Senin, 02 Februari 2026

Beyond the Nausea: Sartre and Nietzsche at the Kaaba – Finding Existence in the Ultimate Prostration

 

Beyond the Nausea: Sartre and Nietzsche at the Kaaba – Finding Existence in the Ultimate Prostration

Oleh: Muamar Anis


Nietzsche and Sartre philosophical journey to Kaaba".
Nietzsche and Sartre philosophical journey to Kaaba".

Dari Warung Menuju Pusat Semesta

Sambil ngopi di pojokan warung, terdengar suara rombongan kendaraan di jalan depan. Saya mengintip dari jendela, ternyata rombongan jama'ah haji yang ingin berangkat ke Kaaba. Sambil menyeruput kopi, pikiran saya melayang jauh. Saya membayangkan sebuah pertemuan mustahil di depan pelataran suci itu.

​Ada Nietzsche yang gelisah, Sartre yang mual dengan kebebasannya sendiri, lalu ada Abdurrahman Badawi dan Ali Syariati sebagai pemandu jama'ahnya. Sebuah gilingan nalar tentang bagaimana sujud ternyata adalah puncak dari eksistensi manusia.

Ramalan Horor Nietzsche: Dinamit yang Menjadi Kenyataan

​Kita buka dengan pernyataan Nietzsche yang mengerikan. Sebelum "masuk pesantren" seperti dalam pembahasan saya sebelumnya yang berjudul:


👉"Nietszche Masuk Pesantren"https://muamaranis.blogspot.com/2026/01/nietzsche-masuk-pesantren-saat-sang.html


Sang filsuf pernah menulis:

"Aku tahu nasibku. Suatu hari namaku akan dikaitkan dengan ingatan akan sesuatu yang mengerikan, sebuah krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya di bumi..." (Nietzsche, 2007:88).


​Luar biasanya, beberapa tahun kemudian hal itu menjadi kenyataan. Nietzsche bukan peramal, tapi dia tahu "dinamit" pemikirannya bakal meledak. Dan benar saja, namanya sempat "dikooptasi" oleh ideologi Nazi untuk melegalkan kekejaman—sebuah krisis kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Jean-Paul Sartre dan Rasa "Mual" (Nausea)

​Lalu muncul Jean-Paul Sartre. Dia memuja kebebasan setinggi langit, tapi dia malah terjebak dalam rasa mual (Nausea). Bagi Sartre, tanpa Tuhan, manusia itu "dikutuk untuk bebas". Tapi kebebasan tanpa arah itu malah bikin dia pusing sendiri di kafe-kafe Paris.


Paul Satre.Muamaranis.Jpg


​Walaupun kita tahu bahwa sejak munculnya filsafat eksistensi, cara wujud manusia telah dijadikan tema sentral, tetapi belum ada eksistensi yang lebih rumit dan radikal menghadapkan manusia itu sendiri seperti pada eksistensialisme. Ternyata, sifat materialisme jugalah yang menjadi pendorong munculnya eksistensialisme ini.

Diplomasi di Depan Kaaba: Badawi Sang Penengah

​Bayangkan dua raksasa filsafat ini berdiri di pelataran Masjidil Haram. Di sana ada Abdurrahman Badawi, sosok yang disebut sebagai "Anak Kandung Renaisans Arab". Badawi memperoleh dua aksioma dari filsafat eksistensial: individualisme radikal dan kebebasan.

​Ada sejarah unik di sini. Anwar Sadat yang terinspirasi karya-karyanya, ikut membebaskan Badawi dari kerangkeng penjara Muammar Khadafi saat Badawi mengajar filsafat di Benghazi, Libya, tahun 1973. Dalam otobiografinya "Sirah Hayati", Badawi pernah menjawab pertanyaan polisi penjara tentang Sartre dengan dingin: "Sartre lebih sebagai seorang sastrawan daripada seorang filsuf."

​Saya membayangkan Badawi akan menjawab kegelisahan mereka: "Eksistensi yang kalian cari itu bukan di meja kafe, tapi di titik nol penghambaan."

Ali Syariati: Simbol Manusia Ideal

​Dalam catatannya, Ali Syariati menyampaikan bahwa manusia ideal adalah manusia yang memiliki otak brilian sekaligus kelembutan hati.

