan Yahudi. Pada zaman Usman bin Affan, dia memeluk agama Islam dan beberapa tahun kemudian dikenal sebagai da`i yang suka mengembara. Banyak negeri dia kunjungi untuk menyebarkan pemikiran keagamaannya. Ia terutama mendakwahkan ajarannya di Hejaz, Kufa, Basra dan Syria. Pada akhir hayatnya dia tinggal di Mesir. Di Mesir dia mempunyai banyak pengikut.

            Di Mesir inilah dia mengajarkan doktrin keagamaannya yang kontroversial untuk pertama kali, yaitu doktrin raja’ atau penjelmaan kembali orang yang sudah mati, khususnya nabi atau pemimpin agama. Menurut Abdullah bin Saba’ ganjil sekali apabila orang meyakini bahwa Isa Almasih saja yang akan turun kembali ke dunia, dan mengingkari kemungkinan munculnya kembali Nabi Muhammad s.a.w.  Jumlah nabi sangat banyak dan setiap orang dari mereka mempunyai seorang wasl atau wali.

Walinya Nabi Muhammad ialah `Ali bin Abi Thalib. Nabi Muhammad ialah Nabi terakhir dan `Ali ialah wali terakhir. Abu Bakar Siddiq, Umar bin Khattab dan Usman bin Affan adalah perampas kekuasaan khalifah.

            Menurut Abdullah bin Saba’ dan pengikutnya, roh ketuhanan yang berada dalam diri setiap nabi akan berpindah kepada wali mereka masing-masing. Roh ketuhanan Nabi Muhammad akan berpindah kepada `Ali, dan dari `Ali akan berpindah kepada keturunannya. Syiah Imam Tujuh muncul setelah meninggalnya Imam ke-7 mereka, yaitu Muhammad bin Ismail, saudara kandung Muhammad al-Hasan yang merupakan Imam ke-7 Syiah Imamiyyah.

            Karena hanya mengakui tujuh imam, golongan ini disebut Syi`ah al-Sab`iyyah.  Karena Imam ke-7 yang mereka akui ialah Muhammad  Ismail, bukan Muhammad  al-Hasan,  maka mereka disebut golongan Ismailiyyah. Dengan mencampur adukkan ajaran Abdullah bin Saba` tentang roh ketuhanan dari setiap nabi dan wali-wali mereka, dengan ajaran Persia Lama tentang inkarnasi kemahabesaran Tuhan, 

golongan Ismailiyyah percaya bahwa  tujuh nabi dan tujuh imam  merupakan manifestasi roh ketuhanan dalam wujud manusia. Tujuh nabi itu ialah Ibrahim, Ismail, Musa, Daud, Zakariya, Isa Almasih dan  Muhammad  s.a.w. Tujuh imam ialah `Ali, Hasan, Husein, Zainal Abidin, Ja`far al-Sadiq, Muhammad Hanafiyya dan Muhammad Ismail. Setelah lenyapnya Imam ke-7 dunia akan dilanda kekacauan sampai akhirnya Imam Mahdi turun ke dunia. Catatan: Sejak zaman Daulah Umayyah hingga kini Syiah Imamiyah dan Syiah Imam Tujuh menjelma menjadi gerakan politik di samping mazhab atau sekte keagamaan. Di antaranya ialah Buwayh (abad ke-9 M di Persia), Fatimiyyah (abad ke-10-12 M di Mesir), Safawiyyah (abad ke-16-19 M di Iran)

            Murji`ah. Dari kata arja`a, artinya menunda, yaitu Tuhanlah yang menunda hukuman bagi orang Islam yang berdosa. Mereka percaya bahwa tidak seorangpun yang mengaku percaya kepada Tuhan dapat disebut kafir, walaupun tidak mengerjakan syariat agama. Golongan ini sering disebut golongan serba-boleh (permisif), dan longgar tentang pelaksanaan hukum Islam. Menurut mereka dosa-dosa yang dilakukan seseorang hanya dapat ditentukan oleh Tuhan dan Tuhan sajalah yang dapat memberi hukuman, bukan manusia (baca: ulama). Berdasar logika ini mereka berpendapat bahwa seseorang tidak dapat mengatakan seseorang lain itu kafir atau muslim, karena yang menentukan ialah Tuhan.