​"Manusia ideal bagaikan kaisar yang memegang pedang dengan gagah perkasa, sekaligus memiliki kelembutan hati. Ia menggunakan pikirannya sebagaimana Socrates sekaligus juga seperti Al-Hallaj dalam pencariannya mendekati Tuhan. Ia adalah seperti Spartacus yang melawan perbudakan, dan juga seperti Abu Dzar yang menaburkan benih revolusi. Ia adalah seperti Yesus yang membawa perdamaian, sekaligus seperti Musa yang gagah berani melawan kekuasaan."

 

Ali Syariati.muamaranis.jpg

Kesimpulan: Menemukan Eksistensi dalam Sujud

​Nietzsche yang meramalkan horor, dan Sartre yang terjebak dalam kebebasan absolut, akhirnya menemukan jawabannya dalam sujud. Sujud adalah saat di mana manusia paling jujur pada eksistensinya: bahwa dia terbatas, namun terhubung dengan Yang Maha Absolut.

​Di depan Kaaba, 'dinamit' Nietzsche menjadi kedamaian, dan 'mual' Sartre menjadi kesembuhan. Ali Syariati menambahkan: "Sujud bukan berarti menyerah kalah, Sartre! Sujud adalah revolusi diri. Di sini kalian bukan lagi individu yang mual, tapi bagian dari gerak semesta (Hajj)."

Penutup:

Ternyata sehabat apapun kita mendewakan akal, tetap tidak akan menemukan kebenaran yang hakiki. Filsuf Islam sekaliber Imam Ghazali pun akhirnya tunduk menjadi seorang Sufi. Karena beliau tahu manusia tidak akan mampu mencari kebenaran hakiki sendirian. Hanya berserah kepada Pencipta langit dan bumi lah segala sesuatu ada pada-Nya.

Perjalanan terjauh nalar manusia itu bukan berakhir di buku-buku tebal, tapi berakhir di atas cap tetap menjadi seorang makhluk.(Muamar Anis) 


References / Daftar Pustaka:

  • Badawi, Abdurrahman. (2000). Sirah Hayati (Autobiography). Beirut: Al-Muassasah al-Arabiyah lil-Dirasat wa al-Nashr. (Kisah tentang penjara Khadafi dan kritik terhadap Sartre).
  • Badawi, Abdurrahman. (1945). Dirasat fi al-Falsafah al-Wujudiyah (Studies in Existentialist Philosophy). Cairo.
  • Nietzsche, Friedrich. (2007). Ecce Homo: How One Becomes What One Is. Translated by Duncan Large. Oxford World's Classics. (Sumber kutipan halaman 88 tentang "Ramalan Horor").
  • Sartre, Jean-Paul. (1943). L'Être et le néant (Being and Nothingness). Paris: Gallimard. (Sumber konsep Nausea dan Kebebasan).
  • Shariati, Ali. (1979). Hajj: Reflection on Its Rituals. Translated by Laleh Bakhtiar. Albuquerque: Abjad. (Sumber pemikiran tentang manusia ideal dan revolusi sujud).
  • Al-Ghazali, Imam. Al-Munqidh min al-Dalal (Deliverance from Error). (Referensi tentang transformasi nalar menuju Sufisme).


Minggu, 01 Februari 2026

Di Balik Sihir Kertas dan Obsesi Ubermensch: Menemukan Kembali Insan Kamil di Tengah Dehumanisasi

Di Balik Sihir Kertas dan Obsesi Ubermensch: Menemukan Kembali Insan Kamil di Tengah Dehumanisasi

Oleh: Muamar Anis

Nietzsche.Muamaranis.Jpg.
Nietzsche. Jpg. 

Secarik Kertas dan Robot-Robot Bernafas

​Setelah kemarin di Warung membahas "Nietzsche Masuk Pesantren", pandangan saya tertuju pada seorang sahabat di pojok meja. Ia mengeluarkan uang kertas yang dilipat sekecil mungkin, terselip di saku celananya yang kucel, tampak susah payah ia mengeluarkannya.

​Saya mendadak teringat sejarah seribu tahun lalu. Dulu, seorang pedagang teh bernama Zhang Wei berdiri di tepi Sungai Min, Sichuan. Di tangannya ada Jiaozi—selembar kertas tipis dengan lukisan rumit bernilai seribu koin tembaga. Tanpa Zhang Wei sadari, selembar kertas itu adalah "janji" yang kelak berevolusi menjadi sihir moneter modern yang mendominasi dunia.

​Bayangkan, dulu 1 gram emas hanya Rp2, kini melonjak sejuta lebih. Namun, keresahan ini bukan cuma soal dompet yang menipis, melainkan Keterasingan Spiritual. Modernisme telah membawa kita pada titik dehumanisasi. Manusia hanya dianggap sekrup dalam mesin industri, menjadi asing bagi dirinya sendiri, sesama, bahkan bagi Sang Pencipta.

​Ubermensch—Antara Permen Nietzsche dan Peluru Hitler

​Puncak dehumanisasi ini bermuara pada obsesi kekuasaan. Friedrich Nietzsche melahirkan konsep Ubermensch—Manusia Unggul yang berdaulat atas dirinya sendiri. Namun, sejarah mencatat pengkhianatan intelektual yang mengerikan oleh saudara perempuannya sendiri, Elizabeth Förster-Nietzsche.

Elizabeth Förster-Nietzsche. Muamaranis. Jpg
Elizabeth Förster-Nietzsche.Muamaranis.Jpg

​Elizabeth memanipulasi karya saudaranya, menciptakan buku The Will to Power, dan menahan penerbitan Ecce Homo. Lewat tangan Elizabeth-lah, pemikiran Nietzsche yang asli—yang sebenarnya adalah sosok pria ramah pembagi permen bagi anak-anak—dipelintir menjadi alat propaganda Nazi. Hitler menggunakan istilah ini untuk melegitimasi "Ras Arya" dan menyingkirkan mereka yang dianggap lemah (Untermenschen). Inilah bahaya ketika manusia merasa menjadi "tuhan" tanpa panduan moral ketuhanan: mereka tidak membangun peradaban, melainkan menghancurkan kemanusiaan.

​Rekonstruksi Iqbal dan Penawar Perenialisme

​Sebagai penawar racun, kita harus menoleh pada Sir Muhammad Iqbal. Dalam The Reconstruction of Religious Thought in Islam, Iqbal menyerukan Ijtihad untuk membangunkan umat dari fatalisme. Insan Kamil versi Iqbal bukanlah penindas, melainkan sosok Ulul Albab yang memperkuat Khudi (Kedirian) untuk menjadi mitra Tuhan dalam memperbaiki dunia.

​Melengkapi itu, Seyyed Hossein Nasr melalui perspektif Perenialisme mengingatkan bahwa manusia modern adalah "manusia yang lupa". Kita butuh kembali ke Tradisi Suci untuk menyembuhkan luka keterasingan ini. Jika modernisme memutus hubungan kita dengan langit, maka Perenialisme mengajak kita menemukan kembali kesakralan hidup di tengah gempuran materi.

Suara dari Meja Warung

​Kembali ke meja warung, kita sadar bahwa melawan dehumanisasi dimulai dari akal budi. Kita bukan robot, bukan sekadar angka inflasi. Perlawanan ini adalah tentang menjaga kewarasan dan ruhaniah di tengah sistem yang dingin.u


Author’s Note for My Global Readers:

​This article is part of a larger philosophical journey. Before we deconstructed the "monetary magic" and the distortion of the Ubermensch here, I invited Nietzsche to a sacred space to find his "Divine Spring." To understand the spiritual foundation of this critique, I invite you to read the preceding chapter:

 

​👉 [Nietzsche Masuk Pesantren: Saat Sang Ubermensch Bertemu Mata Air Ilahi]https://muamaranis.blogspot.com/2026/01/nietzsche-masuk-pesantren-saat-sang.html

A bridge between the radical ego and the ultimate surrender.


"Nietzsche itu sebenarnya filsuf yang baik dan ramah, yang suka membagikan permen kepada anak-anak. Namun di tangan penguasa yang mabuk, permen itu diganti menjadi peluru, dan nalar diubah menjadi sihir kertas yang membunuh jiwa secara perlahan." > — Muamar Anis


"Bahwa modernisme makin membawa manusia dalam keterasingan spiritual sudah ditengarai sedari awal. Munculnya tesis postmodernisme adalah realitas jawaban atas dehumanisasi yang kita alami hari ini." > — Samsul Ma'arif


Referensi Kajian:

  1. Nietzsche, Friedrich. Thus Spoke Zarathustra & Ecce Homo.
  2. Iqbal, Muhammad. The Reconstruction of Religious Thought in Islam.
  3. Nasr, Seyyed Hossein. Knowledge and the Sacred & Man and Nature.
  4. Sejarah Moneter: Sejarah Jiaozi Dinasti Song (Sichuan, Tiongkok).