            Kata arja`a dipergunakan dalam berbagai cara. Misalnya manakala mereka menolak untuk mengecam Usman bin Affan dan `Ali bin Abi Thalib. Menurut mereka keabsahan mereka sebagai khalifah dan mukmin berada di tanganTuhan.  Ini yang membedakan mereka dari kaum Khawarij yang beranggapan bahwa Usman bin Affan dan `Ali bin Abi Thalib telah keluar dari Islam. Golongan Murji`ah juga menolak kepercayaan kaum Syiah terhadap `Ali sebagai imam dan klaim golongan Umayyah bahwa Mu`awiyyah ialah pewaris tahta kekhalifatan Islam yang syah. Mereka bersikap netral di tengah pertikaian politik dan keagamaan yang berkembang pada zaman Umayyah. Mereka berpihak pada hukum Tuhan yang sifatnya impersonal.

            Tokoh: Harits bin Surayj dan Jahim bin Safwan. Di bawah pimpinan Harits golongan ini bekerjasama dengan golongan Mawali di Khurasan dalam menentang pemerintahan Umayyah. Menurut paham orang Murji`ah, orang-orang Persia yang telah memeluk agama Islam tidak boleh disebut kafir walau mereka tampak kurang taat beribadah dan karenanya tidak perlu membayar pajak. Toleransi agama mereka sangat besar. Mereka yakin akan ikhtiar dan kerja, cinta dan kemurahan Tuhan  dan berpegang pada pendapat bahwa tidak ada seorang Islam pun yang pada akhirnya akan dijatuhi hukuman oleh Tuhan.

            Menurut Jahim bin Safwan, iman itu merupakan pengakuan batin. Walaupun seorang mengaku seorang yahudi atau Kristen, tetapi apabila dalam hatinya percaya kepada keesaan Tuhan (tauhid) seperti orang Islam, mereka akan diampuni oleh Allah. Dari kalangan Murji`ah yang moderat, dan tidak ekstrim seperti Jahim dan Harits,  lahir tokoh seperti Abu Hanifah (w. 767), yang bagaimana pun juga mengakui pentingnya hukum Tuhan yang dilaksanakan oleh manusia, bukan hukum Tuhan yang bersifat impersonal. Abu Hanifah adalah pengasas mazhab Hanafi, dan lebih liberal serta moderat dibanding ajaran mazhab Syafii dan Maliki, apalagi Hanbali.

             Murji`ah versus Syiah. Pertentangan orang-orang Murji`ah dengan orang-orang Syiah terjadi oleh karena Murji`ah menyerahkan persoalan khalifah atau pengganti Nabi kepada Tuhan. Mereka tidak mendukung gagasan Syiah tentang negara teokratis Ali, yang didasarkan atas keadilan agama dan juga tidak meyakini klaim Ahli Bait sebagai pewaris kepemimpinan Nabi atas umat Islam.

            Golongan Zuhud dan Ahlul Sunnah menentang Murji`ah karena cenderung membela penyimpangan, penyelewengan dan kezaliman Daulah Umayyah. Pertentangan yang lebih tajam lagi terjadi antara meeka dengan Khawarij dan para pemberontak lainebab-sebab pertentangan itu ialah:

            Manakala Bani Umayyah berhasil mengokohkan kekuasaan mereka, dan pertentangan politik kian parah di antara golongan yang berlainan paham itu, dan penguasa Umayyah dianggap bagai penguasa kafir, maka para penguasa Umayyah pun menganut paham keagamaan orang Murji`ah. Dengan menggunakan argumen-argumen Murji`ah, penguasa Umayyah dapat melakukan pembelaan terhadap penyelewengan dan penyimpangan yang mereka lakukan. Hal ini diperkuat dengan kenyataan bahwa musuh utama Umayyah ialah golongan Khawarij, baru disusul golongan Syiah.
Pada waktu itu golongan Khawarij bersemboyan bahwa mengaku beriman kepada Tuhan saja belum cukup. Dosa besar yang tidak ditebus dengan tobat akan menghalangi orang berdoa masuk ke dalam lingkungan kaum muslimin. Menurut orang-orang Khawarij, para penguasa Umayyah termasuk pelanggar hukum agama paling buruk dan bejat.