Bukan Sekadar Dagang: Peran Tariqat, Dialektika Semar, dan Rahasia Islamisasi Nusantara

Bukan Sekadar Dagang: Peran Tariqat, Dialektika Semar, dan Rahasia Islamisasi Nusantara

Oleh: Muamar Anis


Pedagang. Muamaranis. Jpg
Pedagang. Muamar Anis. Jpg

Secarik LKS di Pojok Warung

​Di pojok warung pagi hari, sambil menunggu kepulan asap 234, mata saya tertuju pada secarik kertas di bawah piring gorengan. Ternyata itu kertas LKS anak sekolah milik penjual warung yang sudah tidak terpakai. Di sana tertulis judul besar: "Sejarah Islam di Indonesia". Sambil mengunyah mendoan, saya merenung.

​Selama ini, buku teks sekolah seringkali menyederhanakan masuknya Islam ke Nusantara seolah-olah hanya 'bonus' dari transaksi lada dan sutra. Namun, jika kita menyelam lebih dalam ke balik riuhnya pasar, kita akan menemukan jejak-jejak sunyi para Sufi pengembara. Melalui jaringan tariqat dan kekuatan akal budi, mereka melakukan revolusi mental yang mengubah wajah peradaban Melayu selamanya.

​Bukan Pedagang, Tapi Pembersih Lahan Spiritual

​Fakta sejarah mencatat Islam masuk sejak abad ke-8 atau 9 Masehi. Tapi kenapa baru masif di abad ke-13? Karena ada "pagar" yang harus dibuka. Jauh sebelum Islam tercium massal, ada dialektika spiritual antara ulama Turki, Syekh Subakir, dengan dedengkot tanah Jawa, Semar Ismoyo Jati.

Masjid. Muamaranis. Jpg.
Simbol Islamisasi

​Ada riwayat pilu bahwa sebelum Syekh Subakir, seribu utusan tumbang. Islam masuk ke Nusantara bukan lewat hantaman syariat yang kaku, tapi lewat kelebihan amalan dan ajaran tasawuf yang membumi. Para penyebar awal tahu persis kondisi Nusantara yang tidak bisa lepas dari budaya animisme dan dinamisme. Mereka datang untuk "mengisi", bukan menghancurkan.

​Kritik Sanad: Walisongo vs Narasi Marga

​Kita harus kritis terhadap teori-teori yang terlalu mengagungkan peran imigran atau marga-marga tertentu yang secara historis memiliki kedekatan dengan kepentingan kolonial (Belanda). Kita patut waspada jika ada upaya mempromosikan sejarah yang mengaburkan peran dakwah kultural pribumi.

​Kunci penyebaran Islam sesungguhnya adalah Walisongo. Mereka memiliki sanad keilmuan yang jelas sampai ke Rasulullah SAW. Berkat cendekiawan seperti Prof. Agus Sunyoto, kita diingatkan kembali bahwa Islam tegak di sini karena ketulusan para Wali yang masuk ke jantung pemerintahan, bukan sekadar "promosi" pedagang keliling yang tak jelas akarnya.

​Sastra Sebagai Senjata dan Ketakutan Belanda

​Tokoh seperti Prof. Abdul Hadi WM telah berjuang di medan tempur yang berbeda: Bahasa dan Sastra. Beliau membuktikan bahwa Islam meletakkan dasar rasionalitas pada bangsa Melayu.

​Di sisi lain, Belanda sangat ketakutan jika Islam menjadi kekuatan politik. Itulah sebabnya mereka membatasi penyebaran Islam yang terorganisir. Namun, para ulama kita lebih cerdik. Mereka membentuk Jamiyyatul Ulama, sebuah embrio organisasi sebelum lahirnya Nahdlatul Ulama, sebagai benteng perlawanan terhadap penjajah.

​Quote Utama

"Islam di Nusantara tidak datang untuk mencabut akar budaya, melainkan menyiraminya dengan cahaya akal budi. Ia menang bukan karena pedang, tapi karena kedalaman rasa para kekasih Tuhan."Muamar Anis


[Referensi Intelektual]

  • Prof. Agus SunyotoAtlas Walisongo (Pilar sejarah dakwah lokal).
  • Prof. Abdul Hadi WMIslam: Cakrawala Estetik dan Budaya (Kekuatan sastra sufi).
  • M. Naquib al-AttasIslam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu.
  • S. Q. Fatimi – Catatan tentang korespondensi Raja Sriwijaya (Zabaq) dengan Khalifah Umayyah.

Beyond the Nausea: Sartre and Nietzsche at the Kaaba – Finding Existence in the Ultimate Prostration

  Beyond the Nausea: Sartre and Nietzsche at the Kaaba – Finding Existence in the Ultimate Prostration Oleh: Muamar Anis Nietzsche and Sartr...