           Pendirian Murji`ah. Di antara pendirian Murji`ah ialah: (1)  Amal perbuatan seseorang tidak dapat dijadikan dasar untuk menentukan keimanan dan keislaman seseorang. (2) Tingkat keimanan seseorang tidak dapat diukur, karena itu mereka tidak mengakuinya adanya tingkat-tingkat keimanan.  Pandangan ini jelas tidak sesuai dengan ajaran al-Qur`an, karena dalam al-Qur`an 47 ayat 17 masalah tingkat-tingkat keimanan itu dibicarkan dan difirmankan pula bahwa tinggi rendahnya amal perbuatan seseorang sejalan dengan tingkat keimanan yang dimilikinya.

           Golongan Jabariyah. Pemikiran mereka sangat sederhana, bertolak dari keyakinan seorang Muslim yang benar harus menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Allah ialah raja yang kekuasaan-Nya tidak terbatas. Kehendak Tuhan tidak dapat diukur dengan kehendak manusia. Kehendak Allah mencakup penentuan terhadap kehendak manusia. Manusia hanya dapat melakukan perbuatan melalui kehendak atau ikhtiar apabila mendapat petunjuk dari Tuhan. Kehendak manusia untuk melakukan pilihan sepenuhnya ditentukan oleh kemahakuasaan dan ketentuan Tuhan.

            Tetapi, menurut pandangan orang Jabariyah, manusia diberi hawa nafsu dan setan dapat menyesatkan manusia. Manusia memiliki kebebasan, tetapi terbatas. Penentang Jabariyah melihat bahwa kehendak (freewill) dan ikhtiar itu sangat penting. Dalam al-Qur`an  disebutkan bahwa kehendak membangkang pada manusia diberi oleh Tuhan agar manusia berpikir dan berikhtiar dalam hidupnya. Penentang Jabariyah disebut Qadariyah, yaitu golongan yang mempercayai peranan ikhtiar dan akal dalam menentukan nasib dan kehidupan manusia.

             Mu`tazilah. Munculnya aliran pemikiran keagamaan ini sering dikaitkan dengan munculnya aliran qadariyah dan tersebarnya pengaruh filsafat Aristoteles di kalangan cendekiawan Muslim. Dari lingkungan penganut paham Qadariyah muncul para ahli klaam (mutakallimun) yang sering oleh sarjana Barat disetarakan denan ahli teologi kendati ilmu kalam dan teologi berbeda. Kelompok  dipengaruhi terutama oleh pemikiran rasional  Aristoteles. Dar kelompok inilah kelak lahir paham Mu’taziala yang menafsirkan ajaran agama secara rasional, kadang terlalu berlebihan.

            Nama Mu`tazila dikaitkan dengan pengasas ajaran ini, yaitu Ibn Ata`, seorang murid Hasan Basri di Basra. Pada suatu hari Ibn Ata` mengemukakan bahwa tidak ada orang mukmin dan orang kafir dalam arti sebenarnya.

Salah satu hal besar muculnya aliran aliran dalam Islam lebih di dominasi oleh kepentingan Politik (Muamar Anis) 

Referensi Utama:
Abdul Hadi WM, Kuliah Sejarah Pemikiran Islam (Catatan Akademik & Diskusi). Beliau adalah otoritas yang menekankan pentingnya melihat sejarah dari sudut pandang estetika dan filsafat.
​Harun Nasution, Teologi Islam: Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan.
​Philip K. Hitti, History of the Arabs.
​Al-Thabari, Ta’rikh al-Rusul wa’l-Muluk.

Beyond the Nausea: Sartre and Nietzsche at the Kaaba – Finding Existence in the Ultimate Prostration

  Beyond the Nausea: Sartre and Nietzsche at the Kaaba – Finding Existence in the Ultimate Prostration Oleh: Muamar Anis Nietzsche and Sartr